Rj Dan Kalungnya Musnahkan Para Monster (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 9 December 2017

Libur panjang pun telah tiba. Kedua orangtuaku memutuskan berlibur ke desa untuk mengunjungi sanak keluarganya. Kami pun berangkat ke desa yang bernama desa Bunifah pagi pagi hari. Setibanya di sana, aku pun langsung menyapa sepupuku dan berbincang-bincang dengannya. Mungkin sangat lama bahkan terlalu lama aku tak mengunjungi desa dan para penghuninya di sini. dan bahkan mereka sangat merindukkan kedatanganku di setiap pergantian tahun. Aku pun menghabiskan waktu liburanku dengan berkumpul bersama teman-teman lamaku.

Di detik-detik terakhir, sebelum aku kembali ke kota. Seorang laki-laki sebaya denganku menemuiku, kata teman-temanku dia adalah teman lamaku namun aku bahkan tak mengenalinya. Mungkin aku terlalu kejam baginya karena telah melupakan dan bahkan tak mengingatnya sama sekali.

“Hey Jihan” sapa lelaki itu padaku.
“Hey juga” balasku dengan ragu-ragu.
“Apakah kamu mau menemaniku jalan-jalan mengelilingi desa ini” tanyanya penuh harap.
“baiklah” sahutku

Aku dan lelaki ini pun berjalan mengelilingi desa tanpa kata, rasanya canggung sekali pikirku dalam hati. Bahkan aku pun tak mengingatnya sama sekali dan lebih parahnya lagi aku tak tau namanya siapa.
“e..emp maaf ya sebelumnya, kalau boleh tau nama kamu siapa?” Tanyaku dengan hati-hati.
“ahh, ternyata kamu benar-benar melupakanku yah jihan, bahkan kamu juga lupa denganku, kamu sih terlalu lama kembali padaku syukurnya kamu tidak terlambat” balasnya yang membuatku tambah kebingungan.

Aku pun diam sejenak memikirkan kata apa lagi yang aku lontarkan kepadanya, rasanya aku manusia yang terlalu kejam yang telah melupakan seseorang dan menemuinya tanpa mengingat kisah apa yang telah kuukir bersamanya.

“aku tau aku sangat kejam padamu, karena aku telah melupakanmu, bolehkah kau berikan satu petunjuk untukku dengan menyebutkan namamu sehingga aku bisa memutar kenangan-kenanganku denganmu” pintaku dengan senyuman.
“jangan tersenyum seperti itu, kau membuatku lemah saja” sahutnya dengan menjitak kepalaku dengan pelan.
“aaa. Aaww sakit” candaku
“kamu tidak berubah sama sekali yah, bahkan kamu mulai pikun mungkin. Namaku Reyhan”. Ejeknya yang akhirnya dia mau menyebutkan namanya.
“Reyhan” tanyaku dalam hati. Selintas di benakku teringat gelang berinisial huruf R yang ada di rumahku. Gelang kecil yang ada di rumahku itu apakah R itu inisial dari Reyhan, apakah reyhan yang memberikannya padaku dan apa hubungan aku dengannya? timbullah beberapa tanda Tanya dalam pikiranku.

“eitss, jangan ngelamun gitu dong. Entar kamu kecebur ke sungai tuh. Mikiran apaan sih, mikirin aku yah” ledeknya
‘eh enggak kok reyhan, apakah kau sangat mengenalku?”
“Ya iyalah kamu itu ya cewe yang paling cerewet, nyebelin, kepo, susah diatur dan…” jawabnya dan menghentikan perkataanya.
“dan apa lagi reyhan?” Tanyaku penasaran
“dan apalagi yahhh, empp dan kita mampir ke danau itu dulu yuk” ajaknya.
Aku pun Cuma mengikutinya di belakang dengan menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal pikiranku saat ini. Akankah aku kembali ke kota dengan diberikan tanda Tanya seperti ini, ocehku dalam hati.

“heyy coba lihat pemandangan di sini, sangat indah kan daripada kota yang kamu tempati. Keindahannya inni mulai sirna. Dulu tempat ini sangatlah indah ketika aku kesini ditemani oleh anak perempuan yang selalu membuatku bahagia. Aku dan dia selalu menyisakan waktu kami untuk bermain ke danau ini. Dia selalu bercerita hal-hal yang konyol dan konyolnya lagi aku selalu mau mendengarkannya. Dan dia selalu melukis di sini bersamaku. Kami bercanda dan mengerjakan tugas bersama di sini. namun semenjak dia pergi tempat ini mulai sirna keindahannya, berasa ada yang kurang dan terasa hampa bagiku sehingga aku pun mulai jarang mengunjunginya.” jelasnya panjang lebar
“apakah perempuan itu sangat berharga untukmu” tanyaku penuh perhatian.
Dia pun menatap mataku dalam-dalam, beberapa menit kemudian barulah dia menjawab pertanyaanku.
“dia dulu memang sangat berharga bagiku, tapi sekarang aku tak tau apakah dia masih berharga untukku atau tidak, bahkan aku tak tau apakah dia berbahagia di sana atai tidak, mungkin dia sangat bahagia di sana sehingga dia terlalu lama tidak kembali lagi padaku. Aku mulai kecewa padanya”

Kini kata-katanya mulai menusuk jantungku, rasanya ada sesuatu yang menyayat jantungku ini. Kepalaku mulai pusing, aku pun memegang kepalaku dan memori-memori masa kecilku mulai tampak disaat kepalaku pusing ini. Dan dia melihatku kesakitan

“Jihan, jihan kau kenapa, apakah kau sakit, ayoo kita pulang saja” dia panik dan memegang tanganku untuk bangkit dan pulang dengan raut wajahnya penuh kekhawatiran.
Aku pun menepis tangannya.
“Tunggu reyhan, aku tak bisa pulang dulu. aku… aku mau di sini dulu” sahutku.
Dia pun terdiam dan menemaniku tanpa kata.

Aku pun mencoba mengingat setiap memori yang muncul, dan pada akhirnya aku mengingatnya. Ya aku mengingatnya. Seorang lelaki memeberikan gelang berinisial R ketika aku kecil saat aku mau pergi meninggalkannya. Ya dulu aku pernah tinggal di desa Bunifah ini selama 2 tahun ketika aku kecil. Lelaki itu selalu menemaniku dan kami selalu bermain bersama. Dan kata-kata itu “kamu itu cewek paling cerewet, nyebelin, kepo, susah diatur tapi ngangenin” terlintas di benakku. Bukankah kata-kata itu kata yang diucapkan oleh reyhan tadi. Dan bayangan laki-laki itu mulai jelas ya aku sudah berasumsi bahwa itu adalah Reyhan. Kepalaku perlahan-lahan mulai kembalii membaik.

“Apakah perempuan yang kau ceritakan tadi adalah aku reyhan, apakah aku perempuan yang cerewet, nyebelin itu” Tanyaku dengan meneteskan butiran-butiran air mata.
“Jangan menangis jihan, ya benar perempuan itu adalah kau” sambil mengusap air mataku.
“Reyhan” sahutku
“Iya jihan, ada apa?” tanyanya
“Apakah aku terlalu terlambat untuk kembali kepadamu, apakah aku terlalu jahat padamu, apakah kau kecewa padaku dan apakah kau membenciku” jawabku sedih dan merasa bersalah.
“Aa aku sangat kecewa pada perempuan yang cerewet ini” sambil mengacak-acak rambutku.
“Eits kau mengacak rambut indahku reyhan, huh.” jawabku cemberut
“Ahh, cewekku yang cerewet ini tambah jelek yah” ledeknya.
Aku baru sadar dia mengatakan cewekku, apa maksudnya
“Cewekku?” Tanyaku ngeledek
“Ahhh, itu… anu.. itu … empp” sahutnya terbata-bata dan berlari meniggalkanku.
Kami pun berlarian di pinggiran danau itu seakan anak-anak kecil yang berlarian, dan alhasil aku dapat menangkapnya dan kutangkap tangan kanannya.

“Tunggu reyhan” pintaku
Dia pun berhenti dan ingin membalikkan badannya ke arahku.
“Tak usah menatapku, cukup seperti itu, maafkan aku telah lama kembali padamu, maafkan aku yang telah mengganggu pikiranmu maafkan aku telah mengecewakanmu, maaf aku terlambat menyadari ini Reyhan, kau boleh membenci dari sekarang” pintaku sambil mencoba menahan isakan tangis dan melepaskan tanganku darinya. Dan menundukkan kepalaku.
“Jihan jangan bersikap seperti ini padaku, cobalah kita kembalikan hari-hari kita seperti dulu lagi. Coba lihat ini” dia menunjukkan sesuatu untukku
“Untuk apa ini?” tanyaku
“bukankah sebentar lagi kau akan meninggalkanku lagi dan kembali ke kotamu, ini hadiah dariku untukmu agar kau mengingatku, kalung yang berinisial RJ ini adalah gabungan dari nama kita, ku mohon jagalah kalung ini untuk persahabatan kita yah” reyhan pun memberikan kalungnya untukku.
“Terimakasih reyhan terimakasih untuk semuanya. Ayoo kita pulang, ayah ibuku pasti mencariku” ajakku.

Beberapa hari kemudian tibalah saatnya aku meninggalkan desa ini dan kembali ke Kotaku, enggan rasanya kembali ke kota karena barusan saja aku telah mendapat kenangan indah masa kecilku dan aku pun harus meninggalkannya lagi. Dan dia, Reyhan juga ikut mengantar kepergianku dengan senyuman paksa dan melambai-lambaikan tangan tanda perpisahan. Aku pun membalas lambaian tangannya juga.

“Heyy jihan kayaknya reyhan terpaksa tuh tersenyum melepas kepergianmu, bukannya kalian sangat dekat dari kecil” bisik sepupuku, sella.
“Maybe, udah dulu ya aku pulang dulu sel. Jagain reyhan yah” sahutku
“Tenang han, aku akan jadi mata-matamu di sini” sahut sella
“Ok, thank you very much, bye bye” balasku.

Aku pun meninggalkan desa itu dan termenung didalam mobil hingga aku tertidur selama di perjalanan pulang ke kota, begitulah kebiasaanku ketika mau pergi kemana-mana, aku selalu tidur di dalam mobil. Sesampainya di rumah aku pun juga langsung mehempaskan tubuhku ke kasur empuk kesayanganku. Dan larut dalam mimpiku.

Beberapa hari kemudian setelah aku kembali ke kota, aku baru menyadari kalung pemberian Reyhan tertinggal di rumah bibiku di Desa.
“Ahh cerobohnya aku, kenapa kalung itu tertinggal di rumah bibi, ahh aku harus mengambilnya kembali. Reyhan pasti marah padaku jika kalung pemberiannya hilang” gerutuku
“Kenapa kamu jihan, kok keliatan gelisah seperti itu nak” sahut mammahku tiba tiba.
“Empp begini mah, jihan boleh gak sabtu ini kembali ke desa, ada barang berharga punya jihan ketinggalan di sana mah” pintaku dengan manja
“Ahh kamu kebiasaan sekali yah nak, selalu aja ceroboh, sama siapa kamu berangkat ke sananya, papahmu pasti gak bisa nemenin kamu, dia sibuk banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan” balas mama padaku
“Tenang mah, aku berani kok sendiri, kan aku bukan anak kecil lagi mah. Aku kan udah mahasiswi. Mamah gak perlu khawatirkan aku lagi yah” pelukku manja pada mama
“Iya udah mama izinkan sayang” sahut mama.

Drrt… drttt… drtt handphoneku bergetar, namun aku hiraukan saja karena sedangg menyelesaikan tugas-tugasku agar ketika aku pergi ke desa nanti tidak ada tugas yang aku pikirkan lagi. Handphoneku bergetar berulang-ulang kali hingga membuatku terganggu dan akhirnya kuangkat telepon dari nomor yang tak kukenali.

“Hello, maaf ini siapa yah” sahutku
Tak ada sahutan dari pertanyaanku.
“oke kalau gak mau bicara aku tutup yah jangan telepon-telepon lagi aku sibuk” balasku lagi
“eh tunggu dulu” balas dari orang yang meneleponku
“siapa?” tanyaku lagi
“kamu gak pinter menebak ya jihan, hhaha” ledeknya
“Reyhan, benar ini reyhan?” sahutku kegirangan
“iya cerewet, ini aku reyhan, oh iya kamu lagi sibuk kan, oke nanti lagi ya aku teleponnya, bilang ya kalau udah gak sibuk lagi” timpal reyhan padaku
“emppp baiklah” balasku
Tutt… tutt telpon pun berakhir sampai disini, aku pun bertambah semangat untuk menyelesaikan tugas-tugasku ini agar bisa teleponan sama sahabat kecilku yang bawel itu.

Singkat cerita tibalah saatnya aku kembali ke Desa Bunifah untuk mengambil kalunggku yang tertinggal di rumah bibiku, aku sengaja tak mengasih tau reyhan takutnya dia marah alasanku kembali ke sini. Sesampainya di sana aku langsung mengetuk pintu rumah bibiku, sepupuku membukakan pintunya dan mempersilahkanku masuk, namun ada sesuatu yang berbeda dengan desa kali ini dan keluargaku ini, kampung dan keluarga tampak aneh.

“sel, aku mau nggambil barangku yang tertinggal di sini” kataku memecah keheningan.
“ya” sahutnya singkat
“singkat banget sahutnya” gumamku dalam hati.

Aku pun langsung memasuki kamar tempatku menginap minggu lalu, setelah aku menemukan kalungnya aku mendengar aungan yang bersahutan yang tampak mengerikan, aku takut dan langsung bergegas ingin pulang. Sebelumnya aku langsung memakai kalung itu ke leherku. Tiba-tiba suara aungan berhenti sejenak, aku pun memberanikan diri membuka knop pintu perlahan-lahan. Tiba-tiba bibi dan sella sudah berada di depan pintu.

“eh bibi sama sella bikin kaget aja, ada apa kalian di sini? oh iya kalian sakit yah? wajah kalian kok keliatan pucat sekali?” tanyaku
“enggak kok jihan” balas sella

Setelah aku melangkahkan beberapa langkah kaki, suara aungan itu ya suara aungan itu muncul lagi lebih tepatnya di belakangku, kupalingkan wajahku untuk melihat situasi ini. Sella dan bibi bergerak ke samping kanan kiri muka depan dan saatnya ingin menerkamku, mereka layaknya zombie yang kutonton biasanya. Ahh aku sangat takut tanpa ba bi bu aku pun langsung menerobos pintu dan berlari ke luar rumah mencari tempat yang aman. Aku tak bisa menghubungi kedua orangtuaku Karena situasi di sini tak memungkinkan, pikirku saat ini adalah hanya berlari untuk ke luar dari tempat ini, lari dan terus berlari tanpa kenal lelah hinggga aku menemukan sebuah masjid dan aku berhenti di sana untuk beristirahat dan melaksanakan sholat untuk memohon perlindungannya, aku bingung ada apa dengan desa ini dan aku bingung harus bertanya dengan siapa, selesai sholat aku melihat seorang bapak di sana, aku pun menceritakan semuanya. Dan berliau berkata bahwa desa ini dilanda oleh penyakit yang langka, manusia di sini tidak seperti manusia lagi mereka bagaikan zombie namun tidak seperti zombie-zombie yang ada di televisi mereka hampir seperti monster. Ketika terkena gigitan dari seseorang yang sudah menjadi zombie/monster itu dia akan berubah seperti itu juga, namun yang lebih membahayakannya lagi dia bisa berubah-ubah terkadang menjadi manusia biasanya dan pada titik yang tak disangka dia akan berubah menjadi monster.

Cerpen Karangan: Hayatus Shaleha
Facebook: yatus tushee

Cerpen Rj Dan Kalungnya Musnahkan Para Monster (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Puisi Terakhir

Oleh:
Kita masih disini… Masih menghirup udara yang sama di ruangan ini. Entah sampai kapan kita mampu bertahan. Tapi kita harus tetap berjuang. Saat ini mungkin tak akan pernah kembali,

Cinderella Dadakan

Oleh:
Syadza Stephanie. Itulah nama gadis berkacamata, rambut dikucir kuda, memakai seragam ala SMA, membawa beberapa lembar kertas yang dijepit pada papan ulangan, juga sebuah bolpoin hitam. Ia tampak sibuk

1059 Day

Oleh:
Saat ini hatiku benar-benar tak beraturan, tak biasanya aku merasakan kegalauan yang luar biasa. 1059 hari sebelumnya hatiku baik-baik saja, tak ada luka pula tak ada celotehan aneh yang

The Guardian Weather and Little Girl

Oleh:
Samar-samar dari kejauhan terlihat ada sorang anak perempuan sedang menghampiriku dan teman-temanku. Kelihatannya anak perempuan itu bingung sekali saat tepat brada di depan kami. Entah apa yang dipikirkannya waktu

Berlalu Seperti Rintik Hujan

Oleh:
Dalam tubuhku Megalir cinta kita Yang begitu syahdu Mengalun riang gembira Aku menjadi doa bagimu Begitu juga kau Menjadi malam bagiku Dimana aku selalu Bersahaja memikirkan Tubuh-tubuh kita Sajak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *