Rasanya Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 December 2016

“hey… hey… hey, semuanya dengar. Kalian udah dengar gosip hari ini?” teriak sisi saat memasuki kelas
“memangnya gosip apaan, penasaran gue” tanya linda. Linda memang adalah ratu gosip di sekolah, bahkan urusan guru-guru pun dia tahu
“kak dion, sang idola kita dia udah nembak cewek” jawab sisi dengan muka yang pasti benci bangetlah. Gimana nggak benci, orang yang selamah ini ia kagumi yang adalah cowok idola di sekolah ternyata barusan udah nembak cewek
“what? Siapa? Dan dimana?” tanya linda kaget
“kak clara, tadi waktu di kelasnya” jawab sisi
“what! Clara? Clara yang anak dokter itu?” tanya linda nggak percaya
“ya iyalah linda, emank clara ada berapa sih di sekolah ini” ucap sisi kesal
“kok bisa ya…, hey cherli, kok bisa sih kakak lo nembak kak clara? Emang mereka sempat dekat?” tanya linda padaku yang sedang membaca novel
“nggak tahu!” jawabku singkat karena aku malas untuk bicara soal gosip-gosip.

O iya, kenalin namaku cherli sepriyanti dan cowok yang tadi diperbincangkan itu kakakku namanya christian dion. aku hanya bersaudara dua orang, mangkanya kehidupan rumahku nyaman banget. aku baru naik kelas XI dan kakak baru naik kelas XII. aku beda dari kakakku (ya iyalah), dia itu baik, suka bergaul mangkanya dia jadi ketua OSIS, sering bergurau, nggak gampang marah, ganteng dan manis (kata teman-teman sih, kalau kata aku sih biasa aja). Nah kalau aku baik (nganggap), nggak suka bergaul, cuek, jarang ketawa, pendiam. Oke cukup perkenalannya, sekarang kita lanjutin ceritanya. Cekidooot!

Pagi itu suasana sekolah sangat ramai dengan berita tentang kakak aku dan pacarnya. aku sih cuek-cuek aja dengan berita kayak gituan, namun aku sudah merasa nggak betah di dalam kelas karena mereka pada ribut semua ada yang sudah kata-katain kak clara, ada yang sudah nyanyi lagi galau dan masih banyak deh. aku pun langsung beranjak dari tempat duduk dan pergi ke perpustakaan tempat favoritku. Tapi sama aja, masih ribut walaupun di dalam perpus mumpung nggak ada pengawas yang jaga. Hari ini memang kami semua belum belajar karena baru pertama masuk dari liburan dua minggu lalu, makanya sekolah pada jadi kayak pasar gini. Karena marasa risih, aku pun mengambil headset dan memutar musik di hpku. Meski masih terdengar suara mereka yang kayak ibu-ibu, tapi kucoba sabar aja lagian sambil dengarin musik juga enak kok. Tak lama kemudian terdengar bel berbunyi, aku pun segera melihat jam. Sekarang jam 10: 15, saatnya ke kantin. Saat lagi nyari tempat duduk, ngerasa ada yang panggil namaku dan aku pun langsung berpaling dan ternyata yang panggil adalah kak dion. Aku segera mendekatinya yang sedang duduk bareng dengan pacar barunya

“ada apa” tanyaku sok cuek
“duduk aja disini, lagian udah nggak ada bangku kosong lagi” jelas kakaku. Aku pun langsung melihat sekeliling kantin, dan benar udah nggak ada bangku kosong lagi. Mau tak mau aku pun segera menduduki bangku kosong yang kakaku tunjukin.
“kok nggak semangat gitu? Kamu sakit cherli” tanya kak clara yang melihat wajahku sedikit lemas
“nggak kok, Cuma lagi kesal aja” jawabku yang melihat ke arahnya lalu menundukan kepala melanjutin makanku
“kesal sama siapa? Kakak?” tanya kak dion
“bukan!” jawabku singkat. Kulihat mareka saling pandang dengan penuh tanda tanya.
“terus, sama siapa?” sambung kak clara
“yang pasti bukan sama kalian berdua kok. Oke cherli duluan ya” kataku yang langsung berdiri meninggalkan mereka dengan tatapan heran

Langkahku kutujuhkan dengan menaiki anak tangga menujuh ke kelasku, namun tiba-tiba terhenti karena suara pak eko yang memanggil namaku menggunakan microphone

“panggilan siswa atas nama cherli sepriyanti agar segera keruang UKS sekarang” kata pak eko. Rasanya malas banget harus ke ruang UKS, namun ini sudah menjadi tanggung jawabku sebagai ketua seksi kesehatan di OSIS

Sesampai disana, aku melihat frans yang sedang terbaring dengan luka di lututnya dan bagian sukunya. Segera kuambil P3K yang terletak di atas lemari obat, segera kubersikan lukanya dan kubalut dengan perban. Namun saat aku hendak membalut luka di sikunya, dia menjerit kesakitan dan sepertinya tangannya keseleo. Dengan slow aku membalut lukanya. Dan dari tadi pak eko guru olahraga basket terus berdiri di samping frans dan nampak raut wajah pak eko sangat khawatir.

“nggak usah khwatir pak, ini nggak papa kok hanya saja tangannya keseleo. Sebentar juga kalau udah diobati bakal sembuh” kataku menenangkan pak eko
“bernaran ya?” jawab pak eko meyakinkan
“iya pak” ucapku
“pak, bapak dipanggil ibu kepsek dan sekarang bapak ditunggu di ruangannya” kata revan yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan
“o iya, eee bapak tinggal sebentar ya. Soalnya bapak ada panggilan” pamit pak eko

Setelah pak eko pergi, revan datang mendekat dan duduk di kursi sampingku. Ia melihat ke arahku, namun aku tetap fokus pada luka frans yang aku balut. Frans yang melihat revan hanya heran karena revan terus menatap ke arahku sambil tersenyum. Namun frans tak ambil pusing karena ia memang sudah tahu kalau revan menyukaiku.

Selesai sudah aku membalut luka frans, dan sekarang saatnya mengobati tangannya yang keseleo. Namun saat aku berdiri untuk mengambil peralatan, revan dengan cepatnya berdiri di depanku. Namun takku hiraukan dan saat aku hendak berjalan lagi, dia terus menghalangiku. Dengan kesal akhirnya aku terdiam sambil menarik nafasku dan menatapnya. Kulihat dia tersenyum namun tak kubalas senyumannya

“mau apa lagi sih van? Bisa nggak kalau kamu itu nggak ganggu aku sehari aja” kataku kesal
“bisa! Tapi yang penting kamu mau dulu makan malam denganku” ucap revan sambil tersenyum
“ngga! Lagian kan udah dari kemarin aku bilang nggak. Kamu kok nggak ada kapoknya juga ya. Aku itu lagi sibuk sekarang. Ngerti!” kataku sambil menatap tajam ke arahnya
“aku nggak peduli kamu sibuk atau nggak, yang penting kamu bisa makan malam denganku” kata revan tak peduli. Tanpa aku sadari, dari tadi frans terus memperhatikan aku dan revan.
“kamu itu…”
“cherli, ada apa sih kok ribut-ribut?” tanya chiko yang masuk tiba-tiba dengan suaranya yang khas banci banget
“o ini revan katanya dia mau ngajakin kamu makan malam, tapi dia malu untuk bilang langsung ke kamu. Makanya dia nyuruh aku untuk nyampein kekamu, tapi aku lagi sibuk. Dia terus maksa, e pas kamu ada di sini jadi aku langsung bilang aja deh.” kataku yang memutarbalikan fakta sambil menatap ke arah chiko. Aku melihat chiko yang tampak senang, ya chiko memang tertarik dengan revan.
“yang benar? Waw aku senang sekali” kata chiko dengan girangnya
“cherli, kamu apa-apaan sih, kamu…”
“udah, ayo kita ke luar. Kita ngomongin soal makan malam kita” potong chiko sambil menarik tangan revan ke luar. Revan berusaha melepaskan, namun sepertinya kekuatan banci lebih unggul

“kok kamu nggak mau makan malam dengan revan? Ya, bukan aku kepo. Tapi revan kan banyak yang suka di sekolah ini, kok kamu malah nggak mau sih” tanya frans saat aku sedang mengompres tanganya yang keseleo
“aku nggak mau aja. Lagian juga aku lagi sibuk” jawabku sambil mengompres tanganya
“o iya, kemarin aku lihat kamu di rumah sakit. Ngapain?” tanya frans lagi
“o itu, aku habis ketemu sama papaku” jawabku yang tetap fokus pada tangannya
“papa kamu sakit?” tanya frans dengan wajah prihatin
“nggak, bukan. Papa aku dokter di rumah sakit itu” jawabku sambil sedikit tertawa
“o kiraiin. Aw…” ucap frans tiba-tiba saat aku mengompres bagian sikunya
“aduh sory sory sory, aku nggak sengaja. Sory ya…” kataku yang tanpa sadar telah memegang tangannya yang menutupi sikunya. Kami pun saling bertatapan, dan tiba-tiba aku segera melepaskan tanganku dan langsung menyimpan kompresan tersebut.

Setelah itu aku langsung memperban tangannya, namun suasana terasa begitu dingin setelah kejadian tadi. Cukup lama aku memperban tangannya karena pikiranku terasa kacau. Dan setelah aku selesai memperban tangannya, frans pun segera mengucapkan terimah kasih dan langsung keluar entah menujuh kemana. Aku pun merasa nggak enak pada frans, tapi kenapa aku jadi kepikiran tentang kejadian tadi ya? Setelah itu terdengar bel berbunyi, aku pun segerah beranjak dan langsung menujuh ke kelas. Sesampai di kelas aku melihat frans yang lagi duduk sambil mendengarkan musik. Tak lama kemudian pak eko wali kelas aku segerah masuk dengan tersenyum puas. Murid-murid pun keheranan, namun aku cuek aja sambil melihat sms yang masuk di ponselku (jangan dicontoh ya). Setelah itu langsung terdengar suara pak eko yang membuka pembicaraan

“selamat siang anak-anak, besok kan bapak ada jam mengajar di kelas kalian. Jadi besok kita akan mulai belajar” kata pak eko dengan begitu semangat
“ya… kok udah belajar sih pak…? kan baru pertama masuk sekolah, jadi minggu depan aja ya pak” tawar anak-anak nggak setuju
“kalian ini, apa kalian tidak puas dengan libur dua minggu? Sudah, tidak ada tawar-menawar lagi. Kalian pikir bapak ini sedang jualan?” kata pak eko dengan sedikit bentakan
“iya maaf pak” balas anak-anak lain bersama-sama
“frans, tangan kamu patah, kenapa sampai kasih begitu” kata pak eko yang kaget melihat tangan frans telah diperban
“memang kayak gini pak walaupun tangan nggak patah, tapi tetap aja diperban agar cepat sembuh” jawab frans sambil tersenyum
“o gitu, ya udah cepat sembuh ya. Baik anak-anak sekarang kita selesaikan sampai disini dulu ya. Tapi sebelum itu bapak mau kasih tahu pada kalian, bahwa materi besok adalah bola volly. Jadi bapak harap kalian sudah siap. Oke cukup sekian dan kalian boleh pulang” ucap pak eko menutup pembicaraan

Sorenya saat aku selesai mandi, aku mendengar bel rumah berbunyi. Saat itu hanya aku dan kak dion yang berada di rumah, tapi saat itu kak dion lagi mandi. Jadi mau tak mau aku segera membuka pintu. Saat aku membuka pintu, ternyata tamunya adalah frans. Aku pun segera mempersilakan masuk dan menyuruhnya menunggu dan menuju ke dalam mengambil minuman untuknya. Tak lama kemudian aku pun segera menyodorkan minuman untuknya dan berbincang sedikit dengannya karena nggak enak kalau dia harus nunggu kak dion sendirian

“cieee ada yang lagi ngobrol berdua” kata kak dion tiba-tiba sambil menuruni anak tangga
“lama banget sih mandinya, kayak gadis aja” ledekku
“emang hanya gadis aja yang mandinya lama, cowok kan bisa juga” jawabnya sambil mencubit pipiku
“bukan itu masalahnya, ini frans udah dari tadi nungguin kakak selesai mandi. Eh, kakak malah lama” kataku sambil membalas cubitannya
“nggak kok, nggak lama. lagian juga nggak apa-apa kalau kak dion mau mandi lama” sambung frans sambil tersenyum
“tuh, frans aja bilang nggak apa-apa, kok jadi kamu yang ngomel” kata kak dion sambil duduk di sofa
“tau ah!” kataku sambil meranjak pergi menuju kamar

Malam harinya adalah saatnya belajar. Aku dengan semangatnya mengerjakan tugas bahasa indonesia karena aku sangat suka dengan pelajaran ini. Setelah selesai mengerjakan tugas, aku segera membaca novel yang baru aku beli saat pulang sekolah tadi. Tak lama kemudian, kantukku mulai datang, aku pun segera membaringkan badanku ke kasur dan tidur.

Pagi harinya saat tiba di sekolah, aku segera menuju ke kelas dan keluar lagi menujuh perpustakaan. Tak lama kemudian bel pun berbunyi, sesuai dengan janji pak eko bahwa hari ini kita akan praktek volly. Karena itu aku segera keluar menujuh kelapangan untuk berbaris bersama teman kelasku. Saat praktek hanya frans saja yang tidak ikut karena tangannya masih dalam pemulihan, jadi dia hanya melihat kami selama jam olahraga berlangsung. Usai olahraga aku segera mengganti bajuku dan langsung menuju kantin untuk menghilangkan hausku, namun saat aku di kantin revan datang dan duduk di kursi tepat di depanku. Saat ia datang aku hanya melihatnya sesaat dan memalingkan wajahku, ingin rasanya aku beranjak pergi tapi pesananku belum juga datang. Akhirnya aku putuskan untuk bertahan walau aku udah rasa kesal

“cherli, kamu itu bisa nggak sih sekali aja nggak jutek sama aku. Kamu tahu nggak sikap kamu kemarin itu udah bikin aku malu di depan teman-teman, kamu tega banget ya. Aku itu cinta banget sama kamu, tapi kamu mala bikin aku kayak gini. Emang kamu nggak ada rasa cinta apa sama aku” kata revan panjang lebar yang membuat kuping aku seperti mau meledak
“aku? Nggak! Lagian kamu juga nggak bosan apa, aku kan udah bilang kalau aku nggak akan pernah suka sama kamu. Kamu maksa banget ya jadi orang, dengar ya aku itu udah mencintai seseorang dan orang itu bukan kamu. Ngerti! Jadi sekarang stop jangan ganggu hidup aku lagi.” kataku dengan sangat puas
“o ya? Kalau memang kamu sudah cinta sama seseorang, mana orangnya? Aku mau lihat, cowok apa yang bisa mengambil hati kamu” ucap revan sambil melihat ke sekeliling kantin
“emang apa urusannya sama kamu. Dengar ya mau aku suka sama cowok siapapun itu bukan urusan kamu” ucapku lalu beranjak pergi

Hari itu aku udah nggak konsen lagi belajar di dalam kelas, pelajaran yang dari tadi pagi sampai pulang sekolah nggak ada yang masuk di dalam otakku. Karena merasa kesal, akhirnya setelah pulang sekolah aku melajuhkan mobilku menujuh ke tempat favoritku, danau. Dengan duduk di kursi panjang dan menikmati keindahan danau, aku merasa nyaman dan seperti nggak ada beban hidupku. Karena keasyikan menikmati danau, aku tak tahu kalau ternyata ada seseorang yang duduk di sampingku. Dan setelah aku menoleh, aku terkaget karena ternyata orang tersebut adalah frans. Saat aku menoleh aku melihatnya hanya tersenyum sambil memandangku juga

“kamu? Kamu ngapain disini? Kamu tahu nggak, aku itu kaget banget tahu” kataku sambil memandang ke arahnya
“sorry, aku nggak bermaksud untuk membuatmu kaget. Aku hanya ingin duduk di samping kamu. Boleh?” tanyanya sambil menatap ke arahku dengan serius
“ya udah, duduk aja. Lagian ini juga tempat umum, tapi kamu kapan datangnya?” tanyaku
“barusan, masa kamu nggak rasa? Berarti kamu serius banget ya” kata frans
“nggak juga, aku tadi hanya biasa-biasa saja” ucapku sambil tersenyum
“ooo jadi ini orang yang kamu maksud telah berhasil merebut hatimu? Kanapa harus dia sih cher?” tanya revan yang muncul tiba-tiba di samping aku
“kamu ngapain disini?” tanyaku dengan nada yang sangat jengkel
“aku? Aku hanya ingin tahu siapa cowok yang sudah berhasil merebut hatimu, jadi ternyata frans.” jawab revan dengan senyum sinis
“kalau iya emang kenapa? nggak ada urusannya sama kamu kan. Lagian frans lebih baik kok, buktinya dia berhasil mengambil hati aku walaupun dia nggak melakukan apa-apa” kataku yang udah capek ngomong sama revan dan aku udah nggak pusing mau frans dengar atau nggak
“cher, aku itu cinta sama kamu dan aku bisa buktikan kalau aku itu cinta sama kamu” ucap revan dengan mantapnya
“coba aja” jawabku santai

Setelah aku berkata begitu, aku langsung meninggalkan revan dan frans. Namun beru berapa langkah, aku mendengar suara orang yang sedang berkelahi. Dan saat aku menoleh, ternyata yang berkelahi adalah revan dan frans. Aku melihat frans yang tak melawan sama sekali, aku pun panik dan langsung berlari ke arah mereka

“hentikan… revan hentikan” kataku yang berusaha memisahkan mereka
“cher, dengar ya. Aku sudah buktikan kalau aku cinta sama kamu” ucap revan yang masih ngosngosan
“kamu gila ya. Kalau memang kamu cinta sama aku dan kalau memang kamu ingin membuktikannya, bukan begini caranya van. Kamu justru mala membuat aku tambah benci sama kamu karena orang yang aku cintai sudah kamu lukai” kataku sambil menatap tajam kearahnya
“apa? Cher aku nggak nyangka kamu bisa ngomoong kayak gitu, mulai sekarang aku juga benci sama kamu” ucap revan yang langsung beranjak pergi
“kita ke rumahku sekarang biar aku yang obati lukamu, soalnya kamu udah babak-belur begini” kataku dengan cemas
“nggak usah cher, aku nggak apa-apa. Mending sekarang aku…” belum selesai frans berkata, aku dengan segera menariknya naik ke mobilku

Setelah sampai di rumahku, aku segera mengambil P3K dan segera mengobati luka frans. Hari ini aku merasa bersalah sekali karena gara-gara aku frans bisa babak-belur kayak gini. Setelah mengobati luka frans, aku menyuruhnya untuk beristirahat di kursi dan menunggu aku mengambil makan siang untuknya.

“maafkan aku ya frans, gara-gara aku kamu jadi kayak gini” ucapku sambil menundukan kepala
“nggak papa kok. ini bukan salah kamu, tapi ini salah revan dan kamu nggak perlu minta maaf” jawabnya sambil menatapku
“tapi revan marah kan gara-gara aku bilang kalau kamu yang sudah berhasil merebut hatiku” ucapku yang masih merasa bersalah
“tapi aku akan lebih marah kalau kamu tadi itu berkata bohong” kata frans sambil menatap kearahku
“maksud kamu?” tanyaku heran
“ya aku berharap kalau aku memang benar-benar sudah merebut hatimu, karena kamu juga sudah berhasil merebut hatiku” kata frans yang makin membuatku heran
“tunggu, aku makin nggak ngerti apa maksud kamu?”
“nggak usah bohong, kamu pasti udah tahu apa maksud aku. Cher, aku tahu selamah ini kamu suka sama aku, kamu sering kan nulis di diary kamu kalau kamu suka sama aku” kata frans yang membuatku terkejut
“kamu tahu darimana?” tanyaku kaget karena memang selama ini aku pendam perasaan aku pada frans dan itu hanya aku tuangkan di dalam buku harianku
“kamu masih ingat waktu di UKS saat kamu mengobati lukaku? Saat itu aku segera pergi dan tak lama kemudian aku balik lagi karena aku ingin minta maaf sama kamu, tapi kamu udah nggak ada. Saat aku hendak pergi, aku tak sengaja melihat buku di atas meja dengan tulisan @cherlidiary. Saat itu aku langsung mengambilnya dan aku penasaran banget apa yang kamu tulis di dalamnya. Saat aku baca, aku kaget karena selama ini ternyata kamu suka sama aku. Aku hanya ingin bilang kalau aku juga suka dan sayang sama kamu dan itu udah lama benget. Aku nggak tahu kenapa aku bisa kayak gini, tapi intinya aku sayang sama kamu” kata frans sambil memegang tanganku
“kamu bercanda kan? Udah deh frans, kalau kamu ingin ucapin terima kasih sama aku tinggal bilang aja dan nggak usah pura-pura bilang kalau kamu suka dan sayang sama aku. Uda deh, aku ke dalam dulu ya” kataku yang langsung berdiri dan melangkah ke dalam
“aku nggak bohong cher, aku serius. Aku bisa buktikan kalau aku sayang sama kamu” ucap frans yang menghentikan langkahku dan segera beranjak ke luar dari rumahku

Malam harinya aku nggak konsen belajar karena aku masih teringat kata-kata frans kalau ia mau membuktikan cintanya padaku dan aku penasaran banget bagaimana caranya membuktikan kalau ia sayang sama aku. Karena udah nggak tahu apa yang harus aku buat, akhirnya aku memutuskan untuk tidur.

Pagi harinya aku segera bangun dan bersiap-siap untuk sarapan. Setelah selesai sarapan aku segera berangkat ke sekolah. Sampai di sekolah aku langsung menuju ke kelas, namun dari kejahuan aku melihat sepertinya kelasku sepi sekali. Karena takut kalau sudah ada guru, aku pun langsung berlari menuju kelasku. Saat aku tiba di pintu kelas, langkahku terhenti karena frans telah beridiri di depanku sambil memegang setangkai bunga. Aku pun terdiam sambil melihat ke arah teman-teman dan kemudian melihat ke arah frans

“frans, kamu apa-apaan sih. Aku malu tahu” kataku sambil menundukan kepala
“aku hanya mau buktiin kalau aku sayang sama kamu, dan aku ingin buktikan di depan teman-teman. Cherli, aku sungguh cinta dan sayang sama kamu. Aku udah nggak tahu harus buktikan apa lagi agar kamu percaya. Dan aku rasa ini adalah satu-satunya cara agar kamu dapat percaya kalau aku sayang sama kamu. Cherli, aku sayang sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku?” kata frans sambil menyodorkan bunga tersebut
“aku… aku… mau jadi pacar kamu” jawabku sambil mengambil bunga tersebut
“yang benar?” tanya frans meyakinkan
“iya”
“makasih” ucap frans sambil memegang tanganku

Hari-hariku terasa begitu indah karena kehadiran frans yang selalu menemaniku, pertengkaran kecil ataupun besar tak pernah terjadi. Terimah kasih frans… karenamu aku bisa tahu apa arti cinta sesungguhnya, terima kasih juga telah menjadi orang pertama di hidupku dan aku berharap kamu adalah orang yang terakhir di dalam hidupku. Love you…!

Cerpen Karangan: Cherli Sepriyanti Laondang
Facebook: Cherli Sepriyanti Laondang
hay saya cherli sepriyanti laondang, lahir di sukamaju 1 23-09-2000. saya bersekolah di SMAN 3 LUWUK kelas XI IPS 1.

Cerpen Rasanya Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi Selepas Senja

Oleh:
Tanganku bergerak mengulurkan selembar kertas berwarna merah marun pada sosok di sampingku. Ia menerimanya dan membuka perlahan. “Jadi tiga minggu lagi ya?” desahnya. “Seharusnya.” Kudengar helaan napas beratnya. “Undangan

Precious Chocholate

Oleh:
Langit mulai berwarna, Matahari sudah mulai tersenyum, aku bergegas dan bersiap untuk segera pergi ke tempat kerjaku, aku bekerja disebuah toko cokelat bernama “Precious Chocholate”, disana aku menjadi pelayan

Lexa Dan Axel (Part 1)

Oleh:
Alexandara yang sering disebut lexa adalah cewek feminim, cantik, tetapi jomblo karena sikap yang kenak-kanakannya membuat semua cowok menjauhinya. ia mempunyai saudara kembar yang bernama axel. axel adalah cowok

Terima Kasih Telah Mengajari Ku

Oleh:
Aku, aku yang telah layu bahkan kering tanpa dirinya. Dia pergi menikah dengan wanita lain, aku sangat terpukul. Dan aku hanya bisa menangis menangis dan menangis di setiap waktu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *