Rindu Yang Menyatukan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 24 June 2019

Gitar itu terus dimainkan olehnya, dengan sedikit gerakan mengikuti alunan musik yang berbunyi. Ini sudah beberapa kali ia mainkan, ketika musik itu mengingatkan dengan seseorang. Dia sebenarnya bukan tipe yang penyendiri, melainkan sebaliknya. Tapi kali ini dia pergi ke suatu tempat di sebuah taman yang tak jauh dari pusat kota. Selalu gitar itu mendampingi kemanapun dia pergi, ya dia adalah seorang gitaris. Setelah memainkan musik itu, selalu teringat olehnya akan seseorang yang kadang masuk ke dalam pikirannya. Ke mana dia? Sedang apa dia? Adakah seseorang di sampingnya sekarang? Dia terus penasaran dengan seseorang itu yang sudah cukup lama tak mendengar kabar darinya. Tempat atau taman ini sudah keempat kalinya dia kunjungi, menyendiri dan menikmati kesendirian sambil memainkan gitarnya. Ini semua terjadi ketika semakin lama dia merasa kehilangan akan seseorang itu, mungkin benar diluar terlihat baik-baik dan bahagia saja, tetapi di hatinya terdalam ada sesuatu yang rasanya tertahan sendiri dan dihadapi sendiri. Satu kata yang selalu dia katakan “aku rindu dia”.

Sudah kurang lebih 8 bulan Disa bekerja sebagai manajer di Kafe ini. Setelah mencoba melamar kesana kemari untuk mendapatkan pekerjaan ketika dia menyelesaikan sarjananya. Namun dia memilih untuk mengisi pengalaman di sini sambil membantu usaha temannya sendiri. Sebenarnya dia tidak begitu mengingkan pekerjaan ini, hanya saja mengisi pengalaman sampai mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan atau perbankan yang ia impikan selama ini. Kafe ini cukup besar dan terkenal di kota ini, ya kafe ini kebanyakan dikunjungi oleh anak sekolahan, mahasiswa dan sesekali orang kantoran dan keluarga. Sebagai manajer di kafe ini Disa cukup menikmati pekerjaanya, dan mulai bisa mempelajari berbagai hal sebagai seorang manajer. Dan sedikit karakternya mulai lebih baik, Disa pun sudah cukup berubah dibanding dengan sebelumnya, lebih dewasa, tegas, dan juga menjiwai sebagai seorang manajer di sana. Tetapi tetap tidak terlepas dari sikap aslinya yang sedikit pendiam dan juga cuek. Hobinya di dunia menulis juga tidak hilang karena itu juga yang mengisi kekosongan harinya dengan sesekali mempost di web.

“hey dis, masih sibuk aja lo nulis?” seorang karyawan dan juga sahabatnya di kafe itu bertanya sambil memberikan makanan ringan pada Disa yang asyik mengetik di ruanganya.
“eh lo, iya sih. Kayak gak tau kebiasaan gue aja. Lo bikin apa sih?” sambil melihat ke mangkuk yang berisi makanan.
“ini gue bikinin cemilan kentang buat manajer gue, jangan liat bentuknya. Tapi ini enak lo” menyodorkan mangkok yang berisi cemilan.
“makasih yaa” jawab Disa.

“dis, gue mau nanya deh sama lo, siapa sih cowok yang lo ceritan di cerpen lo. Gue sesekali baca juga kali cerpen yang lo terbitin. Dan rata-rata ceritanya mengarah ke cowok pemusik gitu dengan seorang cewek yang sangat merindukan dia. Gue berkesimpulan itu lebih ke curhat sama cerita lo sendiri deh, gue benar kan ya?” tanya Fika sambil penasaran.
“hmm anggap aja iya ya, udah ah gue ke luar dulu ngeliat kondisi kafe pada baik baik aja ato gak ya, soalnya salah satu karyawan di sini sibuk kepoin manajernya” jawab Disa sambil mengejek Fika.
“iihh, apaan sih lo. Gue kayak gini care kali. Ntar gue buktiin sendiri kalo omongan gue bener ibuk manajer, byeee” balas Fika dengan meninggalkan ruangan itu terlebih dahulu.
“terserah lo deh sahabat kepooo gueee” jawab Disa.

Hari ini Disa tidak pergi ke Kafe tempat biasa ia bekerja, memilih izin untuk libur sehari dan menyibukkan waktu dengan diri sendiri. Setelah mengunci kamar kosan, Disa segera berjalan di sekitar komplek menuju keluar di dekat jalan raya. Cuaca memang sangat mendukung tidak begitu terik dan juga tidak terlihat mendung. Sebuah taman menjadi pilihannya, memilih duduk di sebuah pojok taman yang mengarah ke jalan raya, mengambil Handphone dan Headset dan lagi musik itu kembali ia dengarkan. Sebuah musik yang sangat ia sukai, terlebih musik itu dimainkan oleh seseorang dan mengirimkannya waktu itu. musik yang tenang dan membuat seakan terlarut dalam kerinduan yang dalam. Disa bukan berhenti atau melupakan seseorang itu, melainkan seiring perjalanan hidupnya orang itu juga ikut bersama bayangan dan pikirannya. Dia selalu ingat terakhir berhubungan dengan seseorang itu, seseorang yang selama ini ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Terakhir itu semua baik-baik saja, tanpa ada permasalahan, tanpa ada kata perpisahan. Namun semua berakhir begitu saja. Seakan keduanya saling menghilang tak berkabar. Ya memang satu keinginan Disa, lebih baik dia pergi dan menghilang karena capek dengan keadaan saat itu. karena saat itu juga Disa sedang dihadapkan oleh sebuah permasalahan, dia memilih menjauh dari semuanya. Tapi siapa yang menyangka, semua yang terjadi saat itu membuat keduanya merasakan kehilangan yang sangat dalam hingga keduanya hanya bisa menyampaikan rasa rindu itu bersama hobi kesayangannya yaitu alunan musik gitar dan melalui tulisan.

“Hey, aku sangat rindu” kata itu tertulis lagi di sebuah diary kecil yang selalu di bawa Disa kemanapun dia pergi. Memang tidak ada hubungan yang terjalin diantara mereka berdua, tetapi seakan ada sebuah catatan takdir yang terjadi buat mereka, dimana semua itu membuat keduanya tak saling mengerti dengan apa yang telah terjadi, yang mereka tahu mereka saling membutuhkan, seakan hatinya saling terikat satu sama lain. Bahkan sampai saat ini, tak satupun yang membuka hati pada yang lain. Disa sudah beberapa kali dipertemukan dengan seorang cowok oleh sahabatnya, tetapi apa tak satupun yang masuk kedalam hatinya. Selalu seseorang itu yang masih tersimpan kuat di hatinya. Sekarang dimana dia? Apa kabarnya? Bolehkah aku bertemu dengannya lagi? Aku Rindu. Selalu itu yang muncul di hati dan pikirannya.

Tiba-tiba Handphone Disa berdering, segera ia mengangkatnya.
“Halo”
“Halo, Dis lo dimana? Ke kafe dong. Lagi rame banget ni, ada yang mau ketemu manajernya juga katanya mau apa gitu.” Ungkap Fika dengan suara terburu-buru.
“iya yah? Gue lagi me time nih di taman”
“besok-besok aja deh me time lo kenapa. Buruan ke kafe, ada yang mau ketemu lo”
“iya ihh, jutek amat sih lo. 15 menit gue nyampe bilang tu ke orang” jawab Disa dengan nada sedikit kesal.
“cepet lo ya”
“iyaaa, byee” Disa pun menutup panggilannya dan segera naik Bus menuju kafe.

Dari gerbang kafe memang sudah dipenuhi oleh kendaraan dari pengunjung Kafe. Disa berjalan sedikit cepat setelah turun dari bus. Memang di hari weekend kafe ini selalu dipenuhi oleh pengunjung. Ternyata hari ini rame banget, ya ada yang ngerayain pesta ulang tahun juga. Dari meja kasir Fika melambaikan tangan memanggil Disa. Disa berjalan kearah sana. Juga sudah ada berdiri beberapa orang cowok dengan penampilan seperti pemusik. Fika menjelaskan maksud kedatangan mereka ke sini, ternyata mereka ingin membuat perjanjian untuk bermain akustik sabtu malam minggu depan di Kafe ini. Ini bukan pertama kalinya kafe memberikan hiburan akustik tiap malam minggu. Tapi baru kali ini Disa menemukan orang yang mau main akustik tanpa dia mencari sendiri terlebih dahulu di kafe ini.

“oo gitu, kebetulan kita belum ada jadwal sama yang lain buat sabtu malam besok sih.” Jawab Disa setelah bernegosiasi dengan mereka.
“kalo gitu berarti ini udah fix ya kita bakal ngisi akustik di sini” jawab salah seorang dari mereka.
“yap, makasih ya sebelumnya.” Balas Disa sambil bersalaman dengan mereka.

Disa memang sedikit bingung baru kali ini ada yang mau akustikan tanpa harus dia cari sendiri dulu, tapi baguslah mungkin karena kafe ini sudah cukup terkenal makanya orang-orang sudah pada tau dan berinisiatif ingin tampil di sini tanpa diminta dulu. Disa menuju ruangannya, dan beristirahat sejenak disusul dengan Fika yang sudah menyiapkan makan siang di meja Disa, mereka kembali saling berbagi cerita.

Seminggu kemudian, sore harinya Disa bersama karyawan di kafe itu menyiapkan tempat untuk akustik nanti malam. Mendesain kafe dan merapikan meja membuatnya mengarah ke atas panggung akustik. Beberapa dari mereka yang mau tampil nanti malam sudah berdatangan, menyiapkan peralatan dan juga cek sound. Setelah semua disiapkan, Disa izin untuk pulang kepada Fika sebentar.

“Fik, gue izin pulang bentar ya. Mau ganti baju.”
“ya udah deh, jam 7 teng lo harus stay disini ya. Liat tu pengunjung udah rame dari sore gini. Lo tau gak Dis? Mereka yang akustik ntar malam, band yang terkenal lo. Makanya pengunjung juga rame.”
“masa?” ungkap Disa tak percaya.
“Iya, gue baru tau pas liat sosmed”
“Iya deh, gue cabut bentar ya.”

Disa pun mandi dan shalat. Segera setelah itu dia memakai pakainnya dan kembali ke kafe. Penasaran sehebat dan seterkenal apa band yang baru pertama kali tampil di kafenya. Memang rame sekali pengunjung bahkan sampai penuh di bagian luar kafe. Disa memasuki kafe sambil melihat tersenyum ke arah pengunjung. Dari jarak beberapa meter, panggung akustik terlihat sudah dihidupkan oleh musik yang dimainkan. Pengunjung menikmati alunan musik yang dimainkan.

“Dis, lo telat ya. Jam 8 baru nyampe.” Fika mengungkapkan kekesalanya.
“maaf ya cantik, gue tadi beresin kosan dulu nanggung habis sholat isya aja gue kesini. Eh iya, lo bener ya, pengunjung rame banget, bentar gue ke ruangan naruh tas”
“iya terserah lo deh, ntar sini lagi ya.”

Disa duduk sesaat di ruanganya sambil mengecek penjualan hari ini. Saat dia baru saja berdiri dari duduknya. Disa kaget, musik itu, mengingatkannya akan seseorang. Ya itu lagu kesukaanya. Lagu ini jadi lagu pembuka malam ini. Tapi, ini sangat aneh, lagu yang dimainkan itu persis dengan apa yang selalu ia dengar dari seseorang. Disa beralih dari ruangannya menuju ruang kafe. Berjalan sedikit lambat sambil menatap panggung akustik, Disa dipenuhi rasa penasaran dengan musik yang dimainkan dan seseorang yang sedang memegang gitar itu. berjalan lebih dekat menuju panggung. Semua tampak jelas sekarang, seseorang itu dia, Disa kaget dan tak percaya.

“apa???!!” Disa segera membalikkan badannya.
“lo kenapa? Kok kaget gitu dis?” Fika langsung menarik Disa.
“fik-fikk itu, itu” sambil terbata-bata.
“apa sih? Lo kenal sama yang main di panggung itu?”
“it-ttu dia Fikaaaa”
“Siapa sih Dis, eh lo kok nangis?”

Tiba-tiba seseorang di panggung itu, berbicara dan menarik perhatian semua pengunjung.
“malam semuanya, lagu barusan lagu kesukaan seseorang. Lagu itu selalu gue mainkan ketika gue sangat rindu dengan dia. Ya, memang waktu itu gue selalu memainkan lagu ini untuk dia, tetapi sekarang gue gak tau lagi dimana dan kabar dia. Gue Cuma mau bilang, gue sangat rindu dia, gak sedikitpun gue bisa lupain dia, lagu ini gue persembahkan khusus untuk dia, orang yang sangat gue rindukan, Disa” ungkap seseorang itu sambil kembali melanjutkan tampilannya. Disa kaget sekali dan kembali berbalik menatap seseorang itu.
“hay, gue di sini” jawab Disa di dalam hati sambil menangis menatapnya. Dibalas dengan senyum haru oleh seseorang di panggung itu.

Ya, ini bukan sebuah kebetulan. Ini terjadi dengan sebuah rencana oleh sahabat-sahabat Disa. mereka sangat sayang dan peduli dengan Disa, sehingga mencari sosok lelaki yang selalu ia rindukan lewat cerpen-cerpen dan curhatan Disa. Diam–diam mereka mencari dan menemukan sosok Deri di sebuah tempat yang gak jauh dari kota itu, menceritakan semua dan berencana untuk membuat sebuah kejutan. Deri sangat kaget bisa bertemu dengan sahabat Disa dan mau membantu dia bertemu dengan Disa kembali, akhirnya ia pun memutuskan untuk tampil di kafe itu. Disa dan Deri sangat terharu malam itu. Ya, memang mereka berpisah belum cukup lama. Tapi rasanya sangat jauh dan lama sekali, sungguh sebuah pertemuan kali ini sangat berarti bagi keduanya. Sebuah rindu yang sangat dalam menjawab semuanya ketika bertemu kembali. Seakan apa yang selama ini dijaga dan tersimpan di dalam hati tidak sia-sia, ternyata mempunyai arti untuk membuat mereka bisa bertahan sampai bertemu kembali. Ya, kali ini keadaan dan kondisi memang sangat mendukung mereka berdua, mungkin memang ini catatan takdirnya. Bahwa semua akan indah pada waktunya. Sekarang Tuhan memberi jawab untuk mereka berdua. Inilah waktunya, mereka berdua akan bersatu dan tak terpisah lagi. Ya melalui sebuah rindu yang menyatukan mereka.

Cerpen Karangan: Zulfa Meriza
Blog / Facebook: Zulfa Meriza
Nama: Zulfa Meriza
Kelahiran: 1994
Asal: Sumatera Barat
Hobi: Menulis

Cerpen Rindu Yang Menyatukan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Masih Amatir

Oleh:
Siang itu aku berjalan dengan santai menuju ruang guru untuk melaksanakan tugas yang telah diamanahkan kepadaku, tak terbebani sama sekali aku ini namun mata-mata yang curiga dan sok tau

Lucky Maid

Oleh:
“Aurelia, Mrs. Alcott menyuruhmu datang ke ruangannya, katanya dengan minuman biasa.” Aku menaiki tangga, sambil membawa minuman ini, rumah ini sungguh besar, sangat melelahkan membersihkannya walaupun kami jumlah kami

Salah Siapa

Oleh:
Perkataanmu, sikapmu, merusak mood yang sudah hampir selesai terbenahi. Alhasil, tugas apalah itu terhambat karena mood yang sudah tak sejalan dengan alur pikiran. Mood yang sudah rusak tidak akan

Dia Masih Sahabatku

Oleh:
Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur disakiti, diperhatikan dikecewakan, didengar diabaikan, dibantu ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian…. Namaku jane marisa,

Cinta Yang Datang Cepat

Oleh:
Libur panjang tahun baru 2016, rencananya aku dan keluarga berlibur ke Ciater, Subang selama dua hari. Sebentar lagi kami akan berangkat menuju Ciater. Di perjalanan kami berhenti di daerah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *