Rival Bohongan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 23 July 2014

Risa dan Evan selamanya musuh besar.
Dari anak-anak kelas sepuluh, sampai kelas dua belas juga semua tahu kalau pernyataan itu benar. Kalau ditanya siapa murid yang paling sering masuk ruang BP, ya tentu saja jawabannya adalah ‘kedua orang itu’. Risa si cewek cantik tapi jutek yang benar benar gampang emosian, dan Evan si cowok yang terkenal dengan lebel ‘anak basket inceran adek kelas’. Tiada hari tanpa bertengkar bagi mereka. Padahal keduanya sekelas dan rumah mereka hanya berbeda satu gang saja.

Pagi itu sama seperti biasanya, ada dua kubu di kelas 11 IPS C. Yaitu kubu anak-anak cewek dan kubu anak-anak cowok. Mereka duduk di dua baris terpisah. Sebenarnya bukan Cuma Risa dan Evan yang suka bertengkar, tetapi juga semua anak perempuan dan laki laki di kelas itu sama sama bermusuhan. Dan Risa yang dianggap sebagai leader kelompok cewek, sedangkan Evan leader kelompok cowok. Kenapa bisa begitu? Semua itu berawal sejak tiga bulan yang lalu, saat diadakannya voting study tour. Anak laki-laki di kelas itu lebih memilih pergi ke gunung daripada ke museum, seperti yang dipilih oleh anak-anak perempuan. Saat itu, Risa yang notabenenya emang lebih suka ke museum, langsung berdiri menggebrak meja.
“Gue gak setuju ke gunung. Kalian gak ngerti arti kata study tour ya? Udah jelas jelas kita pergi buat nyari ilmu, bukan buat nyari jamur di gunung!” katanya lantang di depan kelas. Mendengar hal itu, Odi yang emang terkenal suka buat onar di sekolah langsung menepuk bahu Evan.
“Van, bales Van, masa kita pasrah aja sama omongan Risa? Lo kan jago presentasi! Buruan van!” ucapnya pada Evan disusul dengan bujukan teman-temannya yang lain. Evan menghela nafas sebentar, baru ia berdiri dengan santai.
“Emang study tour cuma bisa ke museum doang? Lo kira berapa anak yang bakal bener-bener serius nyatet benda-benda pra sejarah? Kalo di gunung kan kita bisa belajar tentang alam. Gak boring dan sama sama bermanfaat.”
Kini giliran teman-teman cewek Risa yang membujuk Risa untuk membalas kata kata Evan.
“Ris bales Ris, jangan kalah sama omongan dia Ris!” Bujuk si Tara dibarengi dengan teman-temannya yang lain. Risa berfikir sejenak sambil menatap wajah Evan yang juga sedang menatapnya. Sejenak mereka berdua terlihat saling bertukar pikiran, tetapi setelah itu Risa menjawab,
“Seenggaknya kita bisa lebih banyak mencari ilmu di museum daripada di gunung.”
“Oh ya? Dan sejak kapan lo jadi rajin nyatet sejarah Ris?” Pertanyaan dari Evan langsung membuat Risa malu dan naik darah.
“H-Heh! Ngaca dong! Lo sendiri bilang belajar tentang alam tapinya buang sampah aja masih di kali!”
“Apa lo bilang? Lo yang harusnya ngaca!”
“Elo!”
“Elo!”

Akhirnya perdebatan itu berlangsung hingga sekarang, karena study tour yang diidam-idamkan tidak jadi dilaksanakan, permusuhan di kelas itu makin menjadi jadi. Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, tidak ada hari tanpa bertengkar, setelah peristiwa tersebut.
Tetapi… ada rahasia ‘cantik’ dibalik permusuhan itu.

Sore itu Risa menunggu seseorang, sudah pukul tiga sejak pulang sekolah setengah jam yang lalu, Risa berdiri di rental buku agak jauh dari sekolahnya. Ia menghela nafas pelan sambil melihat jam. Tiba-tiba ada tangan seseorang yang menutupi kedua matanya. Risa berteriak-teriak pelan sambil tertawa.
“Lepas ah! Gue udah afal bau lo yang kayak kambing ini tau gak!”
“Heh enak aja kambing.” Kedua tangannya terlepas, dan Risa berbalik untuk menatap wajah orang itu sambil menunjukkan senyuman termanisnya.
“Lama banget sih Van,”
Ya, orang yang sedari tadi ditunggu Risa di rental itu memang Evan. Evan si musuh terbesarnya dan juga… pacarnya sejak lima bulan yang lalu.
“Sorry, tadi si Bimo minta dianter ke warnet, dia bakal curiga kalo gue nolak. Apalagi kalo sampe buntutin ke tempat ini.”
Mereka berdua saling menghela nafas. Yang namanya backstreet itu emang menyusahkan. Apa jadinya kalo semua anak di kelas mereka tahu kalau ternyata mereka pacaran? Sedangkan semua orang tahu kalau mereka berdua adalah musuh bebuyutan di sekolah. Hanya karena perdebatan itu, keduanya merahasiakan hubungan mereka. Mereka terlanjur berakting seperti itu di depan teman-temannya, karena mereka tahu teman-teman di kelas mengandalkan mereka untuk saling berdebat, walaupun Evan dan Risa tidak berkenan.
“Ya udah yuk pulang. Nanti kesorean,” Ajak Risa sambil menggandeng tangan Evan ke luar toko.

Besoknya, perdebatan kembali terjadi.
“Kok Cuma anak cewek doang sih yang kebagian tugas di dapur?” Tanya Tia, selaku sekretaris yang hendak mencatat persiapan menyambut pensi sekolah. Kelas mereka kebagian membuat café.
“Ah manja banget sih! Namanya juga cewek ya kerjaannya di dapur.” Sahut Bimo sambil tetap memainkan game di handphonenya. Beruntung Risa belum datang pagi itu, kalau sudah pasti sekarang mulut Bimo sudah tersumpal dengan lap meja.
“Jaga mulut lo kalo ngomong Bim, gue aduin Risa baru tau rasa lo!” kata Nesa yang sudah gondok banget sama anak-anak cowok di kelasnya.
“Aduin aja! Gue gak takut sama cewek jutek menang tampang kayak dia doang!” sesaat setelah Bimo mengatakan hal itu, meja dibagian belakang berderik keras. Dilihatnya Evan yang menendang meja di depannya sambil berkata,
“Omongan lo keterlaluan Bim.”
Bimo jadi gelagapan sendiri,
“Lah Van? Kok lo jadi belain Risa? Jangan jangan lo suka sama dia.”
Padahal hampir separuh kelas tahu kalau Bimo yang naksir berat sama Risa, Cuma terkadang ia menutupinya dengan suka membuat marah Risa, yah, beda tipis dengan yang dilakuakn Evan.
Evan membungkam sejenak, ia takut hubungannya dan Risa ketahuan, dan sekarang memang bukan saat yang tepat kalau rahasia itu sampai diketahui yang lain. Dengan lantang ia berucap,
“Enak aja! Ngapain juga gue naksir Risa. Sampai kapan-pun gue gak bakal pernah suka sama dia!”
Berbarengan dengan ucapannya itu, pintu terbuka menampilkan sosok cewek berambut panjang sebahu yang terdiam di depan kelas, itu Risa. Ia menatap wajah Evan yang kini sedang terkejut, semua anak di kelas itu serentak menatap Risa.
Tiba-tiba Risa berbalik dan keluar dari kelas. Tanpa berpikir panjang, Evan langsung mengejarnya. Anak-anak yang lain juga mengikuti di belakang Evan. Risa berlari sampai di taman, dan akhirnya berhasil dikejar oleh Evan. Risa tidak mau memperlihatkan raut wajahnya sekarang. Matanya sudah mulai berkaca-kaca.
“Maaf Ris, gue terpaksa bilang gitu tadi, lo tau sendiri kan omongan gue tadi itu Cuma boongan, cuma buat ngeyakinin mereka doang.”
Risa menahan nafasnya, ia menghapus bening air yang mulai terlihat di sudut matanya, lalu berbalik menatap Evan.
“Gue gak mau akting lagi Van, gue gak mau boong lagi. Semakin kesini gue semakin sakit hati.”
“Gue juga gak mau Ris, tapi mau gimana lagi? Mereka gak bakal terima kalo tahu ternyata kita pacaran.”
“Terima-terima aja kok Van,”
Tiba-tiba terdengar suara Tia di belakang mereka. Dan ternyata bukan Tia aja, tapi hampir anak sekelas ada disitu. Rahasia mereka ketahuan sudah.
“Sebenernya kita udah capek juga berantem, dan masa iya Cuma gara-gara kita, kalian jadi pura-pura musuhan gitu,” saut Rio si kapten basket dan juga teman akrab Evan.
Risa menunduk, bingung mau bicara apa. Tetapi Evan akhirnya bersuara.
“Maafin gue ya temen-temen semua, kalo selama ini gue boongin kalian,”
“Gue juga… minta maaf,”
Kata Risa yang kini sudah bisa menatap wajah teman-temannya. Tio maju ke depan dan menepuk bahu Evan.
“Yelah lo Van, udah kayak sama siapa aja. Udeh gak papa, mulai sekarang gak boleh ada sandiwara-sandiwaraan ya bro,” katanya yang dibalas dengan senyum jahil dari Evan.
“Ya udah, sekarang semuanya udah clear kan? nanti pulang sekolah kita sekelas makan-makan di rumah Evan aja dulu gimana? Setuju?”
Yang lain serempak menjawab “SETUJUUU!!” tanpa mendengarkan protes Evan.
Evan dan Risa saling berpandangan. Akhirnya masalahnya selesai. Mereka berdua kini telah mengambil pelajaran, kejujuran itu tidak boleh ditunda-tunda.
Kini mereka berdua bukan lagi terkenal sebagai ‘dua musuh besar’.

Cerpen Karangan: Elgita
Facebook: Elgita Arum

Cerpen Rival Bohongan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Peka

Oleh:
Kehidupanku sebagai seorang siswa pelajar sungguh membuatku pusing dan membosankan. Ingin sekali rasanya aku lulus dari tahap SMP dan meneruskan ke SMA. Jika aku lihat di sepanjang jalan banyak

Api Yang Redup Tersulut Lagi

Oleh:
Jika petang yang tak dapat kembali Jika fajar terlanjur memudar Demi malam yang silih berganti nan pergi Demi ilahi robbi yang mengakhiri Sejarah yang tak dapat kujabah lagi Terpetik

Semua Berakhir Dengan Indah

Oleh:
Ibarat menunggu datangnya pagi di keesokan hari, pagi yang indah, seraya kembali memberikan cerita nyata yang beralurkan simfoni. Cerita cinta, yang senantiasa membuat siapapun enggan untuk pergi dari kisahnya.

Perubahan

Oleh:
Aku Rio, cowok paling keren di sekolah tempatku menuntut ilmu. Hampir semua cewek tergila-gila melihatku. Tapi hanya satu yang dapat menarik hati dan perhatianku. Dia telah memikat hatiku. Namanya

Pacar Online

Oleh:
Bintang dan rembulan yang mau menemaniku saat ini, mungkin hanya akulah orang yang sampai saat ini lebih suka menyendiri dibanding ikut bergaul bersama teman teman yang belum aku kenali.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Rival Bohongan”

  1. aayd21 says:

    Goodjob author 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *