Pesona Buruk Rupa (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 31 May 2016

Tiap jam istirahat berlangsung, Dera tak melupakan waktunya untuk mengunjungi ruang kesehatan. Sekedar duduk menyendiri dengan buku hariannya. Dera lebih memilih tempat sepi untuk menuangkan isi hatinya. Namun bukan hanya itu alasan mengapa dirinya selalu menyukai ruang kesehatan. Tetapi karena dirinya bisa dengan leluasa menatap ke luar jendela. Karena tempatnya agak tinggi dan kacanya agak gelap. Salah satu alasan dia bebas menatap seseorang yang telah memikat hatinya. Kali ini dari sekian banyak para siswa-siswi yang melintas, tak sedikit pun sesuai dengan yang dia harapkan. Wajahnya lesu, senyum yang tersungging sedari tadi pun mulai memudar. Saat asyik menatap ke luar jendela, terdengar suara pintu terbuka.

“Sedang apa kau?” sapanya. Dera menoleh setelah mendengar suara itu. Namun betapa terkejutnya, pujaan hati yang sedari tadi ingin dia lihat kini berada di hadapannya.
“Kau sakit juga?” tanyanya. Pria itu menatapi Dera sejenak sebelum mengerutkan kening. “Tapi kau terlihat sehat,” lanjutnya menebak. Dera hanya bisa terdiam. Dia tak ingin beredar desas-desus tentang wanita dan pria yang berduaan di ruang kesehatan. Karena tak ingin berlama-lama di ruang kesehatan, dia pun memutuskan pergi. Saat akan membuka pintu, pintu itu terbuka lebih dulu dari luar.

“Siapa kau?” tanya seorang pria lain menatap heran Dera. Dera memutuskan pergi tanpa menjawab.
“Hei, Kevin! Siapa gadis itu?” serunya menggoda. Kevin yang saat itu ingin berbaring di tempat tidur mengurungkan niatnya dan melempar bantal ke temannya. “Apa kau tak lihat dia itu manusia? Jika kau hanya datang untuk mengganggu lebih baik tahu usah berkunjung,” ocehnya.
“Kekasihmu?” dia melanjutkan candaannya.
“Pertanyaan yang salah. Seharusnya kau bertanya aku sakit apa?” ujar Kevin sembari membaringkan tubuhnya namun punggungnya merasakan sesuatu yang aneh.

Dera telah duduk di ruang kelasnya sambil terus berpikir. “Dia sakit?” tanyanya pada diri sendiri. Dera berpikir dia harus bercerita kembali pada buku catatan hariannya. Ia mulai mencari buku itu dalam tas lalu laci dan mengulang-ulang pencariannya sebelum menyadari bahwa buku itu tak ada bersamanya.
“Hilang ke mana ya?” ujarnya bertanya-tanya. “Ku rasa aku tadi membawanya,” imbuhnya sembari memikirkan kemungkinan di mana buku catatan itu terakhir kali ia tinggalkan.
“Ah, benar. Ruang kesehatan,” Dera bergegas menuju ruang kesehatan. Kakinya melangkah lebih cepat saat mengetahui Kevin berada di ruang kesehatan. Dalam hati ia terus berharap pria itu tak menyentuh catatannya.

Tapi terlambat. Kevin telah lebih dulu membacanya. Ia membalik-balik setiap halaman.
“Kali ini ia tampak bahagia. Tersenyum dan bercanda. Aku sangat menyukainya,”
“Dia berteman dengan siapa pun. Termasuk para gadis. Aku cemburu..” Kevin tersenyum geli.
“Hari ini bakso kantin cukup enak. Apa makanan kesukaannya? Aku tak bisa menebaknya. Beritahu aku!”
“Jika kau sedang sedih, pergilah ke taman. Duduklah di kursi dengan hamparan mawar. Lalu dengarkan lagu dengan headphone. Tutup matamu dan rasakan angin mengaliri tubuhmu. Aku harap kau bisa tersenyum kembali.”

“Kau sangat pandai bahasa inggris. Aku sangat bodoh. Aku harap kau mengajariku!”
“Hari hujan ini terasa dingin. Aku memikirkan kenangan buruk,” Dan tulisan terakhir membuatnya tertegun.
“Kevin. Maafkan aku. Ini salahku menyukaimu. Aku hanya akan diam. Aku rasa menyukaimu adalah hal yang tak pantas. Mungkin aku terlalu tak sadar diri siapa diriku?”
“Ini adalah namaku. Apakah orang dalam catatan ini adalah aku?” gumam Kevin penasaran. Namun kemudian pintu bergerak. Dengan sigap Kevin meletakkan buku itu di atas meja dan berpura-pura tertidur dengan lengan menutup wajahnya.

Dera tampak khawatir. Matanya menatapi segala arah dan berhenti pada sebuah meja. “Bukuku,” ucapnya dalam hati.
Ia menatap Kevin curiga, “Dia tak membacanya kan?” ia melangkah mendekati buku itu lalu menyambarnya dengan cepat.
“Kau lagi? Gadis tanpa jawaban,” sapa Kevin membuat langkah Dera terhenti. Dera berbalik menatapnya. Ragu-ragu ia memberanikan diri bertanya, “Kau sakit apa?” tanyanya kemudian. Mendapat sebuah pertanyaan itu malah membuat Kevin bingung. “Ah, ha..Nya sakit kepala,” jawab Kevin terbata. Dera hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum kembali memunggungi Kevin dan melangkah pergi.

“Aku rasa semua orang pantas menyukai orang lain. Tidak ada orang yang akan melarangnya,” ungkap Kevin membuat Dera diam di tempat. Terpaku. Pikirannya bertanya-tanya mengapa Kevin mengatakan hal itu padanya. Namun pikirannya itu lenyap seketika setelah menyadari sesuatu. Tanpa menoleh, Dera mencoba bertanya ragu.
“Apa kau… Membacanya?” Kevin terdiam. Berpikir betapa malunya dia nanti jika dia tahu bahwa Kevin telah membacanya. Kevin berpura-pura tak mengerti.
“Membaca apa?” Dera menghembuskan napas lega dan kembali melangkah pergi.

Hari ini adalah hari senin. Seperti biasa para murid berkumpul untuk melakukan upacara. Dera tak melepaskan pandangannya dari Kevin. Hingga tanpa dia sadari, Kevin telah mengetahui hal itu. “Apa dia masih melihatku?” tanya Kevin pada Rian. Teman yang berdiri di sampingnya.
Rian mengangguk. “Wah… Ku rasa dia sangat menyukaimu,”
Kevin tersenyum kecut, “Apa itu sebuah penghiburan?”

Jam istirahat berlangsung. Seperti biasanya Dera berada di perpustakaan. Menatap ke luar jendela yang tertutup gelap itu.Tanpa sengaja Kevin melintas. Senyum Dera mengembang.Namun dia tak menduga Kevin berkaca tepat di hadapannya.Dera hanya menganga heran. Sedetik kemudian ia pun menyaksikan Kevin tersenyum dan melambai padanya. Dera syok. “Apa dia bisa melihatku?” gumam Dera masih linglung.

Dera memasuki ruang kelasnya. Baru beberapa detik dia duduk, dia bisa mendengar beberapa geng wanita membicarakan tentang Kevin.
“Ya. Kevin si anak pengusaha. Dengar-dengar dia menyukai putri presiden,” ujar gadis berpita merah.
“Benarkah?” sahut gadis berambut panjang.
“Cantik dan tampan serta kehidupan yang mapan. Bukankah mereka pasangan yang serasi?” ujar wanita berambut pendek menambahi.

Dera yang mendengarnya kesal sendiri. “Cantik dan kaya. Sangat berbeda denganku. Terlahir buruk rupa. Mungkin aku lebih pantas mengharapkan pangeran kodok,” gumamnya lesu. Kevin tiba-tiba datang dari balik pintu dan mendekati ketiga wanita yang sedang membicarakannya. “Itu semua hanya gosip,” ujar Kevin menjelaskan. Ketiga wanita itu terkejut sekaligus malu mengetahui orang yang mereka bicarakan berdiri di sampingnya.

Dera berjalan-jalan di taman belakang sekolah. Ia ingin menenangkan hatinya. Karena lelah, Dera akhirnya duduk di bangku dan mengeluarkan headset dan mp3 dari dalam sakunya. Dera mulai mendengarkan lagu dan menutup matanya. Dia ingin merasakan ketenangan di tengah kesunyiannya. Senyum Dera mengembang merasakan angin yang mengaliri tubuhnya. Matanya masih terpejam. Tanpa sepengetahuannya, Kevin memperhatikannya. Entah mengapa akhir-akhir ini dia merasa tertarik untuk mengetahui segala sesuatu tentang gadis itu. Tentang kedamaian dan kesendiriannya. Senyum Dera mengembang merasakan angin yang mengaliri tubuhnya. Matanya masih terpejam. Tanpa sepengetahuannya, Kevin memperhatikannya. Entah mengapa akhir-akhir ini dia merasa tertarik untuk mengetahui segala sesuatu tentang gadis itu. Tentang kedamaian dan kesendiriannya.

“Kau menyukai gadis jelek itu?” ujar Rian yang muncul dari belakang tubuhnya.
Kevin mendengus. Dia bingung bagaimana cara menanggapi ucapan temannya itu, “Entahlah,” Lirihnya yang hampir tak terdengar. Hanya itu jawaban yang bisa dia katakan.
“Cinta itu memang aneh.” sindir Rian sembari meninggalkan tempat itu yang masih menyisakan dua insan dengan kebingungan hati mereka masing-masing.

Cerpen Karangan: Sri Ayuni
Facebook: Yuni Kunetiera

Cerpen Pesona Buruk Rupa (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berat Sahabat

Oleh:
Suara alarm di handphonenya tak mampu kalahkan udara dingin pagi ini. Seharusnya remaja yang baru duduk di bangku 2 SMA ini sudah harus bangun 10 menit yang lalu, tapi

Penyesalan Sang Mantan

Oleh:
“kenapa kamu tega sama aku, Ray!,” teriak seorang gadis bernama Fara pada pacarnya yang bernama Rayhan. “iya. Maaf, Ra,” jawab Rayhan. “jadi kamu lebih milih cewek itu daripada aku?,”

Dari Impian Menjadi Kenyataan

Oleh:
Hari itu, hari dimana awal aku bertemu denganmu, hari dimana aku mulai mengenalmu, mulai mencintaimu, pertemuan yang tak disengaja, yang menghadirkan cinta di antara kita. Bermula dari kesalahan yang

Rumitnya Cintaku

Oleh:
Cinta memang tak selamanya berjalan mulus seperti yang kita inginkan. Yah,, itulah cinta yang ku alami. Sebut saja namaku Dini. Aku seorang gadis berusia 18 tahun yang bekerja sebagai

Emosi Cinta

Oleh:
Cinta itu bagi setiap orang tentunya sama saja, hanya bagaimana merasakan cinta itu yang berbeda. Perasaan jatuh cinta itu tidak selamanya harus dirasakan dengan jantung yang berdebar kencang, gugup

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *