Rahasia Jean

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 26 May 2017

“Sudah 6 tahun ya..”
Ia menatap keluar jendela kelasnya, kelas XII IPA 1. Sudah 6 tahun berlalu sejak ia diizinkan untuk bersekolah seperti remaja pada umumnya, tapi tak ada bedanya dengan home schooling saat dia kecil dulu, karena di rumah maupun di sekolah tetap saja ia merasa kesepian.

Namanya Jean, lengkapnya Jeanic Chris Eistenion, seorang remaja laki-laki dengan tinggi 180 cm. Tidak seperti remaja pribumi pada umumnya, kulitnya berwarna putih pucat, berwajah oriental dan rambut lurus. Alisnya yang tebal dengan mata elangnya ikut menambahkan kesan tampan pada dirinya. Ya, sekilas ia memang terlihat sempurna, tapi bukankah Tuhan menciptakan makhluknya dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing?

“Halo, perkenalkan nama saya Olivia Calorine, biasa dipanggil vivi, salam kenal”
Jean tersentak, sejak kapan ada guru di kelasnya, dan siapa gadis itu, siswi barukah? Perawakannya tinggi semampai, kira-kira tingginya 168 cm, kulitnya kuning langsat, dengan wajahnya yang manis. Gadis itu mendekat ke arah Jean setelah diperbolehkan guru untuk duduk. Hanya bangku di sebelah Jean yang kosong.
“hai kenalin.. gue Vivi” Jean hanya menatap tangan Vivi yang mengajaknya berjabat tangan. Vivi yang tangannya tak kunjung disambut hanya bisa menatap bingung kepada Jean.

Semenjak kejadian jabat tangan itu, Vivi mencoba mecari tau tentang teman duduknya itu. Jean, ia tau nama itu dari absen kelas saat guru mengabsen. Laki-laki yang selalu memakai jaket itu orang yang amat tertutup, hanya berdiam diri, memandang ke luar kelas, bicara seperlunya, dan yang paling aneh adalah ia selalu menghindari kontak fisik dengan orang lain, itulah informasi yang didapat Vivi dari pengawasannya.
Pernah sekali kejadian saat ia mendapati Jean tidak memakai jaketnya. Ketika ia hendak mencolek Jean untuk bertanya tentang pelajaran yang tidak ia mengerti, reaksi Jean sangat berlebihan. Ia menepis tangan Vivi dengan buku tulis kemudian menatap Vivi dengan tatapan tajam mata elangnya. Vivi amat terkejut, ia tidak menyangka kalau reaksi Jean akan seperti itu.
Semakin lama, rasa penasaran Vivi pada Jean semkin besar, meskipun sifat Jean semakin dingin padanya. Vivi semakin sering menempel pada Jean meski Jean terang-terangan menolak kehadirannya. Vivi tidak menghiraukan perhatian teman laki-lakinya yang lain, dia hanya terfokus pada pesona Jean.

“Jean!!!”
Jean melirik Vivi dengan ekor matanya. Tidak bosan kah Vivi menempel padanya terus? Padahal sudah terang-terangan ia menolak kehadiran seseorang dalam hidupnya. Ia takut ditinggalkan gadis itu setelah tau tentang dirinya. Meski ia sudah terjatuh pada pesona gadis manis itu.
“Jean!!!! Jalannya cepet bener sih”
“…”
“Jeannnnnn lo bisu yaa?” Vivi mengutarakan kekesalannya, sejak pertama bertemu sampai sekarang Jean tidak pernah menanggapi dirinya
“Lo bisa diem gak sih?! Ga punya kerjaan ya gangguin orang terus” akhirnya Jean bersuara dengan nada tinggi. Vivi amat terkejut dengan kata-kata Jean. Apakah ia mengusik Jean? Apakah Jean benar-benar tidak menerima kehadirannya?
“ma-maaf gu-gue gak ma-maksud ganggu elo” Vivi berjalan mundur, matanya berkaca-kaca.
“Tidak Seperti itu” perasaan bersalah kembali bersarang pada hati Jean, ia berusaha mencegah Vivi pergi
“gue tau.. gue cuma pengganggu di hidup lo” air mata sudah mulai mengaburkan pandangan Vivi
“gue ga bisa bareng sama lo”
“…” Vivi tidak menjawab,
“gue.. gue menderita hemophilia..” rahang Jean mengeras. Ini pertama kalinya ia dihadapkan pada situasi seperti ini. Dimana ia mengakui penyakitnya. Ya, penyakit Hemofilia. Penyakit kelainan genetik pada darah yang menyebabkan darah sukar membeku. Jika sedang luka dan terlambat diberi obat khusus, maka pendarahan akan terjadi, sehingga bisa menyebabkan kematian. Penyakit yang tidak terlihat karena fisik penderita tidak ada bedanya dengan orang normal, tetapi sangat berbahaya dan mematikan.
“hemo…filia?” Vivi memberanikan diri menatap mata elang Jean. Tidak ada kebohongan di sana. Syok? Tentu saja. Semua terjawab sudah. Jadi ini rahasia Jean, jani inilah alasan Jean kenapa harus memakai jaket ke sekolah dan anti kontak fisik dengan teman-teman meski banyak perempuan yang mengidolakannya. Ini adalah fakta, fakta yang mengerikan.
“Bagaimana mungkin…” Vivi menutup mulutnya masih syok. Tanpa sadar kakinya membawanya pergi menjauhi Jean.
Jean menatap punggung Vivi yang semakin jauh. ‘Perasaan apa ini? Kenapa rasanya sesak sekali?. Apakah ini sebuah jawaban? Kalau ternyata Vivi tidak ada bedanya dengan perempuan lain yang hanya menyukai fisiknya saja. Harusnya ia tahu diri, dan tidak terbawa perasaan hingga terlena pada Vivi dan berakhir menyedihkan’. Pikiran Jean menyalahkan dirinya
‘Tapi bukankah ini gara-gara penyakitnya? penyakit sialan ini. Kenapa penyakit ini harus bersarang padanya? Hidup memang tidak adil.’ Batinnya yang lain berteriak menyalahkan penyakitnya

Semenjak kejadian itu, Vivi tidak lagi menempel pada Jean, dan Jean juga sudah membangun tembok es nya lagi. Meski begitu, tetap saja hati Jean terasa sakit. Ia menyesali semuanya, benar-benar menyesal.
Jean menatap pantulan dirinya di cermin. Tampan, ia memang tampan, pantas saja banyak perempuan lain tergila-gila padanya. Tapi penyakit ini…
“ARGHHH” Tangan Jean mengepal ke arah cermin. Dan,
Pyang.

“Bagaimana ini bisa terjadi?!” Seorang lelaki paruh baya menatap khawatir pada istrinya, mata sang istri terlihat sembab karena menangis sejak tadi.
“saat aku sampai di rumah, aku sudah menemukannya tersungkur di lantai. Tangannya mengeluarkan banyak darah hiks dan pecahan cermin ada di mana-mana” wanita paruh baya, Mama Jean menangisi anak semata wayangnya yang terbaring lemah di ruang ICU. Pintunya masih tertutup, dokter belum keluar sejak 1 jam yang lalu.
“sudahlah, kita berdoa saja untuk Jean” Papa Jean menatap sendu lantai rumah sakit.

Vivi berlari di koridor rumah sakit. Ini salahnya, ia yang membuat Jean dirawat di rumah sakit. Harusnya ia berani menyapa Jean, bukannya malu karena sudah pergi setelah mengetahui penyakit Jean.
Di depan ruang ICU ia melihat mama dan papa Jean. Mama Jean masih sesenggukan. Papa Jeanlah yang pertama kali mengetahui kehadirannya.
“sa-saya Olivia, saya… saya teman Jean” Vivi langsung memperkenalkan dirinya. Mama Jean menatap Vivi, matanya berubah tajam begitu tahu nama Vivi.
“Jadi KAMU?! JADI KAMU YANG NAMANYA OLIVIA? GARA-GARA KAMU ANAK SAYA JADI BEGINI! KALO MEMANG TIDAK CINTA BUAT APA KAMU MENDEKATI JEAN? DAN MENINGGALKANNYA SETELAH TAU PENYAKITNYA? HAH LUCU SEKALI” kelihatannya, sambutan dari Mama Jean amat tidak baik.
“sudah ma, ini rumah sakit, jangan teriak-teriak” Papa Jean kembali menenangkan istrinya.
“BIARKAN SAJA! BIAR SEMUA TAU KALO DIA PENYEBAB JEAN SEPERTI INI” Mama Jean menuding Vivi dengan jari telunjuknya. Vivi masih mematung mendengar kata-kata Mama Jean.
“MAMA!” kali ini Papa Jean ikut berteriak
“awas saja kalau terjadi apa-apa dengan Jean” Mama Jean akhirnya mengalah.
“maaf.. nak Oliv sebaiknya pergi dulu, kembalilah saat keadaan sudah mereda” seulas senyum getir terpampang di bibir Papa Jean

Jean perlahan membuka matanya. Cat ruangan yang serba putih dan infus yang tertancap di tangannya menandakan ia berakhir di rumah sakit lagi. Selemah itukah dirinya?
Cklek, pintu kamar Jean terbuka, menampilkan seorang perempuan berparas manis.
“Je-Jean?!” pekik perempuan itu, sedetik kemudian ia langsung berlari ke arah Jean.
Sudah sebulan Jean koma, dan selama sebulan itu, mama jean sudah mulai pasrah pada keadaan dan meski sedikit terpaksa ia sudah memaafkan serta mulai menerima kehadiran Vivi. Vivi sudah menjelaskan semuanya, termasuk perasaannya pada Jean ke Mama Jean.
“Jean…” Vivi menggenggam tangan Jean. Ketika Jean hendak menepisnya, Vivi mengeratkan pegangannya. Kemudian Vivi mulai menjelaskan keadaannya waktu itu hingga konflik dengan Mama Jean pada Jean. Jean hanya mendengarkan tanpa menanggapi. Rahang Jean yang tadinya mengeras sekarang tidak mengeras lagi setelah mendengar sebuah pengakuan perasaan dari Vivi. Senyum tipis terukir di wajahnya. Tembok esnya mencair lagi di bawah hangatnya cinta.
“Gue… juga sayang elo, makasih udah menerima gue dan penyakit gue”.

Tamat

Cerpen Karangan: Dhian Prajayanti
Facebook: Yuukki Chan
Ni Luh Dhian Prajayanti Kusuma
XII IPA 1
32

Cerpen Rahasia Jean merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenangan Hidup

Oleh:
Tangan yang biasa menggenggam erat tanganku serasa masih hinggap dan siap untuk memelukku , kata kata lembutmu masih terdengar oleh telingaku , bahkan wajah amarahmu katakata itu yang membuat

Amazing Butterfly (When The Caterpillar Fly 2)

Oleh:
“Kenapa aku baru menyadari kalau kupu-kupu itu indah?” –Ari “Reina…” Nama itu langsung terlontar dari mulutku saat aku melihatnya berdiri dengan jarak kurang dari satu meter. Kepalanya berputar cepat

Stay With Me

Oleh:
Di suatu sore, terlihat seorang gadis duduk sendirian di sebuah kafe dengan ditemani secangkir kopi hangat sambil menatap orang-orang yang berlalu-lalang di depan kafe tersebut. Sambil menyeruput kopinya, gadis

Cerita Bintang

Oleh:
Aku menyesal telah berkata semua yang sudah berlalu tidak bisa kita ulangi kembali, padanya.. Sebagaimana kebiasaannya yang sangat menyukai pemandangan langit, kali ini aku tidak menyangka bahwa saat ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *