Pertemuan Kembali

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 30 September 2012

Kali ini acara diklat yang kesekian kalinya aku ikuti. Bukan di dalam kota seperti biasanya, pemerintah daerah mengutusku mengikuti diklat di Jakarta. Tentu saja kesempatan ini tidak ku sia-siakan. Padahal bagiku, diklat seperti ini hanya menghabiskan uang negara saja. Tidak ada dampaknya bagi orang banyak.

Namun cukuplah bagiku mengikuti saja kehendak mereka. Mumpung gratis, bisa plesiran ke Jakarta. Sekali-kali merasakan bagaimana nikmatnya naik Garuda. Merasakan tidur di kasur yang empuk dengan fasilitas hotel yang mewah. Mau pesan makanan tinggal mengangkat telepon, pelayan akan datang mengantarkan makanan.

Aku bisa bolak-balik seenaknya di tempat tidur tanpa harus berbagi tempat dengan istri serta anakku. Televisi pun bisa ku kuasai sepenuhnya tanpa harus rebutan dengan anak-anakku. Beginilah nikmatnya, sebentar saja merasakan kesenangan menjadi orang kaya.
Iseng-iseng ku buka daftar peserta diklat. Mataku tertuju pada sebuah nama “Zavira Kencana”, nama yang sangat familiar di telingaku. Nama yang tidak pasaran.

“Mungkinkah dia orangnya,” batinku gusar sambil membayangkan kejadian yang lalu.
Aku benar-benar terpesona oleh kemolekan wajahnya, mata yang bulat, bibirnya yang sensual dengan hidung mancung menempel di atasnya. Wajah yang oval dengan padanan alis berbentuk laksana bulan sabit semakin menambah keindahan ciptaan Tuhan tersebut. Apalagi saat ia tersenyum, lesung pipit membuat wajahnya kian mempesona.

Benar-benar sempurna makhluk Tuhan yang satu ini. kesempurnaan fisiknya semakin lengkap saja karena didukung oleh kecerdasan otaknya. Sehingga tak salah jika Zavira menjadi primadona waktu itu.
Saat Zavira berada di kantin, para kumbang akan rebutan mentraktir sang bunga Zavira. Begitu juga saat Zavira pergi ke perpustakaan, semua mengikutinya. Seolah ingin dilihat oleh gadis cantik itu, mereka berusaha menarik perhatian Zavira.

Tapi entah mengapa, Zavira seolah tidak tertarik dengan laki-laki yang mengejarnya. Dia akan terlihat begitu antusias saat berdiskusi denganku.

Melihat perhatiannya padaku, aku begitu salah tingkah. “Mungkinkah Zavira menyukaiku,” tanyaku saat itu.

Perhatiannya yang tulus ternyata tidak hanya ditujukan padaku, pada teman yang lain pun Zavira begitu baik. Sehingga niatku untuk menyatakan perasaan padanya musnah. Aku takut Zavira menolakku.
Namun suatu hari aku benar-benar tidak kuasa menahan perasaan yang mengebu di dalam hatiku. Selesai seminar mahasiswa yang diisi olehnya, aku beranikan diri menyatakan perasaanku.

“Aku menyukaimu.” Ucapku lirih, entah dia dengar atau tidak. Saat mataku melirik ke arahnya, Zavira hanya menunduk tanpa mengeluarkan suara.

Aku benar-benar terpukul saat itu, mungkinkah secara tidak langsung Zavira menolakku? Apakah diamnya berarti dia suka padaku?, atau dia takut aku kecewa. Berbagai pertanyaan memenuhi benakku saat itu.
Hingga saat aku memutuskan untuk menikahi istriku yang sekarang, Zavira mengirimkan surat kepadaku.

Suratnya singkat, “Maaf Guntur, aku juga menyukaimu.”
Aku terduduk lemas saat itu. Tidak mungkin hal ini terjadi, aku menyukai Zavira tapi aku bukan laki-laki pengecut. Lari dari rencana pernikahan karena seorang perempuan yang ku kagumi.
Seandainya Zavira lebih awal mengirimiku surat, mungkin hal ini tak perlu terjadi. Seandainya Zavira menerimaku saat itu juga, mungkin ia sudah menjadi istriku saat ini. Berbagai pengandaian memenuhi benakku saat itu.

Aku benar-benar kecewa, benar-benar sedih. Teman-teman menasehatiku” Tuhan terkadang memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.”

Ada juga yang mengatakan, “Mungkin suatu saat kalian akan berjodoh. Jika sudah tahu perasaan masing-masing, siapa tahu suatu saat sama-sama sendiri, bukankah tidak ada halangan untuk bersatu.”
“Mungkinkah pertemuan kali ini untuk menyatukan kami kembali?” batinku berharap.

Tapi aku sangat mencintai Yenni, istriku. Pengabdiannya yang tulus tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun.
Pusing oleh pergulatan hatiku, aku memutuskan untuk keluar dari kamar hotel dan mencari udara segar di Jakarta. Masih adakah udara segar itu? Ah, masa bodohlah….

Diantara sekian puluh peserta diklat, aku mencari-cari sosok perempuan itu. Tapi semakin lelah mataku melihat satu persatu, bayangannya pun tak ku temukan.

Aku buka pesan singkat yang masuk di handphoneku, “Sedang apa Mas, sudah makan belum. I love u…”

Perhatian Yenni seperti inilah yang mampu meluluhkan hatiku. Meskipun tak secantik Zavira, tapi Yenni benar-benar istri yang berbakti.
Saat acara tanya jawab, seperti diklat biasanya. Aku akan selalu antusias untuk bertanya tentang apa saja.

Pertanyaanku disambut gemuruh tepuk tangan peserta yang lainnya. Aku benar-benar ingin eksis di manapun aku berada.
Tapi di manakah Zavira? Mungkinkah dia tahu kehadiranku? Sehingga sengaja menghindar. Namun, apa yang akan terjadi jika aku bertemu dengannya? Akankah aku jatuh cinta lagi?
Setengah hari diklat pun terlewatkan begitu saja. Saatnya untuk menyantap hidangan siang. Aku mengambil posisi di tengah, diantara kerumunan laki-laki dan perempuan.

Saat hendak mengambil nasi, sebuah tepukan halus di pundakku. Aku menoleh ke belakang dan melihat seorang perempuan tua bertubuh gemuk.
Wajahnya seperti ku kenal, tapi siapakah dia?
“Mas Guntur, sudah lupa ya? Aku Zavira! Masih ingat ngga?”
Seperti di sambar geledek, aku hampir saja terjatuh. Untung saja seorang laki-laki gemuk berada persis di depanku sehingga aku bisa bersandar di punggung besarnya.

Tapi laki-laki itu menoleh, seolah ingin mengatakan jika ia berkeberatan punggungnya aku pakai untuk bersandar.
“Oh Zavira!” seruku, seakan tidak terjadi hal yang mengejutkan.
“Sudah berapa anaknya?” tanyanya lagi sambil terus mengambil nasi dan lauk pauk.
“Sudah empat.” Jawabku singkat.

Ku lihat piringnya begitu penuh berisi lauk pauk.
Kami pun memutuskan mengambil meja yang sama, sambil terus bercerita. Ku perhatikan gadis yang dulu pernah ku sayangi. “Mungkinkah ini Zavira? Kemanakah kemolekan wajahnya yang dulu?”batinku.
Kini yang terlihat hanya kerutan di wajahnya, pipi yang bergelambir dengan tubuh tambun. Aku hampir tidak mengenalinya jika saja ia tidak memperkenalkan diri.

Aku mencari-cari sesuatu di wajahnya yang bergelambir. Benarkah dia? Sejenak aku seperti tersadarkan, bukankah kami sudah berpisah dan tidak dipertemukan selama lebih dari 30 tahun.

Cerpen Karangan: Yersita
Facebook: Yersita Er

Cerpen Pertemuan Kembali merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


180 Derajat

Oleh:
Pagi yang cerah mengiringi hari ini, sinar mentari dengan hangat dan penuh kelembutan meresap dalam tubuhku. Pagi itu. Ku berdiri di depan cermin. Mengambil sisir untuk menyisir rambutku, biar

Pencuri Nomor Ponsel

Oleh:
Bulan romadhon yang lalu, aku terbawa pandangan kepada cewek bersweater merah di kampungku, tepatnya Bone. Aku terbawa kemisteriusan cewek itu aku jadi ingin lebih tau dan kenalan dengan dia.

Kau Telah Tiada

Oleh:
Hari ini aku terlambat pulang kuliah lagi. Aku menyusuri sebuah jalan yang dulu adalah kuburan. Akibat perkembangan kota jalan ini di renovasi, kuburan di ratakan dan di aspal. di

Love and Deary

Oleh:
09-12 tepat dmn hari aku dilahirkan, mungkin seharusnya hari ini menjadi hari yg spesial di hidupku, namun tidak untuk ku.. Bahkan aku sangat membenci hari ini, karena bnyak menyimpan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Pertemuan Kembali”

  1. Yunita Fatikhasari says:

    I love this story

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *