Rindu Di Balik Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 23 November 2016

Rintik hujan mewakili rindunya pada seseorang. Pikirannya terbang jauh menembus awan gelap. Termenung di balik jendela menatap tiap tetes air yang jatuh membasahi bumi. Sudah lama ia tidak bertemu dengan pujaan hatinya. “Dia jauh di mata namun akan tetap dekat di hati dan juga doaku” bisiknya.

Winda hanya seorang anak biasa yang hidupnya sederhana. Awal pertemuannya dengan Dito saat mereka sekolah di tempat yang sama. Dito adalah kakak kelasnya dan setelah melalui banyak pendekatan akhirnya mereka resmi jadian.

Seiring berjalannya waktu mereka mulai sibuk dengan urusan masing-masing bahkan untuk bertemu sudah semakin sulit. Winda sibuk dengan urusan kuliahnya sedangkan Dito sibuk dengan pekerjaannya. Winda sudah lupa kapan terakhir dia bertemu dengan kekasihnya itu. Bahkan yang membuatnya semakin galau karena komunikasi antara mereka yang sudah mulai jarang dilakukan. “Aku sangat ingin tahu kabarnya, tapi aku tidak ingin menghubunginya duluan. Aku tidak mau mengganggu urusannya” batinnya.

Sempat terpikir di hatinya mungkin Dito sudah melupakannya atau bahkan menjauhinya. Tapi dia berusaha menepis rasanya itu, yang mampu dia lakukan hanya berharap hubungannya akan tetap baik-baik saja. “Hmm hujannya sudah reda yah” gumamnya. Winda segera beranjak dari tempat duduknya lalu kembali merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Sambil menatap langit-langit kamarnya dia pun mulai terbuai dalam mimpi indahnya.

Alarm handphonennya pun berbunyi yang membuatnya terbangun dari tidurnya. Itu tandanya ia harus melaksanakan shalat subuh. Karena sudah memasuki musim hujan, air yang ia pakai berwudhu sangat dingin. “Brr.. dingiiinn sekali” sambil merinding. Sehabis shalat, Winda segera membersihkan kamarnya hari itu dia ada jadwal kuliah. Pagi yang tidak secerah biasanya, matahari nampak tertutup oleh awan-awan yang mendung. Hawa dingin masih menusuk kulit sisa hujan semalaman. “Mungkin hari ini akan kembali turun hujan, aku harus segera berangkat ke kampus” sambil bersiap-siap ia berpamitan kepada kedua orangtuanya dan adik bungsunya.

“Kamu tidak sarapan dulu sayang?” tanya Ayah. “Tidak Ayah, Winda nggak sempat, lagian mau turun hujan” sambil memakai sepatu ia pun melangkah ke luar rumah. “Sayang, payungnya jangan lupa” teriak Ibunya. “Oh iya makasih bu” sambil memasukkan payung ke dalam tasnya dia pun berangkat naik angkutan umum.

Sampai di kampus tepat waktu, Winda pun mulai mencari-cari ruangannya. “Winda… tunggu!” teriak Vivi dari kejauan sambil berlari. Sambil menoleh dia pun menunggu temannya itu. “Win, kamu jalannya langkah seribu cepat banget!” sambil mengatur napas. “Ya iyalah nanti kalau jalannya kayak cinderella kapan sampainya ujung-ujungnya telat lagi” ucapnya sambil terus berjalan. “Iya iya” ucap Vivi.

Mata kuliah hari ini telah selesai, akhirnya Winda bersiap-siap untuk pulang. “Yah di luar hujan gimana nih Win?” ucap Vivi. “Kamu kan dijemput jadi tidak masalah kan” jawab Winda. “Iya tapi kan kita harus jalan ke luar ke gerbang dulu”. “Aku bawa payung kok yuk!” sambil mengeluarkan payung dari tasnya. “Horee, yuk!” ucap Vivi sambil menggandeng tangan Winda. “Oh itu jemputan aku Winda, aku duluan tidak apa-apa kan?” tanya Vivi. “Iya tidak apa-apa aku juga mau naik angkutan umum tuh” sambil menunjuk sebuah mobil. “Ok bye Winda” ucap Vivi sambil berlari. “Bye” Winda pun segera menaiki angkutan umum dan mobil pun melaju.

“Hujannya lumayan deras” batinnya. Winda mulai memperhatikan hujan yang turun di atas mobil yang dinaikinya. Biasanya dia bisa melihat senja tapi kali ini sebaliknya. Sebagian orang yang di dekatnya sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang sibuk bercerita, main handphone, hingga ada yang sampai ketiduran saking ngantuknya. Di pinggir jalan Winda melihat anak-anak yang sedang berlarian sambil hujan-hujanan dengan ceria. “Hmm aku rindu masa-masa itu” gumamnya sambil tersenyum tipis.

“Assalamualaikum” teriaknya di balik pintu. “Walaikumsalam” ucap ibu sambil membuka pintu. “Kamu sudah pulang, ya sudah kamu jangan lupa shalat dulu baru makan ya sayang” ucap ibunya. “Iya bu” sambil melangkahkan kakinya menuju kamar. “Hmm hari ini hujan terus, tapi aku juga menyukainya. Hujan yang membawa kedamaian dan juga rahmat-Nya”. Winda pun bersiap-siap melaksanakan kewajibannya. Setelah selesai dia pun menuju dapur “Huaa.. aku lapar sekali gara-gara tidak sarapan dan tidak sempat jajan di kampus” sambil mengusap perutnya. “Wah.. ada makanan kesukaanku alhamdulillah” Winda pun makan dengan lahapnya.

Winda pun kembali ke kamarnya dan berniat untuk menulis sesuatu. “Suasana dingin karena hujan membuatku terinspirasi saat ini” gumamnya. Dia pun membuka laptop dan mulai memainkan keyboard, dengan lincah jemarinya menekan tombol demi tombol entah apa yang ada dipikirannya.

“Ini kisah cinta yang rumit bagiku aku mencintainya. Seseorang yang bagiku akan tetap menjadi satu-satunya di hati kecilku. Apapun yang dia lakukan sangat berarti, sangat berkesan bagiku. Inikah cinta yang tulus? Kuharap bukan cinta yang membodohi diri. Aku mencintainya dan akan tetap seperti itu. Berapa banyak yang mengusik dan merayu aku tidak peduli. Tetap dia dan selalu namanya terukir indah disana dalam hatiku”.

Sepenggal paragraf yang Winda tulis dalam karangannya mewakili perasaannya saat itu.

Cerpen Karangan: Nur Alam
Facebook: Nur Alam
Nama saya Nur Alam, alamat Jl. Malino Bontomanai Kec. Bontomarannu, Kab. Gowa, Sulsel. Kuliah di Universitas Muhammadiyah Makassar Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. ^_^

Cerpen Rindu Di Balik Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Sendiri Karenamu

Oleh:
“Felly! Ini berkas-berkas surat izin dari Kepala Sekolah sebelum kita berangkat tugas,” ucap Riska dengan senyuman manisnya. “Sejak kapan lo meminta berkas beginian?” “Udah dari kemarin! Tapi, beruhubung gue

Man With Red Jacket

Oleh:
Aku berdiri di depan pintu kelas, sekolahku masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang saja. Mungkin aku yang terlalu cepat tiba di sekolah. Tiba-tiba pandanganku terfokus pada suatu objek.

Kereta

Oleh:
Seperti minggu-minggu sebelumnya sepagi ini saya sudah berada di stasiun yang sama, melihat jam besar di atas sana menunggu kereta datang, berada pada orang-orang yang sesekali memadangi jam tanpa

Flat White Coffee Dan Bunga Mawar Merah

Oleh:
Gadis bermata hazel itu berjalan tergesa-gesa sambil memegang kopi flat white di tangan kanannya. Rambut cokelat semi panjangnya terurai terombang-ambing mengikuti langkah besar pemiliknya. Mata hazelnya menatap liar orang-orang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *