Puisi Untuk Kekasih Pilihan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 17 December 2012

Kupandangi kertas berwarna pink di hadapanku.Masih polos.Tak satu pun huruf menghiasinya.Sedang sebuah bolpoint masih bersiaga di tanganku.Otakku berputar,menggali berjuta kata yang bergelayut disana.Namun entah mengapa tak kudapatkan satu baitpun yang bisa disebut romantis.
Kembali terngiang ucapanmu pagi ini.
“Kenapa kau memilihku?”
“Kenapa menanyakan hal konyol macam itu?”aku mendengus kesal.
Dia tersenyum hangat,”Pingin tahu saja!”
“Kau ini!”
“Karena tak ada yang luar biasa dariku hingga bisa di sandingkan denganmu!”lanjutnya.
“Tapi bagiku kau special.”
“Seperti apa?”
Aku mengangkat bahuku.Tak mengerti.Dia kembali tersenyum hangat.
“Aku mau sebuah puisi sebagai kado ulang tahunku.”
“Aku belikan banyak buku puisi untukmu!”
Kau menggeleng.
“Bagaimana kalau diganti dengan yang lain?”
Kau kembali menggeleng.
“Ayolah!Memangnya sudah berapa lama kau mengenalku?Kau tahu aku tak pernah bisa membuat puisi.”
“Justru itu!”
“Hah,kau ini kenapa?”aku mulai kesal.
Dia menyerahkan selembar kertas di pangkuanku.
“Tulis disini!Pake tulisan tangan!”
“Yang benar saja!”
“Aku tunggu hasilnya enam hari lagi!Tepat di hari ulang tahunku.”Kau beranjak pergi.Meninggalkanku yang kebingungan.
Dan hasilnya lima hari setelahnya kertas pink itu masih suci tak ternoda,padahal ulang tahunmu tinggal beberapa jam lagi.Ingin rasanya kuremas-remas lalu ku buang ke tempat sampah kertas sialan itu.Secarik kertas pink yang sudah membuat makan dan tidurku tak lagi enak lima hari ini.
Kuingat juga percakapanku dengan Hans setelahnya.
“Coba pikir,aku ini seorang accounting!Kenapa ia meminta hal semacam itu padaku?”kataku geram.
“Hahaha!”Hans hanya tergelak di ujung telepon.
“Sengaja aku berkutat dengan angka agar tak harus berurusan dengan kata-kata macam itu,eh sekarang malah….!”
“Kau ini.Apa susahnya membuat sebuah puisi?Nasya kan gak pernah meminta apapun darimu.”
“Jangankan membuat,membaca saja aku malas.Kenapa tidak meminta hal lain saja.”
“Memangnya kau akan mengabulkan permintaannya jika dia meminta kau segera menikahinya?”tanyanya guyon.
Namun bagiku itu seperti tamparan keras.Aku tak pernah berfikir sejauh itu.Sudah lebih 7 tahun kami pacaran.Sejak kami masih sama-sama berseragam putih abu-abu.Aku terlalu sibuk mengejar karir dan hidupku.Hingga aku lupa mungkin saja ia ingin aku memberinya status dan posisi sebagai nyonya Handoko.
“Kok diam?”
“Nggak kok.Tadi ada email masuk!”bohongku.
“Ok,aku bantu.Ntar aku e-mail puisinya!”
“Aku tunggu!”
Hans tertawa sembari mengakhiri sambungan.Namun nyatanya sampai hari ini dia tak juga mengirimkan puisi yang dia tawarkan.Baru dua menit yang lalu ia mengirimiku sebuah foto bayi.Ah ternyata istrinya melahirkan.Aku benar-benar sial.
“Bodo!”kataku akhirnya meremas kertas itu lalu berbaring di ranjang.Lagipula Nasya tidak akan memutuskanku hanya karena sebuah puisi.Wajar jika ia marah.Namun bodoh jika ia meninggalkanku hanya karena aku tak berhasil membuatkan sebuah puisi untuknya.Bukankah sejak dulu ia tahu aku benci sastra?
Kupejamkan mataku.Dan secepat kilat aku terlelap.

————————
Aku terlonjak oleh dering ponselku.Masih setengah mengantuk kuraih ponsel putih yang tergelak diujung meja.Nyaris jatuh.
“Hallo!”
“Apa benar ini Tuan Pramodya Handoko?”suara di seberang terdengar asing di telingaku.Padahal nomor di ponsel ini hanya untuk keluarga dan teman-temanku.Sengaja aku memisah antara ponsel kantor dan pribadi.Agar aku bisa memilah hidupku.
“Tuan….?”
“Iya..a…!”jawabku terbata
“Ini siapa ya?”
“Saya Farel.Dokter Farel.”
Aku mencoba mengingat.Namun tak kutemukan nama Farel dalam memoriku.
“Ya,saya dokter di Rumah Sakit Harapan Baru,”seolah ia mengerti pikiranku.
“Rumah sakit?Memangnya ada apa,Dok?Siapa yang sakit?”
“Apakah benar anda mengenal Nona Nasya Putri?”
“Nasya Putri?”ulangku.
“Ya.”
“Kenapa dengannya,Dok?”
“Sebaiknya Anda bisa datang kesini.Ada yang ingin saya bicarakan.”
“Kapan?”
“Secepatnya.”
“Saya kesana sekarang.Bisa?”
“Bisa.Saya tunggu!”
Klik….
Hatiku berubah tak tenang.Sebenarnya ada apa ini?Ada apa denganmu Nasya?

—————————
“Dokter Farel?”tanyaku setelah menemukan sosok berbalutkan seragam putih khas para dokter duduk di balik meja kerjanya.
“Silahkan masuk!”Dia menjabat tanganku dan tersenyum hangat sebelum mempersilahkanku duduk.
“Ada apa dengan Nasya?”
“Sebelumnya saya minta maaf karena sudah menghubungi Anda.Saya mendapatkan nomor Anda dari Ponsel Nasya yang ketinggalan disini seminggu yang lalu.”
“Ketinggalan?”
“Iya.Nasya kesini seminggu sekali untuk melakukan cuci darah.Dan ini sudah seminggu,namun Nasya belum kembali kesini.Karena itu saya menghubungi Anda.Mungkin saja Anda tahu.Atau Nasya sudah melakukan cuci darah di tempat lain.”
Penjelasan Dokter Farel membuat mataku melotot hingga nyaris keluar.
“Cuci darah?Maksud dokter?”kataku memastikan.Padahal aku tahu pasti penyakit apa hingga mengharuskan menderitanya terus melakukan cuci darah.
“Benar.Nasya mengalami gagal ginjal.”
“Sejak kapan?Sudah separah apa?”
“Sudah lama.Tiga tahun yang lalu.Bahkan ginjalnya yang sebelah kiri baru saja diangkat empat bulan yang lalu.”
“Apa?”aku tertunduk.
Tiga tahun yang lalu?Sebelah ginjalmu sudah diangkat?Dimanakah aku saat itu?Kenapa aku tak tahu apa-apa?Aku ini kekasihmu.Orang yang paling dekat denganmu.Satu-satunya yang Nasya miliki sejak enam tahun yang lalu.Setelah Nasya resmi menjadi yatim piatu karena kedua orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan.Orang yang seharusnya menjadi tempatmu bersandar.
Ya Tuhan betapa egoisnya aku.Aku terlalu sibuk dengan duniaku.Selalu menuntut untuk dimengerti.Padahal aku tak tahu apapun tentangmu.
“Saya permisi dulu!”kataku tergesa.Aku ingin secepatnya menemuimu.
“Sekali lagi maaf sudah mengganggu Anda!”
“Ya.Terimakasih!”
“Besar harapan saya agar Nasya segera melakukan perawatan.”
“Saya akan membawanya kesini secepat yang saya mampu,Dok.”
Aku segera berlalu.Tergesa keputar kemudi ke rumahmu.Tak ada pikiran lain di otakku.Hanya ingin segera bertemu dan memelukmu.Lalu berbisik di telingamu bahwa aku sangat mencintaimu.

———————
Tak sabar aku berdiri di balik gerbang bercat coklat tua di hadapanku.Sudah lebih dari lima kali ku tekan bel,namun tak seorang pun datang membukakan pintu.Ponselmu sedari tadi tak bisa dihubungi.Bahkan berulang kali kutelpon nomor rumahmu juga tak ada yang menjawab panggilanku.Seolah rumah ini sedang tak berpenghuni.
Kuputuskan untuk memanjat pagar.Entah mengapa perasaanku berubah tak enak.Apalagi saat ku temukan pintu rumah tak terkunci.Mataku menjelajahi ruang tamu.Tak kutemukan kau disana.Bergegas ku arahkan langkahku ke ruang kerjamu.Benar kau ada disana.Duduk di depan laptop yang masih menyala dengan posisi membelakangiku.
“Kenapa tidak menjawab!Aku menelponmu berkali-kali!”
Tak ada jawaban.Mana mungkin kau tak mendengar.Aku hanya berdiri kurang dari sepuluh meter.Kecuali sedang ada headset menempel di telingamu.Seperti itulah kebiasaanmu.
“Nasya!”bergegas aku menghampirimu.Masih tak ada jawaban.
“Nasya!”aku membalik kursimu.Bersiap melepas kalau-kalau ada headset menempel di telingamu.
Namun yang kini kulihat malah membuatku terhenyak.Kau bersandar di kursi dengan mata terpejam rapat.Wajahmu pias.Desah nafasmu terdengar seolah sedang menahan sakit yang luar biasa.Kutepuk pipimu.Tetap tak ada jawaban.Kau benar-benar pingsan.Kuraih pergelangan tanganmu.Ya…Tuhan denyut nadimu begitu lemah.
Tergesa ku masukkan tanganku di balik punggungmu.Dan kalah tergesanya pula aku membopongku ke mobil.Sebelum akhirnya kini berjibaku untuk segera mengantarmu ke rumah sakit.

————————
Aku mondar-mandir tak karuan di depan pintu.Tak sekalipun pantatku ku hempasakan ke kursi.Sama seperti pikiranku yang semrawut.Sesekali kulirik pintu UGD.Bersiaga jika pintu itu terbuka dan memberiku kabar tentang keadaanku.Namun sungguh kuharap kau akan baik-baik saja.
“Bagaimana Nasya!”cercaku pada Dokter Farel yang baru saja keluar ruangan.
“Apakah Nasya punya keluarga?”dia tak menjawab pertanyaanku.Malah balik bertanya.
“Tidak ada!”
Dokter Farel mengangguk.
“Tuan Pram bisa ikut ke ruangan saya?”
Kali ini ganti aku yang mengangguk.Aku mengekor di belakangnya.Berbagai rasa berkecamuk di benakku.Tiba-tiba saja aku merasa begitu takut.
“Maaf,Tuan!Kami sudah berusaha sebaik mungkin.Namun Tuhan berencana lain.”
“Apa maksud dokter?”
“Nasya belum melewati masa kritis!Dan dia butuh transplantasi ginjal secepatnya.”
”Ambil saja ginjal saya,Dok!”potongku cepat.
Dokter Farel tersenyum,”Saya tahu Anda pasti akan mengatakannya.Namun Anda harus melakukan tes dulu untuk memastikan ginjal Anda bisa atau tidak di donorkan pada Nasya.”
“Kapan saya bisa melakukannya!”
“Secepatnya!Namun sekalipun ginjal Anda benar-benar bisa didonorkan,kita tidak bisa melakukan transplantasi sekarang.”
Aku mengernyit tak mengerti.
“Nasya harus melewati masa kritisnya baru kita bisa melakukan operasi.”
“Sampai kapan?”
“Hanya Tuhan yang tahu.Kita harus menunggunya sadar.Jika dia bisa melewati masa kritis mala mini,maka semua pasti akan membaik.”
Aku menarik nafas dalam.”Lalu apa yang bisa kita lakukan!”
Dokter Farel menggeleng,”Hanya menunggu dan berdoa!”
Aku terrtunduk lemas.
“Sebaiknya Anda melakukan tes dahulu.Suster Ana akan menunjukkan dimana tempatnya!”sarannya diikuti senyuman suster paruh baya yang baru saja memasukan ruangan.
Aku mengangguk.
Tuhan…berikan yang terbaik untukmu.Dan akan kulakukan apapun agar kau baik-baik saja.Termasuk memberikan sebelah ginjalku.

——————-
Kupandang jam yang tergantung di dinding. Dua puluh lima menit lagi sudah tengah malam.Hari ulang tahunmu.AKu meraih secarik HVS dan bolpoint yang kudapat dari seorang suster.Aku ingat permintaanmu dibuatkan sebuah puisi.Semoga ini bukan permintaan terakhirmu.
Maka kumohon bukalah matamu.Dan bacalah puisi yang kutulis untukmu.

Jangan pernah tanyakan kenapa aku memilih!
Jangan pernah tanyakan kenapa aku mencintaimu!
Dan jangan pula tanyakan seperti apa aku mencintaimu!
Karena aku tak punya jawaban untuk pertanyaanmu.
Karena bagiku tak perlu alasan untuk itu
Aku memilihmu karena aku mencintaimu
Aku mencintaimu karena aku memilihmu
Aku tak mampu menggambarkan seperti apa aku mencintaimu
Namun satu keyakinanku,kau adalah pilihan terbaik dalam hidupku
Aku bukan pujangga yang mampu membuatmu puisi romantis
Hanya sebait kata sederhana yang mampu kutorehkan sebagai jawaban atas pintamu
Aku tak bisa menjanjikan kebahagiaan padamu
Namun bersama kuyakin kita bisa menciptakan kebahagiaan
Karena itu percayalah padaku.

Kau adalah bintang bagiku
Tangis dan tawaku
Mimpi dan nyataku
Kegagalan dan keberhasilanku
Kekuatan juga kelemahanku
Masa lalu dan kuharap juga masa depanku
Karena itu bukalah matamu!
Dan segera menikah denganku.

Kubaca ulang puisi yang kutulis untukmu.Aku tersenyum.Semoga kau masih bisa terbangun untuk membacanya.Kukecup keningmu.
“Aku mencintaimu,”bisikku lembut di telingamu.Walau belum mampu menjawabnya aku yakin kau juga mencintaiku.Dan aku pastikan akan tetap menunggu sampai hari itu tiba padaku.

Cerpen Karangan: Echae E.S
Facebook: echae n’cute
Hai….
jumpa lagi dengan cerpenku.
Terimakasih yang sudah baca!Maaf bila masih banyak kekurangan disana-sini.Semua dikarenakan oleh keterbatasanku.

Cerpen Puisi Untuk Kekasih Pilihan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


For My Girlfriend

Oleh:
“Tasya bangun ayo cepet mandi Tasya bangun Tasya”. Terdengar Kak Anggi membangunkan Tasya dari depan pintu kamar Tasya. “Iya kak sabar aku baru bangun mau mandi dulu” jawab Tasya.

Kenapa Harus Dia

Oleh:
ELENA POV Pagi ini aku senang sekali, karena aku sudah mendapat keluarga baru, bukannya aku tidak senang karena tinggal di panti asuhan dengan ibu Sesil, ibu panti yang sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *