Randa Tapak Mejikuhibiniu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 18 November 2015

Suara siulan burung menemani keheningan di dinginnya kebutaan pagi pada hari ini, Tiwi seorang gadis duduk di depan cermin memandangi wajahnya. Tiwi percaya bahwa ia hidup dalam kesempurnaan, tetapi tidak dengan saat ini. Ia seperti ditakuti bayang-bayang kelam, diteror ditembus oleh peluru di lorong dadanya, ia angat kecewa, meringis dan sangat bersedih. Apa itu cinta?
“Tiwi, kamu kenapa?” tanya Rin.
Tiwi hanya menatap tanpa ekspresi ia menjawab seraya pergi berlalu meninggalkan Rin sendirian, “tidak, aku tidak apa-apa,” gumamnya.

Matahari seolah lelah menemani hari ini, ia menyuruh bulan untuk menggantikannya untuk menemani hari yang mulai gelap. Malam kian pekat Tiwi hanya mengurung diri di kamar. Ia sudah tahu bahwa pria yang ia sebut Ayah itu memakai topeng. Ia bukanlah Ayah Tiwi, tapi sahabat Ibunya, “Kemanakah Ayahku? Apa yang terjadi dengan semua ini, kasih sayang yang ia berikan itu palsu,” seribu satu pertanyaan muncul di lubuk hatinya, hanya secarik kertas yang menari-nari membentuk goresan-goresan hitam kelabu yang menemani Tiwi.

“Tiwi, buka pintunya sayang, Ibu ingin berbicara,” Suara Ibu sambil mengetuk pintu kamar.
Saat Tiwi mendengar suara Ibu, Tiwi langsung bangun dari peraduannya. Ia memejamkan mata yang bulat itu seraya menutup telinganya.
“Tiwi, kamu di dalam kan? Buka pintunya sayang.” Sahut Ibu lagi.
Ayah Tiwi datang menghampiri Ibu Tiwi, ia kebingungan melihat istrinya.
“Ada apa ini bu?” Tanyanya.
“Tiwi, tak mau membukan pintu kamar,” Jawab Ibu.

Ayah dan Ibu Tiwi seperti gayung bersambut saling memangggil Tiwi yang hanya diam membisu di balik pintu kamarnya itu, setelah pintu terbuka. Ibu Tiwi begitu lemas melihat anaknya tertidur di atas lantai tak berdaya. Tanpa pikir panjang mereka langsung membawa Tiwi ke Rumah sakit.
“Mungkin jika aku pergi ke dimensi dunia yang lain, aku akan menemukan sosok Ayahku yang asli, yang tanpa topeng, mungkin aku harus pergi bersama cahaya putih bersayap itu,” Ucapku di lorong syarf-syaraf kecil otak Tiwi.
Matahari seolah membuat warna menjadi kemerahan. Tiwi bangkit dari detik yang menghitung lamanya ia terlelap dengan pikiran hampa.

“Kamu sudah bangun sayang? Ibu dan Ayah sangat mengkhawatirkanmu. Kami senang engkau sadar sayang, apa yang membuatmu seperti ini sayang?”
“Ayah dan Ibu tak usah berpura-pura, Ayah hanya memakai topeng. Aku membenci Ayah, Ayah hanya berpura-pura menjadi Ayahku. Cinta dan kasih sayang itu palsu,” jawab Tiwi seraya menangis.
“Tiwi, Ayah adalah Ayahmu, pria yang selalu ada untukmu. Ayah telah menjagamu sejak engkau dalam janin Ibumu. Meskipun darah Ayah tak mengalir dalam tubuhmu tapi Ayah mencintaimu,” ucapnya mempercayai gadis itu.

“Benarkah Ayah? Apa Ayah bersungguh-sungguh mencintaiku?” sambut Tiwi.
“Tentu saja sayang, aku menyanyangimu tanpa syarat. Aku mencintaimu sayang,”
“Maafkan Tiwi, Tiwi telah memandang buruk Ayah, Tiwi menyesal. Bolehkah Tiwi memeluk Ayah?” tanya Tiwi.
“Tentu saja sayang,” seraya memeluk Tiwi.
“Mungkin satu pertanyaanku tentang cinta, tak terjawab pasti tapi satu hal yang ku pahami, Cinta dapat membawa kebahagiaan dan kesedihan, keegoisan kitalah yang membuat cinta menjadi sedih. Cinta diciptakan untuk membawa kebahagiaan. Bahagia bukan berarti tak pernah sedih tetapi bagaimana bisa menerima kisah sedih dengan ikhlas dan tak banyak menuntut.

Mungkin putih bukanlaah warna, tetapi putih adalah bunga Randa tapak yang sangat sederhana, putih juga suci seperti Ayah Tiwi. Randa tapak mungkin cuma memiliki satu warna yang hidup di tengah semak belukar. Tetapi tidak dengan randa tapak di rumah Tiwi, ia mempunyai delapan warna yang sering Tiwi sebut Randa tapak Mejikuhibiniu. Karena menurut Tiwi sangatlah istimewa dibandingkan pelangi yang hanya diciptakan oleh sang maha pencipta tujuh warna.
“Kasih sayangku sesederhana bunga bertopi putih, berbatang kecil dan mudah tertiup angin. Aku rapuh, tapi aku sangat kuat untuk mencintaimu, wahai bunga Randa tapak Mejikuhibiniu,” ucap Tiwi.

Cerpen Karangan: Ully Aryani

Cerpen Randa Tapak Mejikuhibiniu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Harus Memilih

Oleh:
Selamanya selagi nafas masih dikandung badan kita akan terus dihadapkan pada suatu keadaan dimana kita harus memilih. Seperti ketika aku lebih memilih untuk menikah dengan Heru yang hanya pegawai

Berkorban Demi Kakak

Oleh:
Dialah Silva, anak yang setelah lahir lalu tunanetra. Dia hanya tinggal bersama Kak Salva (kakaknya) dan Bi Eci (pembantunya). Sebenarnya ada ayahnya, tapi dia tak sering ke rumah karena

Hati Yang Bergejolak

Oleh:
Praaakk.. suara pecah piring itu terdengar lagi. Entah pecah yang ke berapa kalinya. Mungkin kalau seperti ini terus, piring di dapur bisa habis. Terdengar suara bentakan Bapak pada Ibu,

Siti Nurbaya Metropolitan

Oleh:
“Plis, Ma, Pa,” rengek perempuan itu sambil melirik kedua orangtuanya secara bergantian, “Kalila bukan hidup di zaman Siti Nurbaya!” katanya sambil bangkit dari meja makan, meninggalkan kedua orangtuanya yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *