Putus

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 1 March 2016

“Putus?”
“Iya, kita putus. Sepertinya kita sudah mulai tak cocok.”
“Apa maksudmu kak?”
“Maafkan aku, Nur,” dia memegang erat tangan Nur lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu Nur membencinya, ia memutuskan hubungan tanpa alasan yang menguatkan.
“Kak, tunggu.” Nur mencoba meneriakinya namun langkahnya tetap menjauh. Kakinya gemetaran dan tubuhnya melemas lalu terjatuh pada tempat duduknya semula.

Saban pagi matahari tetap terbit dari timur dan tenggelam di barat, malam dan siang juga tidak pernah libur untuk menghampiri, begitu pula dengan kehidupan Nur tak berakhir karena kata, “Putus” dari Kak Teguh. Hari-hariku akan terus berjalan sebagaimana biasanya, namun saja tak terselip cerita lagi tentang Kak Teguh, kalaupun ada hanya sebuah kenangan belaka.
“Bagaimana bisa?” sahabatnya malah yang naik pitam. “Kau dan Teguh satu bulan lagi akan menikah kan?”
“Iya, Rin,” Jawabnya seadanya.
“Lalu apa katanya? ceritakan, Nur! Apa alasan kalian putus?” Rina terus saja berbicara tanpa bisa disela. “Bukankah orangtua kalian sudah merestui?”
“Nur, Jawab aku!” Rina terus saja mengelilingi dengan pertanyaan.

Mendengar kabar tersebut Rina tersentak, perkawinan sahabatnya yang tinggal menghitung hari tiba-tiba calon pengantin pria meminta putus. Melihat sahabatnya yang terduduk pasrah di depannya dengan berlinang air mata membuatnya marah, bingung. Saat itu juga ia segera menemui Kak Teguh, tapi Nur mencegahnya. “Tak usah, Rin. Biarkan saja,”
“Tak usah bagaimana? Kau ini bodoh atau bagaimana?! Dia itu memutuskanmu tanpa alasan yang jelas.”
“Tak usah kau ulangi kata-kata itu,” Nur menutup telinganya dengan masih air berlinang di matanya.
“Baiklah, maafkan aku, Nur,” Rina langsung menarik mundur langkahnya dan langsung memeluk Nur.

Nur sudah menjalin hubungan dengan Teguh sejak satu tahun sebelum ia lulus kuliah, sebagai sahabatnya, Rina menjadi tempat segala curhatan untuk ditumpahkan. Cerita tentang keluarganya, kuliahnya juga Teguh. Yang yang seorang aktivis dan tetap mempunyai banyak waktu untuk Nur, Nur berada dalam satu organisasi yang sama dengan Teguh. Cerita cinta mereka mulus-mulus saja sampai hari pertunangan mereka. Nur dan Teguh memutuskan untuk bertunangan setelah keduanya empat tahun lulus dari kuliahnya. Biarpun Teguh seorang aktivis ia pribadi yang sedikit tertutup mengenai percintaan bahkan kehidupannya. Orang-orang mengenalnya dari sepak terjang seorang organisasi pergerakan yang ternama. Tak banyak yang tahu latar belakang keluarganya, bahkan acara pertunangannya diadakan secara tertutup.

Ayah Teguh yang meninggal dua tahun yang lalu menjadi salah satu sebab sikapnya berubah, kepribadiannya mulai pendiam, waktunya habis untuk mengurus ibu dan persiapan pernikahannya. Berbagai macam aksi Teguh mulai redup dan tak terdengar lagi. Hanya beberapa kali ia menulis dan dimuat di koran. Kesehariannya lebih banyak dihabiskan dirumah, dengan dikelilingi lembaran-lembaran cerita yang ia tulis sendiri. Terkadang ia tuangkan ceritanya dalam cerpen dan beberapa dalam bentuk saja puisi. Tak banyak yang mengetahui kalau itu tulisannya, karena ia hanya menggunakan inisial di setiap karya yang dimuat di berbagai media.

“Lihat ini, Nur. Puisinya begitu menyentuh,” telunjuknya serambi menunjuk kolom koran halaman 7.
“Siapa penulisnya?”
“Tidak tahu, dia hanya menulis inisial T.A,” kembali ia menunjukkan dengan telunjuknya.
“Ah, misterius sekali kenapa harus pakai inisial padahal karyanya begitu menarik.”
“Aku sudah mengikuti karyanya selama dua bulan ini.”

“Benarkah?”
“iya, Nur. Tulisannya seringkali membuatku haru saat membacanya,” aku lihat matanya mulai cembung dan siap meneteskan air matanya.
“Apa dia hanya menulis puisi yang bisa membuat kau hendak menangis?”
“Tidak,” seketika matanya berbinar.
“Dia juga menulis cerpen dan cerita bersambung. Malah ku dengar dalam beberapa waktu dekat ini ia akan meluncurkan novel pertamanya. Aku pasti datang dan menjadi pembeli pertama. Aku akan melihat langsung Tuan. T.A.”
“Terserah kau saja.”

Nur perlahan hari mulai membacai karya T.A. dirasainya ia mengenal gaya tulisan sajak-sajak yang mengharukan tersebut. Seperti dialah yang menjadi peran dari sajak yang tertuliskan. Tulisannya mendayu, isinya memaksa air mata menderas. Mengingatkan pada cerita cintanya yang hilang di malam itu.
“Ah, tidak. Mungkin ini perasaanku saja,” Nur meyakinkan dirinya.
“Apa ini tulisan Kak Teguh? Teguh Ardian?” Nuraninya mengajukan pertanyaan.
“Tidak. Tidak mungkin. Dia sudah pergi dari kota ini sejak satu bulan yang lalu, dia juga bukan penyair yang baik,” sisi lain dari nuraninya menjawab.

Semenjank pertunangannya putus, ia dan Teguh tak jarang berkomunikasi bahkan bisa dikatakan tidak pernah, kepindahan Teguh dari kota ia dapati dari teman kuliahnya dulu. Nur juga memilih untuk tidak mencarinya, ia hadapi sendiri semua termasuk berbagai pertanyaan dari orangtuanya. Seringkali ia menjawab, “Mungkin memang ini yang terbaik,” begitulah jawabnya dengan nada tak semangat. Hari-harinya dihabiskan untuk menata dan membaca berbagai deret buku di Perpustakaan daerah.

Berbagai buku dari karya tertua sampai yang terkini habis digaulinya, entah karena apa, akhir-akhir ini ia sedang mengagumi karya tuan T.A. karya sajaknya yang bisa dikatakan masih jauh dari penulis ternama Khairil Anwar namun bisa membuat banyak pembaca tertarik. Seperti aja sihir pada setiap bagian sajaknya. Biarpun kekaguman mulai menghampirinya, namun belum ada niatan untuk menghadiri peluncuran novel tuan T.A, cukup baginya menikmati tulisannya tanpa harus mengetahui identitas penulisnya.

“Nur, kau yakin tak mau ikut denganku?”
“Tidak, Rin. Kau berangkat saja, aku tetap menjaga perpustakaan.”
“Tapi aku sudah mendapatkan surat izinnya,” ia tunjukkan dua lembar surat izin atas nama Nur dan Rina. “Ayolah,” ia terus saja membujukku dan menarik menarik diriku bangun dari tempat duduk.

Sesampainya pada tempat yang dituju sudah banyak orang yang duduk rapi untuk menyaksikan peluncuran penulis baru yang mulai naik harga itu, aku duduk di antara wanita-wanita muda yang juga mengagumi karya tuan T.A, seringkali mereka berbisik satu sama lainnya, “Tulisannya membuatku menangis,” yang lain “benar, mengagumkan! Jarang penulis baru bisa tersohor secepat ini.” Dari kejauhan si penulis mulai terlihat, duduk di kursi roda dengan seorang lagi mendorong kursi rodanya, ia tersenyum dan memberikan salam kepada semua yang hadir, wajahnya pucat dan rahangnya mulai mengkurus. Diketahui ia telah terserang penyakit kanker yang terus menerus menggerogoti tubuhnya.

“Mas Teguh?” Nur terus menahan tangisnya, tiba-tiba suara pelan terdengar sangat lirih memanggilnya.
“Nur, Nur.. bangunlah, itu ada telepon dari Mas Teguh.”

Cerpen Karangan: Akhil Bashiroh
Blog: akhldzatuhimmah.blogspot.com
Facebook: Bintu Aql
Nama: Akhil Bashiroh
Alama: Demak
TTL: Demak, 24 Juni 1994
Pendidikan: Sastra Jawa Unnes

Cerpen Putus merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Rasa Itu…

Oleh:
“Sayang… Aku kangen kamu.” Begitu kalimatnya yang selalu Aryan ucapkan melalui chat di Linenya. Adeeva selalu berharap akan pertemuan dengan pujaan hatinya yang saat ini berada jauh dari pandangan

Akhir Cerita Sabtu Senja (Part 2)

Oleh:
Malam harinya, usai belajar Yuris memasukkan buku, tiba-tiba Yuris teringat tas kecilnya. Saat akan menanyakan pada Hermin, Yuris teringat bahwa tas kecilnya pasti tertinggal di bawah pohon dekat jembatan.

Permusuhan Berujung Cinta

Oleh:
Hai, gue Pricillia Sagita, panggil aja Cilla. Gue sekolah di SMA Harapan Bangsa Jakarta kelas 10. Gue punya orang-orang yang paling gue sayang. Yang pertama nyokap dan bokap gue,

Cinta Itu…

Oleh:
Manusia, apa kau ingat siapa dirimu? Apa kau ingat tugas yang diberikan padamu di dunia ini? Apa kau ingat apa tujuan hidupmu? Manusia, kau nodai dunia dengan minimnya akhlakmu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *