Prasangka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 June 2016

Peluh rasanya sudah membuat sekujur tubuhku basah, seragam putih yang kupakai mungkin sudah beraroma tak karuan asamnya. semua ini gara-gara pak Budi yang tanpa rasa kasihan terus saja menyuruhku untuk bolak-balik memindahkan kursi-kursi kelas ke ruang multimedia. Aku memang tak sendiri, tapi aku menyesal menuruti perintah pak Budi kali ini.
Bela beberapa kali mengelap keringat yang mengalir melalui paras cantiknya dengan ujung kerudung. Dia kelihatan pucat karena terlalu lelah menyiangi rumput di taman Belakang sekolah. Besok memang ada beberapa acara penting di sekolah. Mulai dari rapat komite, MGMP guru dan juga penjurian lomba adiwiyata.
Ingin rasanya aku mengambil clurit yang dipegang Bela dan menggantikan pekerjaan beratnya, tapi aku juga sedang sibuk dengan tugas usung-usungku. tak sengaja tertangkap pandangan olehku seorang perempuan yang dengan nyantainya berdiri bersandar di pintu. Dia tak mempedulikan anak-anak lain yang sedang bergotong-royong melakukan kerja bakti. Dia malah sibuk dengan gadgetnya, pasti dia sedang chat dengan teman sosmednya. Pikirku langsung berburuk sangka.
“ya gini nih yang buat indonesia gak maju–maju Iindividualisme, gak peduli sama sekitar.” Aku memang sengaja berdiri tak jauh darinya, sejauh dia masih bisa mendengar suaraku.

Aku merasa sedikit senang berhasil menghentikan jari jemarinya yang sedari tadi sibuk mengetuk-ngetuk layar gadget. Perempuan itu kemudian mengantongi gadgetnya. Dia berjalan kearahku dengan tatapan datar yang tak kumengerti arti dari tatapannya tersebut. Dia melewatiku begitu saja tanpa satu patah kata pun mencuat dari bibirnya.
“pasti ke kantin.” pikirku masih penuh dengan prasangka buruk. Seakan di mata dan fikiranku tak ada aling-aling kecantikan untuk perempuan secuek itu. Aku melanjutkan lagi pekerjaanku karena pak Budi memergokiku sedang diam melongo dan pak Budi malas memanggilku dengan pemalas.

Perkenalkan namaku Rino. Aku adalah siswa di salah satu sma di kota Blitar. Bela, adalah teman sekelasku plus gebetanku. Selain cantik dia juga sangat baik sehingga aku sedang berusaha mendekatinya akhir-akhir ini. Sedang perempuan cuek yang tadi kuceritakan, namanya Vivi. Aku mengakui dia memang cantik. Kulitnya putih bersih dan rambutnya yang hitam tergerai menambah kecantikannya. Tapi dia selalu sibuk dengan dirinya sendiri, dia terlalu acuh dengan orang lain. Itulah hal minus besar yang membuatku kesal dan tak menyukai setiap apapun yang dia lakukan. Banyak teman laki-laki yang ingin mendekatinya, tapi mereka selalu mundur di tengah jalan. Alasannya sama, mereka menganggap Vivi adalah cewek yang terlalu sombong dan sok cantik. Sehingga ia mendapat julukan istimewa dariku, Miss Angkuh.

Karena lelah, saat sampai di rumah aku langsung merebahkan tubuhku ke sofa hingga aku tertidur disana. Nenek memanggil-manggil namaku dan menggoyang-goyangkan tubuhku agar aku terbangun dan mendengarkan ceritanya. Aku membuka mata sebentar, lalu memejamkannya lagi. Setelah puas bercerita, nenek mengecup keningku dan membiarku tidur lagi dengan tenang. Sebenarnya aku tak betul-betul menyimak ceritanya sedari tadi tapi dia cukup senang melihatku memutuskan untuk tidur satu malam di rumahnya hari ini. Aku juga bosan sendirian di rumah hanya ditemani oleh Amel, kucing kesayangan ibuku.
Hari ini harusnya menjadi hari kebebasan bagiku. Bebas dari jadwal pelajaran yang bertumpuk-tumpuk disertai PR yang tak ada habisnya. Tapi dengan berlapang dada aku menghilangkan imajinasiku mengenai hari bebas itu. Kuantarkan nenek ke sekolahku, bukan untuk menuntut ilmu sepertiku tapi untuk menghadiri rapat komite.
“iya kemarin dia yang bantuin nenek. Dia itu yang nenek bilang berani ngelawan preman dan yang nganterin nenek sampai di rumah gara-gara nggak kamu jemput.” Nenek tak ada hentinya memuji-muji perempuan yang berdirinya tak jauh dari kami berdua.
Perempuan itu adalah Miss Angkuh, Vivi yang berdiri di depan kelas. Dia tak menyadari jika nenekku sedari tadi menyanjungnya, terus menanyaiku namanya dan aku hanya mengelak belagak tak mengenalnya. Dengan semangat, nenek melanjutkan ceritanya yang samar kurasa aku sudah pernah mendengar cerita kebaikan ini.
“bukan cuma itu, nenek sering lihat dia bantu-bantu di puskesmas, tempat nenek biasa senam. Kok ada ya anak sekarang, udah cantik baik lagi.”
“baik?” Aku berbisik pada diriku sendiri. Pikiranku terus saja mencoba menyangkal semua kebaikan yang kata nenek dilakukan oleh Vivi, perempuan berambut panjang itu. Di sekolah dia bahkan tak membiarkan sepatu mahalnya harus kotor untuk membantu temannya membersihkan selokan. Bagaimana mungkin dia mau membantu pekerjaan di puskesmas dan bertarung dengan preman seperti yang diceritakan nenek. Kadang aku merasa nenek sebaiknya membuat dongeng superhero saja. Dia selalu melebih-lebihkan sesuatu, atau bahasa gaulnya lebay.

Nenek berjalan mendahuluiku. Dia menghampiri Vivi yang selalu sedang sibuk dengan gadgetnya. Benar saja, ketika melihat nenek, Vivi terlihat akrab dengan nenek. Mereka berdua kemudian mengobrol tak mempedulikan aku yang melongo tak percaya dengan apa yang sedang aku lihat itu. Sisi lain yang belum pernah kulihat dari Vivi, ternyata Vivi bisa sesopan dan sesantun itu, terutama pada nenekku. Aku gelagapan dan salah tingkah ketika tiba-tiba di antara pembicaraan mereka berdua nenek menunjuk ke arahku. Vivi mengikuti arah telunjuk nenek sehingga tak sengaja pandangan kami bertemu. Walau dia melihatku dengan raut muka yang datar namun kurasa pipiku mungkin memerah. Aku memalingkan muka dengan rasa wajahku terbakar malu.

Aku melambaikan tangan pada Bela yang kebetulan juga masuk sekolah. Dia mencium tangan ibunya dengan rasa penuh hormat lalu berjalan menuju ke arahku. Dia duduk di sampingku. Aku masih belum terima dengan apa yang dikatakan nenek mengenai kebaikan Vivi. Aku harus membuktikan jika bukan aku saja yang berpikiran jika Vivi itu memang angkuh.
“Bel, boleh tanya sesuatu nggak?”
“tanya aja kali, No. Biasanya juga langsung bicara nggak usah pakek permisi segala.”
“tapi kamu harus jawabnya jujur. Jujur banget dari hati kamu, dari yang kamu rasain dan yang kamu tahu.” Bela memposisikan tubuhnya agar bisa mendengarku dengan baik. Dia mungkin menangkap keseriusan dari gelagatku. Dia juga tak sabar mendengar pertanyaanku.
“menurutmu Vivi orangnya gimana?” Dia terlihat heran dan bingung mendengarku menanyakan soal Vivi. Bela menunjuk ke arah Vivi memastikan dia tak salah dengar, dan memang Vivi itu yang sedang kita bicarakan. Kebetulan Vivi berada tak jauh dari tempat kami mengobrol. Tanpa melihat ke arah Bela menunjuk aku segera mengangguk. Bela mengamati Vivi dengan seksama lalu melihat lagi ke arahku bersiap mengatakan pendapatnya.
“cantik, baik. Agak sedikit pendiam sih, tapi sebenarnya dia itu care banget lo sama yang lain.” “baik bel? kamu nggak nyadar kalau dia itu jutek dan sombong banget. Kemarin, kemarin kamu kerja bakti kan? Sampai hampir pingsan. Lalu apa yang dia lakuin? Dia hanya berdiri nyantai sama gadgetnya. Kamu bilang dia care sama yang lain?”
Aku berdiri di depan Bela, memperagakan Vivi kemarin ketika sedang sibuk dengan gadgetnya. Menirukan ekspresinya yang datar serta efek rambutnya yang berkibar ketika melewatiku. Bela tertawa terbahak melihatku yang mungkin lebih kelihatan konyol daripada peraga professional. Dia berhenti tertawa dan mulai terheran melihatku yang tampak begitu tak menyukai Vivi. Aku duduk lagi di samping Bela.
“kamu aneh deh No. Emang kenapa kalau dia sibuk dengan gadgetnya? Kamu memperagakannya seolah-olah dia itu begitu buruk. Kenapa sih kamu sesensi ini sama Vivi? Dia kemarin emang nggak bisa bantu sih, karena dia lebih sibuk dari yang kamu pikir tau.” Bela menepuk punggung tanganku dia kembali tertawa mengingat caraku memperagakan dengan konyol apa yang dilakukan Vivi kemarin.
“Bel, aku tuh tanya soal Vivi ke kamu karena kupikir kamu yang paling objektif daripada cewek yang lain.” Aku masih belum puas dengan jawaban Bela. Bela mengusap air matanya yang hampir menetes karena sudah berlebihan tertawanya.
Dia mengatur nafas sebentar, “kamu nyuruh aku mengatakan apa yang aku rasain, apa yang aku tahu. Kamu tuh No, terkadang kita harus melihat orang itu dari cara pandang yang berbeda agar kita bisa lihat kebaikannya dan bukan terus menerus melihat keburukannya.” Ternyata Bela mengetahui tentang apa yang kupikirkan tentang Vivi. Aku menunduk berusaha memahami perkataan Bela barusan. Bela menepuk punggung tanganku lalu tersenyum kecil lalu beranjak pergi meninggalkanku yang melihatnya mencium punggung tangan ibunya sekali lagi.

Bosan menunggu, aku dan teman-temanku memutuskan untuk mengadakan trek-trekan di samping sekolah. Tetangga kami adalah hamparan sawah yang luas. Jadi, kami memilih untuk trek trekan di sawah agar tak mengganggu dan tak kena semprot omelan pak Budi karena membuat keributan di jalan raya. Belum lagi jika harus berurusan dengan polisi yang doyan banget suap, pasti bakal ribet banget dan panjang masalahnya. Aku akan menunjukkan kebolehanku menaiki motornya Romeo. Sebenarnya aku agak ragu meminjam motor Romeo karena mesinnya terlalu berisik dan gasnya yang lumayan berat, belum lagi motornya baru masuk bengkel 2 hari yang lalu. Namun, karena tak ada motor lain dan akhirnya Romeo berhasil meyakinkanku aku percaya diri bisa menang hari ini.

“tiga, dua, satu.”
Kami mengegas sekencang-kencangnya. Tapi sialnya, motor Romeo tak mau bergerak, hanya mesinnya saja yang menggeram-geram tapi satu sentipun tubuh motor ini tak mau berpindah. Aku sudah tertinggal jauh, aku mengecek gigi motor yang sudah masuk empat dan remnya tak kupegang ataupun kuinjak. Romeo kebingungan begitu juga aku. Karena panik, dan bingung harus melakukan apa tanpa sadar, aku melepaskan kopling dan membuat motor Romeo melompat secara tiba-tiba. Membuat tubuhku terpental ke aspal. Untung badanku yang terbanting ke tanah terlebih dahulu, kepalaku sepertinya juga terbentur keras hingga aku merasa pusing. Aku tak peduli dengan motor Romeo yang mungkin pergi mengikuti balap sendiri tanpa kemudi. Semua orang berteriak kecuali aku yang baru menyadari jika aku barusan terlempar dari motor dan baru tersadar ketika Romeo membantuku untuk duduk dan melepaskan helm dari kepalaku yang pening serasa dunia berputar-putar, begitu pula wajah Romeo yang ikut berputar-putar di hadapanku.
“No, kamu mimisan?”
“ha?” aku belum mengerti apa maksud Romeo dengan wajah secemas itu.
Darah satu persatu menetes ke aspal. Bela terlihat cemas dan khawatir. Dia memberikan sekotak tisu padaku. Tanpa diperintah, anak anak dengan ramai dan berduyun-duyun menggerombol hingga sinar matahari terhalang oleh tubuh manusia-manusia kepo ini. Lengan kananku perih jika digerakkan, mungkin lenganku tergesek ke aspal tadi karena aku memang tak memakai pelindung apapun, dan untungnya aku masih tertib berkendara dengan memakai helm. Tak ada yang mereka lakukan selain menonton, tak ada inisiatif dari mereka untuk memanggil ambulan atau sekedar memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan. Mata Bela mulai berkaca-kaca, mungkin dia tak tega melihatku yang kesakitan. Bela memberikanku tisu untuk menghentikan pendarahan, aku mendongakkkan kepala agar darahnya tak keluar lagi dari lubang hidungku.
“ngapain dongak?”
Aku menurunkan kepala untuk melihat siapa yang berbicara. Vivi sudah duduk bersimpuh di depanku. Aku mendongak lagi tak menggubris perkataannya. Dia memencet dan menarik hidungku ke bawah, aku mengaduh kesakitan. Dia menyumpali hidungku dengan tisu dan menyuruhku untuk bernafas melalui mulut. Vivi tak merasa jijik walaupun tangannya penuh dengan darah yang berasal dari hidungku.
“mana lengannya?” katanya dengan keras.
Aku tak menjawab, tak juga melaksanakan perintahnya. Dia menarik lenganku mungkin dengan perasaan kesal karena kulihat keningnya yang berkerut.
Pertama, dia membersihkan tangannya terlebih dahulu dengan alkohol, baru membersihkan dan mengobati luka pada lenganku. Terakhir dengan hati-hati dia menutupnya dengan perban hingga aku tak begitu merasakan perih, tak sama rasanya seperti ketika nenek membubuhkan obat merah pada saat tanganku berdarah. Rasanya sakit hingga aku berteriak-teriak minta dibawa ke RSUD saja. Setelah selesai dengan luka-luka lecet, dia kemudian mengalihkan perhatiannya pada hidungku lagi. Dia membuang tisu yang tadi menyumpali hidungku.
“aku minta ijin untuk memijat hidungmu”
Vivi mengatakan sesuatu, tapi aku tak begitu mendengar dengan jelas apa yang barusan dia katakan.
“ha?” kataku memercingkan mata, memintanya untuk mengulang perkataan terakhirnya.
Dia memencet mencet hidungku, walaupun rasanya sakit, tapi setelahnya terasa jauh lebih baik. Karena rasa mengganjal pada hidungku kini sudah plong seperti sedia kala. Tangan kirinya dengan sigap mengambil tisu dan membersihkan darah yang keluar dari lubang hidungku.
Dari caranya memberikanku perawatan, sepertinya dia memang sudah ahli melakukannya. Tapi, setelah kuputar memoriku tentang Vivi, seingatku dia juga tidak mengikuti ekstra kurikuler PMR tapi aku sendiri juga tak ingat ekstra kurikuler apa yang dia ikuti. Toh, aku memang tak pernah peduli dengannya. Dia memang Miss Angkuh yang aneh dan misterius.
“Vi, anak-anak nunggu kamu.” Doni terengah-engah, mungkin sedari tadi dia berputar-putar mencari keberadaan Vivi.
Vivi tak menanggapi perkataan Doni. Dia hanya diam saja dan terus memusatkan perhatiannya pada hidungku. Aku meminta Vivi untuk membiarkan aku untuk melakukannya sendiri. Dia bahkan tak membiarkan darah yang keluar dari hidungku jatuh ke tanah. Doni terlihat tak sabar tapi dia tak berani bicara. Sepertinya itu memang hal yang mendesak, aku mencoba mengatakan pada Vivi bahwa aku akan baik-baik saja. Dia tetap tak mau mendengar siapapun.
“kamu tau aku sedang apa. Aku akan datang kalau sudah selesai.”
“sory vi.” Doni langsung tertunduk mendengar jawaban yang lugas dari Vivi. Aku sendiri tak percaya jika yang ada di hadapanku ini adalah Miss Angkuh.
“udah biar aku sendiri aja vi. Aku bisa kok.” aku memegang tangannya.
Vivi menatap mataku tajam. Aku tak berkutik, kuturunkan tanganku perlahan dan dengan cepat kualihkan pandanganku. Tak berapa lama dia kemudian menurunkan tangannya.
“makasih ya vi.” kataku lirih saat dia sedang sibuk mencuci tangannya dengan alkohol dan membereskan kembali peralatan P3K ke dalam kotak putih. Perban, obat merah, alkohol tak ada satupun yang tertinggal. Vivi membiarkan satu lembar tisu menyumpal hidungku.
“Bel, nanti kamu minta obat mimisan ke UKS ya…”
Vivi menepuk pundak Bela. Dari tadi, Bela memang tak berhenti memperhatikanku aku tak tega melihat matanya yang berkaca-kaca. Bela mengangguk cepat tanda dia mengerti apa yang harus dilakukannya. Air mukanya yang tadi tegang kini jauh terlihat lebih tenang. Aku ikut-ikutan menepuk pundak Bela, dia tersenyum dengan perasaan yang mungkin campur aduk antara sedih dan bahagia.
“aku bahkan sudah mengucapkan terimakasih. Dia terlihat baik saat memberikan bantuannya. Tapi setelahnya dia kembali ke wujudnya semula. Jutek dan angkuh.” pikirku.

Kupikir Vivi tak pernah sibuk dan hanya malas-malasan saja pekerjaannya. Keheranan dan keingintahuanku bertambah ketika mengetahui Doni yang notabene merupakan anak tersibuk di sekolah mencari Vivi.

Aku melihat Vivi berdiri di depan pintu ruang multimedia, dia terus menggerak-gerakkan tangannya. Beberapa kali Vivi mengintip ke dalam dengan wajah yang gugup. Tak ada alasan di fikiranku yang bisa mendefinisikan apa yang menyebabkan Vivi berdiri disana dengan keadaan segugup itu. Mungkinkah dia sedang menunggu seseorang keluar dari ruangan gelap itu? Entahlah kuputuskan mencari tahu langsung darinya.

Baru saja aku akan beranjak dari tempat dimana aku berdiri, Doni keluar dari ruang multi dan membisikkan sesuatu ke telinga Vivi. Vivi masuk ke ruang multi dengan senyum yang coba dikembangkan, walau terlihat sangat memaksa. Gantian Doni yang berjaga di luar. Mereka mungkin sedang ditugaskan menjadi satpam sehingga mereka gantian berjaga. Berkebalikan dengan Vivi, Doni jauh terlihat lebih santai. Dia melihat ke dalam ruangan itu beberapa kali sambil tersenyum-senyum sendiri.
“Vivi, ngapain dia masuk? Bukannya cuma untuk wali murid dan panitia ya?”
Doni tersenyum melihatku yang kelihatannya memang ingin mengetahui sesuatu. “liat tuh” katanya sambil menunjuk ke dalam ruang multimedia.
Aku mencoba mengintip ke kaca gelap tersebut. Aku dapat melihat Vivi yang berdiri di depan para tamu dengan membawa microphone di tangannya. Dia seperti sedang melakukan sambutan.
“dia yang memikirkan berapa tamu yang akan diundang, berapa kursi yang harus disiapkan, apa menu konsumsi yang pantas disuguhkan, berapa dana yang harus dianggarkan, dia otaknya!”
“maksudnya?” aku melihat ke arah Doni sekilas lalu kembali mengintip Vivi.
Doni menghela nafas panjang. “dia ketua panitianya No.”
Aku melihat ke wajah Doni yang tak sedang bercanda. Panitia? Aku mencari definisi ketua panitia dalam otakku. Aku mengintip lagi ke dalam, dia memang sedang menyampaikan sambutan. Aku mengamati dengan detail garis wajah, rambut, cara dia berbicara, manis wajahnya saat dia tersenyum.
“benarkah itu Vivi yang selalu dilihatnya di kelas? Apa benar dia orang cuek dan angkuh itu? Kenapa dia terlihat berbeda? Apa benar selama ini aku melihat dari sudut pandang yang salah?” teringat aku akan perkataan Bela.
“baik, cantik, peduli sama orang lain dan juga orang sibuk. Mungkin kamu harus melihat dari sudut pandang yang berbeda hingga kamu bisa melihat kebaikannya.” Wajah Bela menghilang dari bayanganku, yang kulihat sekarang adalah perempuan cantik yang terlihat dewasa ketika sedang tersenyum.
Aku tak sadar jika sudah mengamati dalam waktu yang tak singkat. Sampai seseorang menepuk pundakku. Aku menarik leherku dan langsung berhadapan dengan orang yang paling aku hindari di sekolah ini. Orang yang paling aku hindari itu malah berdiri di hadapanku dengan raut muka yang penuh selidik.
“ngapain kamu disini?”
Doni yang berdiri di sampingku tak berkutik, dia diam menunduk. Doni sedari tadi memang sudah memanggil-manggil namaku, tapi aku terlalu asyik dengan perdebatan otak dan perasaanku sendiri. Aku mengabaikan alarm bahaya darinya. Pak Budi yang sudah siap menerkamku, seperti singa memakan rusa. aku yang dengan susah payah menelan ludah. otakku bekerja mencari alasan sedang tubuhku memproduksi keringat dingin yang berlebihan.
“Vivi pak”
Disaat aku memikirkan ide untuk kabur, malah nama Vivi yang bisa kusebutkan.
“kenapa Vivi?” ada ketidak pahaman yang sangat dari ekspresi wajah pak Budi.
“Vivi, dia bilang ke saya pak, dia sedang menunggu bapak di dalam. Dia tak bisa keluar sehingga meminta saya untuk mengintip ke dalam dan kebetulan bapak sudah ada disini?”
Mungkin sulit bagi pak Budi untuk mempercayaiku yang sudah sangat sering membuat masalah di sekolah. Aku memberi sinyal SOS pada Doni untuk membantuku yang sudah ada di ujung tanduk. Salah bicara sedikit saja, aku bisa dihukum mengepel lapangan hari ini.
“iya pak, Rino membantu saya untuk menyampaikan pesan dari Vivi.” kening pak Budi yang keriput semakin berkerut. Dia menaikkan kacamatanya yang melorot lalu mengangguk-angguk.
Pak Budi dengan begitu cepat dan mudahnya mempercayai perkataan Doni. Jika aku yang bicara sendiri, bahkan sampai mulutku mengeluarkan busa, pak Budi takkan mempercayainya. Aku berani bertaruh untuk itu. Mungkin Vivi menyadari kegaduhan diluar yang kuperbuat, dari kaca aku melihat pantulannya sedang berjalan menuju pintu.
“kalau begitu saya pamit dulu pak. assalamualaikum!” Aku mencium tangan pak Budi dan tak lupa mengucapkan terimakasih pada Doni karena telah menyelamatkan nyawaku. Aku berlari sekencang-kencangnya menghindari Vivi melihat kedatanganku. Dia pasti akan berpikiran yang macam-macam tentangku.

Di sepanjang jalan pulang nenek menceritakan Vivi lagi. Dan sepanjang jalan aku juga tak berhenti memikirkan Vivi. Semua yang kupikirkan tentang sosoknya selama ini berubah 180 derajat dalam satu hari. Teringat jelas di benakku tentang apa yang dia perbuat tadi, bagaimana cantiknya dia saat sedang memberikan sambutan, betapa terlihat dewasanya dia dengan rambut hitam yang diikat ke atas.
“hei! Rino kok senyum-senyum?” nenek menjulurkan kepalanya hingga bisa melihat kedalam helmnku.
“ha? siapa yang senyum-senyum. Nggak nek, ini cuma mrecing banyak debu.”
Benarkah aku tadi senyum-senyum sendiri? Memang barusan apa yang aku fikirkan? Kenapa aku jadi seperti orang amnesia begini? Pasti efek kepalaku terbentur aspal tadi. Ah aku sendiri. Juga tak tahu kenapa aku tak bisa berhenti memikirkan kejadian hari ini. Buku yang sudah tergelar di meja tak kunjung aku baca. Aku terlalu asyik melamun dan memikirkan Vivi. Entah mengapa tiba-tiba aku merindukan sifat dinginnya, tatapan matanya yang datar dan tangannya yang selalu sibuk dengan gadgetnya.

Aku mengutuki diriku sendiri yang sudah lebih mirip seperti orang yang kecanduan, halusinasi tak jelas dan berlebihan. Apa yang terjadi denganku ini? Kenapa ini? Kenapa aku ingin mengetahui kabarnya, menanyakan sedang apa dia sekarang. Kubaca kata perkata kalimat yang ada dalam buku sejarah yang sedari tadi kuanggurkan, tak kupedulikan. Satu paragraf telah selesai kubaca, tapi aku tak tahu apa yang barusan kubaca. Seperti semua kata-kata itu menguap dan terganti dengan wajah Vivi yang mengisi kepalaku. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku benar-benar sudah gila.
Mungkinkah gara-gara kejadian kemarin dan hari ini aku jadi mulai menyukai cewek angkuh itu? Apakah aku jatuh cinta padanya? Benarkah itu? Aku sendiri tak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta itu. Aku tak kunjung menemukan jawaban akan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hingga aku membawanya dalam mimpi tidurku.

“sebenarnya apa sih yang ada di gadgetmu?” aku mencoba tanpa suara mendekat pada Vivi yang seperti biasa menyandarkan tubuh dengan malas di pintu kelas.
Vivi tak terkejut padahal aku berusaha mengejutkannya. Dia juga tak ingin tahu siapa yang datang karena mungkin dia mengenal dengan jelas suaraku. Dia mengabaikanku seakan aku tak pernah datang untuk menyapanya. Tapi memang sepanjang hidupku mengetahui namanya Vivi aku memang tak pernah datang duluan untuk menyapanya. Aku hanya berbicara dengannya ketika tidak sengaja bu guru memasukkan kami berdua dalam kelompok yang sama, itu saja aku selalu menghindari berbicara langsung padanya.
Cara lain kutempuh untuk mengikiskan batu besar yang membuat kita berdua terasa jauh. Aku mengintip ke dalam gadgetnya, ternyata dia sudah mengetahui akal bulusku, dengan cepat dia mematikan layar handphonenya. Ketika dia akan beranjak dari sisiku, kupegang tangannya. Mencegahnya untuk pergi.
“terimakasih.” kataku lirih lagi. Sama seperti ucapan terimakasihku yang pertama.
Dia mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan tanganku yang menggenggam erat tangannya yang kecil. Ada laser minta dilepaskan dari kedua bola matanya yang ternyata bulat dan besar. Aku segera melepas tanganku dari pergelangan tangannya.
“maaf” kataku refleks. Dia menyandarkan tubuhnya lagi ke pintu kini tangannya bersilangan di depan dada. Gadget yang tadi menjadi fokusnya kini beristirahat cantik di dalam saku bajunya.
“jangan membuat masalah lagi.” Beberapa kata berhasil kabur dari mulutnya yang selalu mengatup.
Ini pertama kalinya dia berbicara padaku. Walau dia berbicara dengan tatapan yang datar, aku mulai merasakan ketulusan hati yang disebutkan Bela kemarin. Dia sebenarnya begitu perhatian, tapi aku tak mengerti kenapa dia harus menyembunyikannya dalam kecuekan dan keangkuhan. Rasa-rasanya aku benar-benar telah jatuh cinta pada Miss Angkuh yang kemudian aku ganti Miss Dingin yang Penuh Kasih Sayang.
Ya ampun sepertinya aku sekarang sedang kesurupan separuh nyawa nenekku yang paling aku benci, yaitu lebay. Aku percaya suatu hari nanti dia akan tersenyum karenaku. Dan hari itu akan menjadi hari yang paling membahagiakan dalam hidupku.

End

Cerpen Karangan: Nindi Sheliana

Cerpen Prasangka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Flower Boy Next Door

Oleh:
“kring…. kring..” suara berisik jam beker monokurubo membangunkan tata diri mimpi indahnya “hah” suara tata kaget dan segera mematikan jam beker berisiknya. ‘whoam….” tata segera turun dari ranjang dan

Pelangi dalam Hujan

Oleh:
‘pelangi di bukit senja’ Pagi itu ashilla berjalan tak tentu arah dibawah derasnya hujan yang melanda kota minggu itu. Ketika ashilla terus menikmati perjalanannya dibawah hujan tanpa peneduh apapun,

Jomblo, Kutukan Apa Ujian

Oleh:
Kenalin nama gue Zahwa, umur gue dua puluh tahun. Di usia yang ke 20 ini gue, masih belum pernah pacaran sama sekali alias jomblo. Temen-temen gue sering ngejekin gue

Skenario Terindah

Oleh:
Matahari di kota Jogja pagi ini seolah tersenyum menyapa ku dengan begitu manisnya. Semanis hatiku yang saat ini sedang berbunga-bunga, karena kemarin aku baru saja lulus sidang skripsi dengan

Menebus Janji

Oleh:
Aku tak mungkin menyalahkan langit, karena di senja sore ini langit kelabu. Aku pun tak mungkin menyalahkan awan, sebab di penjuru langit itu ia hentakkan gundala, hingga satu per

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Prasangka”

  1. onandio says:

    Kisah yang menarik, penggambaran ceritanya juga. Berhasil buat penasaran pembaca, dan gw terjebak penasaran yg tak terjawab. good writte nindi 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *