Saat Waktu Belum Berpihak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 5 August 2019

Seorang perempuan dengan dress selutut bermotif bunga-bunga kecil berbalut jaket jeans tengah berjalan menuju sebuah meja dengan seorang penghuni, laki-laki berjaket hitam. Segelas milkshake coklat yang tinggal setengah terdapat di mejanya, tanda laki-laki itu sudah lama menunggu. Seulas senyum ia tunjukkan begitu mata almond laki-laki itu menatapnya.

Sang laki-laki berdiri, menyambut hangat gadis itu dengan pelukan. “Aku kira kamu nggak dateng,” ucapnya dan menarik kursi untuk gadis berambut sebahu itu duduk. “Mau minum apa?” ia lanjut bertanya.
“Nanti aja,” jawab gadis itu setelah duduk. Masih tersenyum, ditatapnya laki-laki itu lekat-lekat.
“Kenapa?” tanyanya seraya balas memandang lensa coklat pekat milik perempuan di hadapannya.

Gadis itu menghela napas panjang. Ia merasa deja vu. Suasana di dalam restoran pun sama: pencahayaan remang-remang dengan latar belakang musik klasik, seolah telah menjadi ciri khas tempat tersebut. Malam ini, terasa seperti sore itu. Dua bulan yang lalu.

“Aku mau kita putus,” tukasnya tanpa melihat kekasihnya.
Tubuh tegap sang laki-laki menegak, terkejut akan apa yang baru saja ia dengar. “Apa?”
“Aku mau berhenti, Dani.” Suara gadis itu bergetar, disusul dengan isakan kecil yang semakin menjadi.
Laki-laki itu, Dani, mengamit tangan perempuan itu dan menggenggamnya. “Hei… kita udah sejauh ini, inget? Jangan nyerah, ya? Aku mohon?” bujuknya dengan halus.
“Harus sampai kapan, Dan?” ia bertanya di sela tangisnya.
“Sebentar lagi. Aku mohon bantu aku.” Dani memelas. Dilepasnya genggaman itu, beringsut dari duduknya, dan beralih memegang kedua bahu gadis mungil di hadapannya. Ia tersenyum. “Aku mohoh… ya?”

“Sandra?”
Sandra, gadis itu, mengerjap. “Iya, Dan?”
Laki-laki itu terkekeh, dicubitnya pipi tembam Sandra. “Kenapa malah ngelamun?”
“Nggak apa-apa,” jawab Sandra sekenanya.

Dani tahu fakta itu: saat seorang perempuan berkata “tidak apa-apa” berarti dia sedang tidak baik-baik saja. Maka dari itu, ia diam. Membiarkan Sandra berkelit dengan pikirannya sendiri, membiarkan gadis itu menangkan diri terlebih dulu. Meski diam-diam, ia berpikir:
Apa masalah yang sedang mendera Sandra?

Hening menghiasi kedua orang itu untuk sesaat. Sebelum akhirnya gadis itu berujar, “Kamu… kenapa minta ketemu dadakan, gini?”
Dani menggeleng dan tersenyum. “Salah ya kalo aku cuma mau ketemu sama pacar aku sendiri?”
Mendengar laki-laki itu menyebutkan kata “pacar”, membuatnya teringat akan sesuatu. “Kemarin, kamu kemana waktu aku telepon?”

Ada jeda sejenak sebelum Dani menjawab, “Maaf.”
Dan hanya karena satu kata itu, Sandra tahu artinya apa.

Lagi, ia menyungginggkan senyum. “Tau nggak, Dan? Waktu kamu minta aku buat jadi pacar kamu, aku kaget sekaligus bingung; apa aku harus nolak atau nerima? Karena gimanapun juga, aku nggak mau persahabatan yang udah terjalin dari kita kecil, hancur nantinya. Tapi di sisi lain, aku juga nggak bisa bohongin perasaanku sendiri.

“Waktu kamu putus sama Sani, aku seneng. Maaf kalo aku jahat. Tapi, ya tadi, aku nggak bisa bohong sama perasaanku sendiri. Maka dari itu, setelah mempertimbangkan resiko yang mungkin terjadi, bahkan yang terburuk sekalipun. Aku meyakinkan diri buat nerima kamu.

“Nggak nyangka ya, Dan! Udah setahun lebih. Seharusnya aku seneng bisa jadi pacar kamu. Tapi, kenapa makin kesini makin menyakitkan?”
Gadis itu diam sejenak, mengambil napas untuk mengisi dadanya yang mulai sesak.

“Dulu, aku terlalu percaya diri bisa buat kamu move on. Tapi nyatanya? Kemarin kamu kelihatan seneng banget waktu ketemu Sani di mall.”

Mata Dani melebar mendengarnya.

“Iya, aku tau. Nggak pa-pa.”
“San—”
“Kamu… masih terjebak di jurang masa lalu, Dani. Kamu minta tolong aku buat meraih tangan kamu, sekuat tenaga aku coba untuk mengulurkan tangan agar kamu meraihnya. Nyatanya, kamu Cuma diam di sana tanpa mau berusaha naik agar mencapai tanganku. Mau sampai kapanpun, kalau kamu terus seperti itu, tangan kita nggak akan pernah saling menggenggam. Sederhananya, kamu masih nyaman berada di jurang itu, Dan.”
Laki-laki itu diam. Dalam hati, ia membenarkan apa yang Sandra ucapkan. Tapi itu dulu, sebelum ia bertemu Sani kemarin.

“Aku mau nyerah aja.” Buliran bening mulai menumpuk di pelupuk mata gadis itu. “Aku nyerah, Dan.”

Laki-laki itu bangkit dari duduknya. Dia berlutut di depan perempuan yang matanya semakin memerah karena menahan tangis, pelan-pelan, diraihnya tangan Sandra. Gadis itu berusaha menolak, namun genggaman Dani mengerat. “Sebentar lagi, ya? Please?”

Setetes air mata lolos membasahi pipi tembam Sandra. Dia menggeleng lemah. “Nggak bisa…” suaranya terdengar lirih, seakan tidak memiliki tenaga lagi.

Dani mendesah kecewa.

Dia terlambat.

Dengan berat hati, ia mengangguk. Padahal, kemarin ia bertemu Sani hanya untuk memastikan. Dan terbukti, bahwa perasaannya telah berpindah kepada sahabat masa kecilnya itu, Sandra. Namun, ia tidak mau menyakiti gadis itu lebih lagi. Sandra telah melakukan banyak untuknya.

Sekarang, ia akan berusaha sendiri. Untuk Sandra. Tanpa orang lain tahu, tanpa gadis itu tahu. Ia harap, suatu saat, waktu akan berpihak kepada mereka berdua.

“Maaf ya,” ucapnya pada Sandra. “Maaf udah nyakitin kamu. Maaf buat semuanya.” Diusapnya sisa air mata gadis itu.

Sandra tertawa purau, dia mengangguk. Perasaan lega menelusup ke dalam dadanya. Bukan berarti ia tidak mencintai laki-laki itu lagi. Hanya saja, ia lelah berpacaran dengan seseorang yang tidak mencintainya. Padahal, tanpa gadis itu tahu, persepsinya salah.

Dan mungkin, waktu belum berpihak kepada mereka berdua.

“Tapi kita tetep sahabat, kan?” Dani bertanya, dibalas anggukan oleh Sandra. Lantas keduanya tertawa dan bercanda pada sisa malam itu.

Kadang memang selucu itu. Berakhirnya sebuah hubungan akan membentuk hubungan baru, membaik atau memburuk, tergantung pada kedewasaan masing-masing pihak.

Cerpen Karangan: Animad Akilaydubla
Blog / Facebook: Damina Albudyalika ShawtyBieber
Sesosok cewek 19 tahun yang hobi menulis dan masih harus mempelajari banyak hal tentang… apapun. i’d love to know about random thing such as, why is the sky blue? why “why” called “why”? and bleh! gak bisa dijelasin satu-satu. Haha. Udah, gitu aja, makasih.^^

Cerpen Saat Waktu Belum Berpihak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Gak Perlu Diobral

Oleh:
Cinta butuh waktu dan cinta tidak perlu diobral itu yang gilang jadikan pedoman dalam menjalani hubungannya dengan kila, mungkin sekarang kila masih malu malu untuk mengucapkan rasanya pada gilang

The Relationship

Oleh:
Perkenalkan namaku Revita Febrianty, teman-temanku biasanya memanggilku Rere. Aku adalah siswa kelas XI dari SMAN 1 Kotabaru. Aku memiliki dua orang sahabat, yaitu Lala, Dina dan Eky. Merekalah teman-teman

Hujanku Matahariku

Oleh:
Satu, dua, kuhitung tetes demi tetes air dari langit yang mulai berjatuhan.. Lama, semakin lama, semakin banyak, hingga kusadari bahwa sebenarnya aku tidak bisa menghitung banyaknya air yang turun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *