Pesan Dari Fisikawan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 14 October 2017

Aku dan kamu delapan belas tahun yang lalu. Duduk di bawah pohon besar dekat sungai sembari mencicipi es krim ditemani angin yang memainkan rambut kami. Merasakan semilirnya hidup yang terus mengalir sampai tak tentu kapan waktunya berhenti. Aku dan kamu delapan belas tahun yang lalu. Tertawa walau tak adanya lelucon yang dibawa. Tertawa kami lepas tak terbantah. Kamu delapan belas tahun yang lalu, adalah kamu yang selalu merajuk ketika aku membahas seputar pelajaran fisika. Pelajaran kesukaanku. Pelajaran yang sangat kamu benci, bahkan katamu, kamu tidak suka pelajaran apapun di sekolah.

“Kamu tuh apa-apaan sih, Ra! Ngapain sih kamu tuh harus ngebahas pelajaran kayak gitu kalo kita lagi main?” kamu mengerucutkan bibir. Sangat menggemaskan!
“Nggak apa-apa dong, justru itu kita bisa main sambil belajar, Raf.”

Waktu itu, kami —ralat, bukan kami, tapi aku— sedang membahas tentang Teori Big-bang, yang menyatakan bahwa alam semesta ini berasal dari kondisi yang luar biasa padat dan panas, yang kemudian mengembang sekitar 13.700 juta tahun yang lalu. Di masa lalu, alam semesta kecil, panas, dan padat. Ia kemudian memuai menjadi alam semesta yang lebih besar, dingin, dan jarak antar galaksi dan materi di dalamnya pun semakin menjauh satu sama lainnya. Para ilmuwan juga percaya bahwa Big-Bang membentuk sistem tata surya. Banyak orang yang sudah salah kaprah tentang penamaan teori ini. Big-Bang bukan sebuah peristiwa ledakan kosmik dan teori Big-Bang memang tidak terlalu sesuai dengan namanya.
“Udahlah, Ra. Gak penting banget tau gak kita ngebahas ini, gak berguna!” kamu marah. Menurutku, kalau kamu sedang marah, aku ingin tertawa sepuasnya.

Tapi, itu adalah delapan belas tahun yang lalu, dimana kasta belum merenggut semuanya.
Saat ini, aku, si wanita yang selalu melayani orang-orang yang hendak makan, membawakan manakan yang mereka pesan, dengan senyum yang kupaksakan. Kalian, para pembaca, pasti tahu pekerjaan aku ini, kan?
Berbeda dengan kamu, yang sekarang menjadi fisikawan. Yang sering tampil di belakang layar televisi, membawakan pidato di depan jutaan manusia yang menatapmu dengan kekaguman atas berbagai macam prestasi yang sudah kamu torehkan untuk dibanggakan. Pikiranku menerobos ke percakapan aku dan kamu delapan belas tahun yang lalu, saat itu kamu berkata, “Ra, kenapa sih kamu suka pelajaran Fisika? Padahal itu pelajaran super duper gak penting sedunia!”
“Loh, apanya yang gak penting? Jangan mentang-mentang kamu gak suka Fisika nganggep Fisika itu gak penting, Raf. Jangan selalu menilai sesuatu itu secara subjektif. Kamu nganggep Fisika itu gak penting, kenyataannya Fisika itu sangat penting, Kita bisa tahu tentang alam semesta ini. Bisa tahu tentang kelakuannya. Fisika juga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, navigasi kapal bisa dicari menggunakan vektor, terus pengeboman dari udara ke darat bisa tepat sasaran menggunakan gerak vertikal, terus ada juga pergeseran asap dari cerobong asap bisa pake trigonometri. Kamu coba deh, Raf, kenalan sama Fisika, kali aja kan nanti bisa sayang, hehe,”
“Gila! Kamu ceramah atau apa, Ra? Walaupun kamu udah nge-promosiin tentang Fisika kayak apapu juga, aku tetep gak suka sama Fisika, titik! Aku udah benci duluan sama fisika. Bikin pusing kepala aja,”
“Jangan benci-benci, bisa jadi nanti kamu malah cinta mati sama Fisika!” Kamu melotot, lalu menjitak kepalaku dengan kepalan tangan kananmu, “Dasar aneh! Emang fisika itu manusia!”
Benci sama cinta itu beda tipis kan?

Aku tersenyum miris mengingat kenangan itu. Kamu yang dulunya benci dengan Fisika, sekarang menjadi ahlinya. Kamu yang dulunya tak mau berkenalan dengan Fisika, sekarang Fisika sudah melekat dengan darahmu. Kamu yang dulunya menganggap Fisika itu pelajaran tidak penting sedunia, sekarang pengetahuanmu akan Fisika mampu menggetarkan dunia. Entahlah kamu belajar dari mana. Sebenarnya tidak perlu diherankan, ayahnya merupakan seorang jutawan di Negara ini. Memanggil guru sehebat apapun dapat dilakukan. Mungkin kamu hilang entah kemana karena ingin mempelajari tentang Fisika, kan? Tapi kenapa kamu tidak bilang-bilang kepadaku? Eh, memangnya aku ini siapanya kamu? Haha. Pikiranku mulai ngaco.

Seiring berjalannya waktu, jarak antara aku dan kamu mengalami pemuaian. Persis sekali dengan teori Big-Bang yang pernah aku bahas delapan belas tahun yang lalu. Jarak aku dan kamu semakin menjauh satu sama lain.

Di layar televisi, kamu tampil dengan gagahnya. Jujur, wajahmu terlihat semakin tampan dengan alis, mata, hidung, dan bibir yang tercipta mendekati sempurna. Tidak diragukan lagi, pasti banyak wanita yang meminta untuk disandingkan dengan kamu. Dan bergelar sebagai Nyonya Rafa. Dan aku ragu, jika kamu sekarang masih mengenalku.

Bagaimana dengan aku sekarang?
Entahlah aku malas menceritakan tentang kehidupanku yang sekarang. Tentunya tidak ada yang ingin tahu juga.

Tiba-tiba handphone di kantung celana ku berbunyi. Membuyarkan segala pikiranku tentang kamu.
2 Pesan Singkat
Dari: 08xxxxxxxxxx
‘Maaf, apakah ini nomornya Keyra Fasha?’
Pesan yang kedua pun memilliki pengirim yang sama
‘Ini aku, Rafa, kamu apa kabar?’

Aku nyaris ingin berteriak, jika saja aku tidak menutup mulutku dengan sebelah tangan. Mataku terus tertuju kepada pesan singkat tersebut. Apakah ini Rafa sang Fisikawan yang delapan belas tahun yang lalu sangat membenci Fisika? Sekarang pesan singkat yang dikirimnya tengah dibaca olehku.
Niatku dengan tangan bergetar ingin mengetikkan balasan, ‘Iya ini aku Keyra. RAFA AKU KANGEN SAMA KAMU! KAMU KEMANA AJA SELAMA DELAPAN BELAS TAHUN?’ Tapi ku urungkan niatku untuk membalas pesan dengan seperti itu. Pesan tak bemoral.

Untuk: 08xxxxxxxxxx
‘Iya, ini Keyra. Hai, Rafa! Kamu apa kabar? Aku baik-baik aja, kok.’
Memastikan tak ada yang salah dengan kalimat balasanku, aku memberanikan diri untuk menekan tombol Send.

Tak berselang lama, handphone ku bergetar kembali. Dan ternyata itu adalah pesan balasan dari orang yang mengaku Rafa tadi.
Dari: 08xxxxxxxxxx
‘Oh syukur deh kalo kamu baik-baik aja. Eh, tapi kamu masih inget sama aku, kan?’

Rafa ini bodoh atau gimana? Tentu saja aku masih mengingat dia. Yang ada, dia yang sudah tidak mengingat aku, bisa saja dikarenakan otaknya yang sudah seluruhnya dibalut dengan ilmu Fisika.
Aku balas kembali pesan dari Rafa.
Untuk: 08xxxxxxxxx
‘Mana mungkin aku lupa sama kamu. Yang ada kamu kali yang lupa sama aku. Haha.’

Lima detik setelah aku menekan tombol send, aku serasa ingin pingsan, aku kekurangan oksigen dikarenakan pesan yang baru kuteima seperti ini,
Dari: 08xxxxxxxxxx
‘Syukur kalo kamu masih inget sama aku. Aku masih inget kamu, Keyra. Dan kalo boleh jujur, aku Rindu sama kamu.’

Rin-du.
Dua suku kata yang membuat anatomi tubuhku menjadi disfungsi. Jantungku mencelos ke perut, menciptakan degupan yang tak wajar. Ilusiku beradu argumen dengan detik saat ini. Ilusiku mengatakan bahwa ini hanyalah halusinasi yang disebabkan oleh pengaruh hati. Ini hanyalah halusinasi di dalam ruang tak berdimensi. Lebih parahnya lagi, ini hanyalah halusinasi yang terdapat di dalam mimpi. Tapi, pipiku yang sudah ditampar tiga kali —oleh tanganku sendiri— membuktikan, bahwa ini adalah kenyataan. Argumen ilusiku kalah!

Masih dengan degupan jantungku yang tak wajar ini, aku membalas pesan dari Rafa.
Untuk: 08xxxxxxxxxx
‘Aku juga.’
Hanya itu yang dapat kuketik. Tanganku sudah lemas. Aku tahu ini sangat hiperbola. Tapi, ini adanya.

Ponselku bergetar lagi untuk yang kesekian kalinya.
Dari: 08xxxxxxxxxx
‘Besok, boleh kita ketemuan? Buat menghilangakan rasa rindu kita’

Aku menjerit sekarang. Ini adalah hari paling mendebarkan sekaligus membahagiakan setelah delapan belas tahun yang lalu. Setelah kamu meninggalkanku tanpa pesan. Setelah kamu menjadi Fisikawan dan aku menjadi pelayan restoran. Setelah kamu mengirimkan pesan yang ingin membuatku pingsan. Setelah kamu kembali. Dan setelah aku tahu, aku meninggalkan pekerjaanku dan sedang ditatap sinis oleh para pengunjung restoran dan tentunya oleh atasanku juga. Tapi itu aku hiraukan. Yang penting, intinya, kamu kembali, dan masih mengingat aku.

Cerpen Karangan: Fina Aryadila
Facebook: Fina Aryadila

Cerpen Pesan Dari Fisikawan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saat Cinta Tak Terbalas

Oleh:
Mulai dari pukul 19.00 sampai 23.00 aku melepas rindu bersamanya. Aku tau dia bukan kekasihku. Aku sadar dia adalah milik sahabatku. Aku tak berarti apa-apa di matanya. Aku bukan

Siti Nurbaya Hidup Lagi

Oleh:
40 tahun yang lalu, ada gadis bernama Siti. Nama panjangnya Marsiti. Satu kata saja. Menurutnya, dia rupawan. Dan itu memang benar. Dia kembang desa. Banyak orang terpesona dengan wajahnya

Matahari Baru

Oleh:
Aku adalah anak sma yang masih belajar tentang cinta. Aku menjalin hubungan dengan elsa teman sma ku yang menjadi matahari yang selalu menyinariku. 1 tahun yang telah kulaluli penuh

Sayangi Aku Ibu

Oleh:
Hari kelulusan sekolah waktunya telah tiba dengan suasana yang bercampur suka dan duka. Hari terakhir mereka berkumpul bersama dan akan membawa kenangan masing-masing. “Selamat ya” Ucap Sella kepada Yusuf.

Memendam Perasaan

Oleh:
Matahari muncul dan menampakkan dirinya, menyinari hari ini dengan senyuman yang merona. Pagi hari yang cerah membangunkan Adelard dari tidurnya, “Kukuruyuk!” terdengar suara ayam berkokok dari halaman belakang rumah.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *