Plester Biru Muda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 October 2017

“Vinn!” Teriak seseorang dari kejauhan dan langsung saja kukenali wajahnya.
“Agil? Kenapa dia tahu aku di sini?” Batinku. Agil adalah sahabatku sejak aku masih smp.
“Vinn, udah dong. Gak capek apa nangis terus?” Tanyanya dengan nada cemas. Aku hanya membalas dengan gelengan kepalaku sambil mengusap air mataku.
“Nihh, plester buat ngobatin luka hati lu”. Katanya sambil memberikan sebuah plester berwarna biru muda. Ini sudah kesekian kalinya aku menerima plester biru muda itu darinya.
“Gil, lu kenapa sih baik banget ke gua? Padahal gua sering nyakitin perasaan elu Gil”. Batinku.
Aku tahu kalau Agil punya perasaan yang lebih dari seorang sahabat kepadaku. Tapi aku hanya bisa diam menunggu kepastian itu datang padaku. Meskipun itu adalah hal yang mustahil bagi beberapa orang. Tapi jika tuhan berkata lain
“Why Not?”

Sudah seminggu Agil tidak masuk sekolah. Aku khawatir jika terjadi sesuatu padanya, jadi kuputuskan untuk menjenguknya setelah pulang sekolah nanti.

Kini aku sudah berada di depan pintu rumah Agil. Kupencet bel rumah yang tidak terlalu besar namun sangat asri dengan tumbuhan dan tanaman hias di sekelilinganya. Tak berapa lama keluarlah seorang asisten rumah tangga dari rumah itu.
“Maaf bi, Agil nya ada?” Tanyaku pada Bi Iyem. Dia adalah asisten rumah tangga Agil. Aku tahu nama Bi Iyem karna memang sudah sering datang untuk bermain dengan Agil.
“Ohh ada non, den Agil ada di kamarnya. Non naik aja ke atas, tapi non karena den Agil lagi sakit non jangan lama-lama ya biar den Agil nya bisa istirahat”. Jelas Bi Iyem panjang lebar.
“Maaf bi, tapi Agil nya sakit apa ya?” Tanyaku.
“Agil sakit tifus non. Jawab Bi Iyem.

Tanpa basa basi lagi aku segera menuju kamar Agil. Tiba-tiba tubuhku kaku saat memasuki kamar Agil. Dia Agil? Tubuh kurus yang sangat lemah dan tertancap jarum infus di depanku itu adalah Agil?. Air mataku tak dapat terbendung lagi ketika melihat kondisinya saat ini.

“Gil, lu kenapa?”. Tanyaku pelan sambil mendekati Agil.
“Ga kok Vinn, gua gak papa”. Jawab nya sambil tersenyum. Itu adalah senyuman pertamanya setelah seminggu aku tak melihatnya.
“Gil, lu sakit kan? Lu kena tifus kan?”.
“Lu tau dari mana? pasti Bi Iyem kan?”. Tanyanya.
“Gak penting gua tau dari mana, intinya lu sakit tifus kan. Gil, gua kan udah bilang kalo makan jangan suka telat trus kalo jajan jangan sembarangan”. Omelku. Dia hanya tersenyum.
“Thanks yaa Vinn lu udah mau jengukin gua. Btw lu bawel banget kaya bebek”. “Udah seharus nya Gil. Ehh, bebek cantik lho ya”. Jawabku sambil tertawa geli.

“Bentar yaa Gil”. Kataku sambil merogoh tasku.
“Nahh, sini sakit lu Gil! Biar gua tambal pake plester”. Aku lalu menempelkan plester biru muda yang diberikan Agil beberapa waktu lalu.
“Dihh, ini kan plester yang gua kasih ke elu kemaren?”
“Yoo, karena belum gua pake jadi gua pakein ke elu aja”. Kataku kalm.
“Thanks yaa Vinn”. Sambil tersenyum tipis kuanggukan kepalaku.

“Ehh udah sore, gua pulang dulu yaa Gil”. Sambil berpamitan aku pun melangkah keluar dari kamar Agil.

Setelah dua minggu, kini Agil sudah diperbolehkan untuk sekolah oleh dokter.
Sekarang hari-hariku kembali sempurna karena sahabatku telah sembuh dari penyakitnya. Siang itu aku duduk di kursi panjang taman sekolah. Tiba-tiba sebuah sosok yang tinggi tapi sedikit kurus berdiri di hadapanku. Dia Agil.

“Gua boleh duduk gak?” Tanyanya
“Aelah Gil, ini punya sekolah jadi free lah”. Jawabku polos.
“Vinn, gua mau ngomong sesuatu ke elu”. Katanya dengan raut wajah serius. Aku menaikkan sebelah alis mataku.
“Silahkan Gill”. Jawabku.
“Lu tau ga Vinn, maksud gua selama ini ngasih plester bitu muda itu ke elu?”. Tanyanya.
“Gak Gill”. Jawabku
“Itu karena biar lu bisa ngobatin luka hati lu, dan suatu saat nanti pas lu emang bener-bener udah peka ke gua lu bisa ngerti maksud dari semua itu Vinn. Tapi gua udah gak mau nunggu terlalu lama lagi Vinn! Cukup sampe di sini gua nahan sakit hati gua. Cukup sampe di sini lu ngerasain sakit hati karena cowok di luar sana Vinn. Vinn, gua sayang sama lu, gua cinta sama lu, gua mau lu jadi pacar gua Vinn”. Katanya dengan muka memerah.

Aku terdiam mendengar pengakuan itu dan tanpa buang-buang waktu lagi aku menjawabnya.
“Iyaa Gil, gua mau jadi pacar lu”. Jawabku
Dengan senyum bahagia dia langsung memelukku.
“Thanks Vinn, thanks”. Katanya
“Sama-sama Gil. Jawabku

Kini kami telah resmi menjadi sepasang kekasih dan kami telah mendapat restu dari orangtua kami.

The End

Cerpen Karangan: Annisa Alawiyah
Facebook: AnnisaaNasution
Ini first story gua mudaha”an aja kalian suka udah itu aja kea nya

Cerpen Plester Biru Muda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia dan Sketsa Mawarnya

Oleh:
Kali ini aku terlambat sampai di sekolah, dan aku memulai hari senin ku ini dengan tergesa gesa. Entah apa yang aku kerjakan semalam, hingga aku bisa bangun kesiangan dan

Seandainya Kau Mencintai Ku (Part 3)

Oleh:
“Dinara, tunggu,” Teriak seseorang dari lapangan basket. Dinara menoleh ke arah suara yang sudah tidak asing lagi baginya. Tampak Ray tengah berlari menuju ke arahnya. “Din, aku mau ngomong

Mimpi Ady

Oleh:
Dia baru saja terbangun dari tidurnya, pandanganya menuju jam weker di meja dekat tempat tidurnya. Jam menunjukkan tepat pukul 07.00. “Wwwaaaaaa” Dia bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.

Kisah Kita

Oleh:
Hai kawan. Masihkah kalian mengingatku? Mengingat kisah persahabatan kita yang telah kita lalui bersama, bertahun-tahun yang lalu. Persahabatan yang tak hanya penuh canda dan tawa, tetapi juga isak tangis

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *