Persimpangan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 27 December 2015

Namaku Karina aku seorang gadis berusia 20 tahun, aku bekerja sebagai SPG (sales promotion girls) di salah satu perusahaan kopi terkenal di jakarta. Aku terlahir dari sebuah keluarga sederhana, aku anak pertama dari 4 bersaudara adikku yang pertama Elisa namanya, yang kedua Fauziah namanya, dan adikku yang terakhir seorang laki laki namanya Panji.

Ayah dan ibuku terbilang adalah orangtua yang bisa dibilang ketat dalam menjaga anak-anaknya, karena 3 dari anak mereka adalah perempuan. Di perusahaan tempatku bekerja, bisa dibilang aku karyawan yang berprestasi, karena aku selalu mencapai targetku dalam bekerja, dan aku memiliki 2 sahabat yang amat baik kepadaku dia adalah Nunung dan Neni, mereka sahabat terbaikku di kantor.

Aku memiliki seorang kekasih bernama Anggar, aku hanya mengenalnya melalui telepon. Setelah 8 bulan kami menjalin pertemanan di dunia maya, akhirnya kami menjadi sepasang kekasih, ya tentunya pasangan kekasih di dunia maya, tapi kedatangan Anggar di dalam hidupku cukup membawa pengaruh positif untukku selama menjalani hubungan di dunia maya. Anggar adalah seorang pria kelahiran suka bumi, namun dia bekerja di salah satu perusahaan di Bandung. Hubunganku dan Anggar berjalan lancar karena kami merasa saling percaya dan kami merasa kami tidak akan saling mengkhianati.

Hubunganku dengan Anggar berjalan dengan baik sampai tak terasa kami sudah menjalani selama 2 tahun. Jarak antara jakarta dan bandung tentu bukanlah jarak yang jauh. Saat ini jarak itu bisa ditempuh hanya dengan 3 jam perjalanan, tapi bukan jarak yang kami takutkan saat itu. Aku takut pertemuan yang akan merusak hubungan kami, karena banyak orang mengatakan pertemuan bisa jadi menjadi sebuah perenggangan dalam suatu hubungan di dunia maya. Itulah yang sebenarnya kami takutkan, hingga berjalan 2 tahun kami masih belum berani untuk bertemu.

Meskipun selama 2 tahun kami berhubungan kami belum pernah menatap wajah 1 sama lain. Terkadang kami merasa rindu ingin sekali bertemu, tapi lagi-lagi perasaan itu yang membuat kami mengurungkan niat lagi untuk bertemu, “aku udah nyaman banget sama kamu Ay, aku gak mau semua hilang begitu saja kalau kita udah ketemu nanti, kita nikmati saja cinta ini ya Ay. Suatu saat nanti aku yakin Tuhan akan menyiapkan waktu yang indah untuk kita.” katanya padaku.

Hari ini genap 2 tahun kami menjalin hubungan di dunia maya, dan aku benar-benar kaget saat dia meneleponku malam itu. “Ay, aku mau kita ketemu minggu ini, aku gak peduli kalau nanti pertemuan itu membuat kita jadi jauh, aku gak peduli Ay, sudah cukup penantian kita selama ini, aku yakin ini saatnya Tuhan memberikan waktu yang indah untuk kita” katanya dengan penuh semangat.
“kamu yakin? kenapa tiba-tiba kamu ngomong begitu?” Jawabku dengan penuh nada keanehan karena baru kali ini aku mendengar dia ngomong seperti itu.
“Semalam aku mimpi Ay, aku mimpi kamu pergi ninggalin aku selamanya, aku mimpi Allah mengambil kamu sebelum kita ketemu Ay. Aku takut itu jadi kenyataan” jawabnya dengan nada sedih.

Akhirnya kami memutuskan untuk bertemu tanggal 26 mei 2008. Kami memutuskan untuk bertemu di sukabumi. Karena dia ingin mengenalkan aku sekalian dengan ibunya karena Anggar sudah tidak memiliki seorang ayah. Sebenarnya aku agak kesulitan untuk meminta izin sama orangtuaku untuk bertemu dengan Anggar, tapi 2 sahabatku Nunung dan Neni selalu mendukungku. Nunung dan Neni membuat skenario, seolah ada acara ulang tahun kantor di daerah puncak. Malam itu Nunung dan Neni sengaja datang ke rumahku, membicarakan soal kostum yang akan digunakannya pada acara tersebut agar kedua orangtuaku mempercayainya. Maafkan Karin ma, pak, Karin gak bermaksud membohongi kalian.

Malam ini rasanya mataku sulit sekali dipejamkan, rasanya tak sabar hatiku menunggu pagi. Rasanya jantungku berdegup dengan kencang. Pagi-pagi sekali Nunung sudah datang ke rumahku, dia sampai rela berakting membawa tas besar seolah mau camping di puncak untuk meyakinkan orangtuaku. Akhirnya kami berangkat. Nunung mengantarku sampai di terminal bus. Sesampainya di terminal bus, aku langsung naik bus jurusan sukabumi. Sebelum bus jalan Nunung sempat memberiku semangat.

“yakin aja rin, kalau lo pasti akan ketemu sama dia, dan gue yakin lo pasti berlanjut sama dia, kabarin gue ya kalau lo udah sampai di sukabumi” kata Nunung.
“iya nung, makasih ya lo baik banget sama gue” kataku sambil memeluk Nunung, akhirnya bus berjalan menuju tujuan.

Sepanjang perjalanan hatiku berdegup kencang, bunyi handphone-ku mengagetkanku. Ku lihat Anggar yang menelepon.
“Ay aku udah naik bus, kamu udah naik bus belum?” Tanyanya.
“ya, aku udah di bus kok” kataku.
“Ay, tolong handphone-nya kasihin sama kernetnya” pintanya.
“emang kamu mau ngapain?” Kataku penasaran.
“udah kasih aja” katanya lagi, lalu ku kasih kan handphone-ku pada kernetnya.
“kenapa teh?” Tanyanya padaku.
“ada yang mau ngomong mas” kataku entah apa yang dibicarakan Anggar dengan kernet itu. Setelah bicara dengan Anggar kernet itu langsung menyuruh laki-laki yang duduk di sebelahku bertukar tempat duduk dengan seorang ibu-ibu.

Setelah menempuh perjalanan 4 jam akhirnya aku sampai juga di sebuah terminal, namanya terminal degung. Lalu aku turun dari bus tersebut ku lihat ada tulisan besar bertuliskan “RUANG TUNGGU” lalu aku menuju tempat itu, dan aku duduk di sana. Aku merasa jantungku semakin berdegup kencang apalagi tiba-tiba ada seorang pria duduk di sebelahku sambil mengulurkan tangan, rasanya jantungku tambah tak beraturan.

“aku Iwan.” dia menyebutkan namanya.
“Karin..” kataku terbata-bata, aku jadi bingung kenapa namanya Iwan.
Lamunanku langsung terlepas saat handphone-ku berbunyi ku lihat Anggar yang menelepon lalu laki-laki ini siapa? lalu ku angkat telepon Anggar.
“Ay, kamu udah sampai mana?” Tanyanya padaku.
“aku udah sampai di terminal degung, kamu dimana?” Tanyaku.
“aku 30 menit lagi sampai, aku masih di jalan, kamu tunggu aku ya” katanya lagi.

“Kamu lagi nunggu siapa?” Tanya cowok itu.
“hmm… Saudara” jawabku sekenanya.
“oh, nunggu saudara, emang kamu mau ke mana?” Tanyanya lagi.
“mau ke rumah saudara..” Jawabku.
“boleh gak aku minta nomor telepon kamu?” katanya lagi.
“buat apa ya?” tanyaku.
“ya aku mau berteman aja sama kamu” katanya.
Cowok itu sih ganteng, tinggi, pokoknya oke banget lah, tapi aku agak takut juga sih. Makanya aku gak kasih nomor teleponku sama dia, rupanya dia lagi menunggu adiknya.

Setelah 30 menit aku menunggu, tiba-tiba aja ada cowok tinggi, ganteng, beralis tebal, menarik tanganku sampai aku yang duduk jadi berdiri berjalan mengikutinya.
“iiih lepaaasiiin!!” bentakku, akhirnya dia melepaskan tanganku. “siapa sih lo narik-narik tangan gue seenaknya hah!!” Bentakku kesal.
“kamu gak tahu aku siapa?” Aku kaget sekali mendengar suara itu, suara itu seperti sering aku mendengarnya aku yang tertunduk langsung mengangkat kepalaku, sambil ku tatap wajahnya.

Ku lihat senyumnya. Senyumnya manis sekali, tubuhnya tinggi tegap. Rasanya mataku tak mampu berpaling dari wajah itu, sampai akhirnya dia menggenggam kedua jemari tanganku.
“Aku yang selalu kamu sebut pangeran kamu,” katanya sambil tersenyum padaku. Jantungku makin berdegup kencang sambil menyebut namanya dalam hatiku.
“Anggar.. benarkah dia Anggar?” aku masih terdiam memandang wajahnya.
“kamu Karina Saraswati bidadari aku kan?” Pertanyaannya itu membuatku yakin bahwa itu Anggar.
“kamu Anggar?” Jawabku terbata-bata.

Rasanya aku ingin waktu berhenti di situ saja, ternyata pertemuan ini tidak membawa perubahan untuk kami. Kami tetap menjadi kami yang seperti pacaran di dunia maya. Perjalanan menuju rumah ibu Anggar masih sangat jauh dari terminal itu. Selama di perjalanan Anggar tak henti hentinya membuatku bahagia.
“kamu cantik banget.” katanya memujiku.
“kamu baru tahu ya? aku kan udah cantik dari dulu” jawabku meledek dia tertawa.
“Ya Allah aku mohon padamu jangan ambil kebahagiaan ini dari aku, terima kasih ya Allah kau memberiku waktu yang indah saat ini” ucapku dalam hati.

Rumah orangtua Anggar berada di atas bukit sehingga setelah turun dari bus, kami harus menempuhnya dengan motor. Di tempat kami turun dari bus sudah ada 2 motor yang menjemput kami mereka paman dan sepupunya. Anggar memboncengku, aku kembali mengucap dalam hatiku, “ya Allah aku mohon jangan ambil kebahagiaan ini dariku, terima kasih ya Allah ini sangat indah untukku.” ucapku dalam hati. “pegangan ya Ay, nanti jalanannya ekstrim loh, tapi kamu jangan takut ya” katanya.

Sikapnya padaku manis sekali sampai-sampai aku serasa terbang ke angkasa. Sesampainya di rumah orangtua Anggar aku dipersilahkan masuk. Keluarganya sangat ramah padaku. Pamannya berkata, “maaf ya rumahnya kayak begini,” kata pamannya.
“gak apa-apa kok paman, sama saja kok, aku malah suka kok di sini” jawabku.
“sebentar ya Ay, aku tinggal dulu, kamu di sini dulu sama Mama ya” katanya aku hanya mengangguk.

Aku ngobrol sama mamanya, mamanya belum terlalu paham bahasa indonesia, karena mamaku juga orang sunda jadi aku sedikit paham bahasa sunda, jadi aku tidak terlalu kesulitan berbicara dengan mamanya. Setelah sekitar 1 jam aku berbincang-bincang dengan keluarganya, Anggar datang mengahampiriku. “yuk Ay, aku tunjukin kamar kamu” katanya sambil ditemani mamanya aku menuju kamarku untuk bermalam di sana.

Betapa kagetnya aku saat aku membuka pintu kamar itu, kamar yang benar-benar indah banget. Aku gak menyangka dia mewujudkan satu per satu angan-anganku. Dulu saat aku menjadi pacar dunia mayanya aku pernah berkata, “pokoknya kalau nanti aku main ke rumah kamu, aku mau kamu yang siapin kamar untukku, tapi kamarnya harus yang indah, yang banyak bunga-bunganya, aku ingin sekali merasakan tidur di antara tumpukan bunga. Bagaimana ya rasanya?” kali ini dia benar-benar mewujudkan semua itu dan lagi lagi aku berucap.
“ya Allah jangan ambil kebahagian ini dariku ya Allah, waktu ini benar-benar indah untukku” ucapku dalam hati.

“seneng gak neng? ieu teh aa nu ngaberesan kamar ieu untuk eneng.” (senang gak neng? ini semua aa yang siapin kamar ini untuk eneng) tanya mamanya padaku, rasanya aku terharu sekali, aku benar-benar diperlakukan bak putri di rumah ini.
“makasih a, aku seneng banget” kataku sambil meneteskan air mata, lalu dia menghapus air mataku.
“apa aja yang buat Ayang bahagia, aa pasti akan lakuin” jawabnya mendengar kata-katanya hatiku makin terharu bahagia.
“Silahkan istirahat bidadari aku,” katanya sambil mempersilahkan aku duduk di ranjang yang dipenuhi sama bunga-bunga.
“makasih buat semuanya ya a..” Kataku.
“udah, sekarang kamu istirahat, aku mau ke luar dulu ya, selamat istirahat sayang” katanya sambil mengecup keningku. Aku hanya tersenyum. Lalu dia melangkah ke luar kamar.

Ku nikmati kamar indah yang selama ini ada di dalam mimpiku, rasanya bahagia sekali, aku ingin semua berhenti di sini, karena kebahagiaan ini terlalu indah untukku. Ku pandang foto yang berada di meja samping ranjangku. Sambil mengenang awal pertama kali mengenalnya. “ini laki-laki angkuh dan dingin itu, dan ternyata laki-laki ini yang membuatku bahagia seperti ini, oh Tuhan perkenankanlah dia menjadi jodohku, jaga selalu hubungan kami..”

Setelah 1 jam aku beristirahat ada yang mengetuk kamarku “Ay..” Panggilan khas pangeranku.
“iya..” setelah ku jawab dia langsung membuka pintu kamarku, “makan dulu yuk,” ajaknya padaku. Aku langsung bergegas menghampirinya.

Setelah sampai di ruangan untuk makan. Dia menyendokkan aku nasi.
“maaf ya Ay, ikan bakarnya gak ada tadi aku udah cari-cari, mungkin karena udah malam. Ini daging sapi panggang” katanya.
“gak apa-apa kok a, ini juga udah enak” kataku.
“tapi kan Ayang dulu pernah bilang kalau Ayang main ke sini, Ayang mau dibuatin ikan bakar sama aa” katanya.
Aku sama sekali gak menyangka dia ingat semua itu. Rasanya aku tak berhenti dibuat bahagia dengannya.
“Gak apa-apa kok sayang, ini enak banget” kataku.
“benar enak neng? ieu teh nu ngabuat aa neng” kata mamanya.
“iya mah, enak kok..” Kataku.

Rasanya aku gak ingin semua ini berakhir. Aku ingin selamanya merasakan ini. Setelah makan dan berbincang-bincang dengan keluarganya, aku dan Anggar duduk-duduk di teras. Udara di sana sangat dingin, Anggar merangkulku, “aku bahagia banget hari ini, ternyata Allah benar-benar memberikan waktu yang indah untuk kita” kata Anggar sambil bersandar di bahuku.
“iya akulah orang yang paling bahagia hari ini a, semua apa yang menjadi mimpiku semua terwujud di sini, makasih ya” kataku sambil menatapnya.

“berarti kita adalah dua orang manusia yang paling bahagia di dunia ini sekarang” katanya sambil merangkulku. Rasanya waktu berjalan amat cepat tak terasa sudah jam 11 malam.
“udah malem Ay, kamu bobo dulu ya, istirahat dulu” pintanya aku hanya menganggukkan kepala dia mengantarku sampai depan kamar.
“selamat istirahat ya sayang.” katanya sambil mencium keningku.
“iya, kamu juga.” dia hanya tersenyum.

Cerpen Karangan: Khalia Ramadanika
Facebook: Khalia Ramadanika Khalmar

Cerpen Persimpangan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hari Yang Tak Pernah Ku Sangka

Oleh:
Ku rebahkan badanku di kasurku dan melepaskan kepenatanku hari ini. Kegiatan sekolah hari ini benar-benar membuatku lelah. Tiba-tiba ponselku berdering, alangkah terkejutnya aku ternyata itu adalah pesan dari orang

Menunggu Surat Wartini

Oleh:
Kulihat di depan rumahnya sudah terparkir sebuah mobil. Aku memasuki rumahnya. Terlihat Wartini sedang duduk di ruang tamu. Dia melihatku dan segera menghampiriku. Aku memandang wajahnya, nampak jelas sekali

Operasi Outlone (Part 1)

Oleh:
Ia di sana, menatapnya penuh kasih sayang, jaket hijau dan jeans biru yang dipakainya menambah kesan tomboi. Ia begitu tinggi hingga Tasim selalu mendongak ke atas setiap kali berbicara

Cintaku Salah

Oleh:
Mataku sembab dan kepalaku terasa berat . Masih membekas sisa tangisku tadi malam. “ srek…srek… “ kupaksakan kakiku tuk melangkah . Aku harus segera mandi . Hari ini ada

Mystery Of Love (Part 2)

Oleh:
“Derika?” Tanya Anfa hati-hati. “Sebentar ya.” Aku pun berdiri dari kursiku dan mengahmpiri Sandi. “Sandi.” Panggilku dengan suara serak, orang yang dipanggil pun menoleh dengan kaget. “Derika.” “Sandi mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *