Rahasia Dibalik Tatap

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 1 March 2018

Berulang kali aku mencoba untuk menulis sesuatu yang aku harapkan dapat memotivasi seorang yang akan membacanya dengan kisah-kisah menarik yang sebenarnya aku jumpai di keseharianku. Namun, selalu saja gagal sebab aku selalu tak mood untuk melanjutkannya, sampai akhirnya aku memiliki suatu kisah yang rupanya selama ini tak henti-hentinya aku bahas untuk kesekian kalinya sebab ini adalah kisah nyata dari sahabatku sendiri yang bahkan sempat beberapa kali aku ingin menghindar dari persoalan ini, namun tetap saja gagal dan gagal.

Ini sebuah kisah yang menggambarkan seorang gadis yang berambisi ingin menjadi seorang Desainer sukses yang nantinya akan mengubah hidupnya, dia hanya seorang anak dari keluarga sederhana yang memiliki banyak sekali teman karena aura yang positif selalu terpancar di sekelilingnya, gadis ini pun gemar sekali mempelajari situs tentang lingkungan hidup dan juga dunia psikolog yang rumit, julukan seorang seniman muda tak luput mengitari namanya yang indah. Anggun itulah namanya, namun jangan pernah terkecoh dengan namanya, yang nampak hanya gadis hiperaktif yang terkenal cerewet dan juga sok cool dengan cara bergaulnya yang nyentrik membuat ia banyak dikenal termasuk guru-guru yang sudah hapal dengan “Anggun”.

Selamat pagi lebih tepatnya selamat siang untuk anak sekolah yang baru berangkat pukul tujuh kurang lima menit. Aku mulai sudah mencium bau-bau pelanggaran di sini yang akan aku nikmati nanti, apalagi kalau bukan lari pagi mengelilingi lapangan basket bersama anak yang nanti akan senasib denganku. Benar dugaanku, sekuat apapun aku mengayuh sepeda ini tak dapat dipungkiri perhitunganku yang jelas-jelas akan menuai keterlambatan pasti akan terjadi, yang benar saja, setiba aku turun dari sepeda langsung saja tatib menggiring kami ke tengah-tengah lapangan basket bersama kelima anak lainnya yang semuanya adalah laki-laki yang sudah terkenal heboh kasus kenakalannya, sedangkan aku seolah menjadi kartininya yang hanya seorang diri di sini di antara para lelaki yang paling terkenal dibicarakan di ruang guru. Akhirnya sang pencerah datang dengan buku besar dan sebuah pulpen yang melingkari lehernya, aku hanya berdiam diri tak berbicara sepatah katapun di hadapan guru dengan posisi sigap berharap aku segera diampuni, alih-alih mendapat hadiah karena telah berlaku seperti anak yang disiplin aku malah disuruh lari terlebih dulu oleh sang pencerah yang tak lain adalah guru agama yang terkenal disiplin dan juga ganas saat mengajar itu. Aku disuruh lari sebanyak dua putaran saja dan kemudian mengisi formulir di buku besar itu yang sudah terbaring di tanah.

Tak lama sebelum aku mencapai setengah putaran, seorang murid datang lagi dengan banyak pelanggaran yang akan dicatat oleh sang pencerah, sebab dia tak memakai dasi dan masih mempertahankan jaket berwarna hitam yang membalut seragam khas sekolah ini yang seharusnya sudah ia lepas sebelum masuk ke gerbang sekolah, terlebih dia pun tak melepas helmnya saat berhadapan dengan sang pencerah. Suasana bertambah seru rupanya seorang ketua Osis dengan terang-terangan terlambat dan melakukan begitu banyak pelanggaran terlebih disetarakan bersama anak-anak yang bermasalah itu. Mulai beraksi sang pencerah mencatat semua pelanggaran yang ketua Osis lakukan sampai akhirnya aku kepergok oleh salah satu anak buah sang pencerah karena baru saja keasikkan menonton drama hingga aku lupa untuk berlari.

“hei, tetap berlari!” teriaknya dari kejauhan sambil mengepalkan tangan kananya dan mengarahkannya kepadaku. Aku pun dengan semangat terus berlari sambil sedikit curi-curi pandang dengan sang pencerah, yang rupanya dipergoki oleh ketua Osis. Malu setengah mati aku, seorang Anggun kepergok melakukan pelanggaran yang selama ini selalu menjunjung tinggi kedisiplinan.

Dua putaran pun berhasil aku selesaikan dengan keringat yang bercucuran dan membasahi baju pada titik-titik rawan keringat di badanku. Aku sedikit berjalan untuk menghemat tenaga, alhasil yang kuterima hanya sebuah tatapan memojokkan dari semua pihak di sana, yang sudah menunggu dari tadi. Tangan sang pencerah hanya menujuk ke buku besar, seolah semuanya sudah aku ketahui, aku tulis nama lengkap dan kelas di buku besar itu dengan sangat jelas, setelah itu aku kembali melanjutkan ke kelas, meninggalkan para lelaki yang masih harus mendapatkan pencerahan dari guru agama yang mudah-mudahan dapat sedikit mencerahkan pikiran mereka sebelum menerima pelajaran hari ini. Kutuntun sepeda dengan perlahan, pikirku setelah ini pasti masalahku akan bertambah. Entah kenapa aku gemar sekali kepergok oleh ketua Osis yang selama ini selalu curi-curi pandang ke arahnya.

Saat sampai di parkiran, aku mendapati sepedaku takkan muat masuk ke dalam sana, sebab tempat yang harusnya menjadi tempat sepedaku sudah ditempati oleh motor yang sangat besar di sana, aku kesal dan jengkel sudah berlari selelah ini masih saja ada yang menggodaku dengan persoalan tempat parkir yang seharusnya untuk sepeda. Mataku mengarah ke segala arah berharap agar menemukan satpam yang biasanya menata parkir yang tidak tertib seperti ini, namun kenapa hari ini begitu sial untukku, batang hidungnya sama sekali tak kutangkap oleh penglihatanku dan terpaksa aku sendiri yang memindahkan motor yang dua kali lebih berat dari berat tubuhku dengan susah payah aku mendorongnya dan aku tata dengan sembarang tempat di sekitar parkir, yang penting sepedaku dapat tertata rapi bersama sepeda lain itu sudah cukup melegakan bagiku.

Masalahku tak terhenti sampai disana, ada dua temanku yang rupanya sudah menunggu di depan kelas sambil bertolak pinggang keduanya.
“ngapain? ayo masuk, sebentar lagi sang pencerah bakalan ke sini” kataku dengan lesu. Dan satu di antara mereka mulai angkat bicara.
“O.. terus kamu bawa filenya Nggun?”
“astagfirullah!, aku lupa Ndun” ujarku. Firasatku benar saat kutuntun sepedaku tadi.

Indun dan Aisha menyeretku ke dalam kelas sesaat setelah aku menaruh tas di bangku, kemudian menyeretku kembali ke ruang guru untuk bertemu dengan sang pencerah yang kala itu sudah mulai menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk mengajar di kelasku. Aku didorong oleh Indun dan Aisha untuk menjelaskan keterlambatan pengumpulan tugas yang sebanarnya sudah satu bulan ini kelompok kami yang belum juga mengumpulkannya. Jantungku tiba-tiba berdebar dan suhu badanku mulai naik, membuat aku gemetar tak karuan di hadapannya.

“pak..” panggilku dengan amat pelan. Pak Hendro atau yang selama ini aku panggil dengan sebutan sang pencerah itu mengangkat dagu. “maaf pak filenya ketinggalan. hehe…” sambungku.
“terus..?”
“sang pencer.., maksud saya pak Hendro nggak marah nih” kemudian pak Hendro hanya diam selanjutnya duduk di kursi kembali.

Tiba-tiba datang ketua Osis yang langsung menghadap ke sang pencerah.
“assalamualaikum pak Hendro, ini pak semua file dari kelas IPA 1 sampai IPA 4” ujar ketua Osis dengan raut ramah sambil sedikit senyuman yang menjadi tambahan. Saat pak Hendro mulai memeriksa, dia mengahadap ke arahku dengan sedikit tertunduk, sebab ukuran tubuhnya yang tinggi berbanding terbalik denganku yang sedikit lebih rendah darinya.

“Anggun lagi.., Anggun lagi, ngapain kamu Nggun di sini?” tanya ketua Osis sedikit berbisik.
“kepo!. ya ngumpulin tugas lah!, anak IPS itu kan tertib” jawabku mentang-mentang, yang rupanya didengar oleh pak Hendro langsung ia menyerobot percakapan kami.
“terus mana tugasmu?” tanya pak Hendro sambil melanjutkan menghitung. Ketua Osis hanya membelakkan mata yang diiringi oleh senyum yang sebenarnya itu hanya sebuah ledekan untukku.
“puas kamu!.” kataku ketus sambil menatap tajam ke arah ketua Osis, kemudian pandanganku kualihkan kesang pencerah. “ya sudah pak saya kembali dulu ke kelas” lanjutku. Dengan rasa jengkel yang begitu membara aku kembali menemui Indun dan Aisha yang sedari tadi sudah ngoyot berdiri menungguku di luar.

“bagaimana?” tanya Aisha.
“pak Hendro kesel deh kelihatannya” jawabku dengan nada pelan.” maaf ya Ndun, Sa aku nggak amanah sama kalian” lanjutku yang serba bersalah kepada mereka berdua, sebab aku lah yang membuat nilai mereka harus ditunda atau kemungkinan bakalan dibawah KKM lebih tepatnya tidak lulus dalam mata pelajaran agama.

Tak lama sebelum kami kembali kekelas ketua Osis datang menghampiri kami bertiga yang sedang meratapi nasib.
“nggak papa Nggun, aku nggak marah kok” sahut Indun dengan mata yang berbinar seolah memberiku harapan kembali.
“ada apa ini?, harusnya kalian sudah masuk ke kelas kan” cerca ketua Osis yang sok ngatur sambil bertolak pinggang dengan muka sangar.
“apa-apa sih Odi, sok ngatur banget. biasa aja kali” tepis Aisha mentang-mentang dengan mendongak ketas, sebab tubuh ketua Osis (189 cm) yang terlalu tinggi bagi Aisha membuatnya harus mendongak. Aisha begitu nampak tak senang dengan kehadirat Odi alias ketua Osis yang tiba-tiba dan sok mengatur dengan suasana yang kurang menyenangkan ini. Kemudian untuk melerai pertikaian aku langsung membawa Indun dan Aisha kembali ke kelas yang kala itu mulai memerah raut wajahnya dan nampak jelas dari tatapan tajam, bilapun pedang yang mampu menyanyat-nyayat tubuh Odi dengan begitu mudahnya. Saat kutarik mereka kembali ke kelas, kusempatkan untuk melihat ke belakang dan rupanya ketua Osis itu hanya berdiri dengan tegap sambil menatap ke arahku.

Hari sudah mulai larut malam, bapak masih saja asik mengobrol dengan temannya di luar sana, kadang tawa mereka yang sangat keras menggangguku saat sedang asik bermimpi indah-terbang mengendarai kuda poni berwaran pink seperti pada kartun kesukaanku dulu waktu aku masih TK. Aku hampir bisa kembali tidur namun, suara tawa mereka sungguh terdengar sangat jelas, dan aku kembali terjaga semalaman hingga harus menunggu perbincangan mereka usai. Aku mengambil segelas air putih dan terduduk di kursi menghadap ke jendela kamarku, tiba-tiba aku terbayang kembali sosok laki-laki yang selama ini selalu mengusik pikiran secara frontal, tanpa diundang dan tanpa pengaharapan. Odi tiba-tiba muncul dalam ingatanku, kemudian kuraih buku diary di sebelah kanan paling bawah di antara tumpukan buku di atas meja, kutulis semua yang aku rasakan hari ini dan sebelum-sebelumnya.

Dear…. deary — sabtu 23 maret.
Aku melihat tatapan itu seolah tertuju padaku dan aku tau makna tatapanmu itu seperti yang tergambar jelas hari ini dan sebelum-sebelumnya, aku tau dari pelajaran pesikologi yang selama ini aku pelajari. Sebenranya kau tujukan pada siapa tatapan itu?. lalu, kenapa aku harus menjadi korban dari tatapanmu itu, seolah tatapan dan kebetulan itu sudah direncanakan oleh sang Pencipta. Ini pertama kalinya aku mendapati seorang laki-laki yang sulit ditebak seperti kamu. Sedangkan kamu sekarang telah mengkhianati diri sendiri dengan janjimu untuk ta’aruf, tapi mana sedangkan yang kulihat hanya kamu dan wanita itu yang tak lain adalah temanku sendiri, kalian berpacaran dan rupanya hampir setiap hari berboncengan, lalu ke mana dia?, kenapa tadi kamu terlambat tanpa membawa dia bersamamu, apa yang terjadi di antara kalian aku hanya tak mau menjadi seperti ini karena sudah lebih dulu kamu memberiku harapan dengan mendekatiku layaknya seorang laki-laki yang menyukai perempuan. Akhir-akhir ini kamu sering kepergok tanpa dirinya di sampingmu, dan lagi-lagi tatapan dan juga perilakumu itu sungguh rumit kucerna, sebab pikiranku yang bukan-bukan mulai menguasaiku setelah aku tau kau berpacaran dengannya. Apakah aku hanya sebagai pelampiasanmu saja?.

“kamu belum tidur ndok?” tiba-tiba Ibu muncul dari balik pintu. Aku gelagapan dan melempar buku itu ke kolong lemari. Ibu mendekat dengan membawa selimut yang masih terlipat yang ia balut di tangan kirinya dan tangan kanan menopang di bawahnya. Ibu duduk di kasur yang baru saja tadi sore ia ganti spreinya, kemudian ia mengusap-usap begitu pelan menggunakan tangan kanan yang menompang tangan kirinya.

“tangan ibu masih sakit?” tanyaku, sedari tadi pandangan berfokus pada kedua tangan ibu yang nampak masih parah—membengkak.
“tidak ndok!, cuma sedikit ngilu pada siku” jawab ibu sambil menaruh selimut itu diatas bantalku. Aku hanya tersenyum dan Ibu kembali keluar setelah mengecup keningku.

Hari berganti dengan semangat pagi yang begitu membara di dalam dada. Aku kayuh sepeda seirama dengan lagu yang tengah kuperdengarkan kala itu, milik sebuah band di tanah air yang terkenal dengan lagu-lagu motivasi kehidupan sehari-hari yang sangat menyentuh di kehidupan nyataku selama ini dan semua cita-citaku. Setelah aku sampai di depan pintu gerbang dengan peluh keringat yang membasahi kening dan juga hidungku, tampak dari kejauhan ia tengah memandangiku dari sisi jendela di ruang guru, entah kenapa ada saja yang ia lakukan yang membuat aku penasaran dengan tatapan itu. Odi nampak sedih terlihat dari raut wajahnya, yang lesu dan payah. Aku malas melihatnya, bisa-bisa dia mengganggu semangatku hari ini, sampai akhirnya aku putuskan untuk mengacuhkan tatapan itu, dan kembali melangkah menuntun sepeda ke parkiran. Tiba-tiba terlintas bayang-bayangnya di depan mata —sekelabatan— gelagapan aku rupanya dipergoki oleh Odi yang kala itu tiba-tiba berada di hadpaanku, hampir aku menabrak dia yang bisa membuatku malu setengah mati di depan teman-temannya.

“hati-hati makanya kalau jalan!” katanya dengan nada datar. Aku hanya membungkam dengan tatapan tajam, kemudian dia berlalu begitu saja bersama teman-temannya. Heran aku dibuatnya, baru saja aku mendapatinya di ruang guru dengan raut muka yang sangat payah, lalu tiba-tiba aku membayangkan wajahnya dan secara spontan ia langsung berada di hadapanku, ulah apa lagi yang akan dibuat ketua Osis itu padaku. Dan yang aku pikirkan tentangnya ada saja, aneh-aneh dan juga nyleneh. Seperti beberapa hari lalu, waktu itu keponakanku tengah sakit dirawat di rumah sakit, dan di sana aku melihat betapa repotnya kedua kakakku menenangkan anaknya yang menangis kesakitan. Aneh memang, yang kubayangkan kala itu adalah dia dan diriku tengah menenangkan seorang anak yang sedang sakit, dan aku langsung memukul-mukul dahiku agar bayangan itu hilang dari pikiranku. Aku pikir itu menjijikan sungguh bersama dia, sebenarnya apa kelebihannya yang bisa membuatku seperti ini, padahal teman-temanku selalu memuji kelebihanku dalam memilih sosok laki-laki yang menurut mereka dan menurutku sudah mendekati perfect secara fisik, namun sayangnya dalam kepribadian aku masih harus belajar banyak untuk menilai seseorang.

“Anggun..!” tiba-tiba Tika mengejutkanku dan diiringi oleh yang lain. Aku sedikit terkejut, ya hanya sedikit, sebab aku bukan tipikal orang yang frontal atau latah. Lagi pula aku pun sudah tau mereka dari bayang-bayang di belakang.
“waw, aku terkejut” kataku lempeng dengan muka datar. Dan sontak setelah mereka tau respon yang kuberikan, langsung saja aku habis ditoyor sana-sini oleh mereka semua.

Sejak saat itu kisah Anggun dan Odi masih berlanjut dengan sejuta rahasia yang terpendam di antara keduanya. Sebenarnya masih banyak cerita dari mereka yang belum kuceritakan dan kupikir tak akan pernah cukup tinta untuk menjelaskannya kepada kalian semua. Bagaimana sikap Odi yang selalu berubah-ubah kepada Anggun yang tiba-tiba perhatian dan tiba-tiba cuek sangat kepada Anggun yang membuatnya menjauh dari Odi, namun dikala itu saat ia menjauh justru ada saja cara Tuhan menyatukan mereka, di sisi lain Odi merupakan sosok pangeran yang selama ini digadang-gadang oleh Anggun disetiap harapan dan do’anya secara kepribadian, visi-misi mereka dan juga kesamaan yang tengah mereka geluti bersama, saling mesupport satu sama lain. Entah sampai kapan kisah Anggun dan Odi akan berakhir kandas ataupun bahagia hanya Tuhan yang tau. Sebab, akhir-akhir ini Anggun beropsesi untuk mengalahkan kesuksesan dari sang ketua Osis kelak, dan juga sering sekali marah-marah sendiri karena selalu terpikirkan Odi yang bisa membuat konsentrasinya belajar berantakan.

Sekian dari saya.

Cerpen Karangan: Wahyu Serlyana
Facebook: Wahyu Cosm

Cerpen Rahasia Dibalik Tatap merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Aku (Part 1)

Oleh:
Cerita ini tentang persahabatan, persahabatan yang dimulai saat kami masih SMU tepatnya di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur, sebuah kota nan indah yang dibelah oleh sungai Mahakam. Begini ceritanya..

Hanya Permaisuri

Oleh:
Setiap malam gadis itu tetap menjalankan rutinitasnya, rutinitas yang aneh. Telunjuk kanannya mulai melakukan aktivitasnya, menghitung bintang yang bersembulan dari carikan awan kelabu sampai hitungannya berjumlah genap. Hatinya pun

My Soulmate

Oleh:
Hari itu hujan rintik-rintik, aku senang berjalan kaki di saat hujan. Aku ingin minum cappuccino di cafe yang sering ku singgahi. Sampai di depan cafe aku tercengang melihat laki-laki

Sahabat Segalanya

Oleh:
Kini libur panjang telah usai, murid-murid SMP 1 BYB mulai masuk sekolah sekaligus pembagian kelas bagi kelas VIII dan IX. Loli berburu informasi kelas yang ia dapatkan, begitupun murid-murid

I Hate You But…

Oleh:
Kukenal dia ketika masa orientasi siswa atau biasa disingkat MOS. Dia adalah siswa pertama yang bicara kepadaku ketika aku kebingungan mencari barisan kelompokku. “Sini, kamu satu kelompok denganku!” katanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *