PSPH (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 July 2017

Dari kemaren, cowok ini rada-rada pedekate sama aku. Oke, sebenarnya sih si Vinsen ini lumayan keren dan kata teman-temanku, baik yang di kelas IPS maupun IPA, dia keren, ganteng, pintar, anak kesayangan guru, berwibawa, anak OSIS, punya segudang kelebihan, perhatian dan tidak egois, dan berbagai kelebihan lainnya.
Selain itu dia juga…
Belum pernah pacaran atau mendekati cewek manapun, sejak SMP sampai SMA ini.
Jelas dia jauh lebih keren dan hebat dibanding Reza, mantanku yang pertama dan kuharap, yang terakhir. Cowok ini juga punya predikat sebagai cowok berkepribadian paling baik dan dewasa di kelas IPA-1, kelas yang sama dengan mantanku. Teman-temanku langsung berkata: Wah, beruntung banget Ver, baru putus udah dideketin sama yang lebih mantep lagi, jangan disia-siain Ver, begitu aku bercerita mengenai Vinsen yang entah kenapa tiba-tiba jadi sering bertemu denganku.
Oke, aku akui, aku lumayan penasaran dan tertarik dengan cowok yang katanya cowok idaman para wanita ini, tapi, di lain sisi, aku juga memikirkan sepupuku yang tinggal serumah denganku itu. Si Rizky.

Hari ini Rizky ada kerja kelompok lagi bareng Ega dan Rudi sehingga tidak bisa pulang bareng dan tidak menginap di rumahku hari ini. Aku kangen dengannya, kenapa pada saat-saat aku ingin menanyakan dan menceritakan sesuatu kepadanya, dia malah tidak ada di sini.
“Verin.”
“Iya Kak Viktor?” sahutku dari dalam kamar.
“Rizky ga pulang ke rumah hari ini?”
“Ga Kak, dia ada kerja kelompok.”
Sesaat tak terdengar suara, lalu Kak Viktor berteriak lagi kepadaku, “Tapi ini ada temennya nyariin, sini dulu kamu keluar.”
Eh? Ada yang nyariin? Taslim kali ya?

Sembari mengucek mataku yang mulai rada berat, kudapati Kak Viktor sedang bercengkrama dengan Taslim di ruang tamu, tanpa basa-basi langsung saja kutanya,
“Kenapa Tas? Ada perlu apa ke sini?” tanyaku dengan waspada dan agak kesal mengingat di pertemuan kami yang sebelumnya aku dipepet untuk mengaku suka pada sepupuku yang lagi ga di rumah itu.
“Nyari Rizky,” jawabnya singkat jelas padat.
“Dia kerja kelompok, lu ga dikasih tau?”
Taslim menatapku, seperti memberi kode sesuatu, tapi aku tak mengerti.
“Ga. Dia ga kasih tau gue.”
“Emang mau ngapain ketemu Rizky?”
“Pengen ngajakin jalan bentar.”
TIba-tiba Kak Viktor berdiri, “Verin, Kakak pergi dulu ya, balik kerjain tugas, silakan dilanjutin aja ngobrolnya.” Begitu Kak Viktor pergi, Taslim langsung bertampang gembira. Sembari membuka pintu dia berkata kepadaku, “Sini ngobrol di luar.”
Aku menurut saja.
“Tadi siang ada titipan buat lu, dari temen gue di kelas.”
“Oh ya? Siapa?”
“Robi Antonius namanya, nih,” Taslim mengambil sebuah amplop kecil yang agak gendut, dipita merah, dan diberikan kepadaku. Oke, aku langsung ge-er dan berpikir kalau itu adalah surat cinta, tapi Taslim langsung memotong pikiranku, seolah dia tau apa yang aku pikirkan, “Bukan surat cinta kok.”
“Tau dari mana?”
“Tadi gue buka, terus gue iket lagi. Hahaha.”
“Sialan…”
Sialan. Dasar cowok rese.
“Jadi lu ke sini?”
“Cuma mau ngasih itu doang, lagian rumah gue kan deket, cuma di gang belakang.”
Dengan muka datar aku mengangguk-angguk.
“Omong-omong, dideketin sama Vinsen ya?”
“Kok tau?”
Tidak membalasku, dia pergi berjalan begitu saja, “Hati-hati ya, bai.”
Eh?

Sama seperti sebelumnya, hari ini aku bangun dengan amat sangat ngantuk. Tidur sendiri di kamar sendiri di rumah sendiri di perumahan sendiri di kota sendiri benar-benar membuat semangatku untuk menjalani hari turun. Apalagi kemaren aku benar-benar kelelahan karena harus mengerjakan tugas kelompok membuat maket biologi bersama Ega dan Rudi. Selain itu, aku rindu akan sesuatu, tapi aku tidak tau apa itu. Oh iya, pelukan seseorang, alias pelukan sepupuku yang cantik itu!

Omong-omong soal Verin, kemaren si Vinsen menanyakan beberapa hal kepadaku mengenai dia. Setelah ngomong beberapa saat, dia bilang kepadaku bahwa dia tetarik kepada Verin, katanya sih sudah sejak beberapa waktu yang lalu.
“Bang. Noh kan, bengong lagi.”
“Bengong aja terus, mikirin dia lagi juga pasti.”
“Au nih si Rizky, makin ga jelas aja makin hari. Hahaha.”
“Hahaha.”
Menengok ke samping, Acuy, Rudi dan Ega sedang menertawakanku, tapi aku sedang ingin serius, langsung saja kubahas topik utama, “Eh, lu pada tau ga, kemaren gue..”
Acuy memotongku seenak jidat, “Didatengin Vinsen kan?”
“Gue denger dia suka ama sepupu cakep lu yang menggoda itu bro,” sambung Ega sambil ngupil depanku, lalu menyentil upilnya ke arah Rudi yang langsung menghindar layaknya Naruto menghindari shuriken lawan.
“Iya nih, kemaren dia datengin gue, terus nanya-nanya soal Verin gitu.”
“Jadi maksudnya lu cemburu atau hmm, takut? Hahaha.”
“Nggak lah Rud, mana mungkin Rizky takut, orang tiap hari dipelukin dan diciumin ama Verin mulu, posisinya tuh tidak tergantikan! Hahaha.”
“Wah Ega tau aja nih, Hahaha, sering ngintipin rumah Rizky ya? Eh, rumah Verin maksudnya. Hahaha.”
Sialan, “Sialan lu pada. Hahaha.”
“Jadi sekarang lu mau apain sih Vinsen nih?”
“Gue sih mau biarin aja Cuy, emang mau diapain lagi?”
“Ah masa sih? Ga takut Verin diambil? Hahaha.”
Aku menatap Ega dengan gaya sok keren, “Kagak lah bro, orang gue ga ada apa-apa ama dia.”
Rudi dan Acuy langsung pura-pura muntah.
“Ga, lu kayak ga tau aja. Meskipun Verin jadian sama si Vinsen itu sekalipun, kan Rizky tetep serumah, jadi ya tetep menang banyak dong. Hahaha, mana mungkin dia kuatir! Hahaha.”
“Hmm, bener juga si Acuy, beneran tuh Riz? Hahaha.”
Ya, sekali-kali bercanda bolehlah, “Ah, ngerti aja lu Cuy. Hahaha.”

Kulihat seseorang dari kelasnya Taslim berjalan masuk ke kelasku dan mendatangiku, sepertinya aku lumayan kenal dengan dia, kalau tidak salah dia disebut Si Ampas dari kelas IPS-2.
“Lu Rizky kan?”
“Iye, lu?”
“Robi, gue mau kasih titipan, ada surat nih.”
Surat?
Dia menyerahkan sebuah kertas kecil yang terlipat. “Surat dari siapa? Kok bisa ada yang ngasih surat ke gue? Dan.. kok lu yang ngasih?”
“Ini Surat dari Vania anak kelas gue.”
Vania? Cewek cantik yang rambutnya sepinggang itu kan? Aku kenal dia, Taslim lumayan sering ngomongin dia denganku, katany cewek itu cewek paling pintar dan cerdik di kelasnya.
“Gue juga ga tau isinya apa, cuma tadi dia suruh gue kasih ini ke lu,” sambung Robi. Tanpa basa basi lagi dia langsung melangkah pergi, “Bai.”

Ketiga temanku yang kerjaannya ngejodohin aku dengan Verin itu langsung mendekat. “Wah, ada yang naksir Verin, sekarang ada yang naksir lu juga nih kayaknya. Hahaha.”
“Surat cinta tuh Riz! Ya ga Ga, Cuy?”
“Ah, yakin juga gue. Haha. Cepetan buka bro.”
Aku membuka kertas yang dilipat beberapa kali itu dan isinya bisa dibilang cukup mengejutkan. Tidak ada apapun kecuali tulisan tangan rapi satu kata yaitu:

-KETAHUAN-

Ega langsung mengernyit, “Maksudnya?”
“Gue kira surat cinta Riz. Ah, mengecewakan lu.” Ujar Acuy sambil merebut kertas itu dariku.
“Ampas… ampas. Hahaha. Ketipu lu Riz! Hahahaha.”
Sekarang Rudi langsung mulai menertawakanku, diikuti yang lain, untungnya, seperti biasa, Pak Udin masuk ke kelas dan memulai pelajarin. Hahaha.

Sepulang sekolah, aku menemui Verin untuk pulang bareng dan dia bercerita mengenai Vinsen terus menerus di sepanjang jalan, sementara aku? Hanya mengangguk-angguk mengiyakan semua ucapannya.

Oke, aku tidak bermaksud apa-apa ketika menceritakan mengenai cowok yang lagi pedekate kepadaku ketika dalam perjalanan pulang bersama Rizky tadi, tapi sepertinya sepupuku itu merasa cemburu atau kesal atau apalah, aku begitu mengerti.
Barusan, kami melanjutkan mengobrol sembari menonton TV, agar Kak Viktor tidak begitu mendengar percakapan kami dari kamarnya.

“Hmm. Bagus dong kalo lu dideketin sama cowok kayak gitu, dari tadi lu bilang kata temen-temen lu dia hebat banget. Udah gitu, temen-temen gue juga pada bilang kalo dia emang cowok keren sih.”
“Temen-temen yang mana yang bilang gitu?”
“Temen-temen cewek di kelas gue sama di kelas dia.”
“Lu punya banyak temen cewek?” tanyaku, sedikit merasa resah.
“Ga, tapi tadi mereka pada datengin gitu, ngomongin lu.”
“Maksudnya?”
“Ngomong kalo si Vinsen katanya naksir lu.”
Aku memancingnya, “Terus lu setuju kalo gue sama Vinsen?” sambil mendekatkan diri dan melingkarkan tangan kiriku di bahunya. Dia memandangku sejenak, lalu aku memeluknya, seperti biasa, lalu berbisik, “Setuju ga? Hmm?”
“Setuju.”
Eh?
Aku melepaskan pelukanku, “Kok? Kenapa setuju? Lu ga mau gue sama lu aja?” kataku blak-blakan.
“Gatau.”
“Rizky,” aku memanggil namanya dengan nada manja, mencoba mengubah kondisi hatinya yang sepertinya sedang rada aneh malam ini.
“Mendingan lu sama dia dibanding kayak sekarang ini.”
“Kenapa?”
“Ya lu tau kan yang kayak kita sekarang ini itu namanya cinta terlarang ato apalah,” katanya dengan suara pelan, pelan sekali.
Aku tak menjawabnya, tetapi memeluknya, lagi. “It’s not the right thing to do kan Ver.”
Iya Rizky, aku tau kok. Tapi.. aku mau.
Kami tak berbicara lagi sampai akhirnya Kak Viktor memanggil Rizky dan meminta bantuannya untuk memasangkan perangkat-perangkat baru di laptopnya. Aku kembali ke kamar dengan perasaan gundah dan tak karuan. Oke, aku tau ini tak benar, tapi aku mau kok. Lagipula, sesempurna apapun si Vinsen itu sepertinya aku tetap akan memilih Rizky, tapi kenapa ya..

Sepertinya Rizky tidak mau dan tidak sependapat denganku, mungkin dia memang merasa ini benar-benar tidak dilakukan, seharusnya. Sekitar jam 8 malam, Kak Viktor mengajak aku dan Rizky untuk nonton bareng sebuah film yang dia beli siangnya, apalagi besok hari Sabtu, katanya tak perlu tidur cepat-cepat malam ini.

Sepanjang film diputar, aku tak begitu konsentrasi, kupandang Rizky yang duduk di sebelahku, dia tidak menunjukkan ekspresi apapun yang bisa kutebak. Sepertinya dia begitu menikmati film ini, tanpa pikiran apapun yang membebaninya, tidak sepertiku. Apa mungkin aku terlalu percaya diri dan menganggap dia punya perasaan setidaknya sama denganku? Sepertinya dia tidak memikirkanku segitunya deh, memang aku yang ke ge-er an merasa dia mau denganku, hanya karena dia tidak menolak ketika aku menciumnya.

Terbangun, setelah mendengar bunyi petir yang cukup keras, aku membuka mata dan menyadari bahwa hujan telah turun deras. Bang Viktor yang tertidur di kasur di sampingku tidak menunjukkan tanda-tanda terbangun sama sekali. Aku mengambil gelas dan..
Sial, gelasnya kosong! Kok bisa sih, padahal aku mau minum.
Aku keluar dari kamar untuk mengambil air di dispenser.
Kosong, tidak ada siapa-siapa dan tidak terdengar apa-apa kecuali jam dinding yang berdetak, sekarang jam setengah satu malam. Ternyata aku baru tidur satu jam sebelum terbangun lagi. Cahaya lampu remang-reman ruang keluarga membuatku ingin duduk di sana sebentar, ya, sebentar saja.

Setelah mengisi gelasku hingga penuh dan minum hingga aku kenyang, maksudku, tidak haus lagi, aku duduk di sofa ruang keluarga. Kali ini pikiranku dipenuhi oleh Verin, sepupuku yang cantik itu. Aku tidak tau kenapa, tetapi aku agak menyesal karena sepertinya tadi sore, ketika kami ngobrol, kata-kataku terdengar seperti kata-kata penolakan cinta yang cukup menyakitkan. Aku sadar dan yakin sepenuhnya bahwa yang kami perbuat selama ini salah, tapi sebenarnya, aku yakin juga, di dalam hatiku yang terdalam, terjujur dan tertulus, aku juga mau dengannya.
Ya, aku mau dengannya.
Tidak apa deh salah atau gimana, yang penting aku bisa bersamanya.

Duduk tak sampai 15 menit, aku berdiri, ingin kembali tidur, tapi sebelumnya aku ingin mengisi kembali gelasku yang kosong. Ternyata sembari berpikir tadi, aku sudah menghabiskan seisi gelas lagi, apa mungkin karena berpikir membutuhkan banyak cairan tubuh ya? Hmm.
Ya, aku mengisi kembali gelasku, tetapi begitu aku berbalik, ingin kembali ke kamarku,
“Rizky,” sebuah suara manis yang manja terdengar di telingaku, lengkap dengan hembusan nafas hangat yang menyenangkan untuk dirasakan. Sementara itu, sepasang tangan melingkar dari belakang, memelukku dengan erat.
Aku melepaskan tangannya dan menengok ke belakang, “Verin.”
“Aku ga bisa tidur, temenin dong,” katanya sambil menarik tanganku, menuntunku masuk ke kamarnya.

Kamarnya terang, aku duduk di pinggiran kasur, dia duduk di sebelahku. Beberapa detik kemudian aku menyadari sebuah bau harum stroberi yang sudah cukup sering kucium, ya, itu wangi parfum yang biasa dipakai Verin ketika pergi berjalan-jalan atau kadang ketika pergi ke sekolah, tapi aku tau dia tidak pernah pakai parfum kalau mau tidur. Siapa juga ya orang yang pakai parfum saat tidur?
Sepupuku itu mendorongku, lalu menciumku, untuk yang kedua kalinya. Aku hanya pasrah dan tidak menolaknya, lagi, untuk yang kedua kalinya juga.
Kali ini hanya lima menit saja, lalu tidak menarik diri, aku bangkit dan duduk, menatapnya dari depan, “Seriusan mau ditemenin? Ga takut kalo ketauan?”
Verin mengangguk, lalu menggeleng.

Tadi malam lagi-lagi aku melakukan perbuatan nekat, mencium Rizky di kamarku sendiri, di kasurku sendiri. Kami mengobrol sebentar tadi malam, sebelum aku terlelap dalam gelap, aku berkata kepadanya bahwa aku tidak mau cowok yang namanya Vinsen, aku mau dia. Pada akhirnya dia menyerah dan berkata: Oke, Fine, kalau itu emang mau lu. Gue turutin deh.
Dan malam itu, aku tidur di pelukannya, meski pagi harinya kudapati dia sudah tak ada di kamarku.
Sejak hari itu, dia memperlakukanku dengan berbeda.

Cerpen Karangan: Bori Antonius
Gue Bori Antonius dan emang cerpen ini agak panjang, kontroversial dan gila. Namun, cerpen ini gue tulis berdasarkan kisah nyata yang temennya temen gue alami. Enjoy it Guys..

Cerpen PSPH (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ini Untukmu, Tulisan dari Hatiku

Oleh:
Aku masih tak paham dengan jalan pemikiranmu, mungkin karena aku terlalu menyayangi dan mencintaimu. Sebenarnya aku sendiri juga bingung untuk menulis hal ini dimulai darimana, aku hanya bisa menerka-nerkanya.

Ternyata Dia

Oleh:
“Huh. Hampir saja aku telat.” Sambil terengah-engah aku masuk kelas dan duduk di bangku yang biasa aku tempatin, hari sabtu, jam pertama adalah pelajaran Biologi, Bu Lia guru pengampunya,

Jesseline

Oleh:
Hai.. Aku Clarine, siswa terfavorit di Manchester Education School. Ya, kalian tahu? Aku adalah seorang siswa yang sangat dibanggakan di sekolah ini. Ya, sepertinya aku segalanya. Aku juara satu,

Anniversarry Kedua Ku

Oleh:
Mentari mulai enggan menampakkan sinarnya, mendung disertai suara petir menemani perjalananku di dalam bus sore ini. aku sekolah di salah satu sekolah favorit yang didominasi cewek tapi bukan SMA

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *