Pertemuan Singkat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 November 2013

Hari ini hari sabtu, aku mendapat tugas yang menjenuhkan sekali, aku memutuskan untuk keluar rumah sebentar mencari udara segar agar tidak stress, atau mungkin setelah jalan-jalan aku bisa fresh lagi buat ngerjain tugas yang menjenuhkan ini. aku langsung menuju taman komplek di rumah ku dengan mengendarai sepeda lipat ku. Aku duduk-duduk di taman sambil memakan snack. Aku melihat orang dewasa, remaja dan anak-anak bermain ria di taman itu. Tiba-tiba ada seorang lelaki tampan duduk di sebelah ku. Kemudian dia mengajak ku bicara.
“pagi, boleh aku duduk disini?”
“boleh saja, silahkan”

Kalau dilihat sepertinya dia mahasiswa baru di kampus ITS. Kebetulan rumah ku di perumahan ITS dekat dengan kampus ITS. Jadi setiap hari selalu bertemu mahasiswa atau pun mahasiswi. Aku tahu kalau dia mahasiswa baru, karena bagi mahasiswa baru di kampus tersebut laki-laki harus dipotong gundul agar terlihat lebih rapi, aku terus berusaha meliriknya untuk memastikan perkiraan ku saja. Tanpa aku sadar dia juga lebih lama meperhatikan ku.

Dia langsung memulai pembicaraan dan memecahkan lamunan ku
“hay, kenapa kau terus memandang ku?”
“aku tidak memandang mu, aku melihat orang di sekitar mu” mencoba mengelak
“tapi, tak ada siapa pun di belakang ku?” sambil menoleh ke belakang
Aku hanya bisa terdiam dan mencari-cari alasan,
“kalau boleh tau nama kamu siapa?, aku Reza mahasiswa baru ITS” ucapnya.
“aku Riska” jawab ku singkat, ternyata benar dugaan ku kalau dia mahasiswa baru ITS
“kamu mahasiswi baru juga?”
“bukan, aku masih siswa SMP” sambil tersenyum kecil
“oh maaf, aku pikir kamu mahasisi baru juga, kok bisa ada disini”
“iya, rumah ku di sekitar sini, lagi bosen aja di rumah makannya pengen cari udara segar aja”
“memangnya rumah kamu dimana?”
“di komplek blok u”
“kamu habis dari mana?” tanya kak Reza
“dari rumah kok, kalau kamu?”
“aku habis dari kampus ngumpulin tugas harian ku, karena tadi aku jalan kaki ke kampus, makannya aku disini buat istirahat sebentar.” jelasnya
“oh gitu, ngomong-ngomong udah agak siang nih. Aku harus segera pulang, soalnya aku males kalau pulang nya kepanasan, entar haus.” Papar ku
“okey”

Karena hari sudah menunjukan pukul 08 pagi, aku segera pulang untuk menghindari panas. Aku pulang seperti orang gila, senyum-senyum gak jelas. karena baru pertama kalinya bertemu orang setampan kak Reza. Dia tinggi, hitam manis, dan tak seberapa kurus meskipun rambutnya gundul paling-paling nanti juga bisa tumbuh. Mungkin ini yang dinamakan rezeki di pagi hari, untung belum dipatok ayam.

Sesampainya di rumah, aku mulai mengerjakan tugas ku yang harus dikumpulkan hari senin. Mekipun aku tak suka dengan tugas seni budaya, aku tetap mngerjakannya saja untuk mengisi daftar nilai ku. Mungkin ini yang dinamakan kewajiban seorang pelajar. Pelajaran seni budaya adalah pelajaran yang ku anggap lebih sulit jika dibandingkan dengan pelajaran matematika. Karena seni budaya mempelajari tentang seni di indonesia, dan aku tak ahli di bidang itu. Aku juga bukan pelajar yang seberapa pintar, tapi semua teman sekolah ku menganggap ku siswa yang lebih pintar daripada mereka, mungkin mereka terlalu rendah diri. Meskipun orang-orang di sekolah ku bilang aku anak pandai, aku belum berani untuk bangga terhadap apa yang mereka pujikan kepada ku. Aku menganggap pujian mereka adalah penyemangat bagi ku. Sampai-sampai setiap ada kegiatan belajar kelompok, teman sekelompok ku selalu minder untuk mengutarakan pendapat mereka, karena takut pendapat mereka aku salahkan, padahal tak begitu juga.

Di minggu pagi ini kebiasaan ku adalah jalan-jalan pagi dengan sepeda kesayangan ku. seperti biasa aku selalu menuju tempat favorit ku, yaitu taman komplek di rumah ku. Taman itu menjadi tempat favorit ku karena disitu tempatnya teduh, banyak tanaman-tanaman indah yang ditanam oleh mahasiswa jurusan biologi. Tumbuhan yang ada disitu semua mempunyai nama.

Kali ini aku tak membawa snack dari rumah seperti biasanya. Mungkin karena terlalu bersemangat pagi ini sampai-sampai lupa membawa isi perut. Aku lebih memilih duduk-duduk saja sambil memainkan ponsel Mito ku berwarna merah. Yah, bisa dibilang ponsel murahan. Karena terlalu asyik memainkan ponsel, aku sampai tak sadar kalau di sebelahku ada seorang laki-laki duduk bersama ku. Tapi aku belum sempat melihat wajahnya, karena aku takut itu adalah penjahat. Dan tiba-tiba ada suara yang tertuju padaku, tak ku sangka suara itu berasal dari sebelah kanan ku.
“hay!” suara lelaki itu
“hay juga?”
“kamu masih ingat dengan ku?” tanya nya sambil menunjuk dirinya dan tersenyum
“hmm, siapa ya?” aku pura-pura tak ingat, padahal aku tahu dia itu lelaki tampan yang kemarin yaitu kak Reza
“aku Reza, yang kemarin itu lo.. kamu Riska kan?”
“ow iya iya, aku baru ingat. Iya aku Riska” sambil pura-pura heran
“aku gak nyangka kalau kita bisa bertemu lagi, aku pikir kemaren adalah pertemuan kita yang pertama dan yang terakhir.” Sambil bersandar di bangku
“iya, aku pikir juga begitu, aku senang punya teman baru”
“banyak orang bilang, kalau kita bertemu orang yang sama dan di tempat yang sama juga, namanya jodoh” katanya sambil nyengir.
“mungkin hanya kebetulan saja, itu semua kan mitos”
“tapi kan ada benernya juga, contohnya kita, bener gak?”
“ah, ngaco kamu. terserah lah kalau kamu percaya, kalau aku sih nggak”
Kring.. kringg.. ponsel ku tiba-tiba berbunyi memecahkan suasana percakapan ku dengan kak Reza. Ternyata sms dari ayah ku untuk menyuruhku segera pulang. mungkin ayah mencari ku karena keluar rumah tanpa pamit. “Kak, Riska pulang dulu ya” kata ku sambil terburu-buru. “okey, tapi bisa nggak kamu temui aku senin malem disini habis sholat isya?” jawabnya, “oke kak, akan Riska usahakan!”. Aku langsung mengendarai sepeda lipat ku dan bergegas pulang. karena terlalu terburu-buru, aku sampai lupa meminta nomor ponsel kak Reza. Tapi untung saja dia meminta ku untuk menemuinya setelah sholat isya. Aku merasa sedikit lega sekarang, meskipun tak mendapat nomor ponselnya masih tetap bisa bertemu orangnya.

Sesampainya di rumah aku langsung mencari ayah ku untuk menanyakan mengapa ia mencari ku. Dan ku temukan ayah ku di ruang keluarga sedang menoton televisi. Aku bertanya kepadanya “ada apa yah kok tadi sms aku?”. Dengan entengnya menjawab “nggak, ayah hanya mau menyuruh mu makan sebelum pergi”. Rasa kecewa dan kesal terkumpul di benak ku. Andaikan tadi tak ada sms dari ayah ku, mungkin aku bisa lebih lama mengobrol dengan kak Rea di taman. Karena hanya hal itu yang ingin disampaikan oleh ayah ku, aku langsung saja menuju kamar dan tidur, untuk meredakan lelah ku dan melupakan kesal agar tak berkelanjutan.

Cerpen Karangan: Cahaya Dayu Murti
Facebook: Dayu Murti

Cerpen Pertemuan Singkat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menolak Rasa (Part 1)

Oleh:
Namamu siapa? Belakangan ini pertanyaan konyol itu selalu memenuhi pikiranku. Konyol karena baru kali ini aku ngerasa penasaran dengan nama seseorang, dan itu laki-laki. Padahal untuk tahu namamu semudah

Di Bawah Naungan Orion

Oleh:
Rhea menatap langit yang berpendar oleh taburan cahaya bintang. Alnitak, Alnilam, Mitaka dan si bintang tua Betelgeuse yang berwarna kemerahan berkumpul dengan bintang lainnya membentuk Rasi Orion yang terlihat

Benang Merah Penghubung

Oleh:
Jam menunjukan pukul dua siang. Pukul dimana saat-saat yang bagus untuk menikmati tidur siang. Di sebuah kelas terlihat beberapa murid melakukan rutinitas mereka yaitu tidur siang. Termasuk siswi yang

Keputusan Sepihak

Oleh:
Ya aku ziah seorang wanita yang tak bisa lepas dari handphone. Suatu hari ketika libur sekolah aku hanya asyik dengan handphone, suatu hari ketika aku sedang asyik bermain bbm

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *