Praduga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 27 October 2013

Langit penuh bintang bercahaya di matanya. Dengan temaram cahaya bulan, bintang tertutup awan terlihat berpendar malu di atas sana. Dengan penuh harapan, ia coba menghitung bintang yang tersipu malu di balik awan. Di matanya, ia linglung, seolah kebingungan menentukan sikap semu bintang yang tertutup awan di hamparan langit malam itu.

Kebingungan di matanya juga mencerminkan kebingungan di hatinya. Di langit-langit hatinya ada lima bintang penuh makna yang tertutup awan lazuardi. Lima bintang itu ternyata mencerminkan nama dan wajah yang beralainan satu dengan yang lain. Lima nama dan wajah yang tercermin itu adalah lima nama dan wajah yang dulu, atau bahkan hingga sat ini, masih tersirat di hatinya.

Kini ia hanya meratapi wajah-wajah itu satu demi satu untuk mengetahui di mana cinta yang ditakdirkan Tuhan untuknya itu berada. Harap-harap cemas memenuhi setiap titik temu di otaknya. Ia cemas, khawatir. Ia teramat takut jika tidak ada dari lima wajah di hatinya yang telah Tuhan pilihkan untuknya, sebagai penyejuk lara ketika ia butuh akan cinta.

Ternyata, apa yang ditakutkannya menjadi kenyataan. Di antara kelima wajah di hatinya, tak satu pun yang dikatakan “Ia” oleh cinta. Cinta tak berpihak pada kelima wajah di hatinya. Cinta berbicara lain dengan bahasa yang tidak dimengertinya. Ia coba menanyakan pada langit penuh bintang, namun langit penuh bintang itu seakan menjawab dengan bahasa yang juga tidak dimengertinya.

Sesaat ia tertunduk lesu di tempat tidurnya. Ia coba merenungkan suara cinta dan langit penuh bintang yang berbayang semu di benaknya. Suara cinta seakan mengisyaratkan bahwa ada cinta sejatinya di luar sana, sedang suara langit malam seakan memberitahukan di mana cinta sejatinya berada.

Dengan penuh kebingungan ia hempaskan tubuhnya, lalu memejamkan mata yang telah berhiasi bintang-bintang surga. Dengan pasti ia melangkah pergi memenuhi undangan mimpi yang telah siap menyambutnya dengan mimpi-mimpi sorgawi.

Mentari baru bangun dari tidur saat ia berada di depan rumahnya. Jingga sorgawi menyempurnakan keindahan pagi bersama padi yang berbisik di kala sunyi seolah berpuisi bagi orang yang menikmati indahnya pagi.

Ia hirup dalam-dalam aroma surgawi yang berasal dari padi yang mulai ditinggal pergi oleh sunyi. Angin pagi menampar dedaunan padi hingga menaburkan aroma surgawi sebagai penyejuk bagi hati yang mengharap pada ilahi, karena butuh seseorang di sisi.

Suara burung hilir mudik menghiasi indra pendengaranya. Sebagian burung di pepohonan seperti mengisyaratkan sesuatu padanya, sebagian yang lain mendendangkan bunyi mereka untuk sekedar menghapus sunyi dari jangkauan sinar mentari.
Sudah cukup jauh ia meninggalkan rumahnya hanya untuk menikmati suasana surgawi yang berasal dari sunyi bergantung pagi yang kini telah berganti sinar mentari. Sesaat, ia balikan badanya untuk kembali ke rumahnya. Baru selangkah ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja hand phone-nya berdering.
“Halo, siapa ini?”
“Ini aku, wanita yang pernah kamu tolong.”
“Maaf, aku gak ingat.”
“Aku wanita yang kamu tolong di kecelakaan seminggu lalu.”
“Oh ya, gimana kabarmu sekarang?”
“Alhamdulillah sudah sehatan.”
“Ya, kalau gitu syukurlah.”
“Oh ya, nanti aku telfon lagi ya, soalnya aku di panggil ibu nih.”
“ya sudah, bye…” Ucapnya lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, di matanya kebingungan menerpanya, pepohonan yang tadinya agak sunyi, kini telah berubah menjadi konser bunyi burung pagi. Bingung. Ia bingung mengapa burung-burung yang tadi berlagak semu, kini talah menjadi agresif untuk melantunkan suara-suara khas mereka. Angin pun tidak hanya menampar pepadian, tapi juga menerpanya seperti membawa tanda berisikan asa yang terpendam di dalam hatinya.

Ia pandangi langit yang bertaburan bintang, untuk menyaksikan bintang yang tampak malu di sela-sela cahaya rembulan. Di matanya yang berkaca-kaca nampak iring-iringan bintang yang semu di hadapan rembulan, turun menghampirinya. Semakin dekat iring-iringan bintang itu, semakin nampak di matanya, bukan hanya bintang yang turun menghampirinya, di balik iring-iringan bintang itu nampak seorang wanita berbaju serba putih mengenakan mahkota berbentuk bintang di kepalanya. Rambutnya tegerai indah ke bawah, memberikan nuansa surgawi malam itu. Iring-iringan bintang itu kini telah ada di hadapannya. Dengan senyum yang memekar di bibirnya, wanita cantik yang bersembunyi di balik bintang iru perlahan menghampirinya.

Ada yang berdetak tak semestinya di hatinya saat itu. Kekaguman akan kecantikan wanita di hadapannya tidak bisa ia pungkiri. Tapi sisi lain hatinya berkata ia seakan pernah mengenal orang itu.
“Dia itu sepertinya…” Suara hatinya terputus, saat wanita bermahkotakan bintang itu berada selangkah di hadapannya.
“Akulah wanita yang ditakdirkan Tuhan untukmu,” kata wanita itu lalu membalikkan badannya menuju bintang yang membawanya tadi. Sementara itu ia memikirkan kalimat yang diucapkan wanita itu, sesaat kemudian ia buang pandangannya ke arah wanita yang kini telah berada di balik bintang-bintang yang siap untuk membawanya kembali ke angkasa sana. Dengan sekali kibasan tongkatnya wanita itu terbang ke langit bersama bintang-bintangnya.
“Hei tunggu…” Teriaknya ke arah wanita yang sudah melayang tinggi bersama bintang-bintangnya.
“Hei Tunggu! Tunggu tuan putri…” Panggilnya lagi dengan suara yang semakin keras.

Ia terbangun dari mimpi sorgawinya saat angin berhembus keras ke tubuhnya dengan membawa satu nama yang tak lain adalah nama “Shofwa”, wanita yang ditolongnya ketika kecelakan seminggu lalu. Ia teringat, beranjak bangun, dan bergegas. Entah ke mana.

Raudlah-Najiyah saat senja, akhir Desember 2007

Cerpen Karangan: Fairuz Zakyal ‘Ibad
Facebook: Fairuz Zakyal Ibad

Fairuz Zakyal ‘Ibad, merupakan nama pena dari Ach. Fairuzzabadi.Seorang pengagum cahaya, rembulan, dan kesunyian.Lahir di sebuah desa kecil yang dikelilingi aliran sungai, Lengkong Bragung Guluk-Guluk Sumenep Madura.Mulai menulis sejak mengenyam bangku Madrasah Tsanawiyah di Raudlah Najiyah, Lengkong, dan tetap aktif menulis hingga kini. Lebih senang menikmati oretan pena sendiri di antara kesunyian dari pada mengirimkan ke berbagai media massa. Tengah bermukin di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan dan penggiat di Komunitas Cinta Nulis (KCN) sekaligus “pengasuh” Komunitas Sastra Embun Pagi Raudlah Najiyah putri. kini tengah merampungkan buku kedua dengan judul, Tentang Kita, setelah buku pertama terbit dengan judul, Kesetiaan Purnama(2012)

bisa dihubungi di:
email: genangan.cahaya[-at-]gmail.com
fb: Fairuz Zakyal Ibad
hp: 081939455238

Cerpen Praduga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ada Apa Dengan Perpustakaan?

Oleh:
“Kiran, temenin gue ke perpustakaan yuk..” Aku hanya bisa mendengus bosan mendengar permintaan Shallom. Shallom, cewek yang paling nggak bisa aku mengerti jalan pikirannya, cewek yang agak labil, cewek

Apa Sih Cinta? (Part 2)

Oleh:
“Terkadang kita harus merasakan luka, untuk tau caranya menghargai.” Di dalam mobil Driana hanya diam tak berkata sepatah kata pun. “Lo tumben diem?” kata Bayu. “Gue masih gak enak

My Soul

Oleh:
Aku adalah Raisa, seorang anak rantau yang mencoba bertahan dengan rasa sepi yang selalu menghantui diriku. Dan ketika hari hari yang aku lewati terasa begitu hampa dan sepi, dengan

Cinta Lama Bersemi Kembali

Oleh:
Sebulan sudah nada bekerja di perusahaan nathan. Rasa tidak nyaman dan canggung bekerja satu kantor dengan nathan mantan pacarnya yang 3 bulan lalu putus. Berpacaran selama setahun dan akhirnya

Aku, Kamu dan Kita

Oleh:
Aku duduk di sebuah taman dekat sekolah, menulis cerita tentang sebuah kisah persahabatan. Aku Hera, gadis SMP sama seperti kalian, menyukai musik, membaca novel dan dance. Aku mempunyai sahabat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *