Rindu Yang Tersampaikan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 22 March 2016

Ya allah, jagalah dia untukku. Setiap hembusan napas ini, selalu terlintas di benakku. Kapan Kakak kembali? Aku rindu Kakak? Apakah, Kakak masih ingat adek? Aku tertunduk diam. Merenungi orang yang jauh di sana. Orang yang sangat berarti dalam hidupku dan sangat aku sayang. Sekarang dia ada di luar sana. Di australia. Dia sekarang melanjutkan kuliah di universitas berlin, australia. Air mataku mengalir deras, jantungku berdegup kencang dan hati melonjak. Ingin rasanya aku menyusulnya. Tapi itu semua tak mungkin ku lakukan. Foto cowok manis di tanganku terjatuh begitu saja. Memoriku berputar mengingat saat pertama kali aku disapanya.

Mataku terasa panas dan berkunang–kunang. Seperti ada gempa di perutku yang ingin membuatku mengeluarkan semuanya. Sakit di kepalaku tak bisa ku tahan lagi. Hanya beberapa detik kemudian, semuanya berubah menjadi gelap. Aku pun terjatuh dan ditangkap oleh bumi. Semuanya tak dapat ku ingat lagi. Tiba-tiba, aku sudah ada di ruangan serba putih. Mataku berkeliling melihat ke luar dan ada sebuah papan yang bertulis “Pukesmas Paiton” benar saja, ini pukesmas. Bukan rumah sakit. Dalam satu ruangan ini saja, berisi 6 orang.

“Hei, sudah sadar?” suara cowok mengagetkanku. Refleks aku pun menoleh ke asal suara itu.
“I-iiya..” jawabku gugup. Bagaimana tidak, aku tahu betul, sekarang aku berbicara sama siapa. Kak Raka, cowok ter-cool, pintar, kece, dan pastinya baik di sekolahku.
“Siswa SMK Mambaul Ulum ya?”
“Iya , kok Kakak tahu?” ya Allah.. Semoga aja, Kak Raka masih ingat aku waktu MOS. Berharap.
“Ya iyalah, aku tahu. Kamu masih pakai seragam jurusanmu,” Katanya sembari tersenyum manis kepadaku.

Mendengar itu, aku pun langsung melihat baju yang ku pakai. Benar saja, aku masih pakai seragam. Waduuuuhh, malu banget dan kecewa. Bicara dengannya membuatku jadi bodoh. Walau malu, aku tetap ingin berbicara terus dengannya. Ku lirik Kak Raka. Ternyata, ia masih memandangku sembari tersenyum.
“Kak, sampean Kak Raka kan. Siswa SMK Mambaul Ulum juga?”
“Loh, kok tahu?”
“Siapa sih, yang gak kenal Kak Raka. Murid kepercayaan guru-guru. Cowok yang terpopuler di SMK Mambaul Ulum. Dan Kakak, juga terkenal sebagai santri alim di pondok,” Kataku ceplas-ceplos.
“Iyakah Dek? Aku gak percaya.”

“Beneran Kak. Suer deh,” Bukannya Kak Raka percaya padaku tapi ia malah tertawa.
“Hehehe kamu lucu ya, cerewet lagi! Padahal kamu masih sakit! Aku suka kamu.” Senyumannya kali ini membuatku meleleh, ditambah kata akhir tadi, aku seraya melayang.
“Hah apa kata Kakak tadi?” Aku langsung bertanya.
“Kamu cerewet,” katanya lagi dan senyumnya yang manis.
“Bukannnn, kata yang akhir tadi itu Kak!!”

Aku memaksanya. Kak Raka masih berpikir lalu ia melempar senyum kepadaku. Melihat senyumnya, aku jadi mengetahui akan kebodohanku. “Oh, aku suka kamu yang ini?” Katanya sembari tersenyum dan mengangkat alisnya ke bawah dan ke atas seakan ingin tahu jawabannya dariku, padahal ia sudah tahu. Malu. Jadi aku hanya menunduk, “Maksudku, aku suka sama cewek yang cerewet!” Waduuuuh, jadi gr nih. Aku rasa wajahku kini berubah menjadi merah padam, aku yakin Kak Raka tahu akan hal itu, karena aku mendengar tawa kecilnya.

Tiga hari bersama di pukesmas, tak membuatku akrab dengan Kak Raka. Hanya sekedar waktu itu aku bisa berbicara dengannya. Keadaannya semakin parah, so, dia hanya tersenyum lemah jika ada hal-hal yang lucu yang aku perbuat. Sampai aku kembali ke pondok. Baru, seminggu dari itu Kak Raka masuk sekolah dan bertemu denganku. Kak Raka menanyakan kabarku, aku yang ditanya begitu olehnya menjadi salting (salah tingkah), karena aku tak percaya cowok ter-cool dan smart di sekolah perhatian padaku. Ini sangat impossible. Tapi inilah kenyataannya.

Aku menemukan kertas yang terselip di buku, yang biasa aku simpan di bawah kolom mejaku. Surat itu menggunakan bahasa inggris yang jika diartikan kamu mengingatkanku pada seseorang. Aku tak tahu maksudnya dan siapa pengirimnya. So, aku tanyakan pada Kak Rendy yang selama ini dekat denganku juga teman sekelas Kak Raka. Katanya aku disuruh tanya aja ke Kak Raka. Soalnya, hanya dia yang biasa berbicara dan menulis sesuatu menggunakan bahasa inggris. Tapi jawaban dari Kak Raka, “Nnggak, aku gak tahu soal itu!”

Aku percaya aja, soalnya aku memang yakin bukan dia yang nulis surat itu. Daripada aku bingung, ku jawab mengunakan bahasa inggris pula, lalu meletakkannya kembali seperti semula. Kamu siapa sih dan apakah surat ini untukku? Keesokannya aku buka buku itu lagi dan ternyata dia menjawab. Iya, kamu gak usah tahu, aku takut nanti kamu berubah karena penasaran, aku ulangi pertanyaanku kamu siapa. Setelah aku menulis itu, sudah tak ada lagi balasan darinya. Daripada aku tambah pusing aku biarkan saja. Tapi jawabannya ku temukan di depan kantor.

“Nih!” Kata Kak Raka tiba-tiba menghampiriku dan memberiku sebuah kertas. Setelah ku baca, aku tersentak kaget. Aku bingung dan syok.
“Ini, Kak, Kak, kok ini ada di Kakak?!” Kataku gugup.
“Iya, itu aku!” Sembari tersenyum manis lalu ia pergi begitu saja.

Aku terjatuh duduk di depan kantor. Seakan kakiku lumpuh dan tak bisa berdiri lagi. Itu semua hal yang mustahil bagiku. Aku tak percaya cowok yang aku idolakan mengatakan hal itu kepadaku. Tapi semenjak itu aku menjadi sangat sangat akrab dengannya. Walau pada awalnya aku masih malu. Waktuku di sekolah aku usahakan selalu ada di sampingnya. Belajar bersama, istirahat bersama, dan jika ada pelajaran yang gak aku ngerti. Iya, aku tanya aja ke dia. Sampai saat itu tiba 24 bulan 2, saat diriku dan Kak Raka resmi sebagai pasangan kekasih. Saat itu kami sedang menggunakan laptop masing-masing. Ku lihat Kak Raka lagi serius mengetik sesuatu sambil tersenyum melirikku. Lalu Kak Raka memberikan laptopnya kepadaku.

“Baca!” Katanya. Aku pun membacanya.
“Kakak.. Adek!” Aku tak mengerti. “Maksudnya apa Kak?” Kataku bigung.
“Masak gak ngerti?” Kak Raka mengetiknya lagi dan selesai, Kak Raka memberikannya padaku.

“I dear you.” tiga kata itu membuat tubuhku seakan lumpuh. Iya hanya tiga kata. Tapi maknanya membuat jantungku berhenti berdetak. Kata itu terngiang–ngiang di telingaku. Aku lihat Kak Raka tersenyum tapi sepertinya sedang menunggu sesuatu. Oiya, menunggu jawaban dariku. Lalu aku mengetik menambah kata tadi dengan dua huruf “Too” laluku berikan laptop itu ke Kak Raka. Kak Raka tersenyum membacanya. Kemudian ia berkata, “Jadi, sekarang kita pacaran?” Aku hanya mengangguk, tersenyum bahagia dan tak percaya. “Tapi hubungan ini rahasia, jangan sampai ada yang tahu.” sambungnya lagi.

Dari sejak itu aku dan Kak Raka pacaran sembunyi-sembunyi. Dia sangat perhatian dan romantis. Kak Raka selalu memberiku solusi di setiap masalahku. Tapi momen manis itu hanya berusia satu minggu. Setelah itu, cobaan silih berganti. Semenjak semua anak di sekolah dan pondok mengetahui hubungan kami. Sampai aku diputusin Kak Raka tiga kali. Pertama diputusin. Aku menangis seharian. Itu karena, aku digosipin lebih sayang Kak Rendy daripada Kak Raka. Yang kedua. Karena kata Kak Raka sejak aku jadi kekasihnya, aku dimusuhin oleh teman Kak Raka. Diputusin begitu, aku biarkan saja. Tapi ketiga ini, aku tak kuat lagi menahan air mata. Saat itu, tepat hari perpisahan kelas XII, kelas Kak Raka. Alasan, Kak Raka tak mau aku menunggunya. Tak mau aku selalu memikirkannya. Tak mau aku menangis karena merindukannya. Padahal aku bisa menunggunya, walau Kak Raka ada di australia. Melanjutkan kuliah di sana.

“Adek, mungkin hubungan kita hanya sampai di sini. Tapi sebelum Kakak pergi. Izinkan Kakak mengatakan sayang untuk terakhir kalinya. ‘Kakak sayang adek.'” Mendengar itu, aku tak bisa berkata lagi. Aku hanya bisa menatap kepergian Kak Raka dengan air mata.

“Hei, ngapain pagi-pagi udah ngelamun?” Suara itu memecahkan lamunanku akan masa lalu itu.
“Siapa yang ngelamun?” jawabku setelah tahu pemilik suara itu adalah Windi sahabatku.
“Gak usah bohong deh Rik. Aku ngerti kamu,” Katanya setelah duduk di sampingku.
“Win menurutmu apakah aku harus move-on,” Aku mulai jujur padanya.
“Ya iyalah sudah dua tahun semenjak Kak Raka pergi kamu ngejomblo,”
“Tapi aku ngak bisa. Gak semudah itu. Aku masih sangat menyayanginya.” air mataku mulai menetes.

Kring….
“Yang sabar ya,” Katanya sebelum Windi kembali ke tempatnya.
Kegiatan belajar pun dimulai. Baru satu jam aku dipanggil ke ruang BK. Aku bingung. Tapi tetap saja aku pergi ke ruang BK. Sesampai di sana. Loh kok gak ada orang kataku dalam hati. Aku pun duduk di kursi. Bosan menunggu lama, aku bernyanyi.

“Aku tak akan berhenti menemani dan menyayangimu. Hingga matahari tak terbit lagi. Bahkan bila aku mati. Ku kan berdoa pada ilahi. Untuk satukan kami di surga nanti.” Tiba-tiba ada tangan yang menutup mataku. Aku terpaksa berhenti menyanyi. Lalu ia meneruskan lagu yang aku nyanyikan tadi. “Tahu kah engkau apa yang ku pinta. Di setiap hari sepanjang hidupku. Tuhan tolong aku tolong jaga dia. Tuhan aku sayang dia.”

Deg, aliran darahku seakan berhenti seketika. Aku sangat kenal dengan suara itu. Pemilik suara itu seorang yang aku tunggu-tunggu. Tangan itu mulai kendur, aku pun berbalik dan melihat orang itu. “Kakak kangen adek. I dear you.” Katanya. Air mataku langsung mengalir deras. Deras sekali. “Kak Raka..” kataku kaget.
Walaupun aku sangat rindu dia aku tak berani memeluknya. “Kak adek sangat rindu Kakak. Kak Raka kok pulang?”
“Kakak ingin menyemangati adek agar adek rajin belajar. Kan UN udah dekat. Nanti adek mau kan kuliah bareng Kakak?”
“Pastiny Kak.” Aku baru ingat hari ini hari jadianku dengan Kak Raka.

Cerpen Karangan: Risa Amilia
Facebook: Rhiesa Majah

Cerpen Rindu Yang Tersampaikan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Willy And The Forgetful Girl

Oleh:
Willy tengah duduk di pinggir lapangan bersama sahabatnya, Juno. Yang kini tengah sibuk meneguk sebotol air mineral di tangannya. “Jadi… sekarang tinggal beberapa hari lagi menuju O2SN,” gumam Juno

Cinta Tak Sampai

Oleh:
Sudah lama ku mengenalnya. Kira kira 5 tahun yang lalu. Ketika aku duduk di bangku kelas 2 sekolah menengah pertama. Sampai saat ini kita satu kelas dan satu sekolahan.

Karma Buaya Darat

Oleh:
Hiduplah kisah cinta antara Kia dan Lana mereka adalah remaja SMA, Kia yang duduk di bangku kelas 1 SMA dan Lana juga duduk di bangku kelas 1 SMA, mereka

Ketika Bang Dennis Jatuh Cinta

Oleh:
Di bawah rintik hujan yang saat ini mengguyur kotaku, aku berdoa, berharap semua kembali indah seperti sedia kala. “de… di mana loe? Bantuin gue” teriak bang dennis Aku pun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Rindu Yang Tersampaikan”

  1. devi mambi says:

    Suka buanget tapi kok agak ngga seru yah padahal kalau ditambah jadi sampai menikah lebihhhhhh seru lagi thanks ya cerita nya aku jadi ademm(bungah)

    SALAM
    ☺ DEVI MAMBI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *