Rindu di Tepi Langit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 July 2012

hufh… badanku seluruhnya rontok, dari atas sampai jempol kaki. mungkin perlu disiram dan diberi pupuk kali y? hehehehhe, yayaya, aku baru saja menyelesaikan studi masterku di bumi east java ini. senang dan puas rasanya, bisa menjawab dengan cepat dan tepat pertanyaan2, sanggahan2 dan test dari seluruh pengujiku yang rata-rata sudah lektor kepala itu. hari hari melelahkan memang telah lewat, tapi aku tahu hari yang melelahkan pasti akan tiba lagi, apa lagi tahapan revisi masih belum selesai ku hadapi. sehari setelah sidang, tubuhku sakit semua. duduk kembali didepan layar laptop tercinta ini membuatku berpikir untuk menulis, ya menulis, tiba2 teringat kalimat kalimat belakangan yang gencar menemuiku bahkan dari beberapa dosenku. when u getting married??heheheh, pasti hanya ku jawab dengan tawa khasku yang menandakan aku masih sangat muda dibanding teman teman sejenjangku, sehingga tertawa nyeleneh bagiku masih free… y elah…
suddenly, ketika aku duduk diam, pikiran ngalor ngidul gak jelas kemana, mengingat hari hariku di east java ini, pengalaman baik dan pahit, manis dan buruk, hingga kemudian mundur jauh ber mil-mil pada memori pada 2 tahun sebelum sekarang, tiba-tiba, aku merasa rindu, rindu pada seseorang, istigfar ku lafalkan, agar jika yang membawa rindu ini adalah setan, segera pergi dan menjaudh dari manusia lemah akan godaan seperti aku ini. tapi, rindu ini demikian mengalir lambat, menembus rusuk rusuk tipisku, dan merangkai sebingkai wajah dan senyum, yang dulu pernah aku temui dan hanya sebatas obrolan ringan, not more, dengan dia. ya, dia yang aku pun tak tahu kabarnya, dia yang bahkan tidak mungkin memikirkan seorang seperti ku, aku malah menaruh rindu ditengah lelah dan capekku…

ah Ya Allah, aku hanya seorang hamba yang penuh dosa, ingin kembali padaMu dalam keadaan fitrah, bahkan telah bermunajat cinta hanya padaMu, kemudian berjanji hanya MencintaiMU, karena Engkau yang tak pernah pergi , yang senantiasai beriku petunjuk, bahkan mukzizat di kala musibah besar menerpa keluarga kecilku, Engkau beriku petunjuk akan Tesisku, apa lagi yang ku cari, Rindu ini sungguh menerpa hamba kecilmu ini, rindu ini sungguh menusuk ku dalam dingin, rindu ini bahkan mencari muka di hadapanku, rindu yang tak sepantasnya aku biarkan , rindu yang seharusnya aku tepis dan lupakan, y Allah, bantu aku tuk hilangkan rindu ini, karna dia, sosok yang begitu manis dan istimewa, hamba pilihanMu, yang tiada pantas buatku, hambaMu yang baik, walau aku tak begitu dekat denganNya, dia adalah hambaMu, yang memiliki banyak kelebihan, dan aku adalah ladangnya kekurangang, dia adalah hambaMu yang pernah mencoba untuk peduli padaku, namun bukan karna apa2, kecuali rasa kasihan dia pada sesamanya, andai dia tahu, aku tak selemah itu, bahkan jika aku berada di hutan, aku masih memilikiMu, namun begitulah dia, walau sempat kecewa mendengar kabar tentang dia, aku masih saja merindukannya… duhai Gusti Allah, Bantu aku, sederhana saja, bantu aku tuk tepis rindu di tepi langit ini…

Blog Penulis: www.bunda-zalfa.blogspot.com

Cerpen Rindu di Tepi Langit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunga Terakhir Untuk Kak Vani

Oleh:
“Ma… kenapa ya, kok dada Ifa sakit banget?” “Pa… kenapa kok aku harus minum obat ini?” “Kak… kenapa aku gak boleh ikut main skateboard?” Pertanyaan-pertanyaan itu yang dulu selalu

Cinta Sejatiku

Oleh:
Hari itu adalah hari yang sangat indah dan tampak satu persatu siswa memasuki ruang kelas mereka masing-masing terutama di kelas 1X-c. Saat itu Alya masuk ke kelas dan saat

Sudah Terlambat

Oleh:
Semilir angin menghembus menusuk ke dalam jaket yang ku pakai. Ya, ini sudah musim dingin. Malam sudah tiba dan aku masih berada dalam perjalanan menuju rumahku. Inilah aku Didit.

Surat Untuk Ibu

Oleh:
Rintik hujan semakin deras mengiringi malam yang semakin mencakar perkampungan Sambi Linggih. Tanah-tanah yang berdebu seakan hilang kekuatannya untuk menahan pijakan makhluk alam. Potret alam terpancar tiap lima menit

The Elementer’s Games

Oleh:
“Yak! Latihan hari ini cukup sampai di sini. Kerja bagus semuanya!” Seru Petra, pelatih di Elementers Academy. “hei kau!” Seorang gadis bertubuh mungil berbalik. “Aku?” Tanyanya. “Iya kau! Latihlah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *