Rasa Yang Tertinggal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 October 2017

Um… ha
Berulang kali kuhembuskan nafas dengan keras setelah menariknya dalam-dalam. Ada sesuatu yang tertahan menciptakan rasa sesak dalam dadaku dan membuatku harus melakukan itu berulang-ulang setiap pagi ketika aku melihatnya berlalu di hadapanku. Rasa sesak ini seharusnya sudah hilang beberapa bulan yang lalu, aku seharusnya bisa bersikap lebih biasa sekarang. Ya, cerita tentang dia telah berlalu beberapa bulan yang lalu, namun tetap saja aku tak pernah bisa melupakannya. Kubiarkan dadaku menahan sesak yang tak bisa hilang meski telah kuhembuskan berkali-kali. Aku mencoba mengalihkan seluruh perhatianku dan mulai membuka halaman demi halaman buku yang aku baca sebelum dia datang, dan mulai membacanya lagi. Sayangnya, meski telah membaca dengan penuh perjuangan, tidak satupun kalimat dalam bacaan itu yang dapat aku simak, Aku sungguh tidak bisa memahami satu hal pun dari apa yang sudah aku baca. Sepertinya perhatian dan pikiranku masih terfokus padanya, yang sekarang justru mengeraskan suaranya seolah sengaja mengalihkan seluruh perhatianku sehingga hanya terfokus padanya dan tidak bisa melakukan apa-apa. Aku merasakan kekesalan yang menambah rasa sesak dan sakit hati yang saat ini aku rasakan. Aku putuskan untuk menutup buku yang sedang aku baca, berdiri, dan berjalan ke luar kelas, dengan harapan tidak akan lagi mendengar suaranya.

“pagi baby!”
Suara lembut Nina, sahabatku, rasanya sedikit menenagkan rasa kesal, sedih dan campur aduk yang aku rasakan. Sambil menyapaku, dia meletakkan tangannya di pundakku seolah memberi semangat untuk bangkit dan terus berjalan meninggalkan semua rasa yang telah aku berikan pada Angga. Aku hanya tersenyum tipis, mengangkat wajahku padanya dan kemudian kembali tunduk dengan wajah tidak karuan, menggambarkan perasaanku yang tentu saja dapat dipahami oleh seorang sahabat. Nina adalah sahabat terbaikku di sekolah ini, meski kami baru saling mengenal ketika penerimaan siswa baru. Dia selalu ada dalam suka dan dukaku, menjadi satu satunya teman yang selalu mendengarkan apa yang ingin aku katakan dan menerima semua sifat-sifat burukku yang aku tahu sangat mengesalkan.

“sayang, kamu kenapa?”
Ucap Nina dengan lembut membuatku tak bisa menutupi rasa campur aduk yang menggerogoti hatiku. Aku tidak bisa menahan rasa sesak yang akhirnya meluluh dalam tetes-tetes kecil dari mata ini.
“ahh, kenapa seperti ini, aku tidak seharusnya menangis.”
Aku segera menghapus air mata di wajahku dengan ekspresi malu sebagai seorang yang harusnya bisa bersikap dewasa. Aku ingin menunjukkan bahwa aku baik-baik saja, tetapi perasaan ini memaksa untuk terus mengeluarkan butir-butir air yang tidak bisa berhenti mengalir.

“ya ampun Vita sayang, ngak papa kok, nangis aja!”
Nina meraihku dan memelukku dengan penuh kasih sayang. Air mata yang sedari tadi menetes kini semakin deras, aku melampiaskan seluruh perasaan tak menentu dalam pelukan Nina, sahabatku.

Semua ini berawal dari kebodohan yang aku lakukan. Beberapa bulan yang lalu, ketika Angga mulai mendekatiku, harusnya aku tidak memberikan hatiku padanya. Harusnya aku tetap menganggapnya hanya sebagai teman. Akan tetapi, semua perhatian, kelembutan dan setiap hal yang Angga lakukan untukku membuatku tak bisa membendung getar-getar cinta yang perlahan tumbuh, berkembang hingga menempati seluruh ruang dalam hati. Ya, aku jatuh cinta padanya. Perasaan ini membuatku tidak memiliki satu alasan pun untuk menolak cintanya. Beberapa waktu aku lalui bersama Angga, hal itu membuatku merasa melupakan segala kesulitanku. Hari-hariku terasa lebih berwarna dan aku benar-benar merasakan kebahagiaan yang tak tergantikan hingga saat ini. Semuanya berlangsung dengan baik sebelum akhirnya aku melakukan suatu kesalahan fatal yang menjadi puncak dari kebodohanku. Aku benar-benar bodoh. Hanya karena kecemburuan kecil, aku melakukan kesalahan yang membuatku benar-benar jauh darinya.

Angga adalah sosok teman yang selalu bersikap baik pada siapa saja. Dia humoris, rajin, penyayang dan penuh perhatian. Hal itu membuat banyak perempuan dalam kelas kami yang mendekatinya. Ada yang memang mendekati Angga karena menyukainya dan ada yang hanya ingin menjadi teman Angga. Pemandangan yang sangat tidak menyenangkan selalu aku saksikan setiap pagi ketika Angga duduk dan bercanda bersama mereka sementara aku terus menantikan sapaan darinya. Angga tidak bermaksud membuatku tersudut, dia hanya ingin bersikap ramah pada semua teman kelas kami, namun tetap saja aku merasa cemburu karena hal itu. Cembru dan perasaan terlalu bangga memiliki Angga, membuatku melakukan kesalahan bodoh dengan mengirimkan sebuah pesan singkat padanya. Aku memutuskannya. Aku berpikir dia akan memepertahankanku, tapi ternyata dia punya harga diri jauh lebih besar dari yang aku pikirkan

“iya”
Hanya kata itu yang aku terima di kotak masuk pesan bertuliskan My Love. Itu pesan dari Angga menandakan aku dan dia tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Aku merasa separuh jiwaku pergi saat itu. Tidak pernah kubayangkan akan semudah itu Angga melepaskanku padahal aku sangat mencintainya. Keegoisan dan harga diri yang seharusnya tidak ada saat itu menjadi pemisah antara aku dan dia. Aku seharusnya minta maaf padanya waktu itu. Tapi tidak, aku justru berbalik menjauh darinya. Dan akhirnya dia benar-benar jauh, hingga aku tak bisa lagi bahkan hanya menyapanya. Kesenjangan itu terjadi hingga saat ini, hatinya telah jauh terpisah dariku, meski jarak kami sangat dekat. Aku dan Angga bagaikan langit dan bumi, dia telah terbang jauh dan meninggalkanku dengan rasa cinta padanya yang tak pernah bisa terhapuskan dan mungkin akan tetap tinggal memenuhi setiap ruang dalam hatiku.

Cerpen Karangan: Via Kurnia Putri
Facebook: Vya Putri

Cerpen Rasa Yang Tertinggal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Oh God! (Part 1)

Oleh:
“Sial! Gue telat!” Omel Chera. Pagi itu Chera telat bangun. Jam sudah menunjukkan pukul 6.15 WIB, berarti kelas Chera udah masuk. Biasanya Chera bisa masuk diam diam. Tapi tidak

Menyesal

Oleh:
Di dedikasikan untuk semua ibu… Hari raya pada waktu ini, Rea ingin mengajak ibunya ke rumah ustadzahnya. Rea berharap ibunya mau pergi bersamanya. “Bu, Nanti kita ke rumahnya ustadzah

Kembali

Oleh:
Langkahku mengarah lurus pada sebuah gitar tua yang tengah bersender di lemari kayu. Teringat meriahnya suara tepuk tangan yang sering kudengar dulu. Lama memang, sudah dua tahun sejak kali

The Magic Of Love

Oleh:
Baju kemeja biru, dan celana jeans yang biasanya aku pakai sudah aku siap dan tinggal pakai. Hari ini hari pertama aku masuk kuliah. Sebisa mungkin aku berpakaian rapi dan

Love In The Side Camera

Oleh:
“Dengan semudah itu kau bicara barusan?!,” tanya Felly dengan menyipitkan matanya yang sinis. “Bagimana lagi, Felly. Aku mencintaimu. Apakah salah jika aku melamar gadis yang aku cintai?” “Tapi Arka,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *