Ribut Jarak Yang Memisahkan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Rindu
Lolos moderasi pada: 25 May 2021

Ternyata begini rasanya berpisah dengan orang yang dicintai dengan jarak kira-kira sepuluh kali lipat jarak Jakarta-Bali dengan kurun waktu lama. Rasanya seperti ada pedang menghunus dadaku, perih tapi jika pedang itu ditarik pasti rasa sakitnya akan beribu kali lipat, percayalah ini tidak mudah. Bahkan membayangkan perpisahan saja sudah membuatku mimpi buruk selama berminggu-minggu. Bagaimana jika harus menjalani? PYARR Suara pot pecah mengagetkanku, itu pasti ulah Neli kucing piaraanku. Aku kembali tersadar bahwa sejak empat jam yang lalu ia sedang dibawa melanglang buana melintasi samudera dan benua. Sial, otakku diam-diam membongkar-bongkar kengerian Kecelakaan pesawat Lion Air PK-LQP yang jatuh dengan rute penerbangan tidak sampai 15 menit.

Jika sekarang kamu bertanya adakah drama bandara yang berhasil kami buat bersama, semacam adegan romantis di film I Love You From 38000 ft? kamu mengira aku dan dia saling berlari menuju satu arah yang sama dan berpelukan layaknya muda-mudi yang hendak berpisah di boarding room, kemudian aku menyatakan cinta kepadanya lalu dia memberiku sebuah buah tangan? Ironis, kali ini aku tak bisa menghadirkannya untukmu.

Kami kali pertama bertemu di SMA tempat aku sekolah di tahun 2017. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas 12 yang tak lama kemudian menempuh Ujian Nasional. Waktu itu murid kelas 12 sedang mengadakan sesi foto bersama untuk buku tahunan sekolah dan ia salah satu fotografer kami. Tampak profesional. Lihai memainkan lensa dengan perputaran yang akurat.

“Nomor 11 silahkan.”
Tiba giliranku, aku duduk dengan rapi dan mengandalkan gaya dua jariku. Tak lama berselang ia memperlihatkan hasil bidikannya, dan benar saja aku dibuatnya takjub.
Sejak saat itu, kami mulai mutualan di media sosial. Beberapa kali tak sengaja bertemu di café langgananku. Pembicaraanku sering berputar-putar pada segitiga exposure, Teknik penning, teknik winddow light dan sebagainya, tapi sepertinya ia tak begitu peduli kesulitanku.

Di suatu siang aku terbangun dari tidur hanya karena pesan pendeknya. Ia menanyakan apa aku butuh bantuan untuk mengambil foto tugas fotografi yang deadlinenya tinggal hitungan hari lagi. Tentu tak akan kubiarkan kesempatan emas ini hangus. Tanpa berpikir panjang, kusambar hoodie kebesaranku, dandan seadanya dan bergegas menuju café yang disepakati. Aku menunggu satu jam lamanya, hawanya panas, dan terlanjur hanya memesan segelas air es.

“Hai, sudah siap memotret siang ini?” sapanya tanpa rasa berdosa.
“kenapa kau repot-repot mau membantu memotret untuk tugasku?”
“Aku tidak bilang akan memotret untukmu Ver. Aku pikir tidak ada salahnya aku mengajakmu hunting foto, lagi pula aku juga sedang mengikuti event lomba fotografi.”
Aku mengerutkan alis, berusaha mendefinisikan tipe lelaki seperti apa yang duduk di depanku ini.
“Iklasnya hati sering kali disalah arti”. Ponselnya berdering. Ia bergegas mengangkat dan keluar dari kafe untuk beberapa saat dan aku masih menahan tawa, tidak biasa sosok yang ber outfit metal menyukai lagu melankolis seperti itu. Menarik.

Tak lama berselang ia kemudian menyambar laptopnya dan sibuk menatap layar. Mimik wajah yang menyebalkan sekali. Sepertinya ia sedang dalam kesulitan.
“Ada yang perlu aku bantu mas?” tanyaku hati-hati.
“Hunting foto hari ini batalin aja ya. Ganti besok Rabu. Aku ada presentasi mendadak matkul komputasi nuklir. Rabu jangan ngaret!”
Belum sempat mengatakan apapun ia sudah pergi. Aku dibuatnya melongo bercampur kesal. karena rasa penasaran, aku pun mencari tahu apa itu komputasi nuklir. Aku terdiam sejenak. Mencerna kata demi kata pennjelasan dari internet. Begitu banyak diksi yang asing di kepalaku. Tunggu! sejak kapan dia adalah seorang mahasiswa? Mempelajari komponen nuklir dan tetek bengeknya? Jadi selama ini dia bukanlah fotografer melainkan mahasiswa sama seperti aku? Ah yang benar saja.

Tak ada diantara kami yang meyangka akan terjebak dalam perasaan yang sama hingga percaya diri memilih menjalani hubungan yang sulit didefinisikan. Bahkan terakhir kali kami bertengkar, ia menyatakan bahwa sama sekali tak mencintaiku. Sungguh melelahkan harus mengidentifikasi, mana ucapan yang benar dan mana ucapan yang asal bunyi. Sungguh, Ia membungkus perasaannya dengan begitu payah. Ia seorang mahasiswa jurusan Teknik Rekayasa Nuklir, seorang mahasiswa prestasi dan pernah mengikuti program student ex-change di Bristol, London dan handal dalam dunia fotografi. Berbeda kasta denganku yang hanya mahasiswi DKV biasa-biasa saja. Kupu-kupu. Sedikit tertarik dengan fotografi. Semua kisah kami bermula dari hari Rabu satu tahun yang lalu.

“Jika disuruh memilih kamu lebih suka tinggal di Bristol atau di Yogya?”
“Budapest” jawabnya singkat dan membingungkan.
“Ada apa dengan Budapest kan kamu belum pernah tinggal disana?”
“Aku menang kompetisi fotografi global dan hadiahnya mengikuti pembekalan fotografi di Budapest selama musim semi yang diselenggarakan bulan Maret besok. Mungkin jika aku tertarik aku bisa saja bekerja sebagai fotografer di sana.”
Mendengar pengakuannya, perasaanku morat-marit. Dia tak pernah sedetik pun bercerita menyoal kompetisi itu. Bagaimana bisa hal sepenting itu tidak ia bicarakan padaku? Sedangkan bulan Maret tinggal satu bulan lagi. Mau tak mau aku harus menabung kesiapan. Mungkin setiap hari akan terus kulafalkan kalimat bahwa pindah antar benua sama dengan pindah antar pulau.

Seminggu lagi ia akan pergi dan tabungan mentalku kali ini benar-benar dipertaruhkan. Meskipun perpisahan sama baiknya dengan pertemuan, aku yakin tidak akan ada seorang pun yang siap menghadapi perpisahan.

“Kamu mau aku antar ke bandara, dibawakan apa?” tanyaku penuh harap.
“Ga perlu.”

Lihatlah kejutan apa lagi yang ia buat padaku? mustahil bagi kita menciptakan drama bandara romantis seperti di film-film. Sungguh Ia benar-benar tak membutuhkanku, Sampai di sini kamu masih menuntutku cerita ini berakhir bahagia?

Menurut Google Budapest berjarak sekitar 10.738 km dari Yogyakarta dan memakan waktu sekitar 24 jam. Sekarang tepat dua hari sudah keberangkatannya. Kuhabiskan banyak waktuku hanya untuk menonton Film Surga yang tak dirindukan 2. Di film itu cukup memberiku gambaran seperti apa indahnya Budapest. Kucek pesan di WhatsApp dan mendapati ia sedang online.

Dua centang warna biru, itu tandanya pesanku telah sampai dan telah dibaca. Aku terus menatap layar ponselku dengan tatapan cukup norak. Berharap pesanku segera dibalas, dan mendapat kabar bahwa ia baik-baik saja. Tapi ia tak kunjung membalas. Mungkin sibuk. Mungkin juga enggan. Dan keajaiban itu datang setelah 2 jam menunggu ia akhirnya membalas dan diakhir pesanya ia mengatakan:
jangan khawatirkan aku di sini. Kita nantikan saja semesta akan berbuat apa untuk kita :* percayalah bby!
Aku tersenyum dengan mata sembab.

Selesai, jangan berharap lebih dariku hanya ini yang bisa aku ceritakan. Seperti inilah rasanya terpisah ribuan jarak dengannya. Aku menyadari, Layar belum mampu menyalurkan rasa rinduku, mungkin sebentar lagi aku akan menangis lagi.

Cerpen Karangan: Maylana Cahyaning Putri

Cerpen Ribut Jarak Yang Memisahkan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


First Love

Oleh:
Aku adaalah seorang mahasisiwi semester pertama dari salah satu Universitas yang ada di Indonesia. Aku adalah anak yang dibesarkan di keluarga yang sangat disiplin, ayah dan ibuku sangat extra

Cinta Datang Terlambat (Part 2)

Oleh:
“Ada apa?” tanya Andini yang tiba–tiba datang dan tentu saja tanpa ekspresi di wajahnya. “A.. Andini..” “Nabila bilang kamu ingin mengatakan sesuatu bukan?” tanya Andini lagi. “Aku..” “Maafkan aku..”

Berbagi Rasa (Part 3)

Oleh:
“Kak Dika ngapain kita malem-malem ke SMA-ku dulu kak?” “Turunlah nanti juga kamu tahu.” Kita berjalan menuju tempat di mana dulu kita sering bertemu di pagi hari sebelum aku

Bertempur (Part 1)

Oleh:
“Broook!!!” “Khin, woy Khin!” suara gebrokan meja terdengar dan bergetar di telingaku seiring dengan suara lantang seseorang. “Apaan sih? Biarkan aku terbuai dalam mimpi-mimpiku dengan tenang!” ucapku yang merasa

You Are My Star (Part 1)

Oleh:
Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Hujan yang turun sejak siang tadi masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Dengan ditemani secangkir coklat panas kesukaanku, teropong dan selimut hangat, aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *