Potret Hitam (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 16 December 2014

Aku mendapatkan telepon dari seseorang. Aku mengucapkan salam dan terdapat sahutan disana. Ternyata itu seorang perempuan “apa betul saya bicara dengan Nona Arsitania?” tanyanya. “iya, ini saya, maaf ibu siapa ya? Ada perlu apa?” kataku. ”saya Anita, dari PT Cahaya, perusahaan batik di Bandung, saya tertarik dengan gambar-gambar anda kemarin, saya ingin membeli gambar anda, jadi saya ingin melihat selengkapnya hasil potret yang anda miliki. Bagaimana?” jelasnya. Aku sedikit ragu untuk menjawab. “tenang saja, saya benar-benar ingin memesan gambar anda, bisa?” sepertinya keraguanku sedikit lama. “baiklah bu, mau bertemu dimana?” tanyaku. Kami mengakhiri panggilan kemudian dia mengirimkan alamat sebuah restoran tempat kami akan bertemu.
“Tuh kan, apa gue bilang, pameran ini pasti berhasil” Riri mengangkat alis. “ya, gue akuin, makasih ya buat dukungan kalian” ucapku. Difran meneguk jusnya “oh iya, katanya Drew nanyain lo tuh” sahutnya. Aku heran kemudian melempar mata sinisku pada Riri. Dia mengangguk. “iya, kayanya dia suka deh sama lo” tambah Riri. Aku tersipu. “tuh kan bener lo juga suka sama dia” cetus Difran. “apa? Nggak kok nggak” aku panik. “ya udah biasa aja kali kalo lo emang gak suka” goda Riri padaku.

Ternyata Drew menyusul kami di cafe. Dia datang dengan senyuman kemudian memesan minum. Aku mulai salah tingkah. Kami mengobrol sampai malam hari. Saat akan pulang, Drew menawarkan untuk mengantarku. Aku menolak, tapi Riri dan Difran juga memaksa, jadi aku mau tidak mau menerimanya. Sepanjang jalan kami mengobrol juga. Drew memang orang yang menurutku asik, enak diajak berbicara dan tidak membosankan.

Esoknya, setelah pulang kuliah, aku ke kostan terlebih dahulu untuk berganti pakaian dan bersiap-siap untuk meeting dengan seseorang. Bisa aku bilang ‘klien’. Aku sangat terkejut melihat mobil Drew terparkir di depan kostanku. “Drew? What are you doing here?” kataku heran. “aku mau nganterin kamu ketemuan sama klien kamu hari ini Na” katanya. “aku nggak minta loh Drew” dia menggeleng “ngga, kamu ngga minta, aku yang mau kok” katanya. Kemudian aku berangkat diantarnya.

“aku mau pergi ke toko DVD, terus nanti aku jemput kamu lagi, kalo kamu udah selesai, kamu hubungi aku ya” pesan Drew. “nggak, kamu gak usah jemput aku lagi kamu pulang aja, istirahat” aku menolak. “nggak apa apa Nona, ayo sekarang kamu masuk, hati hati, jangan jangan penculik lagi” katanya. Aku tersenyum dan meninggalkannya.

Aku membaca lagi pesan dari bu anita kemarin yang memberitahu jadwal pertemuan hari ini. Dia berkata juga bahwa dia memakai baju merah dan duduk di sebelah jendela. Aku mencari-cari sosok itu dan aku temukan juga. Hanya saja dia membelakangiku. “permisi, Bu Anita?” kataku sambil mendekatinya. Pempuan itu menoleh. “mama?” terkejut sekali bahwa perempuan itu benar-baner mama. Aku pun berbalik dan berlari sambil menangis. Awalnya mama memegang tanganku. “lepasin!” kataku.
Aku berlari menabrak seseorang, setelah kulihat, ternyata itu Drew. “kamu kenapa Nona?” katanya sambil memegang kedua bahuku. Aku tetap menangis dan menggeleng “ayo kita pergi aja dari sini Drew” aku menarik tangannya. Mama mengejarku tapi aku tidak mempedulikan hingga aku dan Drew pergi dari restoran itu. “aku bawa kamu ke cafe aja ya” kata Drew.

“Nih minum dulu” Drew menyodorkan segelas jus stroberi favoritku. Aku meminumnya hingga merasa tenang. “jadi tadi kamu kenapa Nona?” Drew menopang dagu. “tadi itu mama ku Drew” kataku. “mama?” aku mengangguk. “mama pergi setelah papa ku meninggal. Saat itu aku masih tinggal di Bandung. Mama pergi dan gak pernah balik lagi. Itu udah hampir 10 tahun Drew” tangisanku makin menjadi. “lama banget? Pergi kemana Na?” tanya Drew. “awalnya mama bilang kerja tapi sampe satu hari mama gak pernah pulang sampe kakakku yang harus kerja dan akhirnya menikah. Baru deh aku pergi ke Jakarta” aku melanjutkan. “kamu gak kangen sama mama kamu?” aku menunduk. “kangen sih, tapi rasa benci aku lebih banyak dari pada kangen aku” kataku. “kamu harus bisa memaafkan mama kamu Nona, dia pasti kangen sama kamu. Dia juga pasti punya alasan kenapa dia pergi waktu itu kan?” aku hanya bisa terdiam.
Setelah itu Drew mengantarku pulang. “selamat istirahat ya Na” ucapnya. “tunggu” kataku. Aku pun segera ke kamarku dan kembali “nih, untuk kamu” aku menyerahkan Potret Hitam kepadanya. “ini, kenapa kamu kasih ke aku? Kan…”. “aku tau. kamu ingat? Waktu kamu ke pasar malam dulu, kamu lagi buru-buru lalu kamu bertabrakan sama seorang perempuan. Yang ternyata perempuan itu lagi memegang kamera dan gak sengaja motret kamu” aku memotong perkataannya. “aku… aku gak percaya. Gimana kamu bisa nyadar kalo gambar ini aku?” katanya. “liat, ini simbol di sweater kamu kan?” tanyaku sambil menunjukkan simbol pada gambar. Dia mengangguk kemudian terdiam sejenak. “ini memang aku Na, aku ingat. Tapi aku gak bisa nerima ini” katanya. “kenapa?”. “ini gambar pembawa keberuntungan kan? Ini banyak keuntungannya untukmu kan?” dia kembali menyerahkan gambar tersebut. Dia memelukku. “aku memang baru kenal sama kamu, tapi aku nyaman dan aku sayang sama kamu Na” katanya.

Masih malam itu, handphoneku berbunyi. “Nona, keluar sekarang aku mau ketemu” begitu pesan yang kubaca. Aku pun segera menghampirinya. “hai Kak Rey?” sapaku. “hai Na” jawabnya. “nih untuk kamu. Selamat ya” sambil menyerahkan sebucket bunga mawar. “maaf ya aku gak bisa dateng kemarin pas pameran, aku kan ada meeting di kantor cabang Yogya. Mama udah bilang kan?” jelasnya. Aku mengangguk. “kemarin aku ketemu kok sama tante dan Naya” ceritaku. “oke, kalo gitu aku pergi ya, kamu pasti mau istirahat”.

Akhir akhir ini aku merasa tidak enak badan, karenanya aku tidak masuk kuliah untuk beberapa hari. Tidak keluar dari kostan membuatku tidak bertemu dengan Drew juga. Apalagi BBM ku sedang off jadi aku tidak bisa chattingan dengan Drew. Karena aku lupa memberitahu nomor handphone ku. Kemudian setelah aku mulai sehat, aku pergi kuliah lagi. “lo udah sehat Na?” sapa Difran saat aku bertemu dengannya di gerbang kampus. Aku mengangguk kecil. “Riri mana?” tanyaku. “gak tau deh, dia gak ada kabar” katanya. “oke” kemudian aku pergi.

Sore harinya, aku menuju cafe. Sudah ada Difran dan Riri disana. Aku duduk dan memesan minuman. “lo udah sembuh Na?” Riri memulai percakapan. “iya Ri” jawabku. “lah gue kira lo masih sakit” aku menggeleng “gimana kabar Drew?”. “Lo musuhan sama Drew?” tanyanya. Aku bingung dengan pertanyaan tersebut. “kok lo nanyanya gitu sih? Gue baik baik aja sama dia” kataku. “lah, terus kok lo tadi gak ikut ke bandara nganter dia?” aku tercengang. “hah? Dia pergi ke Singapura lagi?” aku mulai menitikkan air mata. “loh loh. Kok lo nangis sih Na?” Difran memelukku. Aku menangis lebih keras. “gue sama dia gak bbman pas gue sakit karena gak sempet beli pulsa, terus Drew gak tau nomor handphone gue jadi kita nggak kontekan beberapa hari ini. Dia juga gak nyamperin gue di kostan. Tiba-tiba gue taunya dia pergi jauh” aku menangis lagi. “dia emang sibuk karena ngurusin tiket sendiri, dia disuruh pergi ke Jepang, bukan Singapura. Dia mau ngurusin perusahaan papi nya disana, sabar ya Na” Riri bercerita. aku tidak menyangka akan ditinggalkan oleh orang yang sangat perhatian padaku. Ini sangat menyakitkan. Aku tidak tahu kenapa dia pergi tanpa mengabariku.

Aku ada di Bandung saat ini. Uang-uang yang telah aku dapat setelah menjual gambar-gambar, membuatku memiliki tabungan lebih banyak dan khususnya untuk pulang ke Bandung. Aku menenangkan diri setelah kelelahanku dan kepeninganku setelah patah hati. Sekarang ini aku iseng membaca satu persatu kontak di handphone ku. Tibalah aku pada nama Bu Anita. Aku jadi ingat mama lagi. Setelah dipikir-pikir aku juga rindu padanya. Walaupun ragu, aku menghubungi nomor tersebut. “halo?” suara di seberang sana. “mama?” sapaku ragu. “Nona? Kamu masih menyimpan nomor mama nak?”. “iya ma, mama aku kangen sama mama, mama mau kan, pulang?” pintaku. “iya Na, mama nanti pulang. Sudah dulu ya sayang” katanya. Aku pun segera mengakhirinya. “Kak Miraaaaaa mama mau pulang Kak!” teriakku. Kak Mira bingung dengan apa yang aku bicarakan, kemudian aku pun menceritakan hal tersebut. Kak Mira terlihat senang, tapi ia juga menangis.

Malam harinya, ketika aku sedang menonton tv bersama hani, keponakanku, ada seseorang yang mengetuk pintu. Setelah ku bukakan “mama?” kataku. “Nona” mama memelukku sambil menangis. “Nona, maafin mama sayang” katanya masih memelukku. “mama?” kak Mira juga tercengang melihat mama. Kemudian kami bertiga berpelukan. “mama kenapa mama pergi?” kak Mira dalam tangisan. “mama bingung, mama gak bisa kalo pulang tanpa hasil, mama pergi keluar pulau, tapi mama terjebak disana mama gak bisa pulang karena usaha mama berkembang disana” jelasnya setelah kami duduk. “mama tega ninggalin Nona sama kak Mira disini dan mama bersenang-senang disana?” aku mojokkannya. “mama tau, mama salah, mama sadar, saat mama mau kembali kesini, mama gak bisa, mama takut kalian gak mau nerima mama lagi. Mama sering sekali kesini melihat kalian, tapi mama hanya bisa liatin kalian dari jauh, kalian mau kan maafin mama?” aku mendengarkan baik baik dan aku mengangguk, Kak Mira juga mengangguk. Rasanya ini adalah hal yang sangat bahagia.

Aku kembali ke Jakarta diantar mama menggunakan mobilnya. Kini aku tidak lagi tinggal di kostan, tetapi tinggal di rumah mama yang ia beli entah kapan. Hari ini adalah hari aku berkemas dan pergi dari kostan. Sebenarnya berat meninggalkan tempat tinggal yang sudah kutempati selama 3 tahun ini, tapi untuk menghemat biaya juga, aku harus. Tapi ada yang lebih kusayangkan lagi. Aku diminta mama untuk berhenti mengajar. Itu karena mama merasa sudah bisa dan cukup untuk menghidupiku. Lagipula jarak rumah dengan rumah Naya sangat jauh, tidak seperti dulu.

Sore harinya, sendirian, aku datang ke rumah Naya. “tante, Nona pamit ya, Nona nggak ngajar Naya lagi” kataku. “sebenernya berat sih, abisnya kamu udah tante anggep kayak anak tante sendiri” ia mengiyakan. “tapi nanti kak Nona main kesini ya” Naya keluar dari dalam kamar. Aku mengangguk “iya Naya sayang, lagipula kan kamu sudah pintar, asal kamu rajin belajar, kamu bisa kok jadi guru, cita-cita kamu itu” pesanku sambil mengelus rambutnya. Tidak lama aku disana, aku pamit untuk pulang karena hari sudah mulai gelap.
“Nona!” teriak Kak Rey dari dalam rumah ketika aku berjalan keluar dari gerbang. “iya kak?” sahutku. “kakak anter ya?” ia menawarkan. “nggak, nggak usah ka, aku bisa sendiri kok” aku menolak. Dia tetap memaksa. Akhirnya aku mau juga. “nanti kita gak pernah ketemu dong ya?” Kak Rey memulai pembicaraan dalam mobil. “bisa jadi, tapi kita masih bisa ketemu kok, asal nomor handphone ku, nggak kaka buang” aku sedikit bercanda. “nggak lah, gak mungkin” katanya. “Nona?” aku menoleh. “aku sayang sama kamu, aku pengen kamu jadi pasangan aku Na?” mintanya. Aku benar benar terkejut saat ini. Aku tidak tahu bahwa Kak Rey menyimpan perasaan padaku. Aku menggeleng. “kamu gak mau na?” dia berwajah kecewa. “aku gak nolak kak” jawabku. Wajah Kak Rey seketika menjadi cerah. I love you, katanya.

Potret Hitam tidak akan aku jauhkan dari kehidupanku. Karena Allah telah menyalurkan mukjizat, karunia, dan rezeki ku melaluinya. Termasuk cerita cintaku. Melalui itu, aku memulai merasakan kembali jatuh cinta. Walaupun tidak sesuai dengan apa yang aku cari, tapi aku tetap mendapatkan cinta dari hati yang lain. Dan yang paling utama, aku bisa ditemukan kembali oleh cinta yang telah lama hilang. Untunglah aku tidak berputus asa dalam hidup ini. Aku berjuang untuk hidup. Karena jika tidak, aku membayangkan tidak akan seperti ini hasilnya. Bertemu mama dan mendapatkan cinta yang seutuhnya. Banyak sekali kenangan, pengalaman dan pelajaran yang aku dapatkan. Terima kasih ya Allah. Aku bersyukur kepadamu.

SELESAI

Cerpen Karangan: Yuniza
Blog: Alluthfia.blogspot.com
Ini karyaku yang terakhir aku bikin, yang lainnya dalam proses karena lagi sibuk persiapan UN 😀 semoga cerpen tadi bermanfaat 🙂

Cerpen Potret Hitam (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Beyond The Limit (Part 2)

Oleh:
Semakin jauh Ed berjalan, hujan semakin mengecil. Hingga akhirnya ditemukanlah saat hujan reda yang membuat Ed melipat kembali payungnya. Langkah pria itu menimbulkan cipratan-cipratan kecil saat sepatunya menginjakkan kaki

Nikmat Membawa Sengsara

Oleh:
Aku masih tersandar di kursi persegi panjang yang berada di samping kamar kos yang kutempati ini. Kursi ini kelihatan lembab terkena air, ya.. tak salah lagi air mata yang

Selalu Ada Kesempatan

Oleh:
Menceritakan tentang seorang anak yang selalu membuat orangtuanya kesal sebut saja namanya ria (bukan nama aslinya) ria lahir di sebuah keluarga sebagai ana ke 2, ria memiliki 1 orang

Kenangan Saat Hujan

Oleh:
Saat ini hujan. Padahal tadi pagi cuaca benar-benar cerah. Tapi beberapa saat setelah bel pulang sekolah berbunyi, hujan langsung turun dengan derasnya. Seolah tengah menjebakku untuk tetap tinggal. Menjebakmu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *