Randa Tapak (Dandelion)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 19 May 2016

Seperti dandelion, wanita itu rapuh. Seperti dandelion, wanita ingin diperhatikan. Seperti dandelion, wanita ingin dilindungi. Seperti dandelion yang tertiup angin, terombang ambing tak tentu arah. Fina. Gadis jelita penyuka bunga ini tak percaya adanya cinta sejati. Yang ia tahu, saat si perempuan terpuruk, ‘yang mengaku’ sebagai kekasihnya akan meninggalkannya. Menurutnya gadgetnya lebih setia daripada laki-laki di luar sana. Hingga seorang pria bernama Randy datang dan menghapus pendapatnya tentang cinta sejati.

“Kamu lagi ngapain?” Tanya Randy yang melihat Fina tengah sibuk dengan gadgetnya.
“Ah, ini, aku lagi buat artikel tentang filosofi dandelion,” Jawab Fina sedikit kaget
“Dandelion? Kamu suka bunga dandelion? Itu kan bunga liar,”
“Memangnya kenapa kalau itu bunga liar? Mereka terlihat cantik. Dan rencananya aku mau mengumpulkan beberapa bunga dandelion yang ada di pinggir jalan sana untuk ku bawa pulang,”
“Bawa pulang? Jangan bercanda. Dandelion itu kan rapuh. Tertiup angin aja udah rusak. Gimana mau bawanya?”
Fina mengeluarkan sebuah benda yang terbuat dari kaca dari dalam tasnya.
“Lihat. Aku udah bawa toples untuk menaruhnya. Jadi bunganya gak akan rusak,”
“Ada ada saja kau ini,”

Ketika angin bertiup, beberapa kelopak bunga mulai berterbangan tak tentu arah. Menghipnotis siapa pun yang melihat pemandangan indah tersebut. Tak terkecuali Fina yang sedang berusaha keras memetik bunga dandelion tanpa merusaknya. Sudah lebih dari 5 kali dia mencobanya, tapi selalu gagal.

“Hahaha.. Gimana? udah banyak dandelion yang mau dibawa pulang?” Ejek Randy yang tiba tiba datang entah dari mana.
“Hei! kalau kamu gak mau bantu aku, seenggaknya menggangguku,” Fina berusaha untuk tetap konsentrasi memetik bunga itu. “Sudahlah, kamu gak akan bisa memetik dandeli..”
“Yeah! Berhasil! Akhirnya aku bisa memetiknya tanpa merusaknya,”
“Baru satu aja udah bangga. Aku bisa metik lebih banyak dari ka..”
“Buktikan!”
“Oke. Tapi kalau aku bisa, kamu harus jadi pelayanku selama seminggu,”
“Ya ya ya.. Buktikan!”

Randy paling tidak suka diremehkan, apalagi oleh seorang perempuan. Antara yakin dan tidak yakin, Randy berusaha melakukannya. Namun, baru selangkah ia maju, kakinya tersandung dan ia jatuh di tempat dandelion-dandelion itu berada. Hingga membuat dandelion-dandelion itu rusak, termasuk yang dandelion yang susah payah Fina petik.

“Dandelionku..” Fina sedih melihat dandelionnya yang telah rusak.
“Uhm.. Maaf, aku gak sengaja,”
“Aku gak mau tahu. Karena kamu udah ngerusak semua dandelion di sini, kamu harus nerima hukuman,”
“Hukuman? Hukuman apa? Ini kan cuma bunga liar. Masa aku harus dapet hukuman,”
“Kamu harus kumpulin bunga dandelion dan kasih ke aku setiap hari sabtu. Titik,”
“What? Kamu bercanda? Aku harus ngambilin bunga dandelion ini di pinggir jalan sendirian?”
Fina tidak menggubrisnya. Dia langsung pergi dengan kesal.

Randy terus meratapi nasibnya yang harus jongkok di pinggir jalan dan memetik dandelion setiap hari sabtu. Bila tidak dituruti, Fina akan mengadukannya pada orangtuanya. Dia tidak ingin orangtuanya datang dan menjemputnya. “Ah.. Yang benar saja.. Haruskah aku..?”

‘And at last I see the light
And it’s like the fog has lifted
And at last I see the light
And it’s like the sky is new’

“Hallo. Dengan Randy di sini,”
“Maaf, mas. Saya dari kepolisian. Saya ingin memberitahu bahwa saudari Fina mengalami kecelakaan. Dan sekarang ia dirawat di rumah sakit Bakti Husada. Saya minta tolong kepada anda untuk memberitahukan kepada keluarganya,”
“Fi-Fina? Uhm.. Terima kasih, pak atas kabarnya.” Randy langsung berlari ke motornya dan langsung tancap gas menuju rumah sakit.

Randy tak kuasa menahan tangis ketika melihat orang yang disayang terkulai lemah dengan beberapa alat dokter di tubuhnya.

“Fina.. Maafkan aku,”
“Permisi, Mas. Apa Anda saudara keluarga saudari Fina?” Tanya seorang dokter.
“Saya teman kuliahnya, dok,” Jawab Randy sambil menyeka air matanya.
“Saudari Fina mengalami luka yang cukup serius sehingga harus mendapatkan perawatan intensif. Kini saudari Fina sedang mengalami koma. Saya hanya bisa berdoa semoga Tuhan memberi kekuatan pada saudari Fina agar dapat kembali sadar.”

“Koma, dok?” Air mata Randy tak dapat dibendung lagi. Ia menangis sejadi-jadinya tanpa mempedulikan keadaan di sekitar.
“Sabar ya, Mas. Fina pasti bisa sembuh. Saya harus pergi. Jika ada perkembangan sedikit apa pun, cepat hubungi saya,” Randy tidak menghiraukan perkataan dokter tersebut. Dia langsung masuk ke ruang tempat Fina dirawat.
“Fina.. Sadarlah..Aku mohon.”

Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di satu detik mendatang. Kita juga tak bisa menyesal dan berharap bisa memutar balikan waktu. Setelah kejadian itu, setiap hari sabtu Randy membolos untuk memetik bunga dandelion untuk diberikan kepada Fina yang masih koma di rumah sakit. Satu bulan sudah berlalu. Kini, kamar Fina penuh dengan bunga dandelion lengkap dengan toplesnya pemberian Randy.

“Fin.. Aku bawain bunga dandelion lagi nih untuk kamu. Kamu cepet sadar ya. Supaya aku bisa ceritain semua pengalamanku saat memetik bunga liar ini. Mulai dari tersiram air di jalan, dimarahin satpam, sampai hampir tertabrak truk. Untung aku hebat, jadi bisa menghindar. Hehe,” Randy selalu bercerita banyak hal pada Fina. Walau dia tahu Fina tak akan menyahut walau hanya satu kata. Randy menggenggam erat tangan Fina dan menciuminya.
“Kamu cepet sadar dong. Aku gak bisa kayak gini terus. Aku.. Aku sayang sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu.”

“Bener kamu sayang sama aku?”
“Fina? Kamu udah sadar?”
“Fina sudah sadar dari tadi malam. Dia terus nyariin kamu,” Ucap Ibu Fina yang tiba-tiba datang.
“Kok gak ada yang ngabarin aku?”
“Aku yang nyuruh.. Cepet jawab. Kamu bener sayang sama aku? karena aku.. Aku juga sayang sama kamu.”
“Iya, aku sayang sama kamu. Sayang banget..”
Randy memeluk Fina tanpa merasa malu pada orangtuanya. Yah, memang orangtuanya sudah tahu tentang kedekatan mereka.

“Mau kita kasih nama apa anak kita ini?” Tanya Fina pada Randy.
“Bagaimana kalau dandelion. Supaya dia bisa bikin Mamanya senang,”
“Kamu ini.. Tapi oke juga,”
“Pagi Dandelion. Kalau udah besar, jangan nakal ya kayak Mama kamu.” Fina mencubit Randy karena ucapannya.

The End

Cerpen Karangan: Dwi Wulandari
Blog: dwiwulandari369.blogspot.com

Cerpen Randa Tapak (Dandelion) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sang Mujahid Jatuh Cinta

Oleh:
Ponselku berdering tanda panggilan masuk, Andi incoming call tertera dilayar LCD ponselku. Ternyata sepupuku yang satu itu rupanya! Ku angkat, “Assalmu’alaikum Ndi?” “Wa’alaikumussalam mbak! Piye kabare mbak Rahma?” suara

Cinta Kita

Oleh:
Seorang gadis SMA berlari dengan Teresa-mesa. Rambut yang dibiarkannya tergerai sudah terlihat berantakan. Namanya Diandra Mutiazayfa. Gadis cantik berkulit putih yang disukai oleh banyak pria. Brukk!! Diandra menabrak seorang

Gaul (Part 2)

Oleh:
“Loh Mas Aris sudah ke luar ya?” Sapa pria itu kepada Aris. Namanya Pak Maman yang tentunya sesuai dengan nama yang tertulis di spanduk rumahnya. Sedikit terkejut dengan sapaan

Menolak Rasa (Part 2)

Oleh:
Sudah hampir empat tahun aku tinggal di kota metropolitan ini. Banyak yang berubah dari diriku. Setelah tinggal di lingkungan yang baru, aku merasa lebih hidup. Teman-teman kuliah yang tak

Pertemuan Singkat

Oleh:
Seorang gadis yang mengaharapkan kebahagian dan kebebasan seperti gadis-gadis yang lain. Renzy.. itu nama sang gadis yang rindu akan kebebasan seperti gadis yang lain, dia sering di panggil zyzy..

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *