Promise! Lana

Judul Cerpen Promise! Lana
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 18 December 2016

Dengan muka sumringah, ia mengoleskan bedak ke mukanya, tak lupa eyeshadow ke bagian kelopak mata, serta lipstick ke bibirnya. Gadis itu tidak ingin tampil biasa saja, ia pun menambah jepit pita di rambutnya. Ya, kini lengkap sudah riasannya. Ia terlihat sangat cantik sekarang. Dengan balutan dress berwarna biru, juga sepatu berhak tinggi.
Kini ia semakin bersemangat. Ini adalah hari yang sudah lama dinantikannya. Dua tahun lamanya menunggu, barulah sekarang keinginannya akan tercapai. Ia akan menemui seseorang yang terpenting dalam hidupnya. Lelaki yang dicintainya dan menjalin hubungan kasih asmara cukup lama.
Dia tak ingin kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan kekasihnya. Sebab baginya waktu yang harus ia lalui, tanpa kekasihnya sungguh sangat lama. Jadi dia tidak mau kalau kehilangan momen yang paling berharga dalam hidupnya.

Dengan langkah gontai, gadis itu berjalan ke luar dari kamarnya. Wajahnya tampak berbunga-bunga, saat melewati setiap sudut ruangan. Melihat gelagat aneh putri semata wayangnya, sang ibu pun tak kuasa menahan rasa penasarannya.
“Kau kenapa? Hari ini terlihat senang sekali? Dan baju yang kamu pakai? Tumben-tumbenan?” celetuk ibu, mengernyitkan dahinya.
“Tentu donk Bu!” sahutnya melebarkan senyum.
“Ada apa?”
“Ahh… ibu ini! Urusan anak muda! Lagian ibu, kayak nggak pernah muda aja,” tukasnya kemudian.
“Loh… wajar donk! Kalau ibu nggak tau, makanya tanya.”
“Ya pokoknya ada something…” ocehnya lagi sembari mengedipkan mata kearah ibunya.
“Hemmt… ibu tau sekarang. Pasti soal asmara!”
“Ya sudah. Aku pergi dulu ya bu.”
“Loh… mau kemana kamu?”
“Aku cuma mau pergi ke luar sebentar.”
“Tapi kamu harus ingat, jangan pulang terlalu malam!”
“Iya bu. Beres!” sahutnya langsung beranjak pergi.

Namanya Lana, gadis berambut panjang, memiliki hidung mancung, dan lesung pipi. Usianya masih sangat muda, baru 20 tahun. Kemanapun ia pergi, semua mata seakan tertuju padanya. Ya, gadis manis nan menawan ini, selalu membuat mata yang memandangnya tak ingin berpaling darinya.
Namun gadis ini tak pernah menghiraukannya. Terpenting baginya adalah kekasihnya Bara. Lelaki yang dipacarinya semenjak kelas dua SMA. Ia juga tak pernah menyangka, kalau Bara akan menjadi kekasihnya. Sebab mereka hanya dipertemukan dalam beberapa kali kesempatan.

Waktu itu keduanya sedang terlibat dalam kegiatan OSIS. Lana bertugas untuk mengurus mading, dibantu oleh teman-temannya. Tapi apapun hasil karya atau tulisan yang akan ditempel, wajib atas sepengetahuan Ketua OSIS. Dan kebetulan, kepemimpinan tengah dipegang oleh Bara sang kakak kelas. Alhasil mau tidak mau mereka jadi saling bertemu.
Dari situlah perasaan keduanya timbul. Awalnya Lana pikir, kalau ini hanyalah perasaan sepihak darinya. Tapi siapa sangka, Bara sang kakak kelas menyimpan perasaan yang sama padanya. Akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk menjalin hubungan sebagai kekasih.
Lana merasa senang memiliki pacar Bara. Dia adalah lelaki pertama yang berhasil membuat hatinya bergejolak. Bahkan semua waktu seolah tersita hanya untuk memikirkan sang pujaan hati. Kebagiaan yang dirasakan Lana pun semakin bertambah, seiring dengan perhatian yang ditunjukkan oleh Bara padanya. Sikap lembut pria itu mampu membuat Lana merasa nyaman setiap kali berada di dekatnya.
Tapi kemudian Lana, harus menghadapi kenyataan yang menyulitkan baginya. Kebahagiaan yang ia rasakan, seakan harus terhenti. Begitu kelulusan Bara tiba. Pengumuman kelulusan telah diumumkan, Bara berhasil lulus dengan nilai terbaik. Ya, tentu ia sangat senang sekali. Karena pacarnya berhasil memperoleh apa yang diinginkannya. Namun disisi lain, ia merasa sedih.
Ia tau betul, mendapatkan hasil terbaik adalah keinginan Bara sejak dulu. Karena hasil itulah, yang akan digunakan untuk melanjutkan studinya ke Universitas ternama. Tapi Universitas yang dimaksud ialah berada di luar kota. Tepatnya Universitas Indonesia Jakarta. Karena itulah ia bersedih, sebab harus berpisah dengan kekasih hatinya.

“Lana! Aku lulus dengan nilai terbaik!” teriak Bara kegirangan.
“Iya aku tau, selamat ya…” sahut Lana lirih. Nampak mukanya pucat, tak bergairah.
“Lana kau kenapa? Apa kamu tak senang mendengar kabar ini?” tanya Bara.
“Tentu saja aku senang. Kau berhasil memperoleh nilai terbaik. Itu artinya, keinginanmu terkabul.”
“Iya! Aku bahagia sekali! Nggak nyangka, kalau ternyata hasilnya bisa sangat bagus!” Bara tersenyum lebar. Namun seketika senyumnya, berubah cemas. Begitu melihat ekspresi Lana. Ia merasa ada yang janggal. Sebab Lana bukannya menunjukkan muka bahagia, malah wajahnya nampak sedih.
“Tapi Lana, aku merasa ada yang aneh.”
“Apa?”
“Apa kau tidak senang? Sebab aku perhatikan, wajahmu justru sedih begitu?”
“Tidak! Pastilah aku senang!” sahut Lana, berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan berpura-pura tersenyum.
“Kau bohong!” sentak Bara tak percaya. “Mengakulah! Ada apa sebenarnya?!”
“Bara, apa kau masih ingat pembicaraan kita beberapa hari lalu?”
“Tentang apa?”
“Soal kelulusan.”
“Ehmmm…” Bara mencoba berpikir. “Hahaha… tentulah aku ingat! Aku bilang padamu, kalau nanti hasil kelulusanku nilainya bagus, maka aku akan melanjutkan kuliah ke UI. Alias Universitas Indonesia!” jelasnya bersemangat.
“Nah, itu dia masalahnya…”
“Maksud kamu?” kaget Bara mendekatkan wajahnya. Lana lekas mendorong tubuh pacarnya, agar wajah mereka tak terlalu dekat.
“Iya, kalau kamu jadi kuliah di luar kota, itu tandanya kita akan berpisah bukan? Padahal aku nggak mau berpisah sama kamu,” cemas Lana, matanya mulai berkaca-kaca.
“Lana, kamu ngomong apa sih. Kita tidak akan berpisah,” Bara kemudian memegang bahu kekasihnya.
“Tapi aku tidak akan bisa bertemu kamu lagi! Bukankah itu artinya, kita berpisah…”
“Lana… tenanglah dulu. Dengarkan aku!” Bara menghentikan ucapannya sebentar, menghela napas. Lalu melanjutkannya lagi. “Aku memang akan menempuh studi di luar kota. Tetapi, kita tidak akan berpisah. Kita masih tetap pacaran! Hanya saja kita harus berhubungan jarak jauh. Ya bisa dibilang LDR.”
“Apa itu LDR?” celetuk Lana.
“LDR itu artinya long distance relationship. Suatu hubungan yang biasa dijalani, bagi mereka yang memang harus berhubungan dengan kekasihnya lewat jarak jauh.”
“Ohh.. begitu ya?”
“Tapi kamu harus tau. Meskipun tidak bisa bertemu atau saling tatap muka secara langsung. Kan ada handphone maupun internet! Nah kita masih dapat berkomunikasi lewat sana,” tukas Bara.
“Berarti aku bisa meneleponmu kapanpun bukan?”
“Tentu Lana! Kau boleh melakukannya sesukamu. Aku justru akan sangat senang, mengetahui kabar dari pacarku ini,” sahut Bara mengusap kepala Lana.
“Tapi Bar, aku tetap saja sedih…”
“Apa lagi yang membuatmu sedih?”
“Aku harus jauh darimu, dan tidak bisa melihat wajahmu… itu sangat menyulitkan bagiku Bar,” gadis itu lagi-lagi harus bersedih.
“Lana, bukan cuma kamu saja. Aku pun juga sedih, karena jauh darimu. Tapi aku harus melakukannya. Memgertilah Lana, meskipun kita tak saling melihat satu sama lain. Tapi hati kita kan selalu menyatu. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Tapi tetap saja, aku pasti akan sangat merindukanmu!” keluh Lana manyun.
“Hemmt… kamu ini benar-benar menggemaskan!” cubit Bara ke pipi kekasihnya, lantaran gemas. “Lana, bukan hanya kamu saja yang rindu. Aku pun pasti juga merindukanmu. Jadi nanti kita akan sering saling menelepon,” lanjutnya kemudian.
“Baiklah,” sahut Lana mengangguk. “Trus, kamu kan pasti disana bakalan lama. Gimana kalau nantinya kamu malah kecantol sama cewek cantik disana?!” imbuhnya mengoceh.
“Apa kamu meragukanku?” Bara balik bertanya.
“Loh, kan bisa saja kemungkinan itu terjadi. Katanya cewek-cewek di kota besar itu sangat cantik. Jadi kan mungkin aja!”
“Nggak usah berpikir macam-macam. Aku hanya mencintai kamu. Didalam hatiku cuma ada kamu, baik sekarang juga nanti. Jadi aku nggak akan membaginya dengan wanita lain.”
“Benarkah?” celetuk Lana sumringah.
“Iya,” sahut Bara mengangguk sambil memberikan senyum manisnya.
“Ada satu lagi yang mengganggu pikiranku!” Lana mengangkat jari telunjuknya ke hadapan Bara.
“Apa?”
“Kapan kau akan pulang menemuiku?”
“Kalau soal itu aku belum tau.”
“Kenapa begitu?”
“Kan aku belum tau, nanti jadwal kuliah disana bagaimana. Kapan liburan semesternya. Jadi aku tak bisa memastikan itu.”
“Tuh kan…?!” Lana pasang muka cemberut.
“Lana, sudahlah. Jangan cemberut begitu. Cantikmu berkurang lo!” goda Bara.
“Biarin!” elaknya.
“Hahaha… kamu ini lucu banget ya! Jadi buat aku makin sayang deh!”
“Nggak usah ngrayu!”
“Hahaha…” Bara terkekeh. “Lana, aku pasti bakalan pulang menemui kamu. Kalau memang waktunya mendukung.”
“Promise?” gadis itu mengangkat jari kelingkingnya.
“Promise! Lana.”

Itulah kenangan terakhir yang dimiliki Lana bersama kekasihnya. Hingga mereka sudah tak lagi bertemu satu sama lain. Mengetahui kabar Bara, hanya bisa ia lakukan lewat telepon.

Di tahun pertama semenjak mereka menjalani LDR, komunikasi masih sering dilakukan. Bahkan setiap malam Lana menyempatkan diri untuk menelepon kekasihnya. Disela mengerjakan segudang tugas sekolah. Bara pun juga sering memberi pacarnya semangat, untuk persiapan menjelang ujian.

Setahun berlalu begitu cepat. Kini Lana akan melanjutkan studinya juga. Bukannya mengikuti kekasihnya, namun Lana memilih masuk ke Universitas di kotanya tinggal. Awalnya Bara menyarankan agar pacarnya itu ikut kuliah di Jakarta. Tapi gadis berambut panjang ini menolak. Lantaran ia tak sanggup meninggalkan ibunya sendirian. Sehingga mereka harus tetap menjalani LDR.

Tahun kedua, komunikasi sudah semakin jarang. Keduanya sama-sama disibukkan dengan tugas kuliah. Lana selalu berusaha menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Untuk memperoleh hasil terbaik. Sampai tak ada waktu untuk menghubungi kekasihnya itu.
Namun terkadang Bara meneleponnya ditengah malam. Ia seakan tau, di jam itulah Lana tengah istirahat dari semua tugas-tugasnya. Obrolan demi obrolan mereka lontarkan. Kerinduan seakan tersampaikan sudah, meski hanya dengan berbicara lewat telepon.

Satu semester berlalu begitu cepat. Kabar kalau Lana menjalani LDR terdengar ke telinga semua teman-temannya. Ada yang mengucapkan selamat dan mendukungnya. Tapi ada pula yang justru mengomporinya.
“Lana. Kok kamu mau-maunya sih LDR? itu kan nggak enak?” celetuk salah seorang teman.
“Iya benar. LDR itu nggak enak. Nggak bisa ketemu. Setiap hari cuma berangan-angan. Mau jalan, nggak ada yang nemenin. Kan nggak asyik!” ujar kawan lainnya.
Lana hanya diam tak menyahut apapun. Baginya ini bukanlah masalah yang harus digubris olehnya. Ia sudah menjalani LDR lebih dari satu setengah tahun. Jadi hal semacam itu, sudah tidak lagi perlu dikhawatirkan.
“Satu lagi, katanya nggak ada yang berhasil menjalani LDR lo! Kebanyakan dari mereka pasti putus! Ya karena nggak kuat, atau bahkan malah punya pacar lagi!” celetukan kali ini membuat telinga Lana panas.
“Nah, gimana kalau ternyata pacarmu juga begitu? Dia punya pacar lagi disana?”
“Tidak!” seru Lana geram. “Dia tidak akan pernah melakukan hal itu padaku!”
“Loh… kan semua kemungkinan bisa saja terjadi. Lagian dia pacaran disana pun kan kamu juga nggak tau.”
“Terserahlah! Apa yang mau kamu bicarakan! Tapi aku percaya padanya!” tandas Lana kemudian melangkah meninggalkan mereka.
“Lah, kenapa dia marah? Kan aku cuma memberitahunya saja,” suara itu masih terdengar hingga ia keluar dari ruang kuliah.

Dua semester akhirnya berlalu. Lana kembali melihat kalendernya. Sesuai perhitungannya, kini genap dua tahun ia menunggu kekasihnya. Ucapan Bara yang mengatakan bahwa dia akan pulang menemui dirinya, terus saja menggema di telinganya.
Ia masih berharap lelaki itu akan menepati janjinya. Tiba-tiba kala dirinya tengah mengerjakan tugas, satu inbox muncul di layar handphone. Dengan sedikit malas Lana mencoba mengeceknya. Terlihat satu pesan masuk dari orang yang sangat dirindukannya. Ya, pesan itu dari Bara sang kekasih hatinya. Mendadak mukanya yang tak bersemangat, langsung ceria. “Tapi apa? Tumben dia mengirim sms? Kenapa tidak menelepon saja?” pikir Lana penasaran.
“Lana… aku akan pulang. Tunggu aku di stasiun tepat jam 5 sore,” muka Lana semakin sumringah usai membaca pesan dari Bara. “Benarkah ini? Dia akan pulang?! Jangan-jangan aku bermimpi!” celetuk Lana tak percaya sembari menepuk pipinya. “Auuww… sakit! Aku tidak bermimpi! Jadi benar, dia akan pulang! Yes…!!!” teriak Lana kegirangan.

Matanya terus celingukan, ia tak henti-hentinya menatap jam yang melingkar di tangannya. Ia berharap tidak terlambat menjemput kekasihnya. Akhirnya ia sampai di stasiun. Jam masih menunjukkan pukul 4 lewat 40 menit. Itu artinya, dia belum terlambat.
Gadis itu pun lekas memasuki area tunggu di stasiun. Terang saja semua mata menatap kearahnya. Gadis cantik itu memang selalu menyita perhatian. Namun lagi-lagi ia tak mengindahkannya. Lana terus berharap-harap semas. Hatinya bergejolak tak menentu. Terlihat dari tingkahnya yang terus mengetukkan kakinya ke lantai. Juga tangannya yang memutar-mutar handphone.

Berulang kali ia mengecek layar handphonenya. Berpikir kalau saja tiba-tiba Bara menelepon atau memberinya pesan. Namun ternyata tidak ada apa-apa disana. Lana semakin cemas jam sudah menunjukkan pukul 4.55. “Sebentar lagi dia pasti akan tiba. Sudah dua tahun aku menunggu. Aku benar-benar nggak sabar ingin ketemu dia!” gumamnya.

Benar tak lama kemudian, tepat jam 5 sore kereta datang. Semua penumpang lekas turun satu persatu. Lana terus celingukan, mencari sesosok wajah yang sudah lama dinanti-nantikannya. Ia berusaha mempertajam penglihatannya, namun masih tak menemukan pria yang dicarinya. Sementara para penumpang sudah turun. “Mana dia? Kenapa tidak ada?” keluh Lana kecewa. “Apa jangan-jangan dia berbohong padaku? Dia bilang akan pulang, tapi ternyata tidak,” gerutunya.
Mukanya yang sumringah berubah kesal. Ia merasa kecewa, sebab kekasihnya tak juga muncul. Lana sudah merasa putus asa. Baginya tak ada gunanya berlama-lama disana. Gadis itu pun lantas membalikkan tubuhnya dan berpikir akan langsung pulang saja. Namun tiba-tiba, “Bara!” teriaknya. Ternyata Bara berdiri di belakangnya. Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung memeluk kekasihnya.
“Iya ini aku,” balas Bara menyahut pelukan pacarnya.
“Aku pikir kamu berbohong! Habis dari tadi ngeliatin, masa nggak nemuin kamu?!”
“Kan aku pengen kasih kejutan!” sahut Bara. “Lagian mana mungkin aku berbohong! Aku sudah berjanji padamu, bahwa aku akan pulang menemuimu. Jadi pasti aku tepati!” imbuhnya.
“Iya. Aku masih ingat. Dan akan selalu mengingatnya,” ucap Lana semakin erat memeluk kekasihnya.
“Tapi tunggu dulu!” sergah Bara melepas pelukan.
“Kenapa?” heran Lana.
“Apa ini? Wajahmu? Itu di rambutmu? Terus dress juga sepatumu?”
“Hehehe… kan kita udah lama nggak ketemu. Jadi aku berpikir, untuk tampil cantik pas ketemu kamu,” sahut Lana tersenyum nyengir tersipu malu.
“Lalu sekarang gimana? Kita udah ketemu kan?”
“Bara!” kesal Lana menepuk dada kekasihnya.
“Aku cuma bercanda,” lelaki itu sontak memeluk kekasihnya. “Kau sangat cantik hari ini. Aku jadi semakin cinta sama kamu,” lanjutnya. Mereka menghabiskan waktu untuk melepas rindu bersama.
“Promise! Lana.” itulah kata yang selalu diingat Lana. Sampai akhirnya Bara telah membuktikan janjinya.

Cerpen Karangan: Putri Andriyas
Blog / Facebook: www.putriandriyas.wordpress.com / Putri Andriyas

Cerita Promise! Lana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Confession Love

Oleh:
Dalam perasaan hati yang begitu tegang, Luna menghela napas panjang sebelum akhirnya memasuki pesawat yang akan menerbangkannya dari New York menuju Indonesia. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi penumpang kemudian

Kebahagiaan Sesaat

Oleh:
Sebulan ini rutinitasku begitu-begitu saja. Pergi sekolah, ikut pelatihan di ekstakulikuler PMR, dan malamnya begadang. Ya, inilah aku Nanda. Walaupun sesibuk dan secapek apapun kegiatan yang aku lakukan pada

Cinta Itu Mesti Jujur

Oleh:
Rinaaaaaa… suara ibu yang begitu kencang membangunkanku dari mimpi indahku, siapapun akan terbangun jika mendengar suara ibuku kalau sudah mengomel. Tapi aku sudah terbiasa dengan hal sperti itu. Ku

Love Story (Part 1)

Oleh:
Dita tak pernah melanggar aturan. Selalu tepat waktu. Dita adalah gadis rajin dan serius dalam melakukan apa saja. Bahkan kelewat serius sehingga ia dijuluki “Si culun” di kelasnya. Dan

Aku Masih Menunggumu

Oleh:
Menunggu memang membosankan, apalagi menunggu sesuatu yang akhirnya hanya menyisakan puing-puing harapan dan air mata. Fatamorgana cinta, awalnya memang terasa sangat indah. Tapi pada akhirnya, semua seperti sandiwara belaka.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *