Pilihan Terbaik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 26 December 2018

Aku hanya seorang mahasiswi biasa yang berasal dari keluarga biasa. Aku tidak memiliki bakat apapun, begitu juga dengan prestasi. Penampilanku? Ah, tidak usah membayangkannya. Sudah kubilang tadi kan kalau aku hanya mahasiswi biasa dan aku sedang tidak bercanda sekarang.

Aku menjalani hidupku seperti manusia pada umumnya. Makan, minum, bernapas. Ya, ya, itu semua benar. Tapi bukan itu maksudku. Sebenarnya kehidupanku juga biasa-biasa saja, tidak ada yang menarik untuk diceritakan menurutku. Aku punya keluarga yang sangat menyayangiku, aku punya sahabat yang selalu ada untukku, dan aku punya teman-teman dengan sifat yang seringkali membuatku pusing tapi percayalah aku juga menyayangi mereka semua. Dan… oh ya, satu lagi. Aku juga mempunyai seseorang yang istimewa.
Pacar? Ya, itu maksudku. Dan inti dari kisah yang kuceritakan kali ini adalah tentang dia

Mungkin akan terdengar sangat berlebihan tapi faktanya aku merasa lebih bahagia saat bersamanya. Sungguh, aku tidak sedang menggombal sekarang. Dia itu adalah… pelengkap. Aku tidak mengatakan kalau aku tidak bahagia dengan hidupku sebelumnya. Aku hanya merasa ada yang berbeda semenjak dia hadir. Tidak mudah untuk bisa menerimanya masuk ke dalam kehidupanku. Awalnya bahkan aku menganggapnya aneh. Dia berbeda dari yang lain khususnya dari cara dia berjuang mendapatkanku. Tapi seiring berjalannya waktu, karena alasan itulah aku mulai menyayanginya. Dia sederhana tapi tidak biasa dan yang paling penting aku menyukai setiap perlakuannya padaku. Kami melewati masa pendekatan yang juga berbeda dari yang lain. Teman-temanku menganggapnya ‘terlalu lama’. Tapi menurutku itu bagus. Saking bagusnya kami hanya mampu mempertahankan hubungan empat bulan lebih lama dari masa PDKT. Menyedihkan sekali, kan? Ditambah lagi akulah yang dijadikan tersangka dalam hal ini. Semua orang menganggapku bosan dan memilih untuk putus. Tapi sebenarnya bukan itu alasannya. Hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi jika aku menceritakan alasan yang sebenarnya kepada sahabat-sahabatku. Pertama, mereka akan menganggapku terlalu ‘berlebihan’ atau yang kedua aku akan ditertawakan sepuas-puasnya. Aku merasa tidak akan ada yang memahaminya jadi aku putuskan untuk menyimpannya sendiri. Dan lagi, dia pun tidak pernah bertanya. Hanya pasrah. Kalau dugaanku tidak keliru, sepertinya malah dia yang menginginkan hal ini jauh sebelum aku yang bertindak. Entahlah.

Untuk seseorang yang hanya dianggap sebagai pelengkap, ternyata kehilangannya membawa pengaruh sebesar ini. Aku sedang berusaha mengakui kalau ternyata aku berhasil disakiti. Tidak peduli seberapa keras aku menjaga hatiku selama ini, nyatanya hatiku tetap terlukai. Ini… adalah patah hati pertamaku.

“KALIAN PUTUS?!”

Bukannya menutup telinga aku malah memejamkan kedua mataku. Pertanyaan seperti ini selalu berhasil meruntuhkan semangat. Sudah hampir dua bulan aku menjalani hari-hariku dengan susah payah dan sampai sekarang aku masih belum terbiasa dengan semuanya.

“Kenapa? Siapa yang bilang putus? Pasti kamu, kan? Kenapa? Bosan?” kali ini nada bicaranya normal, tidak setinggi tadi.

Dicky Aditya. Dia adalah satu-satunya teman laki-laki yang lumayan akrab denganku. Kami berteman dari kelas 2 SMA hingga sekarang kami sudah sama-sama memasuki semester 5 di jurusan masing-masing. Tiba-tiba hari ini dia mengajak untuk bertemu dan sekarang kami sedang duduk di bangku pinggir taman setelah sebelumnya dia mengajakku makan di tempat favoritnya. Sebenarnya aku sudah menduga kalau Dicky akan membahas tentang hal ini saat kita bertemu nanti tapi aku tetap saja pergi menemuinya.

Aku membuka mata lalu menghela napas. “Ya, mungkin aku bosan,” jawabku seadanya.
Walaupun aku ingin sekali mendengar tanggapan orang lain tentang alasanku yang sebenarnya tapi tentu bukan Dicky orangnya. Aku tidak biasa mengatakan sesuatu yang pribadi kepada teman laki-laki.

“Mungkin? Ah, ayolah Na. Ceritakan alasan yang sebenarnya. Dari matamu saja aku tau sampai saat ini kamu belum bisa melupakannya. Yang namanya bosan tidak akan seperti itu.”
Dia menyenderkan tubuhnya ke belakang lalu menyeruput minuman dinginnya.

Aku memandanginya lama. Ada sesuatu yang aneh dari ucapannya tadi dan aku merasa… sedikit terganggu.

“Apa karena orang ketiga?”

Tiba-tiba saja tubuhnya sudah lebih dekat denganku. Matanya menatapku penuh selidik. Detik itulah pandangan kami bertemu. Tidak lama, karena aku segera mengalihkan pandanganku ke arah lain lebih dulu.

“Entahlah. Tapi sepertinya sekarang ini dia sedang dekat dengan masa lalunya.” Aku memaksakan untuk mengukir senyum, “Seseorang melihat mereka jalan berdua. Tiga hari yang lalu.” Aku balas menatap Dicky yang masih pada posisinya, berusaha untuk terlihat baik-baik saja.

Kali ini Dicky yang mengalihkan pandangannya lebih dulu. “Jadi bagaimana perasaanmu? Kamu cemburu?” Dia diam cukup lama sebelum menanyakan hal iu.
“Lebih dari itu. Aku … hancur,” jawabku pelan. Aku menunduk. Tidak! Aku tidak boleh menangis di sini. “Tapi dia berhak memilih kebahagiannya. Dan itu sudah pasti bukan denganku. Ah, sudahlah. Aku pasti akan baik-baik saja nanti.”
“Memang harusnya begitu. Apapun alasannya, yang memutuskan untuk berakhir adalah kamu. Jadi kamu harus bertanggung jawab atas keputusanmu itu.”
“Hmm aku tau. Aku hanya perlu waktu untuk membiasakan diri,” jawabku lirih.

Dicky tidak bersuara lagi begitu juga denganku. Kami sama-sama diam untuk waktu yang lama. Pandangan kami terarah kedepan, seolah sedang menonton anak kecil yang bermain bola bersama temannya. Angin sore tiba-tiba berubah menjadi dingin. Aku mendongak ke atas dan benar saja, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Anak-anak yang bermain tadi mulai beranjak kembali pada orang tuanya masing-masing, mungkin mereka memutuskan untuk pulang. Dan sepertinya kami juga harus segera menyusul.

Setelah hari itu, hari dimana Dicky mengajak ku bertemu, aku memang tidak lagi merasa kesepian seperti hari-hari sebelumnya. Entah kenapa Dicky mulai sering menghubungiku meskipun kadang isi dari pesannya selalu membuat keningku berkerut tapi tidak jarang juga malah membuatku tertawa. Seringkali pesannya masuk tepat saat dimana aku sedang menuliskan rinduku untuk masalaluku dan setelah membaca pesan darinya aku merasa sedikit terhibur. Tidak bisa kupungkiri bahwa kehadiran seorang teman memang sangat kuperlukan saat ini. Tapi setelah lama kubiarkan, aku mulai merasa tidak nyaman. Aku memang tidak kesepian karena ditemani orang sebaik dan seperhatian Dicky setiap harinya, tapi tetap saja rindu-rindu itu masih datang mengganggu tanpa bisa kutolak. Semakin aku berusaha untuk melupakan dan mencari obat untuk luka hatiku maka semakin banyak pula rindu itu datang sampai akhirnya malah menambah luka yang kualami.
Aku tidak tau apa sebabnya tapi yang jelas kurasakan ada satu ruang kecil di sudut hatiku yang menolak untuk diobati dengan sesuatu yang baru.

Dengan sangat hati-hati aku menciptakan batasan di antara kami. Hampir saja batasan itu berhasil menjadi jarak tapi sepertinya aku terlalu lambat membuatnya. Dicky lebih dulu menyadari tentang perubahan sikapku dan dengan tegas dia mengatakan kalau dia tidak suka aku menghindarinya, dengan alasan apapun. Bersamaan dengan penegasan itu dia juga mengatakan sesuatu yang sangat tidak ingin aku dengar.

Dia menyatakan cintanya padaku.

Aku sempat kesusahan mengendalikan suasana hatiku saat ini. Gugup. Ya, aku benar-benar gugup sekarang. Beberapa meter dari tempatku berdiri nampak jelas seseorang sedang menungguku di meja ujung sebuah tempat makan. Pada posisinya yang sedang membelakangiku, aku tau dia sedang memikirkan sesuatu sekarang. Tubuhnya tidak bergerak, begitu juga dengan kepalanya. Dari pantulan cermin di depannya, aku bisa melihat bahwa pandangannya sedang kosong. Dia seperti sedang melamun.

Meski ragu tetap saja kulangkahkan kaki mendekatinya. “Ehem. Maaf aku terlambat.” Tegurku dengan nada yang dipaksa agar terdengar normal.
Dicky mengalihkan pandangannya ke arahku, “Tidak papa. Duduklah!” dia tersenyum menyambutku, sangat hangat.

“Aku sudah memesan nasi goreng telur kesukaan kamu Na. Kamu tidak akan kelaparan di sini.” Ucapnya sambil tertawa.
Aku yang sekarang sudah duduk di depannya membalas dengan senyum. “Kamu memang tau banyak tentang makanan kesukaanku ya Dick, hahaha. Tapi…” Aku sengaja menggantungkan kalimatku untuk menarik perhatiannya.
“Tapi apa?”
“Aku tidak suka kamu memanggilku dengan sebutan ‘Na’. Namaku Nina Anggraini. Kamu boleh memanggilku Nina atau Nin atau boleh juga kalau ingin memanggilku Anggraini, terserah saja yang penting bukan ‘Na’.”

Sebenarnya aku ragu untuk mengatakan ini tapi aku tidak bisa menutupi kenyataan kalau aku merasa terganggu setiap kali Dicky memanggilku seperti itu.

“Kenapa memangnya?”
Karena itu adalah panggilan istimewa dari masa laluku untukku.
“Tidak papa sih. Hanya aneh saja,” jawabku berbohong.

Dicky membuka mulutnya hendak protes tapi bersamaan dengan itu dua orang pelayan datang membawakan pesanan kami. Salah satu pelayan menyajikan makanan ke atas meja kami dan yang satunya menghampiriku sambil membawa nampan yang diatasnya terdapat sesuatu berselimut kain putih. Aku sempat heran dan menanyakan apa isinya lalu pelayan itu menyuruhku untuk membukanya sendiri.

Aku menurut dan beberapa detik setelahnya aku tidak tau bagaimana ekspresi wajahku saat melihat buket mawar merah di atas nampan itu. Aku melihat ke arah pelayan itu untuk menanyakan apa maksudnya tapi dia hanya tersenyum dan menyerahkan buket bunga itu kepadaku. Aku beralih menatap Dicky yang ternyata juga sedang tersenyum ke arahku.

“Selamat Ulang Tahun, Nin.” Ucapnya terdengar sangat tulus.

Sungguh, aku tidak tau harus mengatakan apa. Bahkan ucapan terima kasih pun tidak bisa keluar dari mulutku.

“Apa aku berhasil membuatmu kagum?”
Aku berusaha untuk tersenyum. “Ya. Kamu sangat berbakat membuat orang terharu.” Jawabku.
“Dan aku berharap juga punya bakat untuk menaklukkan hatimu itu.”

Senyumku berubah hambar. Aku merasa menjadi orang yang paling jahat. Aku pernah secara tidak sadar menyakiti orang yang ku sayangi hingga membuatnya lelah dan akhirnya memutuskan untuk menyerah. Dan sekarang sepertinya aku akan menjadi sebab luka di hati seseorang lagi.
Tentang perasaan Dicky, aku sudah memikirkannya dengan sungguh-sungguh.

“Hmmm Dick… sebenarnya aku sudah memutuskan un….”
“Ini bahkan baru 3 hari, kamu masih punya banyak waktu untuk berfikir. Jangan katakan apapun tentang itu. Hari ini kita akan merayakan ulang tahunmu, Nin. Tolong jangan rusak suasananya.”

Ya. Benar. Dicky memang memberikan aku banyak waktu untuk berfikir. Dia tidak memaksaku untuk membalas perasaannya dan hanya meminta satu kesempatan untuk membuktikan bahwa dia tidak main-main dengan pengakuannya itu.

“Tapi aku sudah memikirkannya. Aku…”
“Nanti saja. Sekarang kita makan dulu Nasi gorengnya nanti keburu dingin,” dicky kembali memotong ucapanku.

Tidak. Aku harus mengatakannya sekarang juga, sebelum semuanya terlambat.

“Maaf tapi aku tidak bisa, Dick.”

Kalimatku barusan berhasil membuatnya mengurungkan niat untuk mengambil sendok dan garpu yang sebenarnya sudah mnyentuh jari-jarinya. Dia kembali memusatkan perhatiannya padaku.

“Tentang kesempatan yang kamu minta waktu itu… aku rasa aku tidak bisa memberikannya. Aku tidak mau menjadi penonton atas perjuangan siapapun. Jadi kamu tidak perlu repot untuk membuktikan apapun.” Aku mengambil napas sambil berusaha mengumpulkan kekuatan. “Aku percaya perasaanmu itu tulus tapi aku tidak bisa percaya kalau kamu akan bahagia bersamaku nanti. Dicky… lukaku ini tidak main-main dan aku perlu waktu untuk menyembuhkannya. Bukan dengan bantuan orang lain, tapi aku ingin melakukannya sendiri. Mengenai hatiku, aku sudah berjanji akan menjaganya lebih baik lagi.”

Dicky menatapku nanar lalu kudengar dia mengambil napas berat. “Aku akan membantumu. Aku akan membantumu menyembuhkan luka itu dan membantumu untuk menjaga hatimu. Tidak perduli berapa lama waktu yang kamu perlukan, aku tidak akan penah mengecewakanmu.”
“Kamu benar-benar ingin membantuku?”
Dicky mengangguk mantap.
“Kalau begitu… menyerahlah.”

Dicky menunjukan tatapan tidak percayanya ke arahku. Aku tau sekarang dia mulai kehilangan ketegaran yang sedari tadi dia pertahankan. Dicky sudah sangat lemah tapi dia berusaha tetap kuat di depanku. Aku tertunduk. Merasakan setiap sesak yang memenuhi dadaku. Waktu terasa berjalan sangat lambat karena keheningan yang terjadi sekarang.

“Aku minta maaf.” Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutku sekarang.

Dicky yang sejak beberapa menit lalu memilih untuk diam akhirnya kembali besuara. “Itu artinya kamu menutup pintu hatimu untuk yang lain.” dia memberi jeda sebentar sebelum melanjutkan ucapannya. “Apa kamu memutuskan untuk menunggu sampai dia kembali?”

Sekarang, giliran aku yang terdiam.

Apa aku menunggunya?

Aku mengangkat kepalaku dan menatap langsung mata Dicky.
“Tidak.”
Aku mengambil napas dalam sebelum melanjutkan.
“Aku menunggu jodohku. Pilihan terbaik dari Tuhan. Dan kalaupun ternyata dia yang terpilih, itu artinya aku sedang beruntung.”

Aku tidak tau bagaimana nasib pertemanan kami setelah hari ini.

dan…

Tentang makna sebenarnya dari jawabanku barusan, sungguh itu hanya aku dan Allah yang tau.

Cerpen Karangan: Dina Aulia
Facebook: Dina Aulia

Cerpen Pilihan Terbaik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ciuman Pertama

Oleh:
Ku lempar handukku ke kasur begitu saja, aku segera bersiap-siap untuk pergi ku raih ponselku di meja yang sudah berdering beberapa kali, sebuah pesan singkat dari Rey pacarku yang

Karena Kamu Innocent

Oleh:
Hari ini mas Adin pulang telat lagi. Sudah hampir jam sebelas malam dia belum sampai rumah. Hal ini terjadi satu minggu termasuk hari ini. Huft. Aku menghembuskan napas. Aku

Mawar dan Kekosongan

Oleh:
Let me tell you something. Tentang cinta, rasa takut, dan juga, tentang kekosongan. Kekosongan atas diri manusia. Pada dasarnya manusia itu sama saja. Sama-sama lemah dengan perasaan. Tidak ada

Aku Merindukanmu

Oleh:
“Entah semenjak kapan rasa ini muncul, tapi ketika bersamamu rasanya begitu nyaman. sampai-sampai aku tak bisa melepasmu atau meninggalkanmu. Meskipun aku tahu kau menganggapku hanya sebagai sahabat. Tapi ketika

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *