Piggy Bank For You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 22 June 2016

“Kau masih ingat saat dulu aku pernah menyenggol minumanmu hingga tumpah. Untung kau tidak marah waktu itu.” “Oh ada lagi, saat aku tanpa sengaja membawa pulang bukumu sampai kau benar-benar takut kehilangannya.”
“Kalian berdua terlihat dekat,” kata Fay sambil meminum teh yang baru dipesannya dari kantin.
“Um, kira-kira sudah 10 tahun lebih,” jawabku.
“Lalu kalian berteman sekarang?” Fay kembali bertanya.
“Tentu,” jawabku sambil memotong roti isi daging dan keju di depanku.
“Gak lebih?” lanjut Fay.
“Maksudmu?” aku menatapnya, menghentikan sejenak posisiku yang masih memegang garpu dan pisau.
“Lupakan saja,” jawab Fay yang kembali meminum tehnya.

“Leon? Dia yang mengirimkan surat cinta itu? Benarkah?” tanya Austin padaku sambil berjalan santai.
“Mengejutkan bukan? Dia sendiri yang bilang padaku dan menanyakan jawabannya?” jawabku sambil membetulkan rambutku yang tertiup angin.
“Lalu jawabanmu?” Austin kembali bertanya.
“Entah, menurutmu bagaimana?” aku balik bertanya.
Austin mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. Aku hanya tersenyum melihatnya.
“Leon…” aku menadahkan kepalaku ke langit. “Dia orang baik. Ia selalu tersenyum padaku saat kita bertemu.” Aku menundukkan kepalaku dan berkata dengan suara kecil, “Kupikir ia tidak buruk.”
Austin langsung menatapku dan berkata, “Um Olive, terakhir kali saat hal yang sama terjadi dengan Willy kau juga bilang hal yang sama.”
“Jadi?” tanyaku dengan wajah bingung.
“Kau tidak khawatir sama sekali?” tanya Austin.
Aku langsung menghentikan langkah kakiku. Austin ikut berhenti dan berdiri di sebelahku. “Kau takut Leon akan menghancurkan perasaan seperti yang pernah dilakukan Willy dulu?” tanyaku.
Austin menghela nafas, lalu berkata, “Aku hanya tidak ingin teman masa kecilku ini menderita.”

Aku merebahkan diriku di ranjang, mencoba merenungkan apa yang Austin katakan padaku. Tapi harus kuakui, bayang-bayang Leon tak bisa hilang dari kepalaku. Walaupun hanya sebatas menyapa, aku cukup mengagumi Leon. Tidak hanya aku, tapi banyak siswi di sekolahku yang juga mengaguminya. Pandai bermain musik dan basket adalah magnet kuat yang dimilikinya.
Tentang Willy, dia mantan pacarku. Kami sudah putus karena ia meninggalkanku dan pergi bersama orang lain. Walau aku yang memintanya putus, tetap saja itu meninggalkan bekas luka yang sakit di hatiku. Pada saat itulah Austin menjadi tempat curahan hatiku. Biasanya ia hanya teman mengobrol. Tapi sejak kejadian itu kami semakin dekat.

“Kau sudah yakin dengan keputusanmu?” tanya Austin.
“Iya, aku yakin,” jawabku dengan mantap.
“Baiklah, semoga kau bahagia,” ujar Austin.

Austin berlalu ke kelas, meninggalkanku sendirian di koridor. Aku sendiri berjalan menuju kantin, di mana aku akan mendapati Leon yang sedang menungguku. Pandangan mata kuarahkan ke pojok ruangan dan sejenak membuatku terdiam.
Di sana Leon duduk. Namun ia tak sendiri. Ada seorang siswi perempuan di sebelahnya. Mereka berdua terlihat sangat dekat. Ternyata ia tidak benar-benar serius padaku. Tanpa bicara padanya aku kembali ke kelas.
Di atas mejaku terdapat sekotak kado kecil. Namun karena sedang kesal aku tidak mempedulikannya. Pipi kuletakan ke atas meja. Aku berusaha memejamkan mataku, berusaha menenangkan diri. Sampai aku menyadari ada seseorang yang mendekatiku.
“Olive, seseorang memberikanmu hadiah, kau tidak mau membukanya?”
Aku mengangkat kepalaku. “Ambil saja untukmu,” jawabku asal.
“Um, baik. Akan kubukakan untukmu,” jawabnya.

Terdengar suara kertas kado disobek. Namun aku tetap tidak mengangkat kepalaku. Sambil dibuka, aku bisa mendengar sebuah dongeng yang dibacakan untukku.
“Zaman dahulu kala, ada 3 ekor anak babi membangun rumah untuk berlindung dari serigala. Babi pertama membangun rumahnya dari kayu, dan itu hancur seketika. Babi kedua membangun rumahnya dari batu, walau kuat namun saat tersenggol bangunan itu jatuh juga. Kedua anak babi lari ke rumah babi ketiga yang dibangun dengan fondasi dan semen yang baik. Akhirnya mereka selamat dari serigala.”
Aku menghela nafas, kemudian dongeng dilanjutkan.
“Babi ini bisa menyimpan uang juga. Kupikir ini hadiah yang bagus,” ucap orang itu.
Karena penasaran, aku mengangkat kepalaku dan melihat sebuah boneka babi yang lucu di tangan Austin.
“Olive, kita sudah berteman sejak kecil,” kata Austin. “Secara tidak langsung, aku sudah menabung perasaan untukmu,” sambungnya. “Dan…”
Aku mengangkat 1 alisku tanda bingung. Austin hanya tersenyum.
“Kupikir ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya padamu,” tutur Austin. “Boneka babi ini aku berikan padamu. Dan…”
“Dan apa?” tanyaku sambil tersenyum.
“Kau tidak mengerti? Ayolah Olive,” ucap Austin.
“Austin, terimakasih. Mulai sekarang, aku akan membalas semua perasanmu,” jawabku.
Bel tanda masuk kelas berbunyi. Namun sebelum Austin kembali ke tempat duduknya, aku bisa melihat senyuman yang bersinar dari matanya. Kurasa hal yang sama terjadi padaku.

Cerpen Karangan: Sindy Sintya
Blog: thesparkleofstar.blogspot.co.id

Cerpen Piggy Bank For You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


What Do You Mean?

Oleh:
‘kenapa disaat aku menjauh kau mendekat, dan disaat aku mendekat kau menjauh?’ Hanny point of view (p.o.v) Pagi yang cerah di kota Jakarta, Matahari bersinar dengan teriknya, dan karena

Pelarian Gunung Pelarian

Oleh:
Tanpa pedulikan kondisi pintu yang sudah rusak dan masih dalam kondisi terkunci, kudobrak sekuat tenaga dengan bantuan amarah yang tak terbendung menenggelaman diri dalam nafsu yang hampir tak terkendali,

Mungkin Aku Buta

Oleh:
Hai Desember, hampir setengah dari usiamu menyapaku dengan jutaan kisah yang menawan, bahkan teman-temanmu sebelum kehadiranmu pun melakukan hal yang sama begitu hangat, namun entah kenapa aku masih tak

Pulpen Terbang

Oleh:
“eh pay sini deh.” panggil rojak sembari melambai-lambai tangannya. “apan si jak?!” tanya paih seraya berjalan menuju rojak yang lagi ngaso di bangku kantin. Nggak ada hitungan menit, pay.

Hal Terindah

Oleh:
Pertama aku bertemu dengannya, aku langsung terpaku hanya pada dirinya. Dia adalah teman sekolahku dia bernama Lubi, meskipun namanya gak terlalu keren, tapi orangnya keren loh. Oh ya, kalian

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *