Retak Yang Utuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 May 2017

Hari ini aku terlalu lelah menghadapi hiruk pikuknya kegiatan sekolah hingga akhirnya aku tertidur dari pulang sekolah sampai jam 20.00 malam. Aku lelah karena semua apa yang aku inginkan tidak terkabul. Aku ingin seperti mereka yang punya tas baru, sepatu baru, uang belanja yang berlebih. Tapi aku sadar, menjadi anak dari hanya seorang petani dan seorang pedagang aku hanya bisa mengurung niatku untuk mengharapkan itu semua. Bahkan dalam masalah perasaan aku hanya bisa memendamnya sejak dua tahun yang lalu.

Hari berganti hari dan sekarang aku telah menduduki bangku di kelas XII SMK. Insya Allah beberapa bulan lagi aku akan lulus, jika ada biaya aku berniat untuk melanjutkan ke Kuliah. Setelah aku lulus berarti aku akan berpisah dengan semua temanku termasuk orang yang kusukai selama 3 tahun terakhir ini. Sebelum terlambat aku ingin dia tahu perasaanku yang sesungguhnya. Untuk itu aku menyiapkan rencana untuk mengatakan isi hatiku. Tak peduli ia beranggapan apa tentang diriku yang duluan menyatakan perasaan padanya.

Tepat dihari acara perpisahan aku bimbang mengatakan padanya atau tidak. Satu sisi aku ragu dan satu sisi lagi aku merasa akan menyesal jika sampai dia tidak tahu apa yang kupendam selama ini padanya. Akhirnya aku pun mengambil napas dan memberanikan diri. Aku mendekatinya yang sedang duduk melihat penampilan tari anak kelas X. Melihat kehadiranku di sampingnya lalu dia menoleh ke arahku.
“Hai Mi!” sapa Fahri kepadaku.
“Hai Ri!” balasku padanya.
“Hmmm Ri…” kataku dengan gugup.
“Ya” jawabnya.
“Aku mau ngomong sesuatu… tapi…” kataku samil melihat ke sekeliling. Fahri pun juga mengikuti ke mana arah mataku.
“Kamu mau ngomong apa sih Mi?” desak Fahri.
“Kita bicaranya di Kelas saja yuk, di sini terlalu ramai” kataku sambil menarik tangannya.

Tiba di kelas…
“Ya sudah ngomong aja. Apa sih yang mau kamu omongin ke aku, jadi penasaaran…” kata Fahri melirikku dengan tajam.
“Aku… aku… aku…” aku gugup sekali sambil menerawang ke luar jendela.
“Aku apaan sih?”
Dengan segenap jiwa dan raga keringat dingin bercucuran aku mengatakannya hingga dia membuat hatiku hancur berkeping-keping. Satu kalimat yang membuatku batinku tersiksa hingga aku tak mampu bicara bahkan menatap matanya.

“Maaf ya Mi… aku cuma menganggap kamu teman bukan lebih” katanya lirih padaku.
“Tapi Ri, aku sayang sama kamu. Dan aku berharap banget kamu akan membalas cintaku” kataku meyakinkannya.
“Mi… aku tahu cinta kamu tulus padaku, tapi maaf hati aku sudah untuk cewek lain” kata-katanya itu serasa ribuan ton rantai besi menggelayut di tubuhku.
“Tapi ri…” kataku menangis sambil memegang erat tangannya.
“Sudah Mi, sudah…” kata Fahri berusaha melepaskan pegangan tanganku dengannya.
“Fahri! Fahri…” panggilku dengan histeris.

Aku terduduk dengan lemas bergelimang air mata yang bercucuran membuat jilbabku basah. Tak ada yang peduli padaku, bahkan teman-temanku entah ke mana saat aku aku membutuhkan perhatian dari mereka. Satu jam lebih aku menangis sendiri di dalam ruang kelas itu tak ada yang tahu siapa pun kecuali Fahri. Cowok yang meluluh lantahkan hatiku. Aku melirik jam dinding kelas menunjukkan pukul 15.40 dari luar terdengar suara dentuman keras musik DJ. Mungkin yang lain sedang bahagia merayakan acara hari ini tapi aku tidak, tidak sama sekali.

Mataku mulai berkunang-kunang dan pandanganku kabur dan beberapa saat kemudian aku tak tahu apa yang terjadi. Terasa bau-bauan minyak kayu putih menyengat hidungku membuat aku terbangun. Aku sungguh tidak suka bau minyak kayu putih. Pandanganku buram, ada seorang cowok di depanku dan aku tidak bisa melihat jelas wajahnya. Aku lupa di mana letak kacamataku saat berada di kelas tadi. Aku meraba-raba ke sekelilingku berharap menemukan benda yang mampu membuatku melihat dengan jelas. Tiba-tiba cowok itu memberikan benda yang kucari itu dan memakaikannya untukku. Barulah sekarang aku bisa melihat jelas wajah cowok yang bernama Ade itu.

“Ade!” kataku terkejut.
“Iya, tadi kamu pingsan pas aku mau ambil tas, jadi aku bawa ke sini” terangnya padaku.
“Terima kasih” ucapku singkat
“Kamu sepertinya habis menangis, kamu kenapa?” tanya Ade.
Aku hanya diam…
“Ami, kalau kamu punya masalah cerita aja, daripada dipendam sendiri” katanya meyakinkanku untuk menceritakan kejadian tadi.
Secara refleks aku langsung memeluknya dan kembali menangis mengeluarkan semua rasa yang membuat dadaku sesak setiap kali aku mengingatnya. Mungkin Ade heran kenapa aku memeluknya, tapi ia membiarkanku memeluknya.

5 menit kemudian aku sadar apa yang aku lakukan. Dan melepaskan pelukanku dengannya.
“Maaf ya De” kataku salting.
“Enggak apa-apa kok Mi” katanya sambil mengusap air mataku.
“Makasih buat perhatiannya”
“Iya” dia tersenyum padaku.
Hening…

“Ternyata jujur itu menyakitkan ya…” kataku memulai pembicaraan.
“Kata siapa?” tanya Ade padaku.
“Kata hatiku sendiri”
“oh”
“Tapi jujur itu lebih baik daripada memendam perasaan”
“Begitu ya?” tanya Ade lagi padaku.
“Ya sepertinya begitu”
“Kalau begitu aku boleh jujur dong”
“Ya boleh lah, siapa juga yang melarang, dasar aneh!” kataku memukul jidatnya.
Aku pun tertawa lepas.
“Kalau begitu aku mau jujur, kalau aku suka sama kamu”
Deg! Jantungku berdetak kencang mendengar kejujurannya itu.
“Kamu bercanda kan? Aku nggak suka!” kataku.
“Aku serius. Jika yang lain membuat hatimu terluka maka izinkanlah aku untuk menyembuhkan hatimu yang terluka itu, keep smiling if you get hurt”
“Hmmm…”
“Kamu mau kan?”
“Iya deh, aku mau” aku tersenyum padanya.

Aku dan Ade menyatukan jari kelingking kami tanda janji. Akhirnya hanya Ade yang mampu membuatku tersenyum kembali dari kesedihan. Memang apa yang kita inginkan tidak selalu dapat, namun apa yang tidak kita sangka itulah yang terjadi. Semuanya kehendak yang Maha Kuasa.

Cerpen Karangan: Sisi Aulia Putri
Facebook: Sisi Aulia Putri

Cerpen Retak Yang Utuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saat Cinta Tak Berbalas

Oleh:
Cinta, aku benci kata-kata itu. terlalu sering sakit karena cinta. apakah salah jika aku ingin bahagia karena cinta. Sepertinya cinta belum memberikan aku kesempatan untuk bahagia karenanya. Setelah sekian

Seharusnya Percaya

Oleh:
Hari ini hari yang menegangkan buatku, mau gak mau, suka gak suka aku harus berani terus terang kepada keluargaku. Selama hampir 2 tahun ini aku diam-diam menjalin hubungan dengan

Tujuan Gadis Dilarang

Oleh:
Hari demi hari tahun telah berganti, rasanya baru kemarin aku masuk di pesantren ini rupanya sudah 3 tahun berlalu, tinggal UN seberapa bulan lagi, temanku sudah tau kemana dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *