Rosalia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 9 October 2017

“Siapa wanita itu?”
“Kenapa?”
“Dia wanita sempurna yang pernah kulihat!”
“Jangan bodoh, bung!”
“Mengapa?”
“Sebaiknya kau jangan mengganggunya, jika kau masih menyayangi hidupmu!”
“Maksudmu apa?!”
“Kau pura-pura bodoh atau apa? Kau bisa mati jika mendekatinya.”
“Aku tak mengerti maksudmu?”
“Jangan berlagak kau tak mengerti bung, yang sebenarnya kau sangat mengerti akan hal itu.”
“Katakan saja padaku, apa dampak yang aku dapatkan jika mendaktinya? Sebuah Penolakan! Itu tak berarti apa-apa untukku.”
“Sial, kau akan mati bung! Wanita itu milik seorang bangsawan, dan beberapa bulan lagi akan menjadi kepunyaan yang sah dari seorang bangsawan.”
“Lalu? karena ia milik bangsawan, aku tak boleh mendekatinya?”
“Harusnya kau sadar bung! Kau hanya rakyat jelata, juga seorang pedagang sayur. Apa yang bisa kau beri kepada gadis itu? Dan, kita hanya pedagang kecil bung, jangan membuat masalah dengan kalangan atas, jika kau masih ingin hidup.”
“Aku tak takut sediktpun.”
“Kau tak mengerti bangsawan semacam apa yang akan kau hadapi!”
“Memangnya dia sehebat apa?”
“Bangsawan yang kau bilang sehebat apa? Itu telah membunuh ratusan orang tak bersalah, juga teman-temanku, Tanpa ada hukum yang jelas. Dan bangsawan yang kau bilang sehebat apa? Kurasa ia akan membunuhmu dengan sangat keji, jika kau masih nekat untuk mendekati wanita itu.”

“Mengapa kau sekarang diam, bung?”
“Aku bingung saja denganmu, teman-temanmu mati olehnya, dan kau tak melakukan apa-apa… Sungguh memalukan!”
“Apa kau tak mengerti apa yang kubilang tadi? Dia bisa membunuhku juga, dan aku tak ingin menjadi orang yang mati sia-sia ditangnnya.”
“Kau teman bangsat!”
“Ya, aku memang bangsat! Bangsat yang menyangi hidupnya.” Ujar Herman.

Herman lalu membuang mukanya kepada orang-orang di depannya. Mengacuhkan pria asing keras kepala di sampingnya. karena ia tahu bahwa percakapannya tak akan memperoleh apapun, selain sebuah perselisihan. Herman juga memaklumi bahwa lelaki itu masih sangat muda. Ia belum tahu banyak tentang dunia. Bicaranya lebih cepat dari otaknya bekerja. Anak muda yang tolol.

Tidak ada yang menampik bahwa Rosalia memang cantik. Gadis itu melambangkan kesempurnaan seorang wanita. Bibirnya tak pernah dipasangi gincu, dan itu yang membuatnya menarik. Matanya bulat hitam, dagunya sedikit tajam. Wajahnya putih bersih, dan juga Rambutnya hitam panjang menerjang bahu. Dan yang menambah pesonanya, ialah caranya berbicara. Lembut dan tenang, seperti berbisik.

Keesokan harinya dengan wajah yang bersahabat, lelaki asing yang kemarin berselisih dengannya mengakui kesalahannya, bahwa ia tak sepatutnya berkata seperti itu kepada Herman, Apalagi ia lebih cukup umur dibanding dirinya. Dengan sangat dewasa, herman mengindahkan maafnya.

“Ngomong-ngomong, namaku minke.” Kata lelaki itu memulai perkenalan.
“Aku Herman.”
Perkenalan itu membawa dampak besar terhadap hubungan sosial mereka. Sebagai yang lebih tua dan berpengalaman dalam urusan berdagang, herman kadang memberikan ajian seputar berdagang kepada minke. Bahwa sejatinya, untuk berdagang tidak perlu genius, cukup paham matematika dasar dan sedikit kecakapan berbahasa. Ini tak jadi soal jika minke tak menceritakan kepada herman bahwa kemarin merupakan hari pertamanya berdagang, juga merupakan hari pertamanya jatuh cinta.

Herman memulai berdagang di usia lima belas, di saat ayahnya tak sanggup untuk menafkahi ibunya, serta adik-adiknya lagi. Bukan karena ayah herman malas untuk bekerja. Tak lebih dikarenakan, kaki ayahnya tak lagi berguna, itu dikarenakan sebuah kecelakaan. Ayahnya tergelincir dari atap rumah seorang konglomerat, ketika sedang bekerja sebagai tukang. Kedua kakinya patah, hingga menyebabkannya lumpuh. Maka hari-harinya, lebih banyak di kursi tua.

Kini di usianya yang genap tiga puluh delapan tahun, herman sudah menikah dan memiliki dua orang anak, juga sebuah rumah. Meski tak besar, tapi itu cukup untuk menghalangi tidur dari hujan. Ia juga tak lupa untuk menyimpan separuh penghasilannya dari berdagang lauk di kota untuk diberikan kepada ibunya. Setidaknya herman ingat, ia pernah berkata kepada istrinya yang dimana saat itu sedang mengandung anak kedua,

“Aku ingin berhenti berdagang!” Katanya ketika pulang dari pasar.
Istrinya terkejut.
“Lalu kau ingin menjadi apa?” Tanya istrinya.
“Aku ingin menjadi jongos!” Jawabnya mantap.
Ia sadar bahwa berdagang tak akan membuatnya kaya. Maka pilihan jongos tiba-tiba ia pilih untuk menggantikan pekerjaan berdagangnnya. Bukan tanpa sebab, itu telah dipikirkannya dengan sangat matang. Itu dikarenakan temannya berdagang bercerita mengenai temannya dari temannya dan temannya bahwa temannya itu telah memiliki rumah besar dan juga tanah yang luas, itu tak lebih berkerja sebagai jongos.

“Bagaimana bisa?” Tanya herman bingung.
“Ia mendapatkan warisan dari seorang bangsawan.”
Herman melongo.
“Warisan?”
“Sebelum bangsawan itu mati, ia menghibahkan semua kekayaannya kepada jongos itu.” Ujar temannya sangat meyakinkan.
Herman kembali melongo.
“Apa itu bisa dipercaya?” Tanya istrinya ragu.
Herman tak menjawab. Ia tampak bimbang.

“Aku tahu bahwa kau menyukai gadis itu. Namanya Rosalia, Ia gadis biasa. Maksudku, ia bukan dari keluarga kelas atas. Ia gadis yang sangat terkenal akan kecantikannya, namun semua lelaki menjauhinya.” Kata Herman.
Minke terdiam. Matanya menatap herman dalam, seakan menunggu penjelasan lainnya lagi.
“Gadis itu, kurasa ia seumuruan denganmu. Ia memang cantik tiada duanya, namun lebih baik kau tak usah mendekatinya, karena si bajingan itu telah memilikinya.” Sambungnya.
Mata minke berapi-api, “Bagaimana jika ternyata Rosalia itu tidak mencintainya!”
“Cinta tidaknya Rosalia, bajingan itu tetap akan menikahinya!” tegas herman.
Satu hal yang tak Minke sadari, bahwa dirinya hanyalah rakyat jelata. Ia kalah dalam segi apapun dari bangsawan itu. Cinta telah membuat otaknya tak berjalan.

“Aku rasa dia penuh dengan tekanan..” Kata minke kepada herman.
Beberapa hari ini, keduanya telah benar-benar dekat.
“Jangan sok tau!” Kelakar herman.
Minke melanjutkan,
“Aku bisa melihat dari matanya, bahwa ia habis menangis semalam.”
Herman menatap mata minke. Ia cukup yakin bahwa Minke merupakan dirinya ketika muda dulu. Ada begitu banyak kesamaan antara dirinya disaat muda dengan Minke, selain memiliki keyakinannya yang kuat, juga kesungguh-sungguhannya, yang tak pernah mengenal takut. Herman menyadari itu. Minke memiliki segalanya, segala yang ia punya dulu. Ia tak keliru soal itu, ia bisa merasakannya. Namun di detik berikutnya, herman tersadar bahwa apa yang Minke miliki merupakan sebuah bencana besar bagi dirinya sendiri. Kota ini membenci orang-orang seperti Minke.

Sudah sejak pagi Minke menunggu gadis itu di balik meja sayurnya. Melihat dari ujung ke ujung, yang tak lebih ia lihat hanya kumpulan manusia sedang berlalu lalang. Hingga sore datang, ia belum juga melihat gadis itu.

“Kau bilang dia akan datang sekarang?” Tanya minke dengan wajah sedikit kecewa.
Herman tak menjawabnya. Ia malah sibuk dengan para pembeli.

Ini sungguhan, gadis itu berada tepat di hadapannya. Minke terdiam. Darahnya mendidih. Jantungnya berdegup kencang. Seluruh wajahnya memerah. Entah sihir apa yang gadis itu miliki, minke merasa jatuh cinta untuk kedua kalinya.

“Berapa kau jual tomatmu ini?” Tanya Rosalia.
“Ambil saja. Gratis untukmu…” Jawab minke sedikit terbata-bata.
“Benarkah?”
“Yah!”
Rosalia tersenyum. Gigi putihnya mengintip dari balik bibirnya. Itu adalah gigi sempurna yang pernah minke lihat.

“Kau pemuda yang sangat baik! Jika boleh kutahu, siapa namamu?” Tanya Rosalia.
“Minke.” Jawabnya. Dengan satu penegasan kembali… “Namaku, Minke.”

Belum sempat gadis itu berjalan lima langkah untuk meninggalkannya, minke memanggil namanya.
“Rosalia?”
Gadis itu menoleh ke belakang.
“Ada apa minke?” Tanyanya dengan sebaris senyuman.
Lalu dengan wajah pengertian, Minke berkata: “Menangis tak akan menyelesaikan segalanya. Mengapa kau tak melawannya, jika memang kau tak menyukainya. Rosalia, hiduplah bersama apa yang kau cinta.”
Wajah rosalia berubah muram. Tatapan bersahabatnya menghilang. Ia membuang wajahnya seketika itu. Kemudian berjalan kembali dengan langkah dua kali lipat lebih cepat. Ia tak menggubrisnya.
“Kau pantas untuk bahagia!” Teriak minke di antara ratusan kaki yang berjalan.

Apa yang minke katakan itu menghentak hati kecilnya. “Mengapa ia tahu jika aku sering menangis. Bagaimana dia tahu aku sedang mengalami hal yang membuatku tidak bahagia. Bagaimana dia tahu…” Pikir Rosalia.

Ia menangis sepanjang pulang. Menumpahkan air matanya di jalan-jalan. Bukan karena malu, tukang sayur itu mengetahui kemuraman hidupnya. Ia kecewa, dikarenakan ia tak bisa berbuat apa-apa untuk dirinya sendiri.

Di waktu yang sama. Amarah herman meledak.
“Apa yang kau lakukan, minke?!” Teriak herman.
“Aku mencintainya.” Ujar minke. “Aku perlu menyelamatkannya.” Sambungnya.
Herman terdiam beberapa saat. Tentu ia melihat dirinya di dalam minke. Dahulu ia juga seperti itu.
“Perjanjian kita tidak seperti itu!”
“Aku akan membawanya pergi…”
“Jangan bodoh!” Ucap herman marah.
“Aku lebih bodoh jika membiarkan apa yang telah salah dan itu aku ketahui!”
Ucapan minke itu membuat herman diam cukup lama. Membuat Herman mengenang lima kawannya yang mati oleh bangsawan itu. Membuatnya melihat dirinya sendiri. Membuatnya merasa bersalah.

Hari-hari berjalan dengan canggung, antara herman dan minke. Tak ada lagi obrolan hangat keduanya. Masing-masing diam, juga tak pernah lagi saling melirik atau menyapa, seperti apa yang biasa mereka lakukan setiap bertemu. Herman lebih banyak memperhatikan dagangannya. Sedangkan minke, lebih banyak melamun. Itu berlangsung beberapa hari, sebelum minke menghilang bak ditelan bumi.

“Yang aku tahu, aku punya banyak waktu untuk menjelaskan seribu alasan agar ia tidak melakukan hal bodoh itu. Aku juga masih punya banyak waktu untuk meruntuhkan keyakinan cintanya, setidaknya untuk menahannya. Aku masih punya waktu untuk merubahnya. Andai aku punya sedikit keberanian.”

Cerpen Karangan: Renal Wijaya Kusuma
Blog: renalwijayakusuma.blogspot.com
Facebook: facebook.com/renalvenom

Cerpen Rosalia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Manipulasi

Oleh:
Manusia adalah makhluk yang sangat terlatih untuk memanipulasi segala sesuatu. Begitu nyatanya, banyak wanita yang berkompetisi menarik lawan jenisnya dengan manipulasinya. Trik manipulasi itu dengan cara merubah hitam menjadi

Dia Yang Pernah Singgah

Oleh:
Kedua kaki ini telah sampai di depan sebuah naungan tempatku mendalami ilmu. Tempat yang setidaknya menyuguhkanku sebuah aroma manisnya menapaki awal masa remaja. Tentang kesenangan, tertawa karena kekonyolan dan

Pacar Pertamaku Bukan Cinta Pertamaku

Oleh:
Mengingat kembali cerita 3 tahun yang lalu. Dimana Rana merasakan apa itu cinta monyet, Rana mulai menyukai teman sekelasnya yang bernama Cholil, dan karena masih polosnya dia tak berani

Crazy

Oleh:
“Apa?!,” sontak Felly kaget setelah mendengar keputusan rekan band yang lainnya. “Sorry, Fel. Tapi, mau bagaimana lagi kita sudah terlanjut menerima tawaran itu,” ucap Bram lirih. “Lagipula, kita tidak

Saudaraku Kekasihku

Oleh:
Hai, namaku Dhila. Aku bersekolah di SMA N 7 Purworejo. Dulu waktu aku SMP, aku suka sama Kakak kelasku, namanya Vreda. Dia anaknya baik, pinter, ganteng lagi. Jadi banyak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *