Rahman Hadiah dari Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Daerah, Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 15 December 2018

“Aminah, cepat kemari, dan bawakan Inak penyelut1 di dalam keranjang” teriak wanita di balik ruangan bersekat satu ruangan dari tempatnya.
“Nggih Inak(2)… balas seorang gadis yang sedang termenung di pinggiran jendela dapur.
“Niki(1) inak…” Ujarnya seraya mengulurkan tatakan gelas bermotif bunga biru diatasnya.
“Aminah, duduklah engkau dahulu”, ajak ibunya dengan menepuk sofa di sampingnya sebagai petunjuk agar Aminah duduk di sampingnya.
“Dia cantik, dan aku dengar kepribadiannya juga cukup baik, aku menyukainya”. Lelaki paruh baya di seberang meja pun membuka percakapan. Seketika darah Aminah terasa meledak mencapai ubun-ubun, bibirnya bergetar hebat, tubuhnya kikuk, keringat dingin terasa membanjiri pelipisnya. Bagaimana bisa? Ada apa ini? Apa maksudnya ini?, pertanyaan-pertanyaan itu terus mengiang di kepalanya. “Pak..” Aminah berani angkat bicara, namun belum selesai ia bicara, ibunya segera menggenggam tangan Aminah dan menatapnya dengan tatapan lembut, tatapan yang untuk pertama kalinya dibenci Aminah, tatapan yang ia tak inginkan dari ibunya, tatapan yang membuatnya merasa menjadi gadis paling menyedihkan di dunia ini.
“Benarkah pak?, saya merasa terhormat, anda bisa mengenal dengan baik putri saya”, balas ibu Aminah dengan senyum yang justru membuat hati Aminah tersayat-sayat, mengapa ibunya bisa tersenyum begitu indah kepada lelaki yang harusnya menjadi ayahnya, namun ia justru menyukai Aminah karena ia cantik? Hah, suka macam apa itu, gerutu Aminah dalam hati.

“Inak, apa sebenarnya yang terjadi? Mungkinkah lelaki tadi ingin meminangku? Katakan dan jelaskan kenapa engkau tampak begitu tenang, apakah itu berarti kau merestuinya? Apa yang engkau fikirkan sehingga membiarkan anak gadismu bersama lelaki yang patutnya menjadi ayahku, inak? Maafkan aku Inak, untuk pertama kalinya aku begitu tak suka dengan jalan fikirmu. Pernyataan itu ingin segera Aminah luapkan pada ibunya, namun tanpa ia sadari justru air matanya lebih dahulu meluap dengan bibir gemetar menahan amarah dan luka.
“Tenanglah anakku, ibu mengerti apa yang kau fikirkan sekarang tentang Inakmu ini, tapi asal kau tahu, inilah jalan terbaik untuk kebahagiaanmu”, ibunyapun angkat bicara, tetapi justru hanya menambah luka di batin Aminah.

Sang surya baru saja beranjak dari pangkuan malam, sedangkan pagi masih betah berselimut terlepas dari guyuran hujan semalaman suntuk, menyisakan genangan air beraroma lumpur khas yang membuyarkan Aminah dari lelapan paginya.
Ingatan tentang lamaran kemarin menjadi sarapan untuk Aminah. Bukan tanpa alasan Aminah begitu menentang kemungkinan lamaran itu, bukan hanya sekedar rupa dan usia, ada hal lebih mendasar yang menjadi tiang penyangga yang mengokohkan pertahanan Aminah, yaitu Cintanya kepada Rahman.. Lelaki yang baru dua minggu dikenal Aminah saat pengajian, lelaki yang mengingatkan Aminah bahwa mencintai tak harus langsung memiliki, namun hanya perlu bermunajat kepada Allah dan memintaNYA untuk membawa cinta itu bersama ikatan sebagai pasangan seperti yang ada dalam agama.

Karena memiliki yang sesungguhnya adalah kita yakin bahwa apa yang kita inginkan, apa yang kita idamkan adalah benar-benar akan menjadi milik kita, tak peduli mau menjadi apa, atau apakah ia berlaku sama. Karena dasarnya cinta akan tumbuh seiring waktu, tergantung dari bagaimana kita bertahan menanamnya.

Sore itu seperti biasa Aminah akan pergi menghadiri pengajian di Masjid.
“Assalamualaikum, Aminah?”, seketika jantung Aminah seperti berhenti berdetak, suara itu tak asing lagi di telinganya.
“Ehh iya Rahman, waalaikumsalam”, jawab Aminah seraya menundukkan kepala. Karena meskipun mereka sering bertegur sapa, tak pernah sekalipun mereka berani menatap mata agak lama, hanya dari suaranya saja, Rahman sudah berhasil mengambil hati Aminah.
“Hmmm, begini Aminah, sekedar pamit saja, mulai besok saya beserta keluarga akan pindah lagi ke tempat lain, mengingat pekerjaan Abah kurang mendukung di sini, jadinya harus beralih tempat lagi, mungkin ke luar kota”. Seketika fikiran Aminah terbang entah kemana. Apa ini? Kenapa waktunya harus sekarang? Apa Rahman sudah tau? Ah tidak mungkin, tetapi aku bukanlah apa-apa bagi Rahman, mengapa aku begitu khawatir?
“oh iya Rahman, semoga usaha Abahmu berjalan dengan baik di tempat lain” jawab Aminah dengan sedikit tersendak menahan air mata.
“Baiklah Aminah, semoga kau bisa hidup dengan baik, tetaplah menjadi wanita yang istiqomah, dan tetaplah menjaga keindahan yang ada pada dirimu, jangan biarkan sesuatu datang dan mengusik hidupmu, keberkahan selalu menyertaimu Aminah, aku harus pergi, Assalamualaikum”, seketika benteng pertahanan Aminah hancur, air matanya tumpah, bahkan untuk menjawab salam ataupun mengucapkan selamat tinggal ia sudah tak sanggup, hanya suara kaki Rahman yang ia dengar semakin menjauh meninggalkan tempatnya.
Selamat tinggal Rahman, mungkin Allah punya rencana lain di balik kepergianmu. Bisik Aminah dalam hati.

Seminggu berlalu sejak kepergian Rahman, Aminah tetap menjalankan kewajibannya menjadi seorang Pendidik Agama Islam di SMP Bina Husada, Kota Praya. Meskipun hati dan fikirannya berlabu tak tau arah, namun ia harus tetap tampak istimewa di depan murid-muridnya, harus tetap tertawa, memberikan perlindungan dan semangat untuk muridnya, meskipun sebenarnya ia sedang mengemban masalah yang lebih besar dapi apa yang ia bayangkan.

Jam sekolah sudah berakhir, langkah kaki Aminah entah mengapa dirasa semakin gusar, perasaannya tidak enak, seperti ada yang mengganjal dan menuntunnya untuk segera tiba di rumah.
“Assalamualaikum..”, sapa Aminah pada kerumunan orang di halaman rumahnya. Aminah sempat menebak sesuatu yang buruk telah terjadi, mengingat tak biasanya rumahnya didatangi sanak-saudara seperti itu, namun melihat ekspresi mereka yang berbahagia, Aminah membuang jauh-jauh hipotesanya itu, dan segera masuk rumah mencari ibunya.

“Inak, kenapa ramai sekali di sini?” tanya Aminah langsung ketika mendapati ibunya dengan kebaya berwarna peach bertabur manik-manik yang sangat manis di tangannya.
“Aminah, akhirnya kau sudah pulang, kemarila !”
“Cobalah kebaya ini, Inak yakin pasti akan sangat cocok denganmu”. Balas ibunya seraya menyodorkan kebaya di tangannya.
“Inak, apakah waktunya akan segera tiba?”, tanya Aminah balik dengan ekspresi yang berubah seketika.
“Anakku, Inak yakin kamu pasti bisa menerimanya dengan baik, Inak tidak mungkin membuat keputusan salah terhadapmu, untuk pertama kalinya, Inak berharap kamu tidak mengecewakan Inak, terutama calon suamimu”. Jawab Ibunya dengan menatap lekat putri semata wayangnya, berharap agar Aminah bisa menerima pernikahan ini dan tak mengecewakan Ibunya. Baiklah Inak, jika itu yang engkau inginkan dariku, aku akan melakukannya, namun engkau salah jika mengatakan ini adalah keputusan yang benar, Aku akan tampil bahagia di depanmu dan suamiku, tapi tidak di dalam hatiku.

Lelaki berpakaian rapi dengan setelan cream, ditambah sapuk(3) yang terikat di kepalanya datang menghampiri Aminah bersama senyum yang justru membuat hati Aminah menjadi geli. “Subhanallah, sungguh luar biasa dirimu Aminah, semoga pernikahan ini menjadi kebahagiaan bagimu”, ujar lelaki paruh baya yang sangat diingat Aminah, sebagai lelaki yang melamarnya beberapa waktu yang lalu. Apa dia memikirkan kebahagiaanku? Lelaki macam apa dia sebenarnya, bagaimana ia bisa mengharapkan kebahagiaan untukku, sedangkan batinku begitu terluka. Gumam Aminah dalam hati dengan nada mencibir.

“Assalamualaikum Pak Yusuf, mana menantuku? Kenapa belum datang juga?”. Teriak wanita dengan setelan kebaya kartini dan jilbab yang dibuat agak bertumpuk, menambah kesan keibuannya.
“Waalaikumsalam Ibu Nuraini, saya sangat senang mendengar jika kau menanyakan keberadaan putraku”, jawab lelaki itu dengan senyum semerbah yang justru membuat pertanyaan besar di kepala Aminah.

Menantu, Putra, Apa ini?, mengapa ibu bertanya seolah-olah calon suamiku tidak ada disini, bukankah jelas-jelas lelaki itu yang akan meminangku?, tapi mengapa ibu justru mempertanyakan orang lain, mungkinkah ini hanya gurauan mereka agar membuatku tak khawatir, mungkin saja, tapi aku berharap tidak. Pertanyaan itu semakin bergerutu di kepala Aminah. Setidaknya ada sedikit celah untuknya bernafas, setidaknya ada harapan lelaki itu bukanlah calon suaminya, melainkan orang lain, entah siapapun itu, Aminah hanya berharap dia adalah orang yang baik, dan pantas dipanggil Suami.

“Mempelai laki-laki sudah tiba” seru seseorang di teras rumah dengan nada sedikit ditinggikan.
Suara alunan Marawis memenuhi sudut rumah, pertanda mempelai laki-laki sudah tiba, membawa mahar yang telah disepakati berupa Al-Qur’an dan perlengkapan sholat.

Jika beberapa waktu yang lalu Aminah bisa sedikit bernafas lega, kali ini nafasnya makin sesak, jantungnya bergetar hebat, bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya, ketika melihat lelaki dengan kemeja putih dan peci hitamnya, bersama senyum yang untuk pertama kalinya di lihat Aminah, mata, hidung, bibir dan mata yang begitu indah, serta suara yang sangat Aminah kenali meskipun tak pernah ia pandangi wajah lelaki itu, hanya melihat langkahnya saja, Aminah bisa langsung mengenalinya, Rahman. Ucap Aminah lirih dengan air mata yang tak bisa ia bendung lagi, ditambah tangis haru Ibunya yang membuat hati Aminah begitu bahagia. Terimakasih Inak, engkau tetap menjadi sesuatu yang teramat berharga bagiku, terimakasih telah membawakan cinta untukku, dan telah menjaga kehormatanku bersama Rahman. Senyummu tetap indah, jalan pikirmu tetap benar, dan keputusanmu tidak pernah salah, inilah apa yang orang lain sebut dengan cinta. Terimakasih ibu, telah membawa cinta untuk Aminah…

1. Tatakan gelas
2. Panggilan ibu di pulau Lombok
3. Ikat kepala untuk laki-laki ketika upacara adat di pulau lombok

Cerpen Karangan: Baiq Fintha Luhpianida Handini
Facebook: Aluh
Halo, namaku Aluh. Aku tinggal di Lombok, NTB. Menulis itu bukan hobi, tapi kebutuhan.

Cerpen Rahman Hadiah dari Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pemimpi

Oleh:
Aku pernah bermimpi menjadi sorang raja, semua yang ku inginkan akan terkabulkan tapi setelah ku lihat raja-raja yang ada di indonesia ini, tidak ada satu pun yang bisa aku

Bidadari dalam Ketidakpastianku

Oleh:
Namanya ziezie. Usianya memang terpaut jauh dibawahku. Gadis belia berambut ikal yang memesona. Aku menyayanginya, ya! Ketika peliknya masalah tengah membelenggu kehidupanku. Dia satu-satunya yang mampu mengukirkan canda tawa

Gantung

Oleh:
Malam yang ramai, ratusan orang memadati sebuah SMAN favorit di Kabupaten Temanggung. Mulai dari gerbang, lapangan, hingga kelas-kelas semuanya dipadati dengan kehadiran orang-orang, meskipun hujan tetapi tetap tidak menyurutkan

Potret Hitam (Part 1)

Oleh:
Di ujung jalan aku melihat seorang anak kecil yang sedang membawa sekeranjang kue dengan wajah berbahagia. Entah apa alasannya yang pasti banyak alasan yang bisa melukiskan senyum manis anak

Pilihan

Oleh:
“Gila banget nih artikel!,” gumam Bram saat ia melihat majalah di sofa studio bersama Billy. “Udah biasa lah kayak begitu. Gosip!,” lanjut Riska tegas. “Sorry gue telat! Tadi, ban

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *