Pukis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 24 October 2012

Dua puluh dua tahun aku hidup. Sembilan belas tahun bagiannya aku merasa benar-benar taat pada Tuhanku. Sedangkan menginjak di tahun ke dua puluh hidupku, Tuhan telah menuliskan pertemuanku dengan seseorang. Aku percaya, Tuhan tidak sedang bermain dadu ketika mempertemukanku dengannya. Kalau kata Bang Haji Rhoma Irama, masa muda itu masa yang berapi-api. Dan sembilan belas tahun kehidupanku menjalani masa-masa muda itu, selalu kuredam api yang tersulut agar ia tak membakarku suatu hari. Itu selalu berhasil! Namun, tidak ketika aku berhadapan dengan seseorang itu. Ia, gadis bermata hitam itu, tidak membuatku rela mengalihkan wajahku darinya. Ia seperti candu yang membuatku merasa kian haus ketika tak melihatnya. Aku seperti berada pada kedamaian yang abadi hanya dengan melihatnya.

Kala aku mendengar suaranya yang lembut, terasa begitu menyejukkan. Memandang senyumnya yang mengembang, membuatku semakin terpesona. Ketika dua lesung pipi mungilnya muncul, aku semakin gemas dibuatnya. Sangat manis dalam penglihatanku. Dan aku belum menemukan alasan yang tepat untuk tidak mengakui bahwa aku mengaguminya, aku menyukainya, dan aku sangat menginginkannya. Saat itu—setelah dua puluh tahun hidup—adalah pertama kalinya aku merasakan hal seperti itu. Sosoknya yang ceria, hangat, matanya yang dalam, suaranya yang lembut nan merdu, terasa begitu memikatku. Dan, itu semua selalu berhasil menimbulkan desiran di hatiku.

“Yuda!”
Sebuah suara yang tak asing lagi telah membuyarkan lamunanku. Terdengar derap langkah yang dipercepat dan kian mendekat ke arahku hingga akhirnya sebuah tangan menepuk bahuku. Kupalingkan wajahku ke arah pemilik tangan itu.
“Aku bertemu Nita! Dia cantik sekali hari ini…”, katanya tersenyum lebar.
“Dia memang selalu cantik…”, sambutku tak heran.
Kembali kuperhatikan lembar demi lembar buku di hadapanku. Aku mencintaimu karena Tuhanku. Tak terhitung aku membaca sederet kalimat itu, di buku yang sama, pada halaman yang sama, dan dengan ekspresi yang sama. Kubiarkan bibirku menarik segaris senyum 3 detik.
“Yaaa…jangan hanya membaca, Yud! Lamar dia!”, suaranya kembali menyadarkanku bahwa aku tidak sendirian saat itu.
“Doakan saja, Ren!”

Aku beranjak segera dari bangku. Kugantungkan tali ranselku di pundak dengan buku itu masih dalam genggaman tangan kiriku. Samar-samar aku mendengar Rendra nyerocos terus menerus di sampingku. Sesekali kukerutkan keningku, kemudian membulatkan bibirku atau mungkin ikut tertawa ketika ia tertawa. Setidaknya itu usahaku untuk menunjukkan bahwa aku cukup ekspresif terhadap dongengnya. Masih dengan topik yang sama, yakni Nita, adik tingkat beda jurusan dengan kami.

Rendra dan aku masih berstatus sebagai mahasiswa semester sembilan jurusan teknik elektro di salah satu universitas di Yogyakarta. Memang tak ada lagi mata kuliah yang kami ambil. Fakta bahwa skripsi kami belum rampung membuat kami harus tetap menegakkan punggung dan memantapkan langkah untuk tetap aktif ke kampus. Namun, aku selalu menunggu efek sampingnya. Aku ingin bertemu dengan gadisku, cintaku.

Seorang gadis tengah berdiri di teras aula ketika aku dan Rendra berpisah di depan pintu. Ia melongokkan kepalanya berusaha mengintip langit yang menumpahkan hujan di hadapannya. Ia menengadahkan kedua telapak tangannya yang kini telah penuh dengan titik hujan. Aku tahu ia suka rinai hujan. Kuhimpun keberanian untuk menghampirinya. Belum sampai diriku di sampingnya, hatiku terasa terus berdesir.

“Indah….”, katanya tiba-tiba.
“Hmm..iya…”, sambungku sekenanya.
Kau memang indah. Lanjutku dalam hati. Ya Tuhan, bagaimana aku bisa mengelak dari keindahan di hadapanku ini? Salahkah bila aku begitu menginginkannya? Salahkah bila aku begitu mendambanya? Di antara butiran rinai hujan ini, aku berdoa padaMu Tuhan. Semoga…

“Mas Yuda, kenapa komenku nggak pernah dibales?”
“Heh?”, sedetik, dua detik, tiga detik dan seterusnya aku terdiam.
Ingin kukatakan betapa bingungnya aku ketika ia menulis kata-kata di wall facebook-ku, berapa lama waktuku yang terbuang begitu saja tanpa tahu mengapa aku tak lekas menemukan jawaban yang tepat, dan betapa menyesalnya aku setelah aku menulis jawaban itu justru dengan kalimat-kalimat ledekan untukmu. Ingin sekali kuteriakkan bahwa itu bukan yang ingin kukatakan sebenarnya!
Semenit berlalu, hanya ada hening di antara kami. Perlahan kulirik ia yang masih menatap takjub pada hujan. Aku ingin tahu mengapa ia begitu menyukai hujan. Kupandangi sekali lagi hujan di hadapan kami. Aku tak melihat indah yang ia maksudkan.
“Aku suka aroma tanah yang basah karena rintik hujan. Dan aku tak tahu bagaimana hujan selalu bisa menyanyikan nada-nada lembut yang mampu menyeret siapapun untuk menikmati iramanya. Hujan selalu pintar menempatkanku pada kenangan indah yang terkadang sengaja aku lupakan. Itulah mengapa aku menyukai hujan seperti aku menyukai lily… Indah…”, bisiknya seolah ia mendengar tanyaku.

Kulihat ia sedang tersenyum ke arahku. Aku segera menundukkan pandanganku. Bukan karena aku tak suka, tetapi aku hanya tak mau ia melihat pipiku yang memerah. Aku tak ingin ia menyadari bahwa hatiku tengah berdesir di sini, berdiri di sampingnya. Takkan kuizinkan ia tahu, setidaknya untuk saat ini.
***

Sekretariat HIMA tidak terlihat ada tanda-tanda kehidupan sore ini. Satu-satunya lampu penerang yang menyala hanya yang ada di teras sekretariat. Kuputar gagang pintu, terdengar bunyi “krek”. Sempat termangu sebentar begitu pintu terdorong ke dalam ruang. Pintu itu terbuka! Siapa yang telah sembarangan tidak mengunci sekretariat HIMA?
Aku bergegas menuju ruang bagian dalam. Memang tak banyak barang berharga dalam sekretariat HIMA ini, tetapi beberapa hari yang lalu aku menyimpan laptopku di loker. Kutarik napas perlahan, kuhirup sebanyak mungkin oksigen yang ada sebelum kutarik gagang pintu loker. DEG! Laptopnya masih ada di sana, tetapi ada sesuatu di atasnya. Ada kotak bening terbuat dari bahan plastik seperti toples atau semacamnya. Masih dalam gelap, kotak bening dalam loker kutarik keluar. Benar toples, ketika seberkas cahaya lampu di luar sekretariat remang-remang mengenai kotak bening itu. Begitu tutupnya terbuka, menguak aroma lezat isi di dalamnya. Ah, kue pukis! Di atas tumpukannya ada secarik kertas kecil. Ketika kunyalakan lampu ruangan, barulah aku tahu bahwa kertas kecil itu berwarna biru muda dan bertuliskan “Selamat hari lahir, semoga sehat selalu dan sukses!”

Huruf-huruf yang terangkai dengan pena itu jelas aku mengenalinya. Itu adalah tulisan tangan gadisku. Ia tak pernah tidak ikut andil dalam perayaan ulang tahun pengurus HIMA. Setidaknya, kami—pengurus HIMA, sudah hafal betul oleh siapa kue tart itu dibuat. Dan, aku sudah mewanti-wanti tak ada yang boleh mengingat hari ulang tahunku. Tak ada perayaan, tak ada surprise, tak ada kado, tak ada lilin dan tak ada kue tart, tetapi sekarang aku hanya melongo saat tahu bahwa kue pengganti kue tart itu adalah kue pukis. Kue yang selalu menjadi bekal gadisku di dalam tasnya. Kue yang selalu jadi rebutan dan habis sebelum gadisku memakannya. Ingin kukirimkan pesan via ponsel padanya, setidaknya mengucapkan terima kasih. Tetapi segera pula kuurungkan niat itu dan tetap diam.
***

Wisuda adalah agenda yang selalu ada di setiap tahunnya. Setidaknya dalam setahun, kampusku menyelenggarakannya sebanyak tiga kali. Dengan agak susah payah, aku mencari motivasi yang cukup kuat untuk mendorongku melangkah maju sehingga bisa lulus. Di hampir akhir semester sebelas, akhirnya tiga orang dosen penguji skripsi menyatakan bahwa aku lulus. Langsung kusujudkan syukur tiada terkira kepadaNya. Kemudian disambut jabat tangan bangga dan lega dari para dosen yang hadir saat itu, termasuk dosen penguji dan dosen pembimbingku.

Aku teringat betul bagaimana ekspresi sangar dari tiga dosen penguji saat itu. Dan masih hangat dalam ingatanku betapa cemasnya mimik muka dosen pembimbingku. Terlihat semakin banyak kerutan di wajahnya, dan rambut berwarna putih pun kian bertambah banyak menghiasi kulit kepalanya semenjak menjadi dosen pembimbing bagi skripsiku. Sekilas wajahnya juga menampakkan betapa bosannya beliau melihat wajahku sejak aku masih terdaftar sebagai mahasiswa semester tujuh dan menjadi mahasiswa yang beliau bimbing. Namun, semua kelelahan itu akhirnya pun terbayar dan beliau dapat tersenyum saat menjabat tanganku.

Hari ini, aku berdiri di sini, diantara ribuan mahasiswa yang hampir seragam berjubah hitam lengkap dengan toga dikepalanya. Yang putri, ada yang bersanggul, ada yang memakai jilbab, dan ada juga yang membiarkan dirinya tak terpoles oleh make-up apapun. Yang putra ada yang memakai batik, ada yang memakai jas lengkap dengan dasinya, ada juga yang hanya mengenakan kemeja. Aku sendiri mengenakan kemeja putih dan dasi hitam, persis seperti saat aku ospek dulu. Semua orang di sekitarku menampakkan wajah berbinar-binar cerah ceria. Aura kebahagiaan amat terasa menyelimuti. Karangan bunga terlihat dimana-mana. Jepret demi jepret lampu flash kamera terpancar dimana-mana. Kulongokkan kepalaku ke sana kemari berusaha memecah kepadatan yang arusnya tak menentu, mencari sesuatu yang layak kucari.

“Hai bro!”, seseorang menepuk bahuku, kemudian kutoleh sang sumber suara.
“Hai, Ren…terima kasih sudah datang…”, kataku dengan toleh sana sini.
“Ya ya ya…selamat ya Yud, akhirnya kau bisa menyusulku juga… Mana bapak ibu?”
“Oh, tadi mereka keluar mencari udara segar. Dalam auditorium hawanya pengap dan panas. Jadi, mungkin mereka ke taman. Eh…Ren, apa tadi kau melihat…”, belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, aku sudah menemukan yang kucari.
“Apa Yud? Siapa? Nita? Tadi aku melihatnya di…”
“Aku sudah menemukannya…baru saja aku melihatnya…”, potongku sambil tersenyum selebar yang aku bisa.
“Oh..baguslah… Jadi, kau akan menraktirku kemana?”
“Mm…belum tau, nanti saja aku pikirkan. Sekarang aku harus menemui dia yang dari tadi aku cari…aku juga ingin mengucapkan selamat padanya. Oke…?!”, kataku sambil bergegas pergi meninggalkannya.

Beberapa langkah di belakangku samar-samar terdengar suara Rendra yang memanggilku, tetapi kemudian suaranya berbaur dengan riuh ramai tawa gembira para wisudawan sehingga aku tak bisa lagi mengenali suara Rendra. Kembali kulihat sekeliling, berusaha mengingat jilbab apa yang tadi dikenakan oleh gadisku. Ia juga wisuda hari ini. Ah, agak memalukan sebenarnya karena aku yang berada dua tingkat di atasnya justru lulus bersamaan dengannya. Kulihat ke beberapa titik dimana bergerombol wisudawati berjilbab, berharap gadisku ada diantara mereka. Dan benar, ia ada di sana, mengenakan jilbab berwarna ungu. Pipinya berwarna merah muda merona, bulu matanya sedikit lentik dan bibirnya terpoles warna merah muda yang kalem. Cantik! Sangat cantik di mataku! Oh Tuhan Yang Maha Indah, bagaimana Engkau menciptakan makhluk secantik dia? Oh Tuhan Yang Maha Mengetahui, bagaimana aku bisa tidak menginginkannya jika ia seindah itu?

Kutundukkan kembali pandanganku beberapa saat sebelum akhirnya kukumpulkan jutaan nyali untuk melangkah menujunya. Lima langkah aku berjalan, aku berhenti. Kulihat seseorang menghampiri gadisku. Aku tidak pernah melihat laki-laki itu sebelumnya. Laki-laki itu berdiri cukup dengan gadisku, kemudian berfoto berdua. Aku membeku. Kemudian, tiba-tiba saja terasa panas perlahan menjalar di tubuhku, membakar hatiku. Aku mundur beberapa langkah lebih jauh, sambil membisikkan selamat padanya—tentu saja hanya melalui hatiku. Dan aku berbalik membawa kekalahan.
***

Seorang waitress datang dan menyodorkan secangkir kopi yang kupesan, sementara mataku belum beralih dari layar laptop di depanku. Aku sudah duduk di sini sejak beberapa jam yang lalu, menggenggam resah, berteman gelisah, menunggu hadirnya di dunia tak tersentuh itu. Aku masih duduk, memandangi satu nama di sana. Jika kehadirannya nyata, dia sedang bersembunyi di baliknya. Aku tak berharap banyak mendengar dering ponselku, karena aku juga tak pintar memilih diksi tepat untuk membalasnya. Karena itulah aku menunggumu di sini. Satu-satunya tempat yang bisa kutemukan dirimu saat ini. Tapi kamu tak ada. Masih tak ada. Ah, kapan kerisauan ini berhenti merongrong di pikiranku?

Aku masih berkutat dengan lamunanku sendiri, ketika seorang waitress lainnya datang menghampiriku dengan membawa nampan berisi toples plastik. Aku yakin tidak memesan apapun selain kopi. Kusipitkan mataku untuk melihat apa gerangan sesuatu itu. Dan pelayan itu telah sampai di meja nomor 7—mejaku. Ia meletakkan toples itu sambil tersenyum ramah, membiarkan aku termangu sesaat melihat toples bening berbentuk kotak di hadapanku kini.
Aku membuka tutup toples itu, tercium aroma wangi nan lezat yang lama sudah tidak kujumpai. Di dalam toples itu tertata rapi tumpukan beberapa kue pukis. Aku tersentak. Kulemparkan pandangan mataku ke segala arah. Tidak ada!

Aku beranjak dari kursi dan mengambil langkah tergesa menghampiri pelayan yang tadi mengantarkan ini ke mejaku.
“Mbak, siapa yang menitipkan toples ini pada Anda?”
“Saya tidak tahu namanya Mas, tetapi tadi orangnya duduk di meja nomor 3 di dekat jendela kaca itu.”, kuikuti arah tangannya menunjuk pada udara.
“Lalu dia kemana sekarang?”, kutahan suaraku agar tidak meledak.
Tak sabar menunggu jawabannya, aku berhambur keluar dari café. Aku terus melangkah tergesa, setengah berlari, melemparkan pandangan ke semua arah, berusaha mengenali dia—gadisku. Jalanan lengang kecuali tiga meter di depanku, seorang wanita tengah berjalan sambil menundukkan kepalanya. Aku segera berlari. Tak ingin kehilangan lagi jejaknya. Kukaitkan jemari tanganku pada sikunya dan kutarik ia sehingga ia kini berbalik badan menghadapku. Ya, tidak salah lagi. Dia gadisku.

“Kau…”, suaraku sedikit terengah. Kulihat matanya terbelalak, mungkin saking terkejutnya. “Bagaimana kau bisa di sini?”, tanyaku berusaha mengatur napas.
Matanya yang sipit masih terbelalak sampai napasku kembali teratur. Dia hanya tersenyum melihatku. Lalu ia menatap ke atas, dan anehnya aku mengikuti arah pandangnya. Di atas kami terhampar langit biru luas yang mendamaikan. Hening.
“Ah, kenapa tidak ada hujan?”, katanya memecah kebisuan kami. “Mbak Nita, dia yang memberitahuku kalau mas Yuda di sini. Beruntung ya dia…”
“Kenapa?”
“Karena Mas Yuda di hatinya, dan dia di hati Mas Yuda.”
“Begitu? Siapa yang bilang padamu?”, tanyaku masih dengan menatap birunya langit—seperti yang sedang ia lakukan.
“Semua orang bilang begitu. Mas Rendra, Mas Adi, Mbak Nela, Mbak Tika, dan Mbak Nita selalu tersenyum malu saat mereka menyebut nama Mas Yuda di depannya. Mukanya benar-benar merona merah, cantik.”
Aku mengalihkan pandanganku kepadanya. Mencari apa yang bisa aku temukan dari setiap sudut garis di wajahnya. Tak ada. Semua terlihat baik-baik saja.
“Kamu sepakat dengan mereka?”
Dia kini mengarahkan tatapannya tepat ke mataku.
“Tidak, jika aku boleh meminta pada Tuhan bahwa akulah yang benar.”
Aku tersenyum. Dia tersenyum. Aku menatapnya dalam-dalam, menyelami kesejukan di matanya, membiarkan diriku terjatuh di sana.
“Taukah kau, bahagia itu sederhana bagiku. Seperti bisa memakan pukis ini misalnya…dan bisa memakannya setiap hari. Maukah kau memberiku rasa bahagia itu?”, mataku masih belum beralih darinya.

Dia tidak berkata apapun. Hanya diam terpaku. Sedetik, semenit, dua menit, lima menit berlalu. Dia mengambil kotak berisi pukis itu dari tanganku. Aku bergeming. Rasanya aku telah mematung di sana, tak bisa bergerak. Terlalu tak berdaya, menanti sebuah jawaban yang saat siang malam selalu kurapalkan dalam doa. Dia kini mengambil sepotong kue pukis, lalu memakannya. Aku semakin gelisah. Aku hampir putus asa ketika akhirnya dia menyuapkan separuh sisa kue pukis yang sedang ia genggam. Dia tersenyum, tanpa berkata-kata lagi. Dunia serasa sedang memelukku erat saat itu terjadi. Tiada henti kuucapkan syukur pada Tuhanku yang telah menjagaku sejauh ini. Menjagaku dari bara api yang hampir menghanguskan hatiku. Ah, aku tau. Kue pukis itulah jawabannya. Tapi tunggu—

“Tapi, siapa pria yang berfoto denganmu saat wisuda?”
“Ha, dia kakakku. Apa kami tidak mirip? Hehehehe…”, dia terkekeh karena mukaku memerah saking malunya.

Tapi tak apa. Aku sepakat dengan kata Pak Mario Teguh berkata bahwa cinta itu harus memiliki, jika cinta sudah tidak harus memiliki berarti namanya frustasi. Dan aku juga sepakat dengan kata Bang Darwis Tere Liye bahwa Jika dua orang memang benar-benar saling menyukai satu sama lain, bukan berarti mereka harus bersama saat ini juga. Tunggulah di waktu yang tepat, saat semua memang sudah siap, maka kebersaman itu bisa jadi hadiah yang hebat untuk orang-orang yang bersabar. Sementara menanti, sibukkanlah diri untuk terus menjadi lebih baik. Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar ataukah semakin memudar. Dan karena kebersamaan adalah hadiah bagi mereka yang bersabar.

TAMAT

Cerpen Karangan: Vera Widyastuti
Facebook: facebook.com/nengveraa
Mahasiswi Pendidikan Teknik Informatika, Universitas Negeri Yogyakarta

Cerpen Pukis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Hanya Omong Kosong

Oleh:
Malam ini adalah malam minggu, tak ada yang spesial bagiku. Padahal malam minggu ini adalah malam minggu terakhir di tahun 2015 ini. Aku hanya bisa diam termenung di kamar

Inikah Cinta

Oleh:
Pernah ngerasa jatuh cinta? Gimana sih rasanya? Kalau aku tanyakan ini pada teman-temanku yang jelas aku pasti sudah dibully habis-habisan. Dan mungkin sahabat paling dekatku. Jean akan nyeletuk, “Helooo

Kurasa Aku Menyukaimu

Oleh:
Napasku mampat. Nyaris. Terlampau sulit mendapatkan oksigen tatkala dadaku dipenuhi bingkah-bingkah pilu. Aku meraung keras dan hanya rinai yang mendengarku. Merasa terlalu pandir untuk menghadapi hidup. Seharusnya takdir tak

Kejutan Darimu

Oleh:
Pada tanggal 15 Desember 2012 tampak semua anak murid SMPN 1 bersuka ria atas selesainya ulangan semester 1. Begitu pula yang dirasakan olehku dan Amellia. “Amellia, yuk kita makan

Sebatas Angan

Oleh:
“Gila ya Wan, cewek yang lewat depan kantor tadi siang bener-bener cantik, gue jadi kepikiran sampe sekarang,” ucap Aldi sambil menghembuskan asap rok*k terakhirnya. “Ya elah Di lebay banget

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Pukis”

  1. Rani says:

    ceritanya keren bnget nh…

  2. Rani says:

    keren banget nh cerpen..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *