Rangga (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 October 2017

“Nunggu mulu, emang gak cape apa tuh hati?!” Tanya Rara sahabatku. Dengan santai ku menjawab, “Gak tuh, Nunggu kan gak sambil lari larian.” Kudengar Rara mengerang sebal. “Kalo lo kayak gini terus, nungguin cowok macem dia terus, kapan lo bahagia karena cintanya coba?! Gue gak mau tau pokoknya lo harus move on!” Ucap Rara lagi dengan penuh penekanan. Aku menatapnya malas. “Ra, lupain orang yang pernah ngukir senyum itu gak segampang lo nyuruh kaliii!” Jawabku, lalu beranjak dari kasur empuk kesayanganku. “Gue tau, tapi gue pengen lo itu usaha kek gitu buat lupain tuh cowok, biar lo gak makan hati terus, May..” Timpal Rara tak mau kalah. “Udahlah, Ra, ini tuh hari libur. Jangan dibuat hari libur kita ancur, deh!” Ucapku lalu pergi meninggalkan Rara sendirian di kamarku.

Akhirnya kami pun memutuskan untuk berjalan jalan. Entahlah, yang jelas aku dan Rara butuh hiburan. Tiba tiba Rara memberhentikan langkahnya, aku menatapnya bingung. “Kenapa?” Tanyaku penasaran. “Gue rasa, gue kenal sama orang itu, deh!” Ucap Rara sembari menunjuk ke arah 2 sejoli yang sedang berbelanja di salah satu toko pakaian. Kulihat arah jari telunjuk Rara. “Eh?!” Tiba tiba saja kata itu keluar dari mulutku dengan suara yang sedikit kencang. Segera kututup mulutku. “Lo pasti tau, ya?” Tanya Rara penuh selidik. Aku menatapnya gelagapan. “Ah, apaan sih! Udahlah, itu urusan mereka! Mau jalan kek, mau makan kek, mau liburan atau bahkan mau mati bareng juga gak masalah kok buat gue! Udah yuk, gue haus, mau minum!” Segera kutarik tangan Rara kencang. “Iih… kenceng banget sih nariknya! Kalo marah, ya bilang sama orang itu langsung, dong!” Ucap Rara tak terima kuperlakukan seperti tadi. “Gak usah banyak cingcong!” Timpalku pada Rara, lalu Segera memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman. “Orange juicenya satu sama nasi gorengnya satu. Lo mau mesen apa?” Tanyaku pada Rara. “Samain ajalah, males mikir gue.” Jawab Rara sedikit terdengar nada sebalnya. Setelah menulis semua pesananku dan Rara, pelayan itu pun pamit dari hadapanku.

“Setelah kejadian ini, lo masih mau berharap sama Rangga?” Tanya Rara menatapku tajam. “Hmmm? Eummm… gak bisa mikir gue kalo lagi laper” Jawabku yang membuat Rara mendengus sebal. “Jangan anggap gue ini sok ngatur tentang kisah cinta lo! Gue cuma gak mau liat sahabat gue dibikin nangis sama cowok yang gak punya perasaan! Udah, itu aja.” Ucap Rara Setelah makanannya habis ia santap. Aku membuang nafasku. “Ya, gue tau.” Jawabku singkat, tak tau harus menjawab apa. Pandanganku menyapu seluruh ruangan cafe ini, tanpa terkecuali pada area pintu masuk. Tiba tiba jantungku rasanya ingin lepas dari tempatnya. Rangga, lagi lagi Rangga sama cewek itu lagi, batinku menggerutu. “Biar gue tebak! Lo liat Rangga sama cewek yang kita liat 2 hari lalu di bioskop, kan?” Kali ini Rara bagaikan cenayang yang tau akan segalanya. Aku berdehem, mengiyakan. “Ra, gue bayar dulu,” Jawabku, lalu bangkit dari kursi yang selama 30 menit ini aku duduki. “Gak usah, biar gue aja” Ucap Rara, lalu beranjak mendahuluiku ke kasir. Terpaksa ku duduk kembali.

Tak sengaja Pandanganku dan pandangan Rangga beradu, membuatku kikuk. Lama sudah mata tajam itu menatap ke arah pupil mataku. Tanpa senyum. Kulepaskan tatapan itu sepihak, tak ingin terlalu larut dengan perasaan ini. “Yo, berangkat!” Ajak Rara, menarikku sedikit tergesa.

Malam telah menyapaku, menyuruhku untuk segera terlelap. Setelah pulang tadi, aku masih saja terngiang ngiang kejadian sore tadi. Hingga rasanya jantungku penuh sesak. “Kenapa sama gue sih?! Gue gak berhak buat cemburu! Gue gak punya status yang menjamin buat cemburuin Rangga!!” Gerutuku sebal pada diriku sendiri. Segera kutarik selimut doraemonku, lalu terlelap dengan mimpi indahku.

“May, semalem kok gue mimpi aneh banget, ya? Masa gue mimpiin si Rangga putus sama ceweknya sih?! Terus tanpa disadari sama lo, ternyata si Rangga itu suka juga ke lo!” Ucap Rara dengan raut wajah yang serius. “Itu cuma mimpi, Ra.. MIMPI!” Jelasku. “Iih… tapi rasanya kayak nyata, May!” Timpalnya lagi. Aku diam tak menggubris. Tiba tiba Mira teman sekelasku menghampiri. “May, lo dipanggil Pak Sopyan ke ruang guru. Ada urusan katanya.” Ucapnya, lalu pergi meninggalkan aku dan Rara. “Gue ada urusan dulu, bye!” Ucapku lalu pergi meninggalkan Rara sendirian. Kudengar dia menggerutu. “Dasar sengklek!” Mampu membuatku menahan tawa.

“Ada apa, ya, Pak?” Tanyaku sopan. “Gini, saya minta bantuan kamu untuk bantu temanmu yang nilai matematikanya kebakaran. Kamu bisa?” Ucapnya, bertanya padaku. Aku diam sejenak. “Oh, bisa kok, Pak.” Jawabku pada akhirnya. Aku tak mungkin menolak. “Kalo gitu, nanti sepulang sekolah kamu tunggu di perpustakaan, ya?” Ucapnya, aku mengangguk. Pak Sopyan pun menyuruhku untuk kembali ke kelas.

Bel pulang sudah berbunyi, pertanda jika aku harus mengerjakan tugasku. “May, gue main ke rumah lo, ya?” Ucap Siska tiba tiba. “Maaf, Sis.. hari ini gue harus bantu murid yang nilai matematikanya kebakaran, nih..” Jawabku tak sampai hati. “Oh… ya udah gak papa. Lain kali aja deh mainnya. Kalo gitu gue duluan, ya? Bye!” Ucap Siska pamit padaku. Aku mengangguk. “Huh!” Desahku.

“Yaelah! Udah jam berapa coba ini? Ngaret banget sih ni orang! Dikira cuma dia aja apa yang gue urusin?! Urusan gue masih banyak kali!” Gerutuku sembari menatap lekat arlojiku. Tiba tiba seseorang melempar tasnya ke atas meja. Mengagetkanku. “Lama banget sih lo! Jam berapa sekarang?! Kalo belajar sama gue harus on time, gak boleh telat sedetik pun!” Ucapku tanpa menatapnya. “Maaf. Gue ada urusan bentar tadi,” Jawabnya menatapku sebentar. “Nih kerjain!” Suruhku padanya. “Belum juga lo jelasin! Kok lo udah ngasih soal aja, sih?!” Ucapnya yang kaget melihat aku menyodorkan soal padanya. Wajahnya membuat aku ingin tertawa rasanya. Segera kutarik kembali buku itu, tanpa menatapnya yang tampak kesal.

Di pertengahan penjelaskanku, tiba tiba handphone milik Rangga berbunyi. Dalam beberapa menit dia tak menganggap aku. “Oke, terus?” Ucapnya setelah sambungan telpon terputus. “Matiin handphone lo! Gue gak suka kalo lagi belajar ada yang ganggu!” Ucapku merampas handphonenya. Dia nampak biasa saja. Bahkan nampak santai.
“Ngerti? Gue kasih lo soal!” Setelah selesai memberinya materi, ku berikan beberapa soal padanya. “Banyak banget sih!” Gerutunya menatap lekat soal soal yang ku berikan. “Biasa aja kali mukanya! Gak usah cengo gitu! Udah buruan kerjain! Waktu gue bukan cuma buat ngajarin lo doang!” Ucapku dengan tampang yang menyebalkan. “Soalnya 1 aja kalo gitu! Biar cepet buat lo ngedate sama pacar lo!” Timpal Rangga menekan kalimat terakhirnya. Aku menatapnya dengan alis tertaut. “Ngedate? Lo aja kali! Pake nuduh nuduh gue segala! Kan lo banyak banget waktunya buat SANG PACAR!” Ucapku menekan 2 kata terakhir. “Biarin! Sirik lo?!” Jawabnya menyebalkan. “Udahlah buruan! Lama banget sih?! Soal segampang itu juga!” Ucapku menatapnya malas. “Bawel! Nih!” Ucapnya menyodorkan buku yang berisi jawaban hasil kerjanya. “Euh! Ini salah, Rangga! Jawabannya ngaco banget sih!” Ucapku sebal. “Benerin aja kenapa? Biar lo cepet buat ngedatenya!” Ucapnya. “Sampe bener, baru pulang!” Jawabku, lalu sibuk dengan handphoneku.

Seperkian menit sudah aku menunggu Rangga membereskan soalnya, hingga benar. Jam sudah menunjukan pukul 15:45 sore. “Udah belum?” Tanyaku di sela nguapanku. “Nih! Masih salah?” Tanyanya yang mulai lelah. Kulihat dengan teliti jawabannya. “Oke! Bener. Kalo gitu gue pulang!” Aku pun bangkit meninggalkan Rangga di perpustakaan sendiri. “Eits! Enak banget sih lo!” Ucapnya mencekal tanganku. “Apaan lagi?” Tanyaku jengah. “Lo pulang naik apa?” Tanyanya yang tak aku duga. “Ah! Naik taksi. Emangnya kenapa?” Tanyaku berbalik. Dia nampak sedang berfikir. “Gue anter lo balik!” Ucapnya yang segera menarikku ke parkiran. “Ih! Gak jelas banget sih lo! Tiba tiba sok baik kayak gini ke gue! Pasti ada sesuatunya nih! Curiga gue!” Selidikku tajam. “Gak usah curigaan sama gue!” Jawabnya tanpa memberhentikan langkahnya.

Dengan paksaan kunaiki motor hitam besarnya. Hingga aku sampai di sini, di rumahku. “Makasih!” Setelah mengucapkan itu aku pun pergi meninggalkannya. “Huuh! Kenapa jadi suka emosi sih gue kalo liat si Rangga sekarang?! Aneh banget!” Ucapku pada diriku sendiri. “Ah! Bodo deh! Kagak peduli!” Ucapku lagi.

Bersambung…

Cerpen Karangan: Hana Nur A
Facebook: Hana Nur Aini

Cerpen Rangga (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cerpen GJ

Oleh:
“Selamat pagi abang ganteng…!!” Sapaku pada abangku yang baru bangun tidur. “Selamat pagi juga dedek tembeeem..!!” Balas abangku yang kemudian berlalu menuju kamar mandi. Aku tak membalas perkataan abangku

Miracle (Part 1)

Oleh:
Tak kusangka masih saja kudekap kedua lutut dan bertopang dagu selama 2 jam, ini benar-benar membuatku lelah. Aku hanya tak mengerti maksud dari bulir-bulir kata yang kupelajari saat ini.

Cinta Lama Datang Kembali (Part 1)

Oleh:
Kamis siang ini pekerjaanku tidak terlalu banyak. Aku kira aku bisa sedikit bersantai. Tapi kenyataannya, baru saja aku memasangkan earphone dan bernyanyi kecil mengikuti irama lagu yang terdengar melalui

Berpindah ke Lain Hati

Oleh:
“Hana ini adalah hari perpisahan ku, mungkin kita ngak akan sama-sama lagi seperti hari-hari sebelumnya, aku akan melanjutkan kuliah ke BRAMA WIJAYA jawa timur, kamu kan tahu sendiri bahwa

Gila Ramalan

Oleh:
Menurut kalian salah gak sih kalau gue itu tergila-gila sama ramalan? Ehm engga kan ya? Perkenalkan gue cika si ratu ramalan. Temen-temen gue ngasih julukan tersebut ke gue karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *