Ruang Kehampaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 January 2018

Hidup bagai ruangan yang hampa. Tanpa seseorang yang kita sayang. Hidup bagai ruangan yang hampa. Penuh tekanan, kekangan, paksaan.

Selasa pagi, gerimis masih saja datang dan terpaksa aku harus menunggu beberapa saat untuk berangkat ke sekolah. “Belum berangkat nak?” tiba-tiba ibu menghampiriku di teras. “Belum bu, masih gerimis” jawabku. “Hmm, Intan, pokoknya nanti kamu harus ngomong sama Reza tentang hubungan kalian. Ibu tidak mau masa depan anak ibu terganggu” kata ibu. Intan hanya terdiam, airmatanya mulai menggenang, “iya bu, nanti Intan akan ngomong dengan Reza”.

Pukul 07.30 gerimis pun reda dan aku mulai berangkat ke sekolah. Mulai aku datang ke sekolah sampai menjelang istirahat, tak kulihat kemunculan Reza. Kami memang beda kelas, karena dia adalah adik kelasku dan mungkin ini salah satu alasan kenapa ibuku melarangku berhubungan dengannya.

Bel istirahat pun berbunyi, aku pun meminta Yuka untuk menemaniku pergi ke kelas Reza. “Intan, aku tunggu di sini aja ya, kamu yang sabar” kata Yuka. Aku hanya mengangguk tanda setuju. Aku telah sampai di depan kelas Reza, namun aku hanya berdiri di ambang pintu sampai aku bertemu salah satu teman Reza. “Kakak ngapain di sini?” tanya Bayu. “Tolong panggilin Reza ya” jawabku sambil memberi sedikit senyum. Bayu pun memanggil Reza, dan tak lama kemudian Reza pun keluar. “Ada apa?” kata Reza. “Aku mau bahas soal tadi malam” jawabku sambil menatapnya. “Hmm, aku mengerti, tapi kenapa harus putus? Sedangkan aku masih sayang sama kamu”. “Aku gak mungkin membangkang perintah ibuku” jawabku. “Ya sudah kalau memang itu yang terbaik” kata Reza sambil mengalihkan pandangannya.

Keheningan pun terjadi selama beberapa saat. “Ya aku juga mau minta maaf sama kamu kalau selama kita pacaran aku ada salah sama kamu” kataku. “Iya” jawab Reza. Kami pun kembali diam. Aku sadar dengan sikap Reza barusan, “ya sudah, aku cuma mau bilang itu aja kok” kataku. “Iya”. Aku pun pergi meninggalkan tempat itu dan Reza pun juga kembali ke kelas.

Setelah lulus aku melanjutkan ke salah satu SMA di daerahku. Hari demi hari kulalui, tanpa Reza. Aku pun merasa sendiri, sepi, tertekan. Sedang sahabat baikku, Yuka, mulai menjauh dariku. Ditambah lagi ibuku terlalu mengekangku, mengharuskanku untuk selalu belajar.
Aku mulai tak tahu arah, bayanganku mulai gelap.

Ketika aku mulai membuka mata aku tak tahu sedang berada di mana. Hanya ada sinar lampu dan alat infus yang kulihat. Tak lama kemudian kedua orangtuaku datang. “Intan, kamu gak apa-apa nak?”. “Aku di mana bu?” tanyaku sambil mengangkat badanku untuk duduk. “Jangan bangun dulu nak, kamu di rumah sakit” tiba-tiba ibuku menangis. “Ibu kenapa?” tanyaku. “Kamu kenapa melakukan hal itu nak? Kenapa? Ibu minta maaf jika ini semua salah ibu” kata ibu sambil mengusap airmatanya yang jatuh.

Aku pun baru sadar, saat aku sedang di kamar pandanganku jauh menerawang ke kejadian saat aku berpisah dengan Reza, dan juga saat kehilangan sahabatku juga tekanan yang aku jalani, saat itu aku bagai kehilangan semua akalku aku mulai menggoreskan sebatang silet tajam ke arah nadiku yang akhirnya mengantarku sampai di rumah sakit. Airmataku pun jatuh, “maafin aku bu, aku enggak sanggup kalau harus menjalani ini semua, aku capek bu kalau terus dikekang”. “Tapi ayah dan ibu hanya ingin yang terbaik untukmu nak” kata ayah. “Intan, maafkan ibu nak, ibu melakukan itu semua karena ibu tidak mau kamu kenapa-kenapa, ibu tidak ingin masa depan kamu terganggu” kata ibu. “Tapi aku capek bu”. “Baiklah, sekarang ibu punya satu kejutan untukmu, ibu memberikan kejutan ini karena ibu tau kamu selalu memikirkannya”.

Tiba-tiba dari luar ruangan Reza datang dengan membawa bunga, “Intan” panggil Reza. “Reza, kamu kok?”. “Aku cuma bisa kasih ini, oh iya om, tante kalau boleh saya ingin meminta maaf kepada om dan tante apabila saya punya salah, tapi tolong berikan kami kesempatan untuk berteman, saya sangat sayang dengan Intan. Mungkin om dan tante tidak mengizinkan kami berdua pacaran tapo setidaknya kami masih bisa berteman dan saya juga masih bisa menganggap Intan sebagai kakak saya” kata Reza. “Baiklah, asalkan pertemanan kalian tidak sampai diluar batas” jawab ayah. “Terimakasih om”. “Terimakasih ayah” kataku sambil tersenyum

Cerpen Karangan: Astiara
Facebook: Astiara Stevi

Cerpen Ruang Kehampaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Juliet Dan Romeo

Oleh:
Langit biru terbentang luas di depan mataku. Tapi yang dapat ku lakukan hanyalah melihatnya dari balik kaca jendela. Ingin sekali rasanya aku menatap langit langsung dengan kedua bola mataku.

Makna Sebuah Peniti

Oleh:
Tak terasa hari senin mengawali minggu ini kembali. Pukul 05.45 ia sudah siap untuk pergi ke sekolah. Tinggal memakai sepatunya. Eni, seorang siswi SMA kelas XI, kembali mengecek buku-buku

Cinta The Geniuses

Oleh:
Masa-masa Smp adalah awal mula aku berkembang menjadi dewasa. Di smp banyak hal yang kudapatkan. Salah satunya adalah “Cinta”. Jujur aku tidak tahu apa itu cinta? dan kapan cinta

Cewek Dari Sosial Media

Oleh:
Kenangan yang gak akan gue lupakan, yang membuat seakan menjadi orang yang bodoh. Waktu itu gue masih duduk di bangku smp kelas 3. Awalnya gini sebelumnya perkenalkan nama gue

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *