Persimpangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 5 October 2014

Persimpangan itu terdengar seperti “banyak jalan yang harus kau pilih dengan tepat”. Sekali kau berbelok ke arah yang salah, susah untuk kembali lagi. Hal seperti itu yang aku alami sekarang.

Kisahnya dimulai ketika aku menemui persimpangan pertamaku. Saat itu kebingungan yang luar biasa melingkupi diri. Aku tetap berdiri tegak di persimpangan itu, menunggu seseorang yang mampu membantuku memilih jalan yang benar.
Berhari, berminggu, berbulan..

Banyak orang-orang yang melewati persimpangan jalan yang sama denganku, namun tetap saja hanya aku yang tersisa disini. Masih menunggu. Ingin rasanya aku memilih jalanku sendiri, tapi rasa ragu itu lebih besar dari keberanianku.
Dan akhirnya kamu datang..
Kamu hanya menyapaku sekilas lalu perlahan pergi menuju jalan setapak yang ada di depanku. Aku hanya tertegun, dan kembali lagi diam dalam keheningan.

Tiba-tiba langkahmu terhenti di depan sana, dan dengan cepat kamu berlari kembali menuju tempatku berdiri. Kamu berdiri dengan tegaknya di depanku, tersenyum, dan perlahan mengusap rambut ikalku. Lalu tangan kokohmu mengenggam tanganku dengan erat. Aku hanya terpana, dan perlahan mengikuti arah dirimu melangkah.

Jalan setapak yang kita lalui sungguh indah. Rerumputan hijau membentang, dan bunga-bunga yang berwarna-warni berjejer rapi menghiasi tepi-tepi jalan setapak ini. Kamu tidak berbicara apapun, sesekali kau berhenti hanya sekedar untuk mengusap rambutku atau mencium pipiku. Aku hanya bisa tersenyum malu saat kamu melakukan itu.
Perlahan.. aku menyayangi dirimu..
Perlahan.. aku mencoba untuk memilikimu..

Namun sampailah kita di persimpangan yang kedua. Genggaman tanganmu tiba-tiba melonggar. Kamu tidak mengusap rambutku ataupun mencium pipiku. Kamu hanya melepaskan genggamanmu, lalu melangkah menuju jalan setapak yang ada di sebelah kiriku. Aku terdiam. Perasaan sedih dan bingung berkecamuk di dalam hati ini. Aku sendirian lagi.
Aneh. Rasanya seperti de javu. Aku kembali lagi sendirian di persimpangan ini. Satu-satunya alasan aku bertahan disini, aku berharap kamu kembali lagi. Kembali mengenggam tangan mungilku. Kembali lagi tersenyum kepadaku.

Kamu dimana..
Aku sendiri..
Aku kedinginan..
Aku kepanasan..
Aku kesepian..
Kamu dimana..

Aku hanya bisa mengencangkan jaket yang ku pakai saat itu. Meratapi berbagai macam jalan setapak yang ada di sekelilingku.

Tiba-tiba, ada seseorang yang tersenyum padaku. Aku berharap itu kamu. Sayangnya bukan. Namun orang itu malah menghampiriku. Mengenggam tanganku seperti dulu kamu mengenggam tanganku. Mengusap rambutku seperti kamu mengusap rambutku.

Dia menarikku dengan lembut, seolah menginginkan aku ikut dengannya. Aku tidak mau pergi. Aku khawatir tidak akan bertemu lagi dengan kamu. Dia makin kuat menarikku, dan akhirnya perlahan aku melangkah mengikuti dia. Sesekali aku melihat ke belakang, berharap kamu akan datang menyusul. Tapi ternyata tidak. Di kejauhan, di sebelah kiriku, di jalan setapak, aku melihat kamu berjalan pelan. Tanganmu tidak mengenggam tanganku lagi. Kamu sendirian sekarang.

Kamu menoleh. Melihat ke arahku, melihat ke dia. Kamu tersenyum, dan tetap melangkah perlahan seiring langkahku dan dia. Aku sesekali melihat ke arahmu, lalu melihat ke arah dia.

Entah mengapa perjalanan ini terasa lama. Aku berharap akan bertemu persimpangan lagi dan kembali berjalan meniti jalan setapak denganmu.

Tapi entah kapan.

THE END

Cerpen Karangan: Wicita Meibhiyanti
Blog: wicitameibhiyanti.blogspot.com

Cerpen Persimpangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dunia Dimana Kamu Tidak Pernah Ada

Oleh:
Aku tidak memiliki tujuan apa pun dalam hidup ini, aku hanya memiliki naluri untuk bertahan hidup, meski sekarang hatiku diisi oleh kekosongan, tapi aku tidak pernah ingin lenyap begitu

Cinta Yang Telah Pergi

Oleh:
Pada sore hari Aku duduk di teras belakang rumah, sambil liatin ikan hias piaraan papa di kolam kecil samping teras. Aku kepikiran terus kata-kata Mutia sahabat baik aku di

Mutiara Penyatu Hati

Oleh:
Pagi yang melelahkan. Rasanya aku males berangkat ke kantor. Tapi apa daya. Kerjaan lagi numpuk. Menunggu untuk segera dibereskan. Sesampainya di kantor aku melihat beberapa memo menempel di layar

My Wedding (Part 1)

Oleh:
Aku menatap bayangan dalam cermin, bayangan diriku sendiri, dengan gaun warna ungu muda, rambut yang ditata sangat indah, dan polesan make up yang menambah keanggunan seorang pengantin, ya hari

Cerita Dara

Oleh:
“Dara…, tunggu!” suara cempreng milik Faya menghentikan langkah kakiku yang tergesa-gesa. Aku berbalik menanti Faya yang berlari-lari kecil ke arahku. Saat Faya sampai tepat di belakang ku, aku kembali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *