Pertemuan Adalah Jebakan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 17 May 2016

Suatu pagi di teras rumah, aku asyik mengecek beberapa akun sosial media yang ku punya, tentunya ditemani segelas susu hangat buatan tanganku sendiri. Instagram dan Twitter sudah cek, tapi gak ada satu pun notifikasi untukku, selanjutnya giliran Path, kebetulan aku baru memposting momen semalam. Barangkali pagi ini ada banyak love untukku. Lumayan buat sarapan. Dugaanku benar! Sekitar 30 orang teman telah memberi love pada momen yang ku posting. Hebat? Enggak juga, itu biasa terjadi. Sebab aku juga sering memberi love pada apa yang diposting teman-temanku. Tapi, nampaknya ada yang berbeda kali ini. Ada satu profile picture yang jarang ku lihat memberi love pada postinganku. Aku sangat asing dengan gambarnya. Ketika ku klik, barulah ku tahu siapa dia.

Namanya Liya. Dia mantan pacarku waktu SMA. Kita sudah lama berteman di Path, tapi aku jarang sekali melihatnya memposting sesuatu. Mungkin, dia instal Path cuma biar gak disangka culun sama teman-temannya. Aku paham betul pergaulan masa sekarang. Aku jadi ingat, aku dan Liya sudah tidak bertemu kurang lebih 3 tahun. Dan selama itu pula kita gak pernah berkomunikasi meski sebatas chatting di sosial media. Jujur saja, aku merindukannya. Bahkan pernah beberapa kali aku memimpikannya. Ya, Tuhan! Melihat fotonya saat ini seperti membuat sel-sel rindu dalam tubuhku aktif kembali. Dan seolah ada bisikan ghoib yang mengatakan, “Ini kesempatan emas 24 karat, kamu harus mengajaknya bertemu sebelum dia kembali hilang ditelan waktu.” Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya aku sapa dia lewat fitur message di Path.

“Hai, anaknya Ibu Intan yang rumahnya ada ayunan!”
Beberapa menit kemudian dia balas, “Halo, anaknya Ibu Nita yang kulkasnya selalu sepi!”
Aku senyum membacanya. Dia belum berubah. Gak usah heran sama percakapan di atas. Kita memang begitu. Makanya, dulu kita dianggap pasangan paling serasi oleh teman-teman di sekolah. Selanjutnya, aku basa-basi sampai akhirnya ngajak ketemuan. Kalian gak usah tahu gimana ngomongnya, intinya semesta mendukungku. Liya mau.

“Hai! Maaf ya telat, di jalan macet banget,” Tiba-tiba Liya menyapa aku yang lagi fokus main game Clash Royale di handphone karena bosan menunggu.
Aku kaget. Handphone-ku hampir terlempar indah ke lantai.
“Kebiasaan,” kataku. “Macet kenapa emangnya?”
“Biasa, deh, mobil sama motor pada lewat bumi!”

Aku ketawa. Liya juga. Malam itu kita bertemu di sebuah cafe di bilangan Jakarta Timur. Dan sungguh, Liya terlihat cantik sekali. Atau sebenarnya sama saja seperti terakhir kali aku melihatnya, tapi rasa rindukulah yang menggandakan kecantikan Liya jadi berkali-kali.
“Jadi, hal penting apa yang mau kamu sampein?” Liya bertanya begitu karena waktu di chat aku bilang mau nyampaikan hal penting.
“Nanti dulu, buru-buru banget, sih,” kataku sambil mengangkat gelas minuman yang ku pesan untuk segera ku transfer ke dalam perutku.
“Kamu mau menikah?”
HEH?

Aku membendung minuman yang hampir mengalir ke tenggorokan. Aku gak ngerti kenapa Liya kepikiran ke situ. Kalaupun iya, aku gak bakal minta izin dia juga, sih. Aku tahu, pasti dia asal nebak. Kalau begitu aku juga asal jawab.

“Aku, sih, terserah kamu aja siapnya kapan,”
“Ya, siapin aja dulu,” sahut Liya.
HEH? Ini orang seneng banget bikin aku canggung. Heran!

Banyak yang kita obrolin malam itu. Bahkan Liya juga sempat cerita bahwa kedua orangtuanya sedang sakit. Ibunya terkena penyakit komplikasi, yang mengharuskannya balik ke rumah sakit tiap akhir pekan. Sedangkan ayahnya baru divonis terkena penyakit ginjal. Aku jadi sedih mendengarnya. Liya juga, kelihatan dari wajahnya. Namun, Liya tidak konsisten dengan ekspresi sedihnya. Setelah bicara soal keluarga, dia langsung mengalihkan topik obrolan ke kesibukan. Dia kelihatan ceria lagi sekarang.

“Kamu lagi sibuk apa?” tanyanya.
“Masih kayak kemarin, kangen kamu,” aku jawabnya malu-malu.
Liya gak merespon. Soalnya dia gak dengar, aku ngomongnya dalam hati.

“Hei! Dengar gak, sih, ditanya?”
“Oh, iya, iya, dengar. Aku sibuk ngerjain gambar orderan orang. Kalau kamu?”
“Kuliah. Cape, deh, tugas gak kelar-kelar,”
“Kalau mau kelar mah gampang,” kataku dengan ekspresi sotoy.
“Gimana?”
“Kerjain,”
“BODO AMAT!” Liya menimpukku pakai sobekan tisu.

Karena terlalu asyik ngobrolin hal lain, sepertinya Liya lupa sama hal penting yang aku janjiin di Path. Lagi pula, hal penting itu gak ada. Itu cuma alasan biar Liya mau diajak ketemu. Sejatinya, pertemuan inilah yang penting. Setidaknya, untukku. Baru ku kira dia lupa, eh, dia langsung nanya lagi, “Mana hal pentingnya? Aku nunggu, loh, dari tadi,”

Sial.

“Menurut kamu, ketemu sama orang yang kita rindu itu penting gak?” aku nanya.
Liya gak langsung menjawab. Dia seperti memikirkan sesuatu. Dan dia makin manis di saat-saat seperti itu.
“Penting,”
“Nah, menurutku juga begitu. Makanya kita di sini,”
Dia seperti gak percaya dengan apa yang aku katakan.

“Kamu pasti bohong,”
“Kenapa harus bohong?”
“Kenapa harus aku?”
“Emangnya kenapa kalau kamu?”
“Mantan kamu kan banyak,”
“Tapi rindunya sama kamu,”
“Ih!”

Aku tersenyum melihat ekspresi jengkelnya. Gak seharusnya dia jengkel. Itu hanya membuatnya makin manis. Aku makin betah lama-lama di dekatnya. Pukul 21.40 kita memutuskan untuk pulang. Sudah 2 jam kita di sini. Bahan obrolan kita sudah habis. Begitu juga dengan rinduku, telah lunas ditebus.

Ku pikir akan tenang setelah bertemu Liya, tapi ternyata aku salah. Keesokan harinya aku jadi kepikiran dia terus. Aku gak ngerti kenapa. Tawa renyah dan hal lainnya di malam itu terputar lagi di otakku. Ini benar-benar di luar kuasaku. Apakah aku jatuh cinta lagi dengannya? Entahlah. Mungkin saja sebenarnya pertemuan adalah jebakan. Pertemuan tidak bisa menebus rindu. Sebab yang ada setelah itu malah semakin rindu. Oh, Liya!

Cerpen Karangan: Tata
Blog: ruangterbang.wordpress.com

Cerpen Pertemuan Adalah Jebakan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hmm…

Oleh:
Terpaku membisu dalam keheningan malam, ingin rasanya ku menjerit dalam kesunyian, namun apa daya. Untuk apa ku menjerit dalam kesunyian, tak akan ada pula yang dapat mendengar jeritanku meski

Sekolah

Oleh:
SEKOLAH… sebagian besar disini aku belajar hidup. Mencari teman, mendapatkan sahabat, menemukan cinta, dan memiliki pengajar yang emosional atau selera humor yang beragam. Tiap pagi, ku ikat tali sepatuku

Benang Tersembunyi

Oleh:
Kedua orangtuaku sudah bercerai sewaktu aku masih berumur 5 tahun. Dulu sewaktu SD, terkadang aku sangat iri melihat teman-temanku yang mempunyai orangtua lengkap dan mereka hidup bahagia. Tidak sepertiku

Galau

Oleh:
Sore ini seperti sore yang lainnya. Sore yang biasanya ku lewati hanya dengan secangkir kopi di tempat tongkrongan ku biasa. Namun keadaan berubah seketika saat awan menjadi gelap dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *