Pertama Kali

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 October 2015

Sore itu, hujan datang membasahi bumi. Hujan yang datang cukup besar. Seisi sekolah telah kosong, tapi aku belum dijemput. Aku baru saja selesai dari ekstrakurikuler matematika, pelajaran favoritku sejak dulu. Teman-teman satu ekskulku juga sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Jadi aku berteduh di masjid sekolah, sendirian. Aku terdiam duduk di halaman masjid. Setidaknya aku tidak kehujanan. Sambil menunggu, aku memainkan ponselku.

Setengah jam berlalu. Sebentar lagi adzan asar akan berkumandang. Penjaga sekolah yang biasa mengumandangkan adzan juga sudah tiba di masjid. Tepat lima menit sebelum adzan, Arman datang. Arman adalah teman ekskul jurnalku.
“Ternyata masih ada orang.” Pikirku lega. Arman tidak sendiri, dia bersama dengan temannya, Farhan. Karena baru mengenal Arman, aku masih canggung.
“Sendiri aja?” tanya Arman kepadaku.
“Iya, belum dijemput.” Jawabku singkat.
“Oh iya, ini kenalin temen aku, Farhan.” Farhan hanya tersenyum. Begitu juga aku. Suasana sangat canggung. Tak lama setelah itu Arman pun pergi bersama Farhan.

Aku mulai bosan hanya duduk dan diam. Karena itu, aku pergi menuju kantin sekolah. Aku berharap masih ada warung yang buka karena aku mulai lapar. Sebenarnya jarak antara kantin dan masjid cukup dekat. Namun, karena hujan aku memilih jalan yang berputar supaya tidak basah. Tidak disangka-sangka ternyata Dewi, temanku, masih ada di kantin. Dewi tidak sendirian. Di kantin dia duduk-duduk bersama dengan teman lamanya saat ia kelas 7. Dan Arman adalah salah satu teman Dewi saat kelas 7. Tasnya ada di atas bangku tapi orangnya tidak. Sesaat kemudian, Arman datang dengan Farhan. Karena aku belum begitu dekat dengan mereka, aku hanya diam dan membisu. Aku hanya mengenal Arman dan Dewi, Farhan saja baru dikenalkan tadi, dan satu lagi Hana, aku tidak mengenalnya.

Setelah kurang lebih 15 menit di kantin, aku dijemput. Aku sangat bersyukur. Aku takut jika aku duduk terlalu lama di sana, aku akan mengganggu Dewi dan teman-temannya. Masalahnya, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan dan siapa yang mereka bicarakan. Untungnya aku pulang lebih dulu. Hari masih hujan. Aku terpaksa basah untuk memasuki mobil yang dikendarai ayahku. Sepatuku basah. Di perjalanan pulang, aku baru ingat sebelumnya aku pernah bertemu dengan Farhan di masjid. Sebenarnya sudah sangat sering aku bertemu Farhan di masjid sepulang sekolah.

Tapi sebelumnya, Nisa pernah mengantarkanku untuk bertemu dengan Farhan sebagai anggota salah satu ekskul yang aku minati. Tapi karena harinya bentrok dengan ekskul matematika, aku tidak jadi masuk ekskul yang sama dengan Farhan. Padahal aku dan Nisa sudah bertanya-tanya pada Farhan dari jarak yang cukup jauh. Aku tidak ingat jelas wajah Farhan saat itu. Mataku minus dan kacamataku belum sempat aku ganti karena minusnya bertambah. Saat itu Nisa juga menyebut nama Farhan kurang jelas.

Bertemu dengan Farhan adalah hal biasa. Tapi sesuatu mengubahnya. Temanku, Mia, dia mengatakan aku dan Farhan mirip. Aku pikir itu hal yang biasa. Raja juga pernah mengatakan salah seorang perempuan di kelas 8.4 mirip denganku. Raja juga pernah memperlihatkan adik kelas 7 yang mirip denganku, katanya. Nyatanya tidak. Jadi hal ini sudah biasa aku dengar. Tapi Mia mengatakan hal ini dengan sangat puitis.
Dia berkata, “Ra, dalam diri kamu itu ada Farhan.” aku hanya tertawa kecil.
Mia bertanya lagi, “Kamu absen berapa?” aku jawab seadanya.
“Empat satu.” Mia tersenyum genit.
“Kamu empat puluhnya, dia satunya.” Aku bingung. Nisa memperjelas.
“Dia absen satu lagi? Iyalah, dia kan namanya dari A.” Ohh, aku baru tahu. Satu lagi orang yang mirip denganku.
Setelah Mia, temanku yang lainnya mengatakan hal yang sama. Aku mulai diejek. Aku acuh saja. Nyatanya aku hanya mengenal Farhan. Sebatas kenal dan tahu. Aku menyukai orang lain, bukan Farhan.

Di akhir tahun ajaran, aku mulai tidak dapat menyangkal lagi. Aku mulai menyukai Farhan karena ejekan-ejekan kecil dari orang-orang yang perhatian denganku, teman-temanku. Walaupun aku menyukai orang lain, Farhan mulai memasuki pikiranku secara perlahan-lahan. Teman-temanku berhasil. Aku mulai goyah. Aku menyukai Farhan, sedikit. Di semester kedua, Aku dan Nisa akan mengikuti sebuah olimpiade. Di hari Jumat, aku dan Nisa berlatih bersama satu teman lainnya dan satu Kakak kelas. Olimpiade ini adalah olimpiade antar tim.

Di hari Sabtu saat aku datang untuk latihan, peserta olimpiade bertambah dua orang. Mereka berdua duduk di belakang bangku yang diduduki Nisa.
“Rara sini!” teriak Nisa menunjukan tempat duduk untukku.
“Aku gak kesiangan kan?” Aku bertanya karena aku terlambat 15 menit.
“Dikit sih, tapi belum mulai kok.” Nisa menenangkanku.
“Eh itu yang di belakang siapa?” aku bertanya untuk kedua kalinya. Aku mulai penasaran.
“Lihat aja nanti!” jawab Nisa dengan enaknya.

Dua orang itu datang. Mereka berdua adalah Ichsan dan Farhan. Aku kaget. Hatiku masih biasa, aku hanya diam melihat mereka, tapi tidak untuk Nisa. Nisa mulai mengejekku secara ‘diam-diam’. Nisa senyum-senyum sendiri melihat Farhan duduk tepat di belakangku untuk pertama kalinya. Aneh. Harusnya aku yang senyum-senyum, bukan Nisa. Untuk empat jam latihan, aku menjadi patung. Hal-hal kecil lainnya membuatku bingung sendiri. Setiap Farhan lewat di depanku, teman-teman pasti mengejekku. Jika Farhan lewat, secara otomatis Dewi, Nisa, Nabila dan Vina memanggil namaku.
“Ra.. Ra.. Ra..”. Terkadang, penyakit batuk pun diderita mereka ketika Farhan lewat.
“Ehm.. Ehm.. Ehm..” aku jadi salah tingkah, tapi tidak ada apa-apa. Aku hanya… malu.

Pikiranku semakin dipenuhi Farhan. Farhan semakin sering ada dalam ingatanku sejak adanya acara study tour ke Semarang. Udaranya panas, tapi hatiku sejuk. Hatiku sejuk saat melihat Farhan turun dari bus. Sayangnya aku dan Farhan tidak satu bus. Aku dan Farhan memang berbeda kelas. Tapi hatiku menjadi panas ketika melihat Jean, orang yang juga suka dengan Farhan tepat berada dekat dengannya. Tapi aku tidak begitu peduli, aku masih biasa, sedikit.

Matahari terbenam. Langit mulai menjadi gelap. Tempat yang cukup bersejarah akan dikunjungiku dan teman-teman seangkatanku, kami akan melihat pertunjukan Sendra Tari Ramayana di Candi Prambanan. Tidak hanya bersejarah bagi Indonesia, tapi juga untukku. Untuk pertama kalinya aku memfoto Farhan. Cukup banyak fotonya, tapi dari jarak yang cukup jauh. Aku tidak berani foto Farhan dari dekat. Pertunjukan seni di sana memang menyenangkan. Tapi lebih menyenangkan ketika aku melihat Farhan. Jujur, saat melihatnya aku tidak mengantuk.

Tahun berganti. Kelas pun berganti. Karena ada sistem perputaran kelas, aku masuk ke kelas 9.5 bersama beberapa temanku. Dewi juga masuk ke kelas 9.5. Aku cukup nyaman di kelas itu. Anak-anaknya asyik, walaupun aku belum mengenal mereka. Tapi di hari keempat, aku diminta untuk pindah ke kelas 9.1. Dan di kelas itu pula Farhan dan Jean. Aku terkejut, senang, malas, takut, bahagia, aneh, dan tidak menyangka. Aku mengkonfirmasi kepindahanku kepada wali kelas 9.1. Aku dan beberapa anak lainnya setuju. Aku mulai tidak karuan.

Keesokan harinya, aku masuk ke kelas baru, kelas 9.1. Kisahku yang baru pun dimulai. Aku tidak hanya harus menghadapi Farhan, tapi juga Jean, orang yang menyukai Farhan. Aku benar-benar bingung. Setidaknya, aku mengenal beberapa anak di sana berkat beberapa temanku. Aku tidak sendirian.

Cerpen Karangan: Urfi R.
Blog: urfirihhadatul.blogspot.com

Cerpen Pertama Kali merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tahu Kok

Oleh:
Bagaimana ya rasanya jadi cewek cantik yang populer lalu banyak yang suka. Enak ya, mau ke mana pun dikenal. Mau pulang nggak repot soalnya banyak teman yang mau nganterin.

Sebuah Es Krim

Oleh:
“Kau! Kau sudah menghabisinya! Kau akan membayar untuk semua ini!!”, teriakku penuh dendam, armor putih yang kukenakan gugur berjatuhan. Harus kuakui, Jake memang lebih kuat dariku, armornya bahkan tidak

Because Of You

Oleh:
“I Will not make the same mistakes that you did, I will not let myself cause my heart so much misery.. oh nanana?” – Kelly Clarkson Because Of You

Move On? Gak bisa

Oleh:
“Neisya ” Deg, hati gue serasa ada yang mukul setelah baca PM nya Arya. “heh, kenapa lo? Galau?” Seru Bella yang tiba tiba nyamperin gue. “Apaan sih, engga lah.

Cinta Simpul Mati

Oleh:
Tahun ini, sekolah Abby mengadakan kemah Perkajusa (Perkemahan Kamis Jumat Sabtu). Regu Abby sedang mendiskusikan apa saja yang akan dilakukan pada saat kemah. Kini, mereka sedang berada di teras

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *