Saat Bidadari Juga Ingin Dicintai

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 14 January 2015

Hujan malam ini begitu deras mengguyur ibukota Jalanan dibasahi remang cahaya lampu taman menerpa Dingin dan sunyi hanya suara deras bercampur gejolak sang malam Cahaya hitam putih redup padam mengiringi alunan Di sebuah gubuk yang diterangi cahaya dari lilin-lilin kecil berderet manja Hanya deru nafas memacu diiringi erangan nikmat Sebuah pertemuan dalam pelukan manja dan kasih Seakan tak ingin berakhir sebelum cahaya padam Pertempuran nikmat itu tak ubahnya perilaku bodoh Dan mereka sama-sama tertawa dan bertukar posisi Sementara sang malam mulai lelah menari Menyisakan secarik basah pada pertiwi.

“Sampai kapan hubungan terlarang ini berakhir? Sementara aku pun tak tahu bagaimana cara untuk berpisah darimu, kedua mataku telah gelap oleh cintamu… dan aku terpana terbata oleh bujuk rayumu.. harus ku akui.. betapa nikmat bercinta denganmu..” wanita muda itu, berumur sekitar 25 tahun, namanya Monika, ia berkata sambil menghisap rok*knya dalam-dalam. Ia sadar dan tahu betul posisinya saat ini. “dan bila mentari esok masih bersinar untuk kita, aku sadari tak ada alasan sedikitpun untuk menjauh darimu.. dari cintamu… pulanglah.. malam semakin dingin dan suami mu pasti menanti..” pemuda bertubuh tambun itu bernama Randi. Ia meraih rok*k dari saku celananya, Membakar dan menghisapnya sambil membiarkan asap itu berlalu di celah-celah ventilasi. Ia merogoh kantongnya lagi dan melemparkan uang lembaran merah itu pada Monika dan kembali menghisap rok*knya. Monika meraih sambil tersenyum nakal dan berlalu di antara gerimis hujan yang mulai padamkan lilin-lilin kecil di atas meja.

Randi menarik selimut sambil menatap tajam plafon menatap asap rok*knya yang mencari celah untuk menjauh, sama sepertinya.. Bukan sekali atau dua kali tapi ribuan.. semua cara telah dicoba untuk menjauh dari Monika kekasih gelap yang kini bertahta di seluruh nafasnya. Membiarkan peluk manja Monika pada malam-malam sepinya sejak Istrinya pergi untuk selamanya.

Darah.. air mata dan tangis… Ketika kata itu seperti bahan peramu kesedihan dalam suasana malam Di setiap detik dan menit kala mata Randi ingin terlelap dalam mimpi panjang Dan mungkin tak ingin lagi matanya terbuka jika hanya untuk menatap kosong. Kesunyian dan hampa yang kini bagai untaian melodi di setiap deru nafasnya.

Randi bangkit berdiri menatap foto istrinya yang terpajang begitu besar dan indah pada sebuah kanvas. Istrinya yang kini telah tiada, yang sekedar bisa dilihatnya walau hanya lewat mimpi.. seribu kata-kata ia tak sanggup ucapkan selamat tinggal “tenanglah disana sayang… aku sudah hancur kini… sejak kau pergi.. aku benar-benar sendiri dan aku berjalan dalam ketakutan, sampai Monika menunjuk cahaya untuk ku berteduh sejenak” Air mata Randi bercampur dengan dingin malam.

DAN demi waktu yang bergulir di sampingmu Maafkan lah diriku … (cekkkleeek) lagu itu terhenti karena dimatikan Haris. Suami Monika. Dengan tangan di kedua pinggangnya Haris menatap Monika tajam setajam silet Monika terdiam dan menarik nafas panjang “PLAAAAAAAK” sebuah tamparan mendera di pipinya. berdarah dan terhempas. Monika memegang erat pipinya sambil meludahkan darah dari mulutnya. “Wanita macam apa kamu..? tiap hari kerjanya pulang malam..! udah MANDUL TIDAK MENGHASILKAN KETURUNAN..” Haris terlihat marah dan membiarkan amarahnya meledak Sementara Monika sang istri hanya bisa menangis dan mencoba mencerna setiap kata kasar dari mulut suaminya. Jujurnya saja ia memang tak pernah mencintai Haris, Pria tua berumur 35 tahun itu sangat kasar dan selalu menuduhnya. Kalau bukan karena dijodohkan tak sudi Monika memadu kasih, bermimpi saja tidak Alasan yang membuatnya terluka dalam. Baginya sejak kecil. pernikahan adalah awal sebuah kedamaian Dimana ia membimbing suaminya dan menuntun anak-anaknya ke dalam surga, Tapi apa mau dikata. Kehidupan berkata lain. Harapan seakan musnah seiring suaminya yang loyo Dan tak mampu membangkitkan gairahnya. Apalagi memberinya anak.

“dasar lelaki tak tahu diri..” sesal Monika dalam hati Kesunyian kian bersahabat pada jiwa tertikam perih dalam syair melodi Sinar-sinar indah dari lilin-lilin kecil itu kian memudar dalam air mata Randi duduk pada tepian kolam renang sambil menyalahkan dan melepaskan satu persatu lilin-lilin kecil itu ke tengah kolam renang. membiarkan duka, perih, ego. gundah yang membasahi peluh Dalam emosi saat dirasa hanya amarah yang bertahta dalam palung hati. “berapa lama lagi kah kau menanti, menunggu cahaya lilin padam dalam rintihan hujan. Sudahlah. manusia tolol pun pasti sadar ia tak akan kembali..” suara Monika dari belakang sambil melipat tangan. Menatap sayu pada Randi. “aku hanya tak bisa jauh… dan sedikitpun aku bergerak cahaya gelap menikamku seketika… sadarkah kau adalah jawaban atas doa dalam gundahku..” Randi menatap sosok Monika yang pipinya membiru. “pasti itu adalah bekas gambaran tangan suami mu… sudahku katakan padamu seribu kali untuk menjauh secepatnya dari hidupku… atau suatu saat kita berdua akan kena batunya” Randi membelai pipi Monika “ahh…! sudahlah Ran…. jangan pikir aku tak memikirkan itu, Aku rasa hanya kau yang dapat menjawabnya.. disini… tepat disini..” Monika menunjuk jantung Randi Beberapa saatnya mereka terdiam dan membiarkan malam menyapa dengn rintiknya menerpa pertiwi Dengan pelukan dan berakhir dengan ciuman kala dosa menyapa

Dingin dan sunyi beriak dalam emosi menyatu padu pada sudut-sudut nan gelap Haris dan Monika terselimut dalam untaian asmara berpadu dari gesekan yang membara Suara hewan malam kian menyapa berpadu dengaan udara lembab mengais kerongkongan Haris sudah kalah dalam pertempuran nikmat itu meninggalkan Monika dalam nafsu kian membara Namun padam perlahan. Yang ada emosi bertatakan sumpah serapah dalam hati Kian membara tak tertahankan.

Sendiri dan sunyi lagi-lagi Randi menatap foto usang itu, foto istrinya sambil membelai manja seakan foto itu hidup sejenak dan menghapus gundah yang kini tertahan rindu yang tak mungkin disingkirkan lagi. Bagai mimpi buruk bergentayangan di sekeliling tanpa permisi. dan sungguh disini sunyi sepi. bahkan suara hewan tak sedikitpun mengusik walau sekedar untuk bernyanyi menyapa malam atau menyapa kesendirian yang tak mungkin berakhir

Haris tertidur dengan pulas penuh ceria Sementara Monika duduk sambil menyenderkan kepalanya ke tepian ranjang Baginya sudah berakhir Lelah dan bosan pada kenyataan yang tak memberinya sedikitpun sukacita Dari sebuah pernikahan indah Yang terlihat hanya kosong dan hampa kian menguasai malam Merobek jantungnya perlahan Senyumnya menerawang jauh membiarkan Randi mengusik menggoda merasuk hebat tanpa permisi dan membiarkan senyumnya mengembang

Haris mulai curiga pada Monika yang sering keluar malam dan membiarkan diirinya terlelap sendiri Bersama mimpi dan dingin Ia yakin Monika main belakang atau menyembunyikan sesuatu Malam ini ia sengaja tertidur cepat dan tak mengusik rengek manja Monika yang terus mengusiknya Untuk segera melaksanakan ritual suami istri pengobat

Namun apa daya lelaki tua itu kini terlelap dan membiarkan suara dari benturan nafasnya beradu mengusik malam. Monika meraih pelindung hangatnya dan berlalu di malam yang dingin. Sementara Haris yang pura-pura terlelap mulai waspada dan terjaga

Bintang malam ini begitu terang ditemani kemilau bulan tersenyum mesra Randi yang sedang menikmati kopi hangatnya terdiam menatap sosok yang berdiri di depannya Dengan selendang putih layaknya bidadari jatuh dari khayangan. Sungguh cantik dan elok nan sempurna. “sudah ku katakan untuk menjauh, berlari sejauh mungkin… sebelum amarah sang tuhan menikam..” Randi mencoba sebisa mungkin menasehati wanita yang sangat disayangnya. “aaaah! sudahlah katupkan mulut manismu itu… lalu menurutmu kenapa aku harus disini..? jika ada pilihan untuk ku pulang kembali… katakanlah” Monika duduk di samping Randi dan mereka bercerita panjang lebar tentang masa kecil mereka. mengenang dongeng sebelum tidur yang bisa sang ibu latunkan atau di nina bobokan dengan lagu tidur Dan lagi… lagi dan lagi.. hubungan terlarang itu kembali berakhir dengan cerita nikmat Kala pagi menjelang saat mentari mengintip pertiwi Dua sosok manusia terbujur kaku. Randi dan Monika ditemukan tewas penuh kepedihan. penuh luka dan tercabik Goresan di tubuh mereka seakan jadi tanda duka pada dunia mereka Yang diwarnai ceria Meski Haris menyerahkan diri karena cemburu buta Namun apa mau dikata Cinta memberi alasan hebat untuk kembali Kala jauh dan menyatuhkan hati yang luka Seucap janji membuat kita percaya Sekecil luka membuat kita kecewa Tapi sebuah cinta akan begitu bermakna

Randi dan Monika kini tersenyum dalam dunia yang berbeda Dalam air mata dan senyum manis dalam mimpi panjang Tapi percayalah cinta akan selalu begitu berwarna dan merasuk siapa saja Tanpa permisi. sayangilah pasanganmu Sebelum ada orang lain yang mampu menghapus linangan air matanya

TAMAT

Cerpen Karangan: Alfred Pandie
Facebook: Alfredpandie[-at-]yahoo.com
Penulis: alfredpandie[-at-]yahoo.com
Pin :74681539
hal paling menyenangkan ketika kalian menyukai karya saya

Cerpen Saat Bidadari Juga Ingin Dicintai merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi di Matamu

Oleh:
Di bawah guyuran hujan sore itu, kita sama-sama memandang pada bulir air yang jatuh berserakan di depan halaman sekolah. Kau bersenandung lirih menunggu hujan berhenti. Sedang, aku suka sore

Sunny Dan Matahari

Oleh:
“Memangnya ada hal apa, Ta? kenapa kau memanggilku ke mari?” tanya Sunny pada sahabatnya, Ata. “Aku ingin menunjukkan sesuatu, Sun. Coba kamu lihat ke depan,” “Wah, sunset! bagus banget!”

Batang (Part 1)

Oleh:
Menurut Wikipedia, rok*k adalah silinder dari kertas yang panjangnya antara 70 hingga 120 mm dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Itu sih menurut

Gadis Pengganti Menemui Cinta

Oleh:
Waktu menunjukan pukul 15.30 WIB. Menemui seorang gadis yang tengah duduk di atas sebuah kursi panjang berlantaikan papan di pekarangan rumah belakangnya, mungkin tak kan ada seorangpun yang tau

Cinta Yang Tak Kesampaian

Oleh:
Agustus 2010 awal pertamanya aku menginjakkan kakiku di bangku SMA yang menjadi pilihanku. Em.. perkenalkan terlebih dahulu nama aku tiya satya, cukup senang aku waktu itu karena masa-masa aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *