Rangga (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 October 2017

Entah mengapa setelah kejadian tadi sore, aku selalu terbayang wajahnya. Memang, sih… sudah lama aku menyukainya, tapi kali ini aku merasakan rasa yang lebih dari biasanya. “Ah, udahlah! Stop mikirin Rangga, Maya, stooop!” Teriakku menggema di dalam kamar.

Seketika pintu kamarku terketuk. Kutolehkan kepalaku ke arah pintu terletak, lalu membuka pintu kamar untuk melihat siapa yang mengganggu malamku. “Eh? Mbak Sindy! Tumben ke sini, udah lama Maya gak ketemu.” Ucapku kaget saat mendapati anak dari kakaknya Bunda. Mbak Sindy tersenyum. “Hehe… iya, nih. Kangen kamu,” Jawabnya yang spontan membuat aku terkikik. “Hehe… masuk, Mbak.. maaf berantakan. Maya jarang beresin kamar soalnya, Hehe,” Ucapku saat Mbak Sindy mendapati kamarku yang sedikit tak beraturan. Mbak Sindy diam sejenak, lalu sedetik kemudian menggelengkan kepalanya. Aku menatapnya heran dan kikuk.

“Kamu ini kan anak gadis! Kamar sebagus ini kamu acak acak sampe gak beraturan bentuknya! Mbak waktu seumur kamu suka dimarahin kalau kamarnya berantakan!” Omel Mbak Sindy padaku. “Mbak, kan masih remaja, kenapa Mbak bilang itu ‘waktu dulu’?” Tanyaku mengalihkan topik. “Iya! Bisa banget sih mancing marahnya, Mbak!” Ucap Mbak Sindy lalu mencubit keras pipi chubbyku. Aku meringis. “Mbaaakkk!!!” Teriakku nyaring saat mendapati Mbak Sindy kabur meninggalkan kamarku. Huh! Menyebalkan!

Pagi telah memberiku senyum, saatnya aku pergi berangkat ke sekolahku tercinta. “Lalalalalalala!” Dendangku tak beraturan. “Pagi, Bunda! Pagi, Ayah!” Sapaku saat sampai di meja makan. “Mbak kagak disapa? Jahatnya!” Ucap Mbak Sindy memasang wajah tak terimanya. “Pagi juga Mbak Sindy yang banyak komentar!” Jawabku tanpa melihat wajah dongkol Mbak Sindy. Tanpa aku lihat, aku juga sudah tau. “Gimana lesnya?” Tanya Ayah padaku. Aku menatapnya heran. “Les? Les apa sih, Yah?” Tanyaku kebingungan. “Itu, loh… kamu kan ngajarin murid yang nilai matematikanya kebakaran, jadi gimana? Sukses?” Tanya Ayah lagi. Aku menghela nafas malas. “Yah, Bun, Mbak, Maya berangkat. Asallamualaikum,” Pamitku tanpa membalas pertanyaan Ayah. Aku malas membahas pria menyebalkan itu.

“Mayaaa! Lagi lagi lo dipanggil Pak Sopyan ke ruang guru! Gih buruan, daripada nilai matematika lo jadi taruhan!” Teriak Rania dari depan pintu kelas. Belum juga masuk kelas sudah diberi sarapan ocehan Pak Sopyan! Gerutuku dalam hati kulemparkan tasku ke arah Rania, menyuruhnya untuk menyimpan tasku di bangku kesayanganku. Lalu berlari ke arah ruang guru.

“Bagus! Dateng juga kamu! Gimana, ada masalah dalam ngajarin si Rangga?” Tanyanya to the point. “Eummm…?” Ucapku berdehem, kebingungan. “Jujur saja. Jika dia membuat masalah saat kamu ngajarin dia, bilang! Biar saya beri tugas satu lks!” Lanjut Pak Sopyan sangar. Oh, ya ampun! Kasian kalo dia harus dikasih tugas satu lks, bisa skarat tuh orang ngerjainnya! Batinku bicara. “Eumm… enggak kok, Pak. Dia mudah mengerti, kok.” Jawabku berbohong. “Oh, Bagus, bagus.. kalo gitu nanti pulang sekolah kamu ajarin Rangga lagi, ya?” Ucap Pak Sopyan yang membuatku lemas dan hanya bisa mengangguk.

“Kenapa lo, May? Kusut banget sih tuh muka! Kurang makan lo?” Tanya Rara sekenanya. Aku hanya mendelik. “Ih! Berisik lo! Gue lagi pusing, jangan ganggu!” Ucapku dengan nada yang enggan. “Huh! Eh? Itu si Rangga, kan? Sama siapa tuh? Lebay banget sih tuh! Pake gandengan segala lagi! Dikira mau nyeberang kali, ya?” Ceracau Rara pada sepasang manusia yang sedang berjalan menuju kantin. Aku tengok orang yang sedang Rara bicarakan. “Dasar! Giliran pacaran aja cepet! Tapi kalo disuruh ngisi soal lama banget!” Makiku lirih. “Ngomong apa, May?” Tanya Rara penasaran. “Gak! Kucing gue lahiran anak kudanil!” Jawabku sekenanya. Rara tertawa nyaring. “Berisik banget sih lo! Kalo ketawa, ya jaga image sedikit kenapa?! Ketawa ngakak bener!” Kesalku pada Rara. “Bawaan lahir, May.. waktu gue dilahirin ke dunia kan, gue bukan nangis.. hahaha!” Ucapnya belum menyelesaikan perkataannya. “Terus gimana?” Tanyaku sedikit penasaran. “Ketawa ngakak! Bwuahahaha!” Kembali Rara tertawa keras yang membuat hampir semua mata menatap ke arah kami. Aku terbawa suasana jadinya, hahaha…

“Aduuuhh! Kesel deh gue! Setiap kali bel pulang, gue gak langsung pulang ke rumah!” Gerutuku saat sedang berjalan di koridor kelas. “Kenapa bisa?” Tanya Rara bingung. Aku belum bercerita padanya soal ini. “Gara gara gue harus bantuin anak murid yang nilai matematikanya kebakaran!” Jawabku penuh sebal. “Kenapa lo gak bilang aja kalo lo gak bisa? Ya, pake alesan apa gitu…” Ucap Rara lagi. “Gak bisalah, Ra! Pak Sopyan ngancem nilai matematika gue dikurangin! Kalo gue gak nurutin perkataan dia…” Jawabku lesu. “Ya udah, nikmatin aja. Makanya! Jangan pinter pinter kalo jadi orang! Kayak begini kan jadinya! Hahaha…” Ucap Rara meledekku. Aku mendengus sebal.

Tak lama, jemputan Rara pun datang. Dan aku ditinggal sendiri. Aku pun memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Saat aku sampai di perpustakaan, ada seorang pria yang telah duduk di bangku yang seharusnya menjadi tempat aku mengajarkan matematika pada Rangga. Siapa dia? Tanyaku dalam hati.

Bersambung…

Cerpen Karangan: Hana Nur A
Facebook: Hana Nur Aini

Cerpen Rangga (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diammu Adalah Pertanyaan Terbesarku

Oleh:
Perkenalkan namaku Senja Alyandra Yussuf aku seorang siswi di sekolah ternama di Bandung. Aku menyukai dunia pramuka selain itu aku masuk pramuka karena dia yaa, dia orang yang selama

Jarak Takkan Memisahkan Kita

Oleh:
“Kamu tahu hewan kecoak?” “Iya tahu.” “Apa menurut kamu tenteng binatang itu?” “Dia adalah hewan yang hebat. Dia mampu hidup meski kelaparan dan dia tak memiliki leher.” Rasanya aku

Ketika Sang Pangeran Jatuh Cinta

Oleh:
Pada suatu hari hiduplah seorang kesatria gagah berani. Selain seorang kesatria, ia juga adalah pangeran dari kerajaan Selaparang di pulau Lombok. Sang kesatria ini bernama Pangeran Sejati. Sejak kecil

Randa Tapak Mejikuhibiniu

Oleh:
Suara siulan burung menemani keheningan di dinginnya kebutaan pagi pada hari ini, Tiwi seorang gadis duduk di depan cermin memandangi wajahnya. Tiwi percaya bahwa ia hidup dalam kesempurnaan, tetapi

Salahku

Oleh:
Matahari mulai menampakkan diri, gelap kini berubah menjadi terang, bukan siang hari, tetapi masih pagi hari, masih dengan suasana yang sejuk dan dingin yang alami. aku terduduk di depan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Rangga (Part 2)”

  1. dinbel says:

    Di tunggu prat 3 nya ya kakak, sayang udh bagus cerita nya klo ngegantung. Penasaran sama ending nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *