Promise You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 8 September 2016

Matahari bersinar begitu cerahnya, seorang wanita paruh baya membangunkan gadis yang sedang menginjak remaja, arisya cahya putri. Seorang anak SMP kelas 8, yang tengah berada di atas pulau kapuknya dan masih di alam mimpinya.

“arisya.. bangun… sudah jam berapa sekarang! Arisya! Kamu gak mau pergi ke sekolah! Cepat bangun!” “sebentar lagi bu.. arisya masih mengantuk..” “arisya.. sekarang sudah jam 7” “apa.. mengapa ibu tidak membangunkanku sejak tadi”
Arisya pun bergegas pergi ke kamar mandi, dengan kecepatan kilat ia segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolahnya.

Setelah selesai, arisya langsung pamitan pada orangtuanya lalu diantar oleh supirnya menuju ke sekolah. Tetapi, arisya tetap saja telat masuk ke sekolah. Akibatnya ia dihukum untuk berlari mengelilingi lapangan sekolah. Selesainya, arisya masuk ke dalam kelas dan ia juga di marahi oleh gurunya dan ditertawai oleh teman-temannya.

Bel istirahat pun berbunyi, arisya mengajak adinda pergi ke kantin. Adinda adalah sahabat sejak ia masih SD.
“din.. ke kantin yuk..” “ayuk.. tapi kamu pergi ke sana untuk pergi makan kan? Bukan untuk melihat kak aldo?” “ihh.. apaan sih.. aku tadi pagi itu belum makan dan sekarang perutku lagi keroncongan nih! Jangan mikir aneh-aneh dong” kebiasaan Arisya di kantin selain makan biasnya ia memperhatikan kak aldo dengan keheranannya “hmm iya iya tapi kan biasanya kamu ke sana buat ngeliat pangeran tampanmu itu kan?” “ihh dasar.. iya sihh.. ah sudalah ayo kita berangkat”

Sesampainya di kantin, arisya melihat kak aldo bersama kak arin makan bersama, hal itu sering mereka lakukan dan membuat para wanita menjad iri pada kak arin. Karena kak aldo merupakan lelaki yang sholeh, kece, tampan, baik, pinter, jago bela diri dan juga ia captain pemain basket. Tapi dia sangat dingin terhadap wanita, kecuali pada kak arin. entah ada apa dengan mereka berdua mengapa mereka begitu akrab. Arisya melamun karena memikiran mereka bedua.
“woy.. katanya mau makan, kenapa malah ngelamun..” “hah.. apaan sih aku gak ngelamun kok” “lalu apa, mikirin kak aldo?” “nggak, tapi cuman heran aja kenapa mereka begitu akrab sihh.. coba aja aku itu yang jadi kak arin, pasti aku bahagia banget” “ahh mulai deh”

Selesai makan mereka bergegas masuk ke kelas karena bel telah berbunyi. Setelah pelajaran selesai, arisya dan adinda pulang bersama karena mereka ada tugas kelompok. Mereka naik mobil milik arisya menuju rumah arisya. Setelah sampai, adinda bergegas mengerjakan tugasnya tapi arisya malah memikirkan kak aldo.
“din, menurut kamu kak aldo sama kak arin itu pacaran atau saudaraan atau sahabatan? Hmm kenapa mereka begitu akrab ya?” “hah.. ini malah mikirin kak aldo mulu! Hmm tapi bener juga katamu, kenapa mereka begitu akrab, padahal kan kak aldo sifatnya dingin banget kalo masalah cewek” “hmm” “hah sudalah ayo kita lanjutkan tugas kita”

Mereka pun telah menyelesaikan tugasnya, lalu mereka bejalan-jalan ke luar. tapi ketika di restoran, mereka bertemu dengan kak aldo dan kak arin yang memakai baju dan kacamata hitam. Mereka pun penasaran, lalu mendekati mereka.
“permisi kak.. bukannya kakak ini kak aldo dan kak arin? Mengapa berada di sini mengenakan baju dan kacamata hitam?” arisya menanyai mereka. “iya ini kita.. apa ada larangan kita memakainya?” kak aldo balik bertanya. “hmm enggak kak.. maaf ya kak sudah mengganggu” adinda meminta maaf lalu menarik tangan arisaya untuk segera pergi.
Arisya merasa kesal karena perkataan kak aldo tadi, dan ia masih merasa penasaran apa yang dilakukan kak aldo dan kak arin tadi. Selesai jalan-jalan mereka pulang ke rumah masing-masing.

Keesokan harinya, setelah pulang sekolah arisya berniat untuk membuntuti mereka dan ia melihat kak aldo dan kak arin lalu lanjut membuntutinya. Arisya melihat mereka sedang membuntuti seseorang juga. Tapi arisya tidak cukup cerdik untuk bisa bersembunyi dari mereka. Dan kak aldo mengajak arisya untuk berbicara.
“kamu ngapain ke sini? Gak ada kerjaan apa?” tanya kak aldo dengan sedikit membentak. “eh. ma..af kak.. aku ke sini cuman penasaran apa yang dilakukan kalian… maaf ya kak?” arisya menjawab pertanyaan kak aldo dengan gelagapan sekaligus ketakutan. “memangnya aku ini artis ya? Yang selalu kamu buntuti” kak aldo merasa bahwa arisya takut padanya sehingga dia mencoba membuat leluconan. “ihh.. pede amat sih kakak.. tapi.. ma..af.. kak” “ya sudalah.. sana pulang” pergi meninggalkan arisya sendirian.

Keesokan harinya di sekolah, arisya bercerita pada adinda tentang kejadian kemarin. Tapi adinda malah tertawa dan merasa heran dengan kelakuannya, dan arisya pun malu dengan dirinya sendiri. Ketika pulang sekolah arisya melihat kak aldo sendirian tanpa kak arin dan ia kembali mengikutinya. arisya melihat kak aldo megikuti seseorang dan akhirnya kak aldo ketahuan oleh orang itu, orang itu memanggil pengawalnya, lalu mereka pun berkelahi. Kak aldo terlihat melawan orang-orang berotot itu sendirian sehingga Arisya pun terkejut melihat kejadian itu lalu ia mengambil kayu dan menolong kak aldo. Sebelumnya arisya telah menelepon polisi.
“hey.. apa yang kamu lakukan di sini?” tanya kak aldo dalam perkelahian itu. “e.. Membantu kakak” sambil memukul orang-orang itu dengan dengan kayunya.
Arisya pun jatuh karena terkena pukul seseorang, lalu kak aldo pun merasa khawatir tapi ada suara mobil polisi datang. Semua orang kabur termasuk kak aldo yang memegang tangan arisya untuk segera kabur. Aisya kelelehan dan kak aldo mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.

“hey.. kenapa kamu malah membantuku! Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu! Apa kamu ini bodoh!” tanya kak aldo dengan khawatir. “ehmm.. maaf ya kak, aku gak punya pilihan lain selain membantu kakak. Aku takut kakak terluka” arisya merasa bersalah. “dasar! Apa kamu hanya bisa meminta maaf! Setiap bertemu kamu, kamu selalu membuat masalah dan ujungnya kamu hanya bisa minta maaf, apa tidak ada kata-kata lain seperti ‘aku tidak akan mengganggu kakak lagi’ atau sesuatu yang membuatku tenang!” jelas kak aldo panjang lebar.
Arisya merasa sedih karena perkataan kak aldo, arisya pun mengatakan bahwa ia tidak akan mengganggu dia lagi setelah ini lalu arisya berdiri tapi sepertinya kakinya terluka karena perkelahian tadi. Kak Aldo ingin membantunya, tapi arisya menolak dan ia bersikeras bisa jalan sendiri tanpa kak aldo membantu. Arisya pergi dengan jalan yang sedikit pincang, yang membuat Kak Aldo merasa bersalah sekaligus khawatir akan keselamatannya jadi kak aldo sambil mengikutinya dari belakang.

Arisya hanya tersenyum terhadap kelakuan kak aldo yang terlihat sangat khawatir terhadapnya.
“kenapa kamu malah tersenyum?” “ahh enggak gak papa.. Cuma lucu aja liat kakak sepertinya sangat khawatir terhadapku” “hah.. sepertinya kamu sedang sakit ya?” sambil mengetuk kening arisya. “aw.. sakit” “ya sudah lah ayo kita pulang nanti orangtuamu nyariin lagi” “iya”
Tapi arisya tidak bisa jalan dengan normal karena tadi terjatuh saat perkelahian, lalu kak aldo menggendongnya sampai ke rumah arisya. Arisya sangat senang atas apa yang telah ia alami.

Setiap malam mereka saling bertemu di sebah atap gedung dan melihat pemandangan yang ada di bawahnya sampai akhirnya tiba waktu ulang tahun arisya yang ke 15 pada tanggal 8 april. Di sana kak aldo membuat kejutan dan membawa kue tidak lupa kado spesial untuknya. Arisya sangat senang, tetapi rasa senang itu tidak bertahan lama karena kak aldo akan berpamiatan.
“sya, aku pamit ya.. mungkin besok kamu tidak akan melihatku” “hah.. apa maksud kakak? Kakak mau ke mana?” “ada sesuatu yang harus aku lakukan.. oh ya apa aku boleh cerita sesuatu?” “hemm” “sebenarnya… ayahku seorang detektif dan aku ikut membantunya, soal arin dia juga bekerja untuk ayah. Jadi aku selalu bersama arin, dulu tujuan hidupku adalah menjadi seorang detektif profesional dan tidak mau memiliki pendamping hidup, lalu kamu datang ke hidupku dan selain ingin menjadi detektif aku juga ingin memilikimu. Saat kamu membantuku dulu dan mengantarmu pulang, aku merasa ada yang aneh terhadapku dan aku terus saja memikirkanmu. Mungkin saat itu aku ingin memiliki pendamping hidup yaitu kamu, arisya. Maaf ya aku tidak memberi tahumu dari sebelumnya, aku takut kamu menjahuiku karena pekerjaanku.”
Arisya merasa sedih, tapi ia berusaha menguatkannya agar tdak menangis karena ini hari terakhirnya bertemu kak aldo.
“ahh.. jadi karena itu.. tidak apa kak, malah aku senang terhadap pekerjaanmu itu. Bukankah itu keren.. memiliki pendamping seorang detektif.. ahah” arisya berusaha menahan tangisnya. “maafkan aku.. aku tahu kamu merasa sedih.. maaf..” “ah.. kita memang benar-benar cocok.. dulu aku yang sering berkata ‘maaf’ tapi sekaang kakak” “besok aku akan pergi” “hemm.. kak arin juga ikut?” “hemm” ” hati-hati ya, jangan sampai kamu terluka!” “heemm” “kapan kakkak kembali?” “hah.. aku… aku juga tidak tahu.. tapi aku akan berjanji.. bahwa kita akan bertemu di tempat ini, pada ulang tahunmu ini dan dan pada waktu seperti ini juga.. bagaimana?” “hemm aku akan menunggumu” “jaga kesehatanmu, aku akan merindukanmu” “aku juga”

Hari-hari arisya dilalui tanpa kak aldo, dan ia sangat merindukannaya. Tetapi disana ada adinda yang selalu menemaninya. setiap ulang tahunnya ia, selau menepati janji itu. Tetapi nihil, kak aldo belum kembali. Bertahun-tahun telah berlalu, tetapi tetap saja seseorang itu tidak pernah datang sampai pada ulang tahunnya yang ke 23 tahun. Arisya masih menepati janjinya itu, dan 8 tahun itu telah berlalu. Adinda memberi tahu arisya bahwa mungkin kakak aldo lupa terhadap janjinya atau mungkin dia telah memiliki orang lain.

Kak aldo telah kembali ke Indonesia dan ia segera membeli kado dan membuat kejutan pada arisya, ia tidak mengabari arisya karena ia ingin memberi kejutan padanya. setelah membeli kado kak aldo mendapat pesan dari ayahnya bahwa ia sedang membutuhkannya. Kak aldo merasa sedih yang masih tidak bisa bertemu dengan arisya dan ia pun segera menemui ayahnya.

Di atas gedung arisya sendirian dan ia pun menunggu janji yang dibuat kak aldo, ia tetap sabar menunggunya karena ia yakin bahwa kak aldo akan menepati janjinya. Setelah selesai kak aldo berusaha untuk menepati janjinya, dan pada waktu itu sudah hampir tengah malam. Arisya befikir bahwa kak aldo mungkin tidak datang tahun ini dan ia akhirnya pulang. tak beberapa lama kemudian kak aldo pun datang, tapi sepertinya ia terlambat. Ia pun merasa sedih karena hari ulang tahun arisya pada tahun ini telah lewat beberapa menit. Di jalan arisya sedang mencari HP nya dan sepertinya tertinggal di atas gedung.

Setelah sampai di atas gedung arisya melihat seorang lelaki yang mengenakan jas, tanpa berpikir lama ia memanggil orang itu
“kak aldo? Mungkinkah itu kamu?” lelaki itu berbalik dan ternyata ia benar kak aldo. “arisya?”
Kak aldo berlari ke arah arisya dengan persaan senang dan ia juga memeluknya, arisya juga merasa senang. Arisya tak bisa berhenti untuk menangis karena senang.
“maaf.. maaf.. karena terlambat untuk datang.. maaf.. telah membuatmu menunggu telalu lama” “hem.. tak apa, yang penting kakak sudah datang” “tapi mengapa kamu dataang jam segini? bukankah ulang tahunmu sejam yang lalu?” “heemm.. tadinya aku sudah datang, tetapi hpku tertinggal di sini.. dan untunglah arisya bertemu dengan kakak” “oh iya aku mempunyai sesuatu untukmu?” sambil membuka kotak kecil yang berisi cincin. “kakak?” “will you marry me?” kak aldo melamar arisya. “hah.. tapi kak? Aku…” “kenapa kamu tidak bisa? Apa kamu sudah memiliki pendamping lainnya?” “ahh.. tidak kak… tapi kamu harus minta restu pada orangtuaku terlebih dahulu” sambil tertawa. “ah iya baiklah sayang”

Keesokan harinya, kak aldo dan arisya meminta restu pada orangtua mereka masing-masing. Beberapa lama kemudian mereka pun menikah dan hidup mereka dipenuhi dengan kebaikan dan kebahagiaan satu sama lain.

TAMAT

Cerpen Karangan: Siti Aisyah
Facebook: Siti Aisyah
hanya ingin mencoba berkarya! faighting!

Cerpen Promise You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


5 Tahun Yang Silam

Oleh:
Aku wanita yang mudah mencintai tapi sulit untuk melupakan, walaupun telah banyak ku temukan tapi tetap saja aku masih mengingatnya. Telah ku coba berbagai cara untuk melupakannya namun tak

Bertempur (Part 1)

Oleh:
“Broook!!!” “Khin, woy Khin!” suara gebrokan meja terdengar dan bergetar di telingaku seiring dengan suara lantang seseorang. “Apaan sih? Biarkan aku terbuai dalam mimpi-mimpiku dengan tenang!” ucapku yang merasa

Cincin Tahun Baru

Oleh:
Aku masih saja duduk termangu disini, bersama deburan ombak, serta langit dengan semburat warna oranyenya. Aku seperti merasakan anugerah yang Maha Kuasa di tempat ini. Ditambah lagi aku baru

My Prince

Oleh:
Sudah 2 hari aku tak mendengar suaranya di rumahku, dia menghilang, dia benar benar menghilang. Tak ada kabar apapun darinya, ke mana dia pergi? Dan kenapa dia pergi? Itulah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *