Puisi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Misteri, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 14 December 2013

Sepucuk surat tiba di meja kerjaku. Kuraih surat itu dan aku mulai membacanya.

Indahnya pagi tak seindah dengan wajahmu. Hangatnya sinar mentari pagi tak sehangat senyumanmu. Merdunya kicauan burung burung tak semerdu suaramu. Semua itu selalu kunikmati di setiap pagiku. Bisakah kau merasakan kehadiranku di sisimu?

Ini sudah puisi yang kelima yang aku terima akhir akhir ini. Tapi selalu tidak aku ketahui siapa yang mengirimkan puisi ini. Tak tertulis nama atau inisial dalam puisi ini. Membuatku penasaran sekaligus takut.

“puisi lagi? Kayaknya secret admirer kamu ini pengecut deh non.” ucap mira merebut puisi yang kupegang
“entahlah. Tapi siapapun yang buat puisi itu sudah membuat aku tidak tenang.”
“penasaran ya noni? Pernah coba cari tahu tidak sih? Pasti kan dia satu kantor sama kita?”

Kata-kata itu mengingatkanku akan setiap laki-laki yang ada di kantor ini. Hanya ada beberapa laki-laki yang dekat denganku. Tapi seingatku mereka tak pandai membuat puisi.

Kembali ku fokuskan pikiranku pada setumpuk pekerjaanku. Aku tak ingin terlarut oleh pertanyaan siapa pengirim pengirim puisi itu.

Kulihat sepucuk surat lagi keesokkan paginya. Aku tak langsung membacanya, aku melihat sekelilingku sejenak takut ada seaeorang yang mengawasiku. Tapi sejauh mataku memandang tak kutemui seorangpun di dekatku.

Secangkir kopi pahit selalu menemani kesendirianku Namun kau hadir memberika secangkir coklat hangat yang manis untukku. Tapi bisakah kau menikmati coklat itu bersamaku? Dan tak meninggalkan ku sendiri bersama secangkir coklat panas itu?

Aaa lagi lagi puisi ini membuatku menjadi penasaran akan pengirimnya. Kusimpan puisi puisi itu dalam lemari kerjaku. Kali ini aku bertekad untuk mengetahui siapa pengirim puisi puisi ini. Ku tingggalkan sepucuk surat di mejaku ketika aku akan pulang bekerja.

Jika kau menginginkanku temui aku. Jika kau tak sanggup menemuiku jauhi aku dan berhenti mengirimkan semua puisi puisi ini.

Tidurku malam itu menjadi tak tenang. Semua karena puisi puisi itu. Aku sampai begitu pagi di kantorku. Dan aku hanya melihat direktur ku yang masih muda sudah tiba di kantor. Tapi aku tak begitu dekat dengannya. Lagi pula setahuku dia sudah mempunyai seseorang yang istimewa dalam hidupnya.

Setibanya aku di meja kerjaku. Aku temui lagi sepucuk surat itu dengan sebuat lolipop kesukaanku.

Tak sadarkah kau aku selalu memperhatikanmu setiap waktuku? Tak kau rasakankah kehadiranku di dekatmu? Lihatlah aku di sekelilingmu Lihatlah.. Jangan kau menundukkan wajahmu kepadaku.

Aku langsung melihat sekelilingku. Namun tak lagi aku temui orang selain diriku. Dia menerima suratku tapi tetap tak mau menemuiku. Hanya sebuah lolipop yang diberikannya padaku.

“noni saya minta kamu periksa data-data laporan ini lalu nanti kamu bawa ke ruangan saya.”
Suara itu membuatku terkejut dan menjatuhkan lolipopku. Itu suara direktur muda.
“ba.. baik pak.” “cepat kerjakan dan jangan melamun lagi.” “baik pak.” Kemudian direktur muda itu berjongkok di hadapku dan mengambi lolipopku. Dia tersebut melihat lolipop itu dan memberikannya padaku. Mungkinkah dia?
“jangan makan lolipop di kantor noni seperti anak kecil saja.” Katanya dengan senyum dan meninggalkanku.
Hampir saja aku berpikir dia orang yang selama ini mengirimiku puisi puisi itu. Rasanya tak mungkin.

“ini pak laporan yang tadi bapak minta saya periksa.” “coba saya cek dulu.” Aku lihat sekitar ruangan direktur ini, cukup rapi dan sederhana. Namun mata ku tertuju pada cangkir yang berada di meja kerjanya, secangkir coklat panas.

Cerpen Karangan: Widya Laksari Sastri
Facebook: Widya Laksari Sastri

Cerpen Puisi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Raflesia Mekar di Losari (Part 1)

Oleh:
“ham.. maaf kan. aku.. aku tidak bisa..” Seorang gadis berambut sebahu tersebut berujar pelan di hadapan ilham, pemuda berambut belah tepi, berkacama minus tersebut. “kenapa..?” balas ilham ke sari,

Orang Gila dan Sebuah Nama

Oleh:
Sering aku memilih untuk tersenyum dan tidak menangis, sebenarnya hanya karena aku tak dapat menjelaskan mengapa aku ingin menangis. Tak jarang aku memilih untuk diam dan tak bercerita, hanya

Dua Belas Dua Belas

Oleh:
Rasa malas melanda ku berangkat kantor hari ini, muka kusut, mata sedikit sipit karena sembab. Ini karena semalam hujannya deras sekali, trus diiringi dengan suara gemuruh yang cetar banget

Kau Ingat

Oleh:
Setiap hari ada sebuah bayangan dari mataku yang begitu jelas, bahkan bayang itu tersenyum, sebuah bayangan dari seseorang laki-laki yang selalu aku perhatikan. Dia… Laki-laki yang telah menjebakku dalam

Jadi Itu Apa

Oleh:
Saat itu jam 10 malam. Tapi, Rafael belum mengantuk. Dia itu orangnya suka sekali begadang. Seringkali dia telat pergi ke sekolah dan dimarahi Bu Dewi, wali kelasnya. Tapi entah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *