Pertemuan Yang Singkat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 May 2018

Hari ini adalah hari ketujuh setelah kepergian orang yang sangat kusayangi, Sekarang aku hanya tinggal sendiri dan mengurus semuanya sendiri. Bagaikan dunia ini hanya ada aku saja.
Namun pagi ini aku harus berangkat ke sekolah, Dengan harapan bisa mendapatkan hasil foto yang bagus untuk kujual dan mendapatkan uang, Aku bersiap siap menyandang tas dan mengambil kamera. Lalu berangkat ke sekolah.

Di perjalanan Tiba tiba ada pesan masuk.
‘Grasiela Cepat datang kesekolah, Ada yang perlu difoto’ pesan dari kepala sekolah.
‘Oke bu.’ balasku lalu bergegas berjalan kesekolah.

Tak beberapa menit kemudian aku pun sampai di sekolah, jam 06.50, Aku langsung berlari keruang kepala sekolah.
“Pagi buk..” ucapku sambil membuka pintu.
“Pagi siela..” jawab ibu kepala sekolah.
“Apa yang perlu difoto?” tanyaku sambil menstel kameraku.
“Nanti kan ada pertandingan basket jadi ibu minta kamu buat foto foto waktu mereka main, Nanti di post di IG jika banyak like ibu akan ikut kan kamu lomba fotografer.” jawab ibu kepala sekolah.
“It’s okey.., Tapi pertandingannya di mana?” tanyaku.
“Di sekolah lain jadi nanti siela berangkat bareng tim basket, Ibu sama pelatih.” jawab ibu kepala sekolah.

Tiba tiba ada yang masuk.
“Pagi bu..” sapanya cowok, kapten tim basket, kevin dan dia lebih tua dariku aku kelas 7 sedangkan dia kelas 8.
“Pagi kevin.. ada apa?” jawab ibu kepala sekolah.
“Jadi berangkatnya kapan?” tanya kevin.
“Nanti jam 08.00” jawab ibu kepala sekolah.
“Oke, Dia siapa bu?” tanyanya sambil menunjukku. Aku hanya diam saja.
“Ooo… dia bakal jadi yang foto kalian waktu main basket.” jawab ibu kepala sekolah sambil tersenyum.
“Ooo… gue kevin.” ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk salaman.
“Gak usah pake perkenalkan diri, semua orang udah tau nama lo.” jawabku datar tidak melihatnya hanya sibuk dengan kameraku yang dari tadi ku pengang.
“Ooo.. oke. Dan sekarang nama lo siapa?” balasnya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong.
“Grasiela. Buk saya kekelas dulu..” balasku sambil berjalan keluar dari ruang kepala sekolah. Tak ada jawaban namun aku menghiraukannya, banyak sahabatku yang bilang kalau aku itu sudah berubah derastis semejak mamaku meninggal 7 hari yang lalu, ada yang bilang aku dingin, cuek, pendiam dan lain lain Namun itulah orang yang akan selalu berubah setiap saat dan setiap waktu.

Baru saja aku sampai di kelas.
“Grasiela…” panggil seseoarang membuatku menghentikan langkahku membalikkan badan. Aku hanya memandangnya dia sifa, sahabatku.
“Ada apa?” tanyaku datar.
“Lo bawa kamera kan hari ini?” tanyanya.
“Bawa, emang kenapa?” jawabku.
“Mau nengok hasil foto kemarin.” balasnya sambil tersenyum. Aku tak menjawab hanya memberi kameraku pada sifa dan berjalan ke kursi duduk dan memang aku sebelahan sama sifa. Aku duduk lalu diam menatap ke luar jendela.

“Bagus kali hasilnya fotonya.” ucapnya.
“Benarkah?” tanyaku datar masih mematap keluar jendela.
“Iya bagus banget.” pujinya lagi.
“Biasa saja.” jawabku datar tak memalingkan pandanganku.
“Jawaban lo selalu begitu saja gak pernah berubah selalu benarkah, lalu biasa saja.” balas sifa, Aku memandangnya lalu berdiri.
“Nanti kalau udah kasih ke gue kameranya.” ucapku sambil berjalan keluar kelas dan tegak diteras memandang kejauhan yang menurutku sangat menarik.

Tak beberapa lama kemudian.
“Siela kameramu.” panggil sifa sambil memberikan kameraku, aku mengambilnya lalu memainkan lensanya dengan lincah Dan mengambil beberapa foto pemandangan di sekitar sekolah.

Bel pun berbunyi semua siswa dan siswi berbaris di depan kelas. Lalu masuk ke dalam kelas dan pelajaran pun dimulai.

Tak beberapa lama kemudian sekitar jam 07.56.
“Permisi bu.” ucap seseorang.
“Iya.. ada apa?” tanya guru yang lagi mengajar di kelasku.
“Mau cari grasiela ditunggu di ruang kepala sekolah.” ucapnya.
“Grasiela, dipanggil keruang kepala sekolah.” panggil guru.
“Iya aku lupa.” ucapku dalam hati sambil berjalan membawa kamera ke luar kelas.
“Permisi bu.” ucapku.
“Lo lupa!!” bentak kevin. Aku hanya diam saja sibuk menatap hasil foto di kameraku.
“Woi gue bicara sama lo!!” bentaknya lagi.
“Iya gue tau.” jawabku datar tidak melihat ke arahnya.
“Jawablah.” katanya lagi.
“Emang gue harus jawab apa?” tanyaku.
“Apalah gitu, sorry, atau aku lupa.” balasnya. Aku hanya diam saja dan terus berjalan ke ruang kepala sekolah.

Sesampainya di ruang kepala sekolah disana sudah ada tim basket, Mereka semua menatapku. Aku hanya diam dan kembali melihat kamera.
“Yuk sekarang kita masuk ke bus.” ajak kepala sekolah, Aku langsung berjalan duluan meninggalkan yang lain.
Sesampainya di bus aku langsung duduk dekat jendela dan menunggu yang lain naik.

Setelah lama aku duduk di bus aku melihat kevin berbicara sama timnya. Satu persatu anggota tim naik dan belum ada yang duduk di sebelahku. Tiba tiba kevin duduk di sebelahku.
“Cie… cie…” ejek timnya kevin. Aku hanya diam saja.
“Lo adalah cewek pertama yang dingin sama kapten kami.” teriak salah satu anggota timnya kevin.
“Emang gue musti ngapain?” tanyaku datar.
“Secarakan kapten kami itu cogan, biasanya langsung gandeng gandeng kalau enggak natap natap gak jelas gitu.” jawab salah satu anggota tim basket.
“Emangnya gue serendah itu mengejar genjar cowok yang banyak diincar hanya buat mencari masalah aja.” jawabku datar sambil menatap kameraku.
“Maksud lo gue itu cowok yang mendatangkan masalah gitu!!” bentaknya sambil menatapku, Aku berusaha menghindar hingga kepalaku kena ke kaca jendela bus dia masih terus mendekat.
“I..i..ya..” jawabku. Dia menjauhkan mukanya dari mukaku.
Tiba tiba bus jalan dan membuat semua anggota kaget. Aku hanya diam saja.

“Kevin namanya siapa?” tanya salah satu anggota tim.
“Kalau lo gak mau buat gue aja, lumayan cantik.” ucap salah satu anggota. Aku hanya diam aja menghiraukan semua yang mereka ucapkan.
“Gila lo..” balas kevin. Aku hanya sibuk pada kameraku.
“Lo tau kapten kami ini baru pertama kali bela cewek, Apa lagi cewek yang cuek sama dia.” kata salah satu anggota tim basket. Aku tak menjawab.

Akhirnya bus pun sampai di tempat pertandiangan ‘sekolah lain’. Kami turun, aku berjalan bersama ibu kepala sekolah.
“Nanti yang paling banya kamu foto itu kevin jangan yang lain.” ucap ibu kepala sekolah.
“Iya.” jawabku.
Lalu kami masuk ke dalam sekolah itu, Ibu kepala sekolah dan pelatih duduk, sedangkan aku sibuk mencari titik bagus untuk memfoto.
Tak beberapa lama kemudian pertandingan pun dimulai. Setelah lama banyak gambar yang telah kuambil dengan kameraku.

Pertandingan pun berakhir pertandingannya dimenangkan oleh sekolahku, Aku kembali memutar lensa kameraku dengan lincah dan mengambil gambar.
“Petandingan telah selesai pihak sekolah dipersialan kembali ke sekolah masing masing, terima kasih atas partisipasinya.” kata juri lomba basket. Aku berjalan ke arah ibu kepala sekolah.
“Buk udah siap kita balik ke sekolah lagi yuk.” ajakku.
“Iya sabar ya siela.” jawab ibu kepala sekolah. Aku berjalan meninggalkan ibu kepala sekolah. Aku tegak di sebelah bus lalu mencari titik yang cocok untuk kufoto.

“Woi, lo mau balik gak?!” panggil seseorang, Kevin. Aku membalikkan badan dan menatap sebentar lalu berjalan kearahnya.
“Lo ngapain sih?!” tanyanya sedikit marah.
Aku hanya diam saja dan masuk ke bus yang sudah penuh dengan anggota tim.
“Woi gue bicara sama lo!!” bentaknya.
“Gue tau!!” jawabku sedikit kasar.
“Terserah lo!!” balasnya sambil duduk di sampingku. Aku tidak sedikit pun menoleh ke arahnya, hanya sibuk memandang ke arah jendela. Bus pun jalan, Aku tak menghiraukannya.

“Woi lo kok diam aja?” tanyanya. Aku tak menjawab.
“Lalu aku musti ngapain?” tanyaku balik.
“Gak ada komfirmasi ke gue gitu?” tanyanya balik.
“Enggak..” jawabku datar.
“Sini gue mau lihat hasil foto lo.” ucapnya sambil menarik kamera dari tanganku.
“Lo bisa pake gak?” tanyaku.
“Tenang gue bisa, gue kan orangnya pro..” ucapnya sombong. Lalu diam.

“Gimana kalau kita makan, sekaligus buat rayakan menangnya tim basket?” tawar ibu kepala sekolah.
“Setuju.” teriak beberapa anggota tim basket.
“Hasil foto lo bagus banget.” ucapnya.
“Benarkah?” tanyaku balik.
“Iya bagus sebab selama ini yang foto kami pasti fotonya melenceng.” jawabnya sambil tersenyum menatapku.
“Biasa saja.” jawabku datar sambil melepas karet rambutku dan memurunkan kaca jendela mobil, Membiarkan rambutku bermain dengan angin. Aku menoleh ke arahnya.
“Sudah, kameraku?” tanyaku.
“Nih.” jawabnya sambil memberikan kameranya kepadaku dan aku mengambilnya mengarahkan ke arah jendela menggerakkan lensa dengan cepat dan megambil beberapa foto. Lalu aku menatap foto itu.

Tak beberapa menit kumudian.
“Anak anak kita sudah sampai ditempat makan.” kata ibu kepala sekolah. Kami turun, Aku sibuk melihat sekeliling yang banyak pergunungan dan mulai mengerakkan lensa dan megambil beberapa foto.
“Hei!! lo gak mau makan?” panggil seseorang.
“Masuk aja dulu, nanti aku nyusul.” jawabku tampa menoleh kearahnya. Aku membiarkan rambutku tergerai oleh angin yang bertiup.

Tak beberapa lama kemudian aku berjalan masuk, Rambut poniku menutupi sebelah mataku, dan berjalan memcari dimana mereka duduk. Lalu Aku menemukan mereka, Aku melihat sebentar ternyata hanya ada satu sisa kursi duduk yaitu di sebelah kevin. Aku duduk disebelahnya lalu meletakkan kamera menung sebentar, Lalu engeluarkan hp.
“Woi!! makan lagi.” bentaknya sambil menarik hpku dan memasukkan ke dalam kantong celananya.
“Balikkan Hp gue!!” bentakku, dan semua yang ada dimeja makan menatap kami.
“Ah..!! bad mood gue!!” ucapku sambil berdiri. Kevin langsung menarik tanganku hingga aku terduduk kembali. Aku menatapnya sebentar, Lalu mengambil sedikit nasi dan sedikit gulai. Lalu makan dengan cepat.

Mungkin sekitar 10 menit aku sudah selesai makan, berdiri mengambil kamera dan berjalan ke arah pintu belakang yang ada di rumah makan itu.
“Woi!! lo mau ke mana?” tanya kevin.
“Menurut lo?” tanyaku balik. Dia diam, lalau aku mempercepat langkahku dan di sana aku menemukan sebuah kolam ikan yang cukup besar yang di tengahnya ada jembatan dari semen tapi dengan ukiran motif kayu di atasnya, Aku mengambil beberapa foto.
“Mungkin gue suka sama lo kevin, tapi gue gak bisa ngungkapinnya, Biar pun nanti lo yang duluan ngungkapin tapi gue udah janji sama mama gak akan pacaran selama sekolah.” gumamku. Lalu menung menatap kolam.

“Woi!!” panggil seseorang mengejutkanku.
Lalu membalikkan badan ke arahnya.
“Apa?” tanyaku. Dia berjalan memdekatiku dan tegak di sebelahku. Aku kembali menatap kolam, dan membiarkan rambutku menutupi muka.
“Lo kok diam?” tanyanya. Aku tak menjawab.
“Lo marah ya sama gue?” tanyanya lagi.
“Enggak.” jawabku datarn
“Nih hp lo.” ucapnya sambil memberikan hpku. Aku mendongakkan kepala keatas dan menatapnya sebentar seentara rambut poniku menutupi sebelah mataku.
“Nih hp lo.” ucapnya lagi. Aku mengambil hpku dari tangannya lalu kepalaku sedikit menunduk. Aku merasakan kalau dia menatapku, Tiba tiba dia merapikan rambutku yang menutupi mataku menyematkan di telinga.
“Gini lebih cantik.” ucapnya sambil tersenyum, Aku kembali menatapnya.

“Gue suka sama lo.” ucapnya lagi, Aku tak menjawab hanya menatapnya.
“Gue mau lo jadi pacar gue.” ucapnya.
“Maaf aku gak bisa.” jawabku.
“Kenapa?” tanyanya sambil menatapku.
“karena aku udah janji sama mamaku untuk tidak pacaran sebelum tamat sekolah.” ucapku.
“Kalau gitu kita sahabatan saja.” ucapnya.
“iya.” jawabku.
Lalu dia menggenggam tanganku dan berjalan keluar dari kolam belakang dan berjalan ke bus.

Ternyata di bus sudah masuk semua tinggal kami.
“Cie… cie…” ejek yang ada di bus kami menjadi malu namun kevin masih mengenggam tanganku.
“bersahabat lebih baik dari pada pacaran karena bersahabat tidak akan terpisahkan, sedangkan pacaran dapat menimbulkan benci.” gumanku.

The End

Cerpen Karangan: Winne Chintia
Facebook: winne chintia

Cerpen Pertemuan Yang Singkat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tentang Lo dan Gue

Oleh:
Seorang cewek menangis di tepi tempat tidurnya, entah apa rasanya hatinya saat ini, dia hanya bisa mengeluarkan air matanya. Seorang itu bernama gladis putri rahayu, keturunan orang indonesia asli.

Tak Ku Sangka

Oleh:
Ini kisah hidupku. Yang akan ku ceritakan pada dunia. Ini kisah cintaku yang ku tuliskan buat dia. Dia sahabatku. Semua dimulai semenjak masuk kelas 3 SMA. Saat aku dan

Alien Dan Penyihir

Oleh:
Pagi yang benar-benar cerah, hh.. badanku benar-benar segar pagi ini. Aku ke luar dari kamarku dan berjalan menuruni tangga dengan senyum yang merekah, semangatku benar-benar menggumpal hari ini, pasalnya

Kesakitan Ku (Part 1)

Oleh:
Kicauan burung pipit terdengar bersahut-sahutan meramaikan suasana pagi ini, saebah cahaya terang merambat masuk melalui celah gorden casual brwarna putih, menyilaukan mata membuatku mau tak mau membuka mataku, melirik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *