Potret Hitam (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 16 December 2014

Di ujung jalan aku melihat seorang anak kecil yang sedang membawa sekeranjang kue dengan wajah berbahagia. Entah apa alasannya yang pasti banyak alasan yang bisa melukiskan senyum manis anak penjual kue di tengah hiruk pikuk hidup di kota besar ini. Sambil berjalan sedikit lari aku sempat memotret pemandangan itu. Tanpa sadar, aku mengikutinya sampai café tujuanku terlewat. Aku pun berbalik dan masuk ke tempat yang telah stand by Riri dan Difran disana.
“lo kemana aja sih na?” sambut Riri. Aku menyunggingkan senyum permintaan maaf dan duduk kemudian memesan minuman dan es krim. Difran serius sekali dengan gadgetnya sehingga tak menghiraukan kedatanganku. “oh iya, besok malem gue mau ke pasar malem, kalian mau ikut?” tanyaku pada kedua sahabatku ini. “ngapain? Masa kecil kurang bahagia banget jaman gini masih dateng ke pasar malem” jawab Riri. “gue mau motret motret disana buat tugas” jelasku. Difran seperti tak tertarik karena pandangannya terus terpaku untuk twitting. “eh Fran, lo mau ikut gak?” Riri sambil merebut handphonenya. “lo apa apaan si Ri? Gue kan lagi serius nih” Difran menyolot. “temen lo itu nanya dan tugas lo adalah jawab, bukan sibuk online kaya gitu Fran, hargain dong temen lo” Riri menceramahinya. Difran menarik napas dan menghembuskannya kencang-kencang. “iya, iya gue minta maaf, jadi apa tadi?”. “Difraaaaaaaan!”

Aku tiba di kost sekitar pukul 6 sore. Setelah mendirikan kewajibanku untuk shalat, aku merebahkan diri di atas ranjang tua nan tipis ku. Sambil membuka buku jadwal harian, aku berpikir untuk mencari waktu luang dan pulang ke Bandung. Setelah berpikir dan menyesuaikan dengan isi dompet dan tabungan, aku memutuskan untuk pulang sebulan lagi dari hari ini.

Keesokan harinya, setelah bangun pagi-pagi sekali aku berangkat ngampus dengan dijemput Difran yang letak rumahnya tak jauh dari kost-an ku. Sepanjang jalan Difran tidak berhenti berbicara mengenai followers nya yang selalu me-mention-nya setiap pagi. Aku hanya mengangguk tanda mengerti walaupun sebenarnya sedikit risih dengan ceritanya.
“hari ini gue mau ke rumah Naya dulu untuk izin, soalnya gue telepon kakaknya gak nyambung terus, “Riri duluan aja, terus tunggu. Difran, anter gue ya” ucapku pada kedua sahabatku. Kemudian aku dan Difran tancap gas menuju tempatku bekerja.

Setibanya disana, aku dibukakan pintu oleh tante Hani, ibu Naya. “malem tante” sapaku dengan senyuman. “hari ini Nona izin ngga ngajar dulu ya tante, soalnya mau motret untuk tugas. untuk bayaran bisa dipotong aja kok tante” aku menjelaskan. “kalo ngerjain tugas ya udah pergi aja, ngga usah ada acara potong bayaran na” sahut seseorang dari dalam ruangan dan menghampiri kami, itu Kak Rey. Aku tersipu. Tak lama, aku pun pamit.

Riri ternyata sedang mengobrol dengan seseorang saat aku tiba di pasar malam itu. Tapi tak terlihat jelas rupanya karena pria itu membelakangiku dan jaraknya cukup jauh. Saat aku dan Difran hendak menghampiri Riri, pria yang mengbrol dengan Riri itu pergi bersama segerombolan anak skate di pojokan sana. “siapa itu Ri?” tanya Difran. “sepupu gue, dia baru balik dari Singapura, udah cakep, orang punya, baik lagi, tadi aja gue dikasih jajan sama dia” ceritanya. “wah? Dikasih berapa duit lo?” tanya Difran. “kepo lo” godaku. “ya udah yuk kita keliling, sekalian lo sama lo jadi model gue, kita hunting aja, nyantai tapi bisa dapetin gambar yang bagus” ajakku. Difran dan Riri terlihat semangat.

Aku sudah memotret banyak hal disini termasuk pose-pose Difran dan Riri tentunya. Itu pukul 9 malam. “udah malem, pulang yuk udah mau ujan nih?” ajak Riri sambil berjalan. Aku tidak menjawab dan menatapi hasil potretanku. “lo udah selesai kan Na?” tanya Riri lagi. Aku serius dan menjawab dengan anggukan saja. Aku tetap tidak memperhatikan langkahku sampai-sampai, entahlah ditabrak atau menabrak, tetapi aku jadi tidak sengaja memotret orang yang sedikit berlari itu. “pelan pelan dong lo!” teriakku dari belakangnya saat pria itu agak jauh. “makanya, liat-liat kalo jalan Na” Difran meledek. Aku meringis.

Malam ini sangat menyenangkan, selain aku bisa untuk hangout bersama sobat-sobatku, aku, tugas ku pun selesai. Sambil beristirahat, aku melihat-lihat kembali gambar-gambar tadi. Setelah kuperhatikan, ternyata gambar pria yang tak sengaja menabrakku itu bagus juga walaupun tidak sengaja. Konsepnya zoom in dan tepat sekali dihiasi rintik-rintik air hujan. Aku memiliki ide untuk menjadikan gambar ini satu dari tiga gambar yang akan ku berikan pada dosen.

Aku meminta pendapat mengenai gambar yang diambil tidak sengaja tadi malam kepada banyak orang di fakultas yang berbeda denganku dan mereka merespon positive. Setelah ku beri sedikit efek aku serahkan kepada dosenku pada pukul 2 siang ini. Kemudian beristirahat dan pulang ke kost. Tak lama aku selesai makan siang, aku mendapat pesan dari Kak Rey bunyinya “hari ini ngajar Naya gak, na?” aku balas iya dan ia memintaku untuk pergi ke restoran tempat ia bekerja dan menitipkan sesuatu untuk Tante Hani.

Aku memang sudah dekat dengan Kak Rey seperti dengan kakakku sendiri, karena dialah yang menawarkanku untuk bekerja padanya dengan mengajar les beberapa pelajaran untuk adiknya karena dia tidak sempat untuk melakukan itu. Dia adalah manager di tempatku bekerja sebagai waitress dulu, karena aku tidak nyaman menjadi waitress, aku berhenti. Untung saja ada orang yang masih berbaik hati walaupun dia tidak tau keadaanku sebenarnya seperti apa.

Aku sedang duduk di kantin bersama Difran saat handphone ku berbunyi telepon dari kakakku. Inti dari percakapan kami itu adalah kapan aku akan pergi ke Bandung. Aku tertunduk lesu saat ditanyakan hal itu. “jangan sedih, sekarang makan dulu aja, lo pasti laper kan? Gue traktir deh kali ini biar lo bisa tabung uang makan lo” hiburnya. Itu cukup membuatku tersenyum dan pasti berkata “ngga usah, ngga apa apa, gue masih bisa ngatur ko insyaallah”. Percakapan kami berakhir singkat karena Riri tiba-tiba datang dengan terengah. “abis maling dimana lo lari-lari?” Difran meledek. “ah dasar lo! Gue bukan abis maling, tapi lo harus liat mading kampus dan dan picture of the year!” ujar Riri yang mencoba menstabilkan napasnya. Aku memang lupa bahwa pengumuman picture of the year tersebut adalah hari ini. “how’s the result?” aku ingin tahu. “lo pasti gak bakalan percaya!” Riri berbalik. “itu gambar lo Na!” ia melanjutkan. Riri benar, aku tidak percaya, tanpa berpikir panjang aku berlari menuju mading dan benar saja, hasil potretku di pajang disana. Gambar yang tak sengaja aku ambil. Ya, gambar pria yang malam tadi menabrakku. Terpampang jelas disana dengan judulnya, “Potret Hitam”. Aku tak tahu siapa yang memberi nama secantik itu.
Entah apa yang akan aku lakukan, aku begitu bahagia, karena ini adalah kali yang pertama untukku. Bahkan aku menitikkan air mata bahagia. Refleks aku memeluk Riri yang baru saja tiba karena tak kusangka aku berlari begitu cepat. “selamat ya Na!” berulang kali aku dengar kata-kata itu di telingaku.

Perasaan bahagia ini ku bawa pulang dan segera ku telepon kakakku untuk membaginya. Sehingga saat bekerja pun aku mengajar dengan ceria dan mengurangi tugas untuk Naya. “ada apa hari ini Na? Kok keliatannya ceria banget?” Kak Rey menggodaku. “iya kak, hasil potretku jadi picture of the year tahun ini di kampus dan pertama kalinya” jelasku sambil cengar cengir malu.

Setelah pukul 8 aku pulang dari rumah Naya. Aku tau bahwa gajiku tidak cukup besar sebagai guru privat, tapi aku tetap berusaha mencari pekerjaan untuk memenuhi biaya hidupku di Jakarta sendiri. Tapi Allah sangat menyayangiku, itu terbukti karena aku tinggal di kost milik mama Riri yang memberikanku tempat tinggal dengan harga paling murah. Katanya untuk balas budi karena telah membantu Riri rajin belajar pada saat sebelum UN saat SMA. Sebenarnya dulu pun aku inginnya masuk sekolah SMK tapi biaya SMK yang terlalu muluk membuat kakakku hanya mampu memasukkanku ke sekolah SMA saja.

Kembali lagi dengan persoalan kebahagiaanku hari ini. Saat aku memperhatikan gambar tersebut, ternyata di sweater pria ini dibagian lehernya terdapat tulisan ‘Singapore’. Selintas aku berpikir untuk mencari pria ini dan mengucapkan terima kasih untuk accident hari itu. Bagaimanapun, jika dia tidak menabrakku mungkin aku tidak akan mendapatkan gambar yang bagus. Tapi mana mungkin bisa aku menemukannya walaupun aku masih ingat wajahnya yang sempat menengok ke arahku saat kami bertabrakan.

“gue gak yakin” kataku sambil meletakkan tasku di atas meja. “apa lagi sih yang ngga lo yakinin? Gambar lo udah diakuin bagus sama dosen lo dan seluruh kampus. Itu berarti gambar lo itu udah diatas rata-rata nilainya Na.” Riri meyakinkan. Aku menggeleng masih ragu. “pameran ini Cuma diadain dua minggu Na, lo bisa pamerin beberapa gambar lo disana. kalo lo ikut dan ada yang beli, lo ngga bakalan susah-susah cari uang buat skripsi nanti.” Riri tak menyerah juga. “iya Na, siapa tau disana bakalan ada cowok ganteng yang suka seni terus beli gambar lo, eh kenalan, deket dan jadi pacar lo Na! Kaya yang ada di sinetron itu loh. Lo kan hampir busuk gak punya pacar.” Difran mulai berbicara aneh dengan bersamaan aku dan Riri menatapnya sinis. “oke sorry gue salah ngomong” katanya sambil mengarahkan jarinya ke arah bibir seakan-akan menutup resleting. “iya deh gue bakalan coba. tapi yakin, om lu ngizinin?” aku mengklarifikasi lagi. “iya” Riri mengangguk dan tersenyum pasti.

Beberapa minggu kemudian, tibalah waktu untukku menampilkan potretanku di galeri milik om Riri. Teman-teman di kampus aku undang terutama kedua sahabatku. Banyak sekali yang datang hari ini. Aku pun dipaksa Riri untuk pergi ke salon untuk bersolek. “lo bakalan ketemu dan ditanya banyak orang, jadi lo harus cantik” itu pesannya. Awalnya aku tidak percaya diri dengan semua ini, tapi setelah mendengar banyak sekali yang menyebutku cantik hari ini, itu membuatku lebih baik lagi.

Aku berdiri ragu di seberang pintu, jauh dari gambarku yang dipajang di tengah-tengah gedung. Tidak henti memperhatikan langkah orang-orang yang berpenampilan sangat mewah. Ini memang bukan pagelaran biasa. “Nona!” teriakan di ujung sana. Itu Riri yang kemudian menghampiriku. “lo kok diem disitu sih, banyak temen-temen om gue nanyain gambar punya lo” katanya sambil menarikku berjalan. “gue grogi Ri” aku mengerenyitkan dahi. “ini, fotografernya pak, bu, namanya Nona” Riri memperkenalkan ku ke sekumpulan orang. Aku tersenyum menyambut mereka. Banyak pertanyaan yang aku dapat kan dari gambarku “Potret Hitam”. Aku hanya menjawab sejujurnya bahwa itu adalah sebuah ketidak sengajaan.

Aku sedang berbincang dengan beberapa orang ketika aku melihat pria yang sedang berjalan di seberang ruangan bersama Riri yang kemudian menghampiriku. “silahkan lihat-lihat kembali bu” kataku kepada orang-orang tadi. “hey Ri!” sapaku. “Nona, ini sepupu gue, Drew yang waktu itu ketemu di pasar malem waktu itu. Dia anak om gue yang punya galeri ini” pria itu mengangguk senyum dan mengajak berjabat tangan. Aku meraih tangannya “Nona”. “dia ini suka sama fotografi juga loh, namanya aja Drew”. Riri hendak menjelaskan tentang gambarku, tapi Drew memotong perkataannya “kenapa gak Nona aja yang menjelaskan? Dia kan fotografernya?”. “oow” kataku dalam hati. Sepertinya pria ini seorang kritikus. Aku pun menjelaskan gambarku dengan hati-hati dalam pemilihan kata-katanya. “kamu menjelaskan tegang banget, santai lah, anggep aja aku teman kamu” katanya. Aku menghela napas dan tersipu malu.
Ternyata Drew ini tertarik pada sasaran fotografiku pada saat aku ceritakan, jadi dia memintaku untuk menemaninya dan menunjukkan beberapa potretanku yang lain. Drew bertanya “gambar pria itu, kenapa jika setiap orang menanyakan harganya, kamu bilang tidak menjualnya?”. Aku terdiam lalu menggeleng. “itu gambar yang menurutku membawa keberuntungan, itu gambar yang masuk ke picture of the year di kampusku. Aku juga akan mencari dulu pria yang gak sengaja aku potret itu” jelasku. “lalu, kalau sudah ketemu orangnya, kamu mau apa?” tanyanya lagi. Aku berpikir “kayaknya aku akan kasih gambar ini”. Dia mengangguk tanda mengerti. Ketika aku sedang berbicara, papa Drew memanggilnya. Sontak kami menoleh bersama-sama ke sebelah kanan. Aku yang tepat berada di sebelah kiri Drew, melihat suatu simbol di sweater nya yang cukup familiar. Aku memperhatikan lagi dan aku menyadari bahwa simbol itu sama dengan pria yang ada pada “Potret Hitam”. Aku yakin sekali. Tapi aku menyembunyikan kesadaranku sejenak dan tidak langsung menyatakannya. “Nona, udah siang, kita makan siang dulu yuk, udah gitu kita shalat” ajak Riri. Difran yang berada di belakang Nona mengangguk tanda mengajak juga. Aku pun mengiyakan. “Drew, ikut sama kami aja!” Riri melempar pandangan. “Iya, kita ngobrol ngobrol” sambung Difran. Kami pun makan siang berempat.

Setelah selesai, aku kembali ke galeri. Sudah ramai orang-orang disana, mulai berdatangan lagi teman-teman dari om nya Riri yang mereka adalah pejabat-pejabat tinggi negara. Aku mulai kewalahan mengaguminya. Kali ini aku dapat kejutan, kakakku datang dari bandung bersama anaknya. “Kak Mira?” aku segera menghampirinya dan memeluk dengan erat. “aku kangen banget sama kakak” kataku masih dalam pelukan. “aku juga kangen sama keponakanku ini” aku menggoda Mila. “berterimakasihlah sama temen-temen kamu, Na” katanya. Aku menoleh pada Riri dan Difran “makasih ya temen-temen udah datengin kakak gue”. “gak mungkin di hari bahagia ini gak ada kakak lo buat liat kesuksesan lo Na” kata Difran. Aku mulai menangis terharu. Aku dan kakakku berkeliling memperkenalkan gambar-gambarku dan juga menceritakan hal yang aku pendam beberapa waktu ini.

Lelah sekali hari ini. Rasanya punggungku mulai remuk. Aku pun pusing mengatur gambar-gambar yang akan dibeli agar tidak ada ada gambar yang sama yang aku jual kepada orang lain. Tapi aku bersyukur sekali ada 5 gambarku yang terjual hari ini. Aku kembali ke kostan untuk beristirahat bersama kakakku. Sayangnya, Kak Mira harus pulang kembali ke Bandung untuk bekerja. Jadi aku menghabiskan malam untuk melepas rindu bersamanya.

Cerpen Karangan: Yuniza
Blog: Alluthfia.blogspot.com
Ini karyaku yang terakhir aku bikin, yang lainnya dalam proses karena lagi sibuk persiapan UN 😀 semoga cerpen tadi bermanfaat 🙂

Cerpen Potret Hitam (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seribu Makna Sebuah Kanvas

Oleh:
Sebuah Surat Untuk Hiruka, Oktober 2013 Hei, aku tidak tahu untuk apa aku menulis surat ini untukmu. Sebuah surat tak beralamat. Aku memang tidak akan mengirimkannya. Rasanya mustahil mengirimkannya

Kaichou, I Love You

Oleh:
“Kayla! Bangun.. kamu mau terlambat sekolahnya. Mama udah bilang dari dulu kan, kalau habis shalat shubuh jangan tidur. Let’s wake up..” Sebuah suara khas mama menggelegar di telinga Kayla.

Lost Friends Because Of Love

Oleh:
Hari ini hari yang begitu indah, karena rumah pohon yang aku dan sahabat sahabatku buat telah selesai. Namaku Kayla aku punya 4 sahabat, namanya Tessa, Tina, Andi dan Deran.

Malaikat Dari Perpustakaan SMANSAGI

Oleh:
Pagi itu terasa jam sangat cepat berjalan, aku berlari-lari menuju kelas. hufffttt, sampai di kelas nafasku terengah-engah seperti orang habis lari karena di kejar-kejar hantu saja. Itu sudah jadi

Dia Yang Ku Sayang

Oleh:
Waktu pertama kali aku kenal dia waktu aku baru menjejakan kaki di smp 5.. Waktu itu aku tak tau mengapa aku sebenci itu pada seorang lelaki yang bernama avan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *