Pesan Tersimpan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 28 July 2018

Perkenalan aku dengan dia bermula saat aku mencoba mendaftar sebagai admin di salah satu sosial media. Awalnya aku tidak menyadari bahwa dia juga ikut, bahkan aku juga belum mengenal dia sebelumnya. Pertama kali aku mengenalnya ketika ada sebuah seleksi dari admin senior, kebetulan aku lulus. Dan yang tidak lulus akan dikeluarkan dari grup. Aku melihat beberapa orang yang dikeluarkan, aku iseng untuk menanyakan kepada seseorang yang pernah ikut. Aku melihat daftar admin sebelumnya, sejak saat itu aku melihat gadis cantik itu, namanya Adellya Pusvita Dewi, aku masih ingat, dia menggunakan jilbab biru dengan polkadot putih dan dia terlihat sangat menawan. Dan aku menambahkan dia sebagai teman, belum di konfirmasi saat itu. Maklum saja, waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. “Mungkin dia sudah tidur” pikirku.

Keesokan harinya, dia telah menerimaku sebagai teman. Aku langsung menanyakan kenapa dia leave? Dia menjawab bahwa dia ketiduran, dan aku menanyakan beberapa pertanyaan yang tidak ada sangkut pautnya samasekali dengan admin seperti tinggal di daerah mana? Sekolah di mana? Dan lain sebagainya. Ternyata dia adalah orang Bandung, katanya rumahnya tidak terlalu jauh dari gedung sate. Katanya.

Hari terus berlalu, aku dan Adell masih saling berkomunikasi, dari pagi hingga malam. Kebetulan saat itu sedang libur, jadi aku masih memiliki banyak waktu untuk mengenalnya lebih jauh. Dan tanpa sadar, aku menyukainya. Kalau dibilang kenapa, aku tidak punya alasan untuk mencintainya. Aku tulus. Aku mencoba cerita kepada sahabat sahabatku, dan mereka mendukungku. Tapi mereka memberiku saran agar aku mau menunggu beberapa lama untuk pendekatan. Awalnya aku menyetujui, tapi lama-lama aku sendiri tidak tahan untuk menunggu. Aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku padanya dalam waktu dekat.

Saat itu, aku sengaja untuk menanyakan hal apa saja yang dia sukai. Ternyata dia sangat menyukai puisi, karena aku bisa membuat puisi aku menyiapkan puisi untuk menyatakan perasaanku. Aku harap dia menyukainya nanti. Saat itu, perasaanku sangat senang, karena aku akan menyatakan perasaanku kepada seseorang yang aku cintai. Aku pun harus menyiapkan segalanya, meskipun aku di Jakarta dan dia di Bandung tidak ada salahnya menyiapkan mental.

Hari yang aku tunggu sudah datang, aku memilih waktu malam hari untuk menyatakan perasaanku. Karena saat malam, dia merespon pesanku dengan cepat. Dan malam pun tiba, aku hanya menunggu waktu untuk menyatakan perasaanku. Apakah aku gugup? Tentu, aku merasa sangat gugup saat itu. Aku mencoba menenangkan diriku sendiri. Dan saat dia membalas pesanku, aku mananyakan beberapa hal sebelum aku mulai menyatakan perasaanku. Dan saat di tengah-tengah perbincangan, aku mulai mengirimkan puisiku. Aku lupa puisi yang aku kirim itu seperti apa, aku sudah tidak ingat. Di dalam puisiku, aku menambahkan kalimat “maukah kamu menjadi pacarku?” Terlihat ceroboh memang, mungkin karena saking gugupnya. Aku menunggu jawaban darinya, 5 menit, 10 menit, 20 menit, dan akhirnya dia menjawab. Namun jawabannya bukan membuatku senang, tapi justru membuatku sedih. Ya, dia menolakku. Alasannya karena dia masih sayang mantan, saat itu aku tidak bisa menjawab apa-apa. Antara bingung dan sedih. Dia terus mengirimku pesan dan aku hanya membacanya, aku tidak marah padanya aku hanya sedih, ada kata-katanya yang membuatku merasa lega. Dia mengatakan bahwa dia akan tetap seperti dulu, tidak akan berubah. Aku membalasnya dengan nada tertawa, meskipun kenyataannya aku sedang tidak tertawa. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, dan dia mengatakan bahwa dia sudah mengantuk, jadi kami mengakhiri perbincangan itu.

Setelah aku menyatakan perasaanku, aku merasa bahwa aku berubah. Dan kata teman-temanku, aku berubah drastis. Tapi aku mencoba untuk terlihat seperti biasanya. membutuhkan waktu lama untuk pulih memang, tapi kenyataan pahit ini harus aku terima.

Dan kami berdua masih berkomunikasi dengan baik, tapi belakangan ini, rasa yang lalu itu mulai muncul. Apakah aku harus menanggapinya atau aku harus mengabaikannya? Yang jelas, aku mencintainya dengan tulus. Aku ingin mengatakan sekali lagi bahwa aku mencintainya dan aku ingin menyatakan perasaanku lagi. Tapi aku ragu. Bukan ragu untuk jawaban darinya, ada hal lain yang aku ragukan.

Saat ini, kami telah jarang mengobrol, pernah dia meneleponku dan memberitahukan bahwa hpnya sedang rusak. Jadi aku memakluminya. Tapi sudah cukup lama kami tidak mengobrol, aku ingin menyatakan perasaanku sekali lagi, dan aku berharap dia tahu bahwa aku mencintainya dengan tulus.

Cerpen Karangan: Arya Pangestu
Facebook: Arya Pangestu
Nama saya arya, panggil saja ar. Saya seorang penyair dan juga penulis. Klau ada kritik saran atau request puisi boleh menghubungi instagram atau line saya.
Ig: aryapangestu880
Line: aryapangestu88

Cerpen Pesan Tersimpan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Normala Sang Purnama

Oleh:
Malam masih berayun bersama bintang, Angin masih meraba pepohonan, Tanah masih menghisap sisa air hujan, Dan aku tetap saja bersandar di kursi goyang tua ini, Di depanku terdapat beberapa

Permen Cokelat Keberuntungan

Oleh:
“Huft.. Akhirnya..!!” kataku dalam hati sambil mengusap keringat yang mengucur deras dari wajahku. “Gimana Ta? lumayan bagus kan?” kata mamaku seraya melihat toko permen yang akan aku buka dengan

Aku Kembali

Oleh:
“Fandi, kamu kenapa sih selalu bersikap dingin sama aku? emang ada yang salah dari aku?” tanyaku pada Fandi. Fandi adalah sosok lelaki yang sangat ku kagumi dan ku cintai

My Wedding (Part 2)

Oleh:
Sepulang dari makam bundaku rayan hanya diam saja, entah apa yang dia pikirkan, aku juga hanya diam tak berniat untuk mengajaknya berbicara, sampai kami tiba di restotan yang dia

10 : 10 : 10

Oleh:
10 oktober 7 tahun yang lalu Ketika gue mengutarakan rasa pada perempuan yang pernah gue sebut takdir. Waktu itu gue masih duduk di bangku kelas 3 sebuah SMA. Pada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *