Puisi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 30 July 2014

Coklat panas..!!
Tidak, mungkin saja memang direktur muda itu menyukai coklat panas sepertiku. Aku tak bisa memperkirakan hal seperti itu.
“kenapa kamu melihat coklat panas saya? Kamu mau coklat saya?” Ucap direktur muda itu mengejutkanku.
“akh, maaf pak bukan demikian. Tapi saya hanya heran bapak seorang direktur tapi minumnya…”
“salah saya minum coklat panas?”
Aku hanya menggelengkan kepalaku.
Direktur muda itu bangun dari tempat duduknya dan menghampiriku.
“dua hari lagi siapkan dirimu. Karena kita akan ke bali untuk diskusi raker dengan staff divisi yang lain. Paham?”
“paham pak.”
“bagus kembali bekerja. Dan jangan komentari coklat panas lagi.” Katanya sambil kembali ke tempat duduknya dan tersenyum.

Lagi dan lagi aku membuat hal yang memalukan di depan direktur muda itu. Lolipop yang terjatuh dan kini aku dipergoki sedang serius mengamati coklat panasnya. Ini semua karena pengirim puisi itu. Puisi puisi itu dan pengirimnya telah mengganggu pikiranku dan juga aktivitasku. Namun tak ketemui sepucuk surat di atas meja kerjaku. Kini aku yang tersenyum. Mungkin dia telah lelah melakukan semua ini. Tapi entah mengaa aku merasa kehilangan sesuatu. Sudahlah tak penting itu semua bagiku saat ini. Aku harus fokuskan pikiranku untuk acara raker esok di bali. Aku harus persiapkan materi materi yang akan aku jelaskan sewaktu di bali nanti.

Kring.. kring…
“halo!”
“mba noni ada telepon dari saudaranya di line 2 ya.”
“oke.”
Saudara? Siapa?
“halo! Ini siapa ya?”
Tidak ada suara saat ku angkat telepon itu.
“halo!”
“tak bisakah kau memandangku sekejap tanpa harus berkata apa-apa? Hanya menyadari bahwa aku selalu bersamamu setiap harinya.”
“ini siapa ya? ”
Tutt tuutt tutt
Aku tak bisa berkata apa-apa setelah mendengar hak tersebut. Kali ini si pengirim puisi itu maju satu langkah. Tak lagi melalu surat namun melalui telepon.
Oh tuhan! Jika terus dibuat seperti ini rasanya aku tak sanggup. Siapakah orang itu sebenarnya? Tunjukkan padaku.

Kini aku telah berada di bali waktuku untuk memfokuskan pikiranku hanya untuk raker. Dan aku sedang tidak berada di kantor yang artinya aku akan terhindar dari si pengirim puisi misterius itu.

Saat tengah menikmati indahnya pantai di sore yang indah. Aku kembali terngiang akan suara si pengirim puisi itu. Seperti mengenal suaranya namun entah siapa.
“tante ini balon untuk tante.” Seorang anak kecil tiba tiba menghampiriku dan memberikanku sebuah balon hijau kesukaanku.
Aku tersenyum sekaligus heran.
“kata om yang kasih balon ini. Tante tak perlu sedih karena dia selalu bersama tante.” Lanjut anak kecil itu kemudian berlalu dariku.
Om? Apakah berarti si pengirim puisi itu ada di sini? Di bali? Apakah dia ada di acara raker ini? Lalu siapa dia? Dimana dia sekarang?

Cerpen Karangan: Widya Laksari Sastri
Facebook: Widya Laksari Sastri

Cerpen Puisi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Plester Biru Muda

Oleh:
“Vinn!” Teriak seseorang dari kejauhan dan langsung saja kukenali wajahnya. “Agil? Kenapa dia tahu aku di sini?” Batinku. Agil adalah sahabatku sejak aku masih smp. “Vinn, udah dong. Gak

Facebook Adalah Awal Perjalanan Cintaku

Oleh:
Hhhooaamhh… Mentari mulai menampakkan sinarnya di pagi yang cerah ini. Seakan ingin menyapa ku. “pagi dunia” ucapku dari ambang jendela. Perkenalkan namaku Nirmala Sari, aku bersekolah di SMPN 1

Stay With Me

Oleh:
Di suatu sore, terlihat seorang gadis duduk sendirian di sebuah kafe dengan ditemani secangkir kopi hangat sambil menatap orang-orang yang berlalu-lalang di depan kafe tersebut. Sambil menyeruput kopinya, gadis

Regret

Oleh:
Pernahkah kau berpikir tentang aku yang selalu menemanimu dalam keadaan apapun? Pernahkah kau menyadari betapa aku menyayangimu? Pernahkah terlintas di benakmu tentang aku dan perasaanku padamu? Hal itulah yang

Antara Cinta dan Kebohongan

Oleh:
Cinta adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Cinta pulalah yang melengkapi hidup manusia. Dengan cinta kita bisa merasakan rasa sakit dan juga rasa senang. Aku adalah Eni Saraswati,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Puisi”

  1. patrice vani hosana says:

    wowww misterius banget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *