Rekayasa Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 October 2015

Ini merupakan sebuah kisah pribadiku yang menceritakan pengalaman yang sungguh menyimpan kenangan yang paling indah dalam hidupku. Sepuluh tahun sudah berlalu saat itu aku menginjakkan kakiku di sekolah menengah. Hari senin dimulai orientasi, pagi hari suasana terasa menegangkan karena orientasi pertama di sekolah dimulai. Hari itu sungguh sial buatku aku terlambat datang ke sekolah.

Saat pertama orientasi siswa baru, aku baru menginjakkan kakiku di bangku smu udah terlambat dan pagi itu langsung dapat jatah hukuman dari Kakak kelasku, itu merupakan kesalahan yang sangat memalukan buat diriku. Dan hari itu adalah hari yang sangat sial buatku. Kakak kelasku yang paling ganas dan menyeramkan sebut saja namanya Anton membuat hatiku takut dan kaki ini gemetar bila sudah kena hardikannya. Aku berdiri diam di depan gerbang sekolah tiba-tiba saja ada teriakan dengan suara lantangnya Anton menunjuk ke arahku.

“Hei lo budek ya, sini! hei sini! lo denger gak gue manggil dari tadi?! udah jam berapa lo pergi sekolah, hah!!”
Anton berkata dengan geramnya kepadaku seperti macan yang sedang kelaparan dan ingin menerkamku.
“Dasar pemalas!” kata-kata itu yang bikin diriku sakit hati.
“nyeemot hahaha..” terpampang nama di sebuah karton warna pink bertuliskan nama nyemot di dadaku, dan 2 buah tali yang digantung pete sama jengkol di depan dada.

Anton memerhatikan dari ujung rambut hingga kertas karton yang menempel di leherku. Aku tak menyangka ternyata orientasi sungguh membuat jantungku berdebar-debar, dan rasanya aku mau cepat aja pingsan apalagi di hadapan si Anton.
“Oh ya. Karena lo udah terlambat jadi kali ini gue beri sangsi gue suruh lo nyanyi sambil megang kepala lo dan sambil lari keliling sekolah. Ayo ayo sana lari! cepetan manis…” Kakak kelasku Anton yang begitu kasar memarahiku dan semua teman-temannya pun ikut meneriakiku sambil tepuk tangan. Aku terdiam membisu dengar coletehanya yang beringas.

“huh menyebalkan banget!” pikirku dalam hati.
Walau kaki terasa berat aku terpaksa ngelakuinnya namun gimana lagi daripada lihat beringas si Anton pikirku. Teman-temanku yang lain menatapku dan mereka sambil senyum-senyum kepada aku sepertinya mungkin menertawaiku. Sambil berjalan dan malu aku terpaksa berlari hingga keringatku bercucuran karena teriknya matahari di lapangan sekolah.

Lima keliling lapangan aku disuruh lari oleh si Anton membuat kaki cape dan pegal. Dan aku terduduk di tengah lapangan. Setelah kakiku tidak dapat untuk diajak berdiri aku sengaja duduk di bawah pepohonan. Aku tak mau tahu apalagi yang akan dilakukan Anton padaku. Tak lama kemudian tanpa sengaja Anton sudah berdiri di belakangku dan ia sambil menertawaiku melihat aku sesak napas dan terduduk lemas.
“Dasar brengsek, gak punya hati awas lo.” kataku sambil mengumpat.

Dia melihat ke arahku di balik pepohonan, dan aku terperangah dan terkejut entah apalagi yang akan dilakukannya, aku menjadi takut. Matanya menatapku sangat lama dan kami saling berpandangan, ah entah apa yang di pikirkannya tentangku. Setelah selesai aku dihukum aku disuruh ke depan oleh beberapa Kakak kelas yang lain namun Anton terlebih dulu memanggilku.
“Hei sini manis, lo dengar gak gue manggil-manggil lo, apa lo budek hah?”
“Ya, kak.”
“lo mau gue ceburin sama air kali, mau?”
“Gak, kak”
“Kalau bicara lo yang bener dong” sambil berpangku tangan dan mengelilingi, tapi tatapan mata Anton sungguh membuatku gugup, entah karena apa aku merasa Anton selalu memerhatikan aku ke mana, dan di mana saja saat orientasi ini.
“Iya Kakak Anton? gitu. Ngerti nggaak!! Oke, gini lo duduk sana istirahat dan jangan lo buat macam-macam, ngerti! jangan berdiri lo sampai gue nyuruh lo ke luar dari ruangan” wajahnya terlihat begitu dekat berbicara kepadaku mungkin sekitar dua centimeter dari wajahku.
“Iya, Kakak.” kataku sambil tertunduk.

Satu jam aku termenung sendirian, aku berpikir aneh memang Anton sang beringas dan sangat kejam, entah kenapa hanya aku yang selalu jadi incarannya, aku kadang jadi heran kenapa bukan Kakak kelas lainnya. Hanya dia yang sangat kejam dan selalu memarahiku. Ah, aku jadi tak mengerti dengan sikapnya Anton terhadapku. Gak lama kemudian si Anton masuk ke ruang kelas 1.2 dan sengaja bawain air minum dingin 2 dan dikasih satu buatku.

“Nih lo minum lo haus kan, oh ya ngomong–ngomong nama lo siapa?”
“Ri Ridha kak.” jawabku agak terbata bata, tumben si Anton baik pikirku dia kan manusia iblis yang gak punya hati.
“Kamu kayaknya anak manja ya dari tadi gua lihat lo dianter ampe depan sekolahan. Lo tahu gak, sekolah di sini gak bisa untuk anak manja kayak lo, ngerti nggak?” aku tertunduk aja dan memilih untuk diam.
“Hei, kenapa lo bengong ngerti gak apa yang gua bicarain, ngerti gak?”
“Ya kak.”
“Besok-besok gak usah pake diantar ke sekolah segala, lo dari 1 kiloan menuju sekolah harus jalan kaki ngerti dan jangan terlambat, paham!”

Sejak saat orientasi itu aku mulai melihat gaya dan gerak geriknya si Anton, ternyata teman-teman lain pun terkena hukuman juga dan pada umumnya sih untuk siswa cewek yang manja dan yang agak penakut sering dikerjain habis-habisan oleh si Anton. tapi beda denganku Anton memarahiku habis–habisan setiap hari selama orientasi dan matanya itu selalu menatapku dengan tatapan yang memberikan sebuah arti yang ku tak mengerti. Dan begitulah hari-hariku hingga berakhir orentasi dengan Anton.

Pada hari terakhir orientasi siswa tibalah saatnya acara puncak dan perpisahan dengan Kakak kelas dan acara kenang-kenangan disertai mengoleksi tanda tangan Kakak-Kakak kelas lainnya. Pada hari itu juga ada hal yang begitu mengejutkan dan membuatku syok dengan ulah Anton, tanpa sengaja kami siswa yang cewek dikumpulkan pada suatu ruangan kelas dengan dipaksa seperti mengejar buronan kami diikat sebanyak 9 orang. Dalam ruang gelap di sebuah kelas kosong dan hanya diterangi lilin saja. Membuat jantungku berdegup kencang.

Aku memekik dan ketakutan saat itu, aku menangis hingga mataku sembab saat itu. Entah apa yang akan dilakukan saat itu aku tak tahu. Aku gak ingat ternyata hari terakhir orientasi siswa tepat di hari ulang tahunku yang ke-17. Aku malah dibentak habis-habisan oleh si Anton juga empat orang Kakak kelasku yang lainnya. Kakak-kakak kelas yang mengorientasi sebanyak 30 orang lebih mengelilingiku, dan aku diikat pada sebuah bangku kosong, aku disuruh bernyanyi tanpa henti tapi aku bilang tidak mau, karena tangisanku tak kuat ku bending karena Anton bilang aku dituduh mencuri isi tas milik temannya, spontan aja aku terperangah dan langsung menangis dan gak kuat banget rasanya aku dituduh seperti itu. Spontan aku terkejut, saat itu tak dapat ku tahan lagi airmataku ini.

“lo tahu, baru kemaren kena hukuman kini lo jadi maling, mau jadi apa lo hah, cantik tapi gak punya kepribadian lebih baik lo dikeluarin di sekolah ini biar gak bisa sekolah sekalian. Besok lo akan dikembalikan ke orangtua lo, ngerti!”
“hiks, hiks, hiks..” aku menangis dan meratap dan air mata ini mengalir begitu derasnya, “gak gak mungkin aku yang mencuri Kak, dari kemaren aku di kelas sendiri cuma.” aku tak bisa berkata-kata lagi menahan tangisku yang luar biasa yang tak bisa ku tahan.
“Cuman apa, memang lo mau jadi maling di sekolah ini hah! dasar cantik-cantik tukang maling hahaha.”

Anton menertawaiku beserta Kakak kelas lainnya. Aku tertunduk lesu dan aku sangat sakit hati dengan cara si Anton memperlakukan aku semena-mena saat itu. Setelah 1 jam kemudian berselang Anton menghidupkan lampu ruangan kelas hingga terang dan membawa setangkai mawar juga kotak bewarna merah lalu mengelus kepalaku dengan lembutnya. Aku malu karena semua teman-teman sekelasku dan Kakak kelasku semuanya mengelilingiku mengucapkan selamat. Dan aku hanya terpana saja melihat semua teman-temanku yang lain juga menertawaiku. Ada apa dengan mereka.

“happy birthday to you.. happy birthday Ridha. Selamat ya?”
“hahahaha…” semua menertawaiku dengan skenario yang telah dibuat mereka dan Anton si beringas membuat ku jadi bingung bercampur senang ternyata oh ternyata semua cuma rekayasa cinta Anton.
“Di hari yang berbahagia ini ku persembahkan mawar merahku untukmu Ridha, terimalah. Dan kami semua Kakak kelas kalian, tidak ada sedikit pun niat kami untuk menyakiti kalian, kami semua minta maaf pada siswa-siswi semuanya, dan khususnya Ridha yang paling sering diberi hukuman semata-mata hanya untuk menguji mental dan sikap perilaku.”

Semuanya bermaaf-maafan dan bertangisan hingga membuat suasana jadi terharu. Kami pun saling berpelukan dan bermaaf-maafan hingga tak ada dendam di hati dan juga teman kelasku lainnya. Anton mendekatiku dan sengaja minta maaf dan bersujud, aku mengira ada apa nih sampai bersujud segala di kakiku.

“Rid ada sedikit yang akan aku utarakan bahwa detik-detik berlalu telah membawamu dalam ketakutan dan ketegangan pada saat orientasi kemaren. Semua perhatian, ucapanku, dan cara sikap dan perilaku yang menyakitimu aku sangat minta maaf sebesar-besarnya namun di balik itu bukan untuk dendam atau sebagainya. Aku ingin kamu bisa mengerti dengan perhatianku selama orientasi, saat awal pertemuanku denganmu di orientasi ini membuatku jatuh cinta kepadamu. Terimalah cintaku Anton sang pecinta dan idolamu ini.” Lalu Anton mempersembahkan sebuah lagu cinta untukku.

Aku terperangah dengan tingkah polah Anton yang membuat jantungku berdegup kencang, selama ini memang Anton sering mencuri perhatianku tapi aku sengaja tidak menghiraukan karena keberingasannya. Anton membawakan lagu ungu demi waktu yang begitu romantis banget. Sejak saat itu aku dan Kakak kelasku Anton telah resmi pacaran dia ternyata cowok yang punya sosok yang tegas dan membuatku gila dengan semua rekayasa ceritanya hingga membuatku jatuh cinta dengan tingkah lakunya yang gila-gilaan. Ternyata Anton beringas hanya di orientasi saja hingga dia pun dicap sebagai Kakak terkejam saat orientasi.

Hingga kini 10 tahun berlalu aku tetap mencintai Anton sang Kakak terkejam dan penuh romantisme yang sampai saat ini masih tetap sama-sama kami lalui. Hingga kami pun sampai saat ini tetap langgeng dan kami berdua berniat akan bertunangan pada bulan depan. Cerita iniku persembahkan buat teman-temanku di bangku smunsa yang begitu memberi kenangan yang begitu indah. Memang benar apa yang dibilang orang-orang kenangan yang begitu indah adalah kenangan semasa di SMA.

Cerpen Karangan: Sari Chintya Dewi
Facebook: Sari Chintya
Ku persembahkan buat teman-temanku smunsa bandung semua mengingat kenangan kita saat reunian di orientasi sekolah. Ku harap kalian bisa membaca kisahku ini, aku baru mulai belajar menulis semoga lebih baik dari tulisan sebelumnya.

Cerpen Rekayasa Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Makhluk Manis Di Teras

Oleh:
“Sssst, Anna.. lihat deh cowok yang lagi main gitar itu,” bisik Anggi pada Anna yang sedang asyik menjilat ice cream cokelatnya seraya menunjuk dengan kepala ke arah rumah bercat

Bimbimbab Bulgogi

Oleh:
“Cincah!, njang! salamdeul-eun wae eojjaessdeun e naleul ttaleula ida?! ttohan sonsil, yeogi seong su issseubnida! jenjang jenjang! salamdeul-eun wae eojjaessdeun e naleul ttaleula ida?!,” hardiknya kepada dirinya sendiri sembari

Dipertemukan Karena Rasa Sakit

Oleh:
Ada banyak arti dari sebuah kata dan banyak maksud dari setiap kata yang terucap dari seseorang. Bagaikan petir di pagi hari, itulah perasaan yang kurasakan saat diri ini tersadar

Hanya Bisa Berharap

Oleh:
Namaku Sinar aku sangat mencintai seseorang ia bernama Lila, dia lelaki yang sangat spesial di dalam hatiku, pertama aku mencintainya ketika aku pertama kali melihatnya. Entah karena apa semua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *