Saat Purnama Mulai Hilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 8 September 2017

Badan tanpa jiwa
Belia senantiasa namun renta belaka
Selalu bergerak namun bergeming tiada
Nampak nyata namun terlihat semu..

Entahlah sampai kapan kenangan itu mampu terhapus begitu saja. Aku yang hingga kini tak sanggup untuk melepaskanmu begitu saja. Puing-puing kenangan masih saja terus membekas dalam bingkai hidupku. Aku tahu, bahwa awal pertemuan itu agak sulit bagiku untuk berjumpa denganmu. Candamu kala itu saat melihat diriku masih terekam baik hingga kini. Empat September 2016 adalah awal untuk merangkai sejuta kisah antara kau dan aku. Kisah yang begitu menarik hingga ku tak mampu untuk menemukan jalan pulang. Aku telah berada dalam lingkaran kasihmu. Kau begitu tulus menerimaku apa adanya. Idealismeku yang kadang kala bengkok pun kau tak peduli untuk memahamiku. Cintamu begitu tulus untuk diriku, setidaknya itulah yang kurasakan dan kualami saat-saat bersamamu.

Hingga tiba saatnya bagiku untuk mengucapkan selamat tinggal. Tepatnya kisah itu berakhir terjadi pada sore hari 30 November 2016. Kata-katamu begitu sederhana namun sangat menyentuh relung hati ini. Sampai kini pun masih saja terus membekas dan kamu tahu begitu sulit untuk melupakannya.

“Kakak, aku nggak bisa kasih apa-apa”, katamu mengawali percakapan itu. Aku terdiam bukan karena aku tidak suka dengan kata-katamu, akan tetapi aku ingin kau menuntaskan ceritamu.
“Kakak, kenapa diam?”, pertanyaanmu mengajakku untuk berimajinasi. Memang bagiku imajinasi itu identik dengan rasa yang ingin terucap.
“Are you ok?”, kamu bertanya lagi. Sampai pada akhirnya aku pun mulai membuka mulut.
“Ya, aku baik-baik saja dek”, aku kembali terdiam.

Lama kita terdiam. Tak ada yang mampu bersuara. Seakan-akan mulut kita sudah terjahit dengan persoalan yang tengah kita hadapi. Atau mungkin otak kita sibuk mencari jawaban atas persoalan kita. Ahhh.. betapa uniknya bermain bersama angan-angan. Aku membatin.

“Adek.. terima kasih sudah menemaniku hingga saat ini. Aku bangga pernah mengenalmu. Adek begitu baik untukk…”, aku terdiam, Rasanya sangat sulit untuk melanjutkannya. Namun didorong oleh cinta dari diriku dan juga dia tentunya. Akhirnya aku pun melanjutkan. “Saat kecil aku begitu kagum dengan pilihanku yang saat ini aku jalani. Hal itulah yang membuatku mengambil keputusan untuk hidup di Seminari. Ketika aku telah menemukan tempat yang sudah membuatku bahagia, tetapi pada akhirnya harus berakhir seperti ini. Aku tak berdaya. Aku rapuh. Aku lemah. Bangunan yang selama ini telah kususun dengan kerja keras dan pengorbanan, tetapi diruntuhkan oleh mereka yang mempunyai kekuasaan. Apakah aku masih mengharapkan belas kasihan? Sedangkan permohonan maaf selalu mengalir dari nurani yang tulus,” lagi aku terdiam. Lama tak berucap. Keheningan seakan-akan tercipta oleh dua insan yang saling merasakan penderitaan yang sama. Mungkin angannya bermain bersama kesedihan yang tengah terjadi.

Aku ke luar. Ingin kutuntaskan sendiri rasa ini yang tak dapat di ajak untuk bekerjasama. Tak sadar, air mata menetes. Membasahi pipiku. Aku membiarkan air mata terus mengalir. Kutuntaskan semuanya. Ya, dengan cara inilah aku dapat lega dari rasa sesakku yang tengah kualami. Kamu terdiam. Tak ada respon. Hanya melihat tingkahku. Mungkin persepsimu bahwa aku cengeng. Namun untuk dapat kamu mengerti, bahwa melupakan sejuta kenangan bersamamu sama saja membunuh sejuta rasa yang pernah ada untukmu.

Aku bangga pada dirimu yang begitu mampu dalam menjalankan kehidupan yang teramat keras. Kamu begitu tegar dalam menghadapi persoalanmu. Aku iri melihat sikapmu ini. Andaikata aku pun mempunyai sifat sepertimu, dunia akan begitu indah dan biasnya cakrawala menyinari hari-hariku seakan bermakna. Tentu aku akan puas dengan keadaan itu. Namun di balik senyuman manismu, ada sejuta kisah klasik yang terselumbung. Aku baru dapat menyadarinya. Senyummu yang selama ini kuanggap sebagai keterpaksaan, nampaknya jauh berbeda dari pemahamanku. Adek.. maafkan kakak yang tak mampu mengerti dengan keadaanmu.

Sedetik telah berlalu melahirkan menit yang merangkai waktu hingga kamu pun mau berbagi cerita denganku. Aku mendengarkannya sambil tiduran di pangkuanmu. Begitu nyaman bagiku sampai aku pun tak menyadarinya bahwa waktu mengajakku untuk pulang. Mungkin inilah saat-saat terakhir kebersamaan kita. Tetapi masih ada harapan untukku kembali bersua denganmu. Raga ini begitu berat untuk meninggalkanmu begitu saja. Aku ingin menemaimu saat-saat seperti ini, Adek. Ingin ku berkisah lagi tentang suatu masa di mana sepasang remaja saling beradu kasih menemukan tumpuhan harapan setelah sekian waktu berjalan bersama.

Namun kisah ini begitu singkat. Empat September, rasanya seperti hari kemarin. Aku benci dengan pertemuan itu. Sebab aku mengingini bahwa kisah kita akan terus berlanjut. Entah sampai kapan. Tetapi setidaknya ingin merasakan dalam waktu yang cukup lama. Itulah harapanku. Namun apa boleh buat, waktu tak berpihak kepadaku. Pertemuan singkat itu terus membekas dalam relung hati. Dan tak kan pernah hilang dalam ingatanku.

Selamat jalan adekku, selamat berpisah. Semoga waktu dapat mempertemukan kita kembali. Adek.. kakak selalu merindukanmu.

Greenhouse
30 November 2016

Cerpen Karangan: Rhan Ilejay
Blog / Facebook: rhanilejay.blogspot.co.id / Rhan Ilejay
Lahir di Maumere-Flores-Nusa Tenggara Timur.Saat ini penulis berdomisili di Malang-Jawa Timur-Indonesia.

Cerpen Saat Purnama Mulai Hilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Yang Indah

Oleh:
Saat itu di siang yang panasnya cetar membahana. Gue lagi enak-enaknya minum es campur yang gue pesen.. Emh tapi yang mesen sih temen gue sendiri, guenya sih diem-diem aja

The Relationship

Oleh:
Perkenalkan namaku Revita Febrianty, teman-temanku biasanya memanggilku Rere. Aku adalah siswa kelas XI dari SMAN 1 Kotabaru. Aku memiliki dua orang sahabat, yaitu Lala, Dina dan Eky. Merekalah teman-teman

Move On

Oleh:
Ketika kamu merasa mencintai seseorang, kamu tentu akan bahagia jika bisa dekat dengannya. Terlebih jika dia seolah-olah memberikan perhatian lebih kepadamu, tentu hatimu akan berbunga-bunga. Tapi bagaimana jika ternyata

Bekal Nasi

Oleh:
Semenjak aku sekolah pagi, aku jadi lebih banyak kegiatan. Kegiatan tambahan dari ekskul, rapat osis dan latihan musik benar-benar membuatku jauh dari makan siang, terutama jauh dari Nasi. Tapi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *