Rani Menanti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 1 September 2017

Hari ini Rani Berdiri di depan kaca, senyumnya selalu terpancar pagi ini. Mulai dari dia bangun tidur hingga mengenakan setelan seragam sekolahnya yang baru. Tentu saja, sekarang di akan menginjak bangku SMA, hal ini membuatnya sangat senang. Rani mengenakan kerudung abu-abunya. Sesaat setelah ia selesai berbenah, ia bersalaman dengan ibunya. Membayangkannnya saja sudah membuat ia tersenyum bahagia. Hari ini dia akan berkenalan dengan beberapa teman baru. Mita dan Dianti tengah menunggunya di luar sana. Kedua sahabat akrabnya sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Wah, ada apa nih?” tanya Mita, yang melihat raut wajah Rani yang memancarkan aura bahagia. “Keliatannya bahagia banget”. lanjutnya.
“hemm, iya dong. Ini kan pertama kalinya, nginjak masa putih abu-abu. Aku nggak sabar buat ketemu teman-teman baru kita. Semoga aja mereka nggak nyebelin kayak kalian berdua. Week..” Rani menjulurkan lidahnya sambil berlari dari kejaran kedua sahabatnya. “Wah. Jadi kamu udah bosen nih sahabatan sama kita. Ayo Mit… kita kejar dia” Sejurus kemudian mereka berlari mengejar Rani.
“Rani.. tunggu!” Teriak mereka bersamaan.

Mereka telah sampai di sekolah lima menit sebelum bel akhirnya dibunyikan. Seluruh Siswa baru diarahkan untuk berkumpul di sebuah aula untuk diberikan sedikit pengarahan.

Tiga hari setelah masa Mos berakhir. Ketika mereka masuk untuk pertama kalinya, akan ada acara pembagian kelas. Rani, Mita, dan Dianti, ternyata memasuki kelas yang sama. Mereka pun berbondong memasuki kelas mereka. X.1. Kelas terbaik. Ya, memang tidak diragukaan lagi. Ketiga sahabat itu, selain solid mereka juga sangat pintar. Tidak mengherankan jika mereka masuk ke kelas favorit. Mereka mencari tempat duduk mereka masing-masing, Rani memilih duduk bersama Mita, sedang Dianti dia mendapatkan teman baru dan memilih duduk bersama.

Hari itu, pelajaran Agama Islam. Guru yang mengajar tidak bisa memasuki kelas, karena ada urusan dengan Kepala Sekolah, jadi mereka disuruh mencatat. Entah apa yang membuat seorang lelaki dengan gaya rambut jambul itu duduk di sampingnya. Hari ini Mita tidak masuk sekolah, dan itu membuat bangku yang berada di samping Rani kosong.

“Hay..” Sapa lelaki itu. Rani tersentak, ia baru sadar ada seorang lelaki tengah duduk di saampingnya. “Oh.. ya. Hai..” Sapa Rani ragu-ragu, ia pun melanjutkan aktifitas mencatatnya.
“Mau mencatatatkan ini untukku?” tanyanya. “Sebagai gantinya, aku akan menuliskan latin Arabnya untukmu. Bagaimana?.”
“tidak terima kasih.” Jawab Rani acuh. Sekalipun lelaki yang duduk di sampingnya ini adalah lelaki yang ia sukai saat pertama kali melihatnya di sekolah ini dia tetap tidak akan baik pada lelaki yang pemalas. “Ayolah” rayunya.
“Hay berposelah untuk kami!” Ujar salah satu murid yang bernama Oki. “Hay… hay lihat itu kamera” Lelaki itu menyikut Rani dan mengajaknya untuk berpose bersama. Namun Rani memilih menunduk dan menghiraukan lelaki tadi yang sibuk berpose di depan kamera.
“Hay ayolah. Catatkan ini untukku.” Rayunya lagi.
“Lagi pula tulisan Arabmu tidak begitu bagus. Ini harokatnya harusnya seperti ini. Jika kau salah akan beda artinya nanti” Lelaki itu mengoreksi.
“Baiklah terima kasih sebelumnya. Dari pada kau mengeja kesalahanku. Kau sebaiknya mulai menulis.” Tukas Rani.
“Tapi tanganku keseleo kemarin waktu aku bermain bola dan..” “lalu?” kata Rani sambil mengerinyitkan keningnya. Kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya. Jika Rani kesal dia akan cendrung menjadi seorang yang cuek dengan sekitar, dan itulah yang dia lakukan pada lelaki tadi.

Putra. Ya, lelaki itu Putra. Cowok yang sejak awal ia menginjakkan kaki di sekolah ini telah mencuri hatinya. Kedua sahabatnya tahu itu. Bahkan, saat ia tau lelaki itu satu kelas dengannya ia nampak sangat senang. Apalagi, begitu mengetahui informasi jika lelaki itu dulunya adalah anak pondokan di malah semakin tertarik dengan pria itu. Benar-benar pria baik-baik.

“Jadi kau benar-benar tidak mau mencatatkan ini untukku…”
“TIDAK..” tukasnya sekali lagi. Putrapun berlalu.

Bel sekolah sudah berbunyi sejak lima menit lalu. Karena hari ini Mita tidak masuk sekolah. Jadilah mereka pulang hanya jalan berdua saja.
“Ran. Kayaknya Putra juga suka deh sama kamu..” Ujar Dianti sambil menyenggol bahu Rani.
“Husstt..” Rani membungkam mulut Dianti. Gadis itu mengerucutkan mulutnya atas perlakuan Rani barusan. “Kenapa memangnya ada yang salah kalau aku bilang begitu?”
“Bukan begitu. Nanti kalau ada yang dengar bagaimana. Lagi pula dia itu sudah punya pacar. Mana mungkin dia suka sama aku. Tiwi.. kamu tau Tiwi kan X.2. Itu pacarnya. Mana mungkin lah. Kamu mah mengada-ngada..”
“Kamu nggak liat aja sih gimana cara dia waktu liat kamu.”
“Lah emang gimana. Ah, udah deh. Jangan bahas dia lagi. Jangan buat aku jadi semakin berharap sama dia, Dianti!” Rani berjalan dengan langkah cepat menuju rumah, begitupun Dianti yang mengikuti langkahnya dari belakang. “Duh jangan cepat-cepat dong Ran…”

Mita dan Dianti menghampiri Rani yang tengah duduk sendiri di bangku taman sekolah. Mereka pun menyerahkan sebuah surat pada Rani.
“Apa ini?” tanya Rani. “Baca aja..” suruh Mita. “D-dari Putra?” tanya Rani sedikit ragu. Dianti mengangguk.
“Kenapa harus pake surat, kita kan satu kelas?” Pikirnya. Rani pun membuka surat itu dan membacanya. Intinya Putra mengajaknya untuk bertemu di lapangan sepak bola sekolah saat pulang sekolah nanti. Rani dan Putra memang sedang dekat sekarang, kedekatan mereka terlihat saat Putra tiba-tiba meminjam buku catatan Bahasa Indonesia Rani waktu itu. Dan saat Putra mengembalikan buku catatan Bahasa Indonesia tersebut. Di pertengahannya tertulis sebuah puisi yang dipersembahkan untuk Rani. Tentang Tiwi, Putra sudah lama putus dengannya, jauh sebelum ia akhirnya dekat dengan Rani.

Jam pulang pun tiba, di sekolah sudah tidak ada siapa-siapa lagi selain Rani dan Putra. Mita dan Dianti pun juga sudah pulang, dan sebelumnya mereka sudah berpamitan pada Rani.
“Jadi…” Rani akhirnya bersuara, karena merasa gerah dengan situasi sekarang. Putra mendiaminya sejak tadi, padahal dia yang mengajaknya ingin bertemu.
“Hah..?” “Tentang puisi itu? Itu benar untukku?” tanya Rani. “Ya..”
“Mengapa kau hanya menjawab singkat. Apa tidak ada yang ingin kau jelaskan. Bukannya kau yang ingin mengajakku bertemu?” Rani mulai kesal. “Sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu?”
“Apa..?” Rani mulai mereda, dan memberikan kesempatan pada Putra untuk berbicara. “A-aku..”
“Ya…” Rani menunggu, ia tau apa yang akan dikatakan putra. Namun ia memberi kesempatan untuk lelaki itu mengungkapkannya sendiri.
“Apa kau ingin bermain bola?” kata Putra yang beranjak pergi dari kursi duduk penonton sepak bola dan mengambil sebuah bola kaki. Rani memandang putra dengan tatapan tak mengerti, “Apa yang ingin kau katakan?, Kau ingin mengajakku bermain bola?, itu saja..?” Rani mulai kesal lagi. Yang benar saja.
“Nanti akan kukatakan. Tapi temani aku bermain bola dulu. Rani..?”
“Tidak mau. Aku tidak bisa bermain bola. Apa yang akan kau katakan padaku tadi? Mengapa kau membuatku menunggu?” ucapnya setengah berteriak. “Kemarilah. Temani aku dulu. Nanti akan kukatakan padamu..” pintanya. Rani pun berjalan menghampiri Putra.

“Ada apa?” tanyanya sambil melipat kedua tangannya karena kesal dengan perlakuan Putra. “Baiklah begini saja, aku berjanji padamu akan mengatakannya tapi, dengan satu syarat..”
“Syarat?” Rani mengerenyitka keningnya. “Kenapa harus pake syarat segala sih Put?”
“Syaratnya gampang kok. Kamu cuma harus nemenin aku main bola. Itu, yang itu gawangmu, dan yang di ujung sana gawangku.” Jelasnya. Padahal Rani belum jawab setuju untuk menemaninya bermain. “Aku tidak bisa bermain bola Putra. Aku tidak tau cara mainnya..” tuturnya. “Ok.. gampang saja kok, kita hanya perlu mencetak tiga gol di gawang. Apabila kau yang menang aku akan mengatakan apa yang ingin aku katakan padamu tadi. Dan kalau aku yang menang, kau harus memenuhi permintaanku. Bagaimana?”
“Benarkah. Kedengaranya itu hanya menguntungkan satu pihak…” “Tidak. Percayalah. Tidak ada peraturan yang spesifik. Kau hanya perlu menghindari lawan dan mencetak gol. Ok..”

Permainanan pun dimulai. Biarpun berbadan kecil Rani nampak lihai dalam berlari. Selama pertandingan berlangsung Skor tertinggi dimiliki oleh Rani dengan skor dua satu.
“Hay.. kau sebut itu tidak bisa bermain bola?” Teriak Putra dengan nafas sedikit tersenggal-senggal sambil berusaha berlari merebut bola yang berada di kaki Rani. “Aku berbohong. Kakakku pernah mengajari aku bermain bola sebelumnya. Berjanjilah kau akan mengatakannya nanti ok…” ia mengacungkan satu jempolnya pada pada putra sambil berlari dari kejaran lelaki itu dan bergerak menuju gawang, dan…
“GOOOLL.. ye.. ye.. gooollll…” Ia bersorak girang sambil berloncat ria.

“Putra kau harus menepati jan…” matanya melotot ke arah putra yang terduduk lemas sambil memegangi kedua dadanya. “Putra…” Ia pun berlari menghampiri Putra. Wajah Putra pucat, apa yang harus dia lakukan?. “Put.. Putra…” Rani menepuk kedua pipi putra dengan rasa khawatir yang menyelimuti, Putra sudah terkulai pingsang tak sadarkan diri. Ia meletakkan tubuh putra di atas tanah dan berlari menuju tasnya, lalu mencari ponselnya dan mulai menghubungi seseorang.

Sudah seminggu Putra tidak terlihat masuk sekolah lagi. Sejak kejadian saat itu bersama Rani. Rani hanya bisa bertanya-tanya sendiri dalam hatinya. Kemana Putra?. Ya, dia tau lelaki itu sedang sakit. Tetapi, bukannya dia bilang waktu itu dia sudah sembuh dan akan masuk sekolah besok. Tapi sudah seminggu pula sejak ia mengatakan itu Putra tak kunjung terlihat batang hidungnnya. “Rani. Kamu kenapa?” tanya Mita. “Pasti Putra ya?” Tambah Dianti menanyai.
Rani menggeleng keras, namun wajahnya terlihat lesu.
Buat apa kau sembunyikan jika benar ini tentang Putra, Rani. Entahlah hanya saja aku tak ingin terlalu berlebihan karena menghawatirkan putra. Lelaki itu.
Kedua sahabatnya tau jelas bila Rani seperti ini, itu karena Putra, lelaki yang ia sukai. Kedua sahabatnya ini pun sebenarnya tidak tau mengapa putra tak pernah kelihatan akhir-akhir ini.

Rani berjalan menghampiri Dimas, salah satu teman akrab Putra. Ia menunjukkan Ponselnya pada Dimas. “Apa kau punya nomor putra selain nomor ini..?”
“Sebenarnya punya, hanya saja semua nomornya tidak ada yang aktif sekarang. Kenapa..?
“Sebenarnya, mmh.. Dimas, apa kau tau di mana Putra? Kenapa dia tidak masuk sekolah akhir-akhir ini bukannya minggu depan akan ada ujian semester?”
“Ternyata kau belum tau ya. Putra sudah pindah sekolah..”
“Pindah..” Rani mengerenyitkan keningnya, dan sedikit kaget dengan perkataan Dimas barusan.
“Ya.. semenjak kejadian waktu itu, kau meneleponku dan teman-teman kalau Putra pingsang, dan saat kita menjenguknya seminggu yang lalu. Orangtuanya sudah memutuskan untuk memindahkan Putra untuk melanjutkatkan sekolahnya kembali di pondok..”
“Jadi dia sekolah di pondok. Tapi kenapa dia tidak pamit pada teman-teman?”
“Dia pamit, tapi hanya pada kita saja. Aku pergi dulu ya…” Rani mengangguk.
“Jadi dia tak berpamitan padaku? Sebenarnya apa yang akan dia katakan padaku waktu itu? apa itu tentang dia yang akan pindah sekolah atau apa.. mengapa aku mengkhawatirkannnya?, atau karena rasaku yang terlalu berharap padanya jadi aku bersikap seperti ini..” Pikirnya, tanpa sadar ternyata ia pun menangis.

Semalaman suntuk ia tak jauh dari ponselnya. Masih tetap berusaha menghubungi seseorang yang sama. Walau ia tau itu perbuatan sia-sia. Rani masih memperhatikan layar ponselnya, tertera nama seseorang yang sedang berusaha di hubunginya sejak kepergian orang itu yang tanpa pamit, tanpa babibu hilang begitu saja. “Sebenarnya ada apa sih…” Gejolak hatinya sedang tidak baik saat ini. “Tega sekali meninggalkan perasaan tanpa kepastiaan…” Tangisnya mengisi setiap ruang, tangis tanpa suara. Dia tidak mau yang lain melihatnya dengan kondisi seperti ini.

Malam yang sepi. Hujan di langit malam perlahan turun. Rani bangkit dari tidurnya. Menatap langit malam yang mendung. Menatap langit itu dengan penuh harapan. Sesaat terdengar suara ponselnya berdering. Dia berlari secepat kilat menuju tempat tidur dan meraih ponselnya. PANGGILAN TAK TERJAWAB. Mata sembabnya terbelalak. PUTRA. Secepat mungkin dia balik menghubungi nomor tersebut, tersambung namun tak di angkat. Mungkin orang di sebrang sana mengabaikannya. Tak menyerah kembali ia menghubungi nomor itu, nihil tetap tak di angkat. Ia menyerah.

Dinggg…! Satu pesan masuk.
Ia membukannya, nomor baru.
Hay bagaimana kabarmu. Maaf bila aku pergi tanpa pamit sedikitpun kau pasti marah padaku. Tidak apa-apa kau bisa membenciku jika perlu. Ini aku Putra. Sekarang aku melanjutkan sekolahku di pondok binaan Ayahku. Dan terima kasih tetap mengingatku, terima kasih tetap berusaha menghubungiku walaupun mungkin aku tidak akan mengangkatnya.
“Yang benar saja. Memangnya aku ini perempuan bodoh haah?.. Aku tidak melakukannya…” Ujarnya agak tersendu.
Apa kau masih penasaran tentang yang ingin kukatakan padamu waktu itu?
Oh, ya sebelumnya maaf aku merepotkanmu saat itu. Seharusnya aku tidak memaksakan diri di tengah kondisi sakit yang kuderita. Sebenarnya aku punya penyakit Jantung, yang memaksaku untuk berhenti berolahraga, namun aku memaksa diriku sendiri untuk melakukannya. Alhasil aku merepotkanmu… Tapi aku melakukannya karena aku ingin menciptakan kenangan terakhir yang berharga untukku dan tentunya juga untukmu. Rani.
“Aku hanya kasihan padamu waktu itu mangkanya aku menolong… dan aku berkata benar. Tapi kau punya penyakit jantung? Bukannya kau bilang itu hanya sekedar sakit asma. Apa separah itu…”
Jadi apa kau masih ingin mendengar apa yang ingin kukatakan?
“Lupakan aku tidak ingin mendengarnya..”. Namun ia masih meng-Scrolldown layar ponselnya. Menggeser layar itu sampai ia bertemu dengan kata terakhir.
Aku mencintaimu.
Rani Sedikit tersenyum

Kita akan bertemu suatu saat nanti. Kau, rajin-rajinlah belajar. Kita akan bertemu di tempat yang akan kutentukan nanti. Dengar, aku tau kau juga menyukaimu. Kurang dari dua bulan aku akan melakukan operasi pada jantungku. Setelah aku membaik aku akan menghubugimu lagi. Jadi kau tenanglah. Tak perlu mengusik hatimu dengan rasa rindu itu. Karena aku selalu di dekatmu. Berjanjilah untuk tetap setia menantiku.
“Dan itu berapa lama Putra. Berapa lama lagi aku harus menunggu. Berapa lama lagi aku harus menantimu..” Setelah selesai membaca pesan ia kembali menghubungi nomor tersebut, namun ternyata nomor tersebut sudah tidak terdaftar lagi. Rani mencoba mencari kontak nama Putra, kemudian mengubunginya, namun nomor itu sudah tidak aktif.

“Baiklah aku berjanji akan tetap setia menantimu. Berjanjilah padaku Putra. Kau akan kembali dalam keadaan baik-baik saja.. dan hubungi aku setelah kau sembuh” Rani menatap ke arah jendela, memperhatikan gorden putih yang perlahan tertiup angin kemudian ia tersenyum. Perasaan rindunya telah tersampaikan.

Hari ini, Rani kemabali masuk sekolah. Setelah seminggu ia tidak masuk sekolah dikarenakan ia sedang sakit.
“Ran, kamu udah sembuh total ‘kan…?” Mita menanyai.
“Putra SMS aku…” Ucapnya.
“Haaa… apa Ran? Putra sms kamu? Gimana bisa?” Respond kedua sahabatnya terkejut, karena Rani tiba-tiba mengatakannya.
“Bukannya semua nomornya gak ada yang aktif? Bahkan sampai saat ini..?” Kata Dianti.
“Entahlah, sekarang aku merasa membaik. Dan kami berjanji untuk bertemu suatu saat nanti di tempat yang ia tentukan… aku menanti saat itu tiba” Rani tersenyum, kedua sahabatnya pun ikut senang dan tersenyum bersamannya.

Tamat

Cerpen Karangan: Rani Nelasari
Facebook: Rani Ayu Nelasari

Cerpen Rani Menanti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Belum Ada Judul

Oleh:
“Ck!” Sheira berdecak kesal sambil merebahkan dirinya ke ranjang. “Menyebalkan!” sambungnya, lalu menyimpan hp miliknya di atas bantal. “Kenapa lo kak?” ucap adik kembarnya, Tessa, yang sedang mengobrak-abrik lemari.

Warna Langit

Oleh:
Aku menengadah. Kelabu. Hitam. Awan berkumpul, berbaris menutupi birunya langit dan hangatnya matahari. Sedetik kemudian bisa kurasakan setetes air jatuh ke keningku. Dingin. Kutatap kedua tanganku yang kosong terbuka.

Zodiak

Oleh:
“Zodiak, zodiak, zodiak. gak cape apa? !nanya itu mulu! Kan gue udah bilang ke lo lo pada, kalo gue itu gak ngerti yang gitu-gituan. Kenapa sih susah banget di

Perfect Nancy

Oleh:
Aku tak pernah menganggap dunia itu adil. Mungkin ini pikiran yang paling jahat karena aku telah mengecewakan Tuhan (aku bukan atheis, lho!) tapi itu disebabkan oleh keadaan sekelilingku. Kalian

Alunan Piano Dave

Oleh:
Di siang hari yang panas, Momo baru pulang kuliah. Sampai di rumah, dia langsung merebahkan diri di sofa ruang tengah. Sofa warna cokelat kesayangannya. Di situ tempat favoritnya untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *