Sabtu Malam Nila

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 7 January 2017

Setiap tetesnya membasahi hati yang mengering, gersang, tapi sayangnya aku kehilangan senja kali ini. Secangkir capucino dan salah satu buku karangan idolaku menemani malam mingguku ditengah rintik hujan yang tak kunjung usai. Jika biasanya kunikmati capucino panas yang agak sedikit kental disetiap teguknya, kali ini kubiarkan dingin dan meneguknya sekaligus. Mungkin karena hatiku yang sedang bergemuruh.

Hari berubah menjadi gelap, pekat. Begitu pula hatiku. Seperti inikah rasanya patah hati? Bukannya aku pernah mengalami ini sebelumnya? Tapi kali ini aku benar-benar terpuruk. Tuhaan, jika nanti hatiku harus kembali patah aku harap tidak akan seterpuruk ini. Bahkan membaca buku favoritku yang biasanya membuat aku lupa waktupun kali ini aku tak bisa.

Aku bukan gadis yang mudah untuk mengenal laki-laki, apalagi jatuh cinta. Meskipun aku selalu berusaha ramah pada siapapun. Tapi Die mampu meluluhkan hatiku yang sudah membeku. Die membuatku bangkit setelah sekian lama terjatuh dan menutup hati meskipun pada akhirnya aku kembali terjatuh. Aku memang bukan gadis yang manis dengan sipat alis, cantik dengan pakaian modis, keren dengan barang-brang branded. Aku mah apa atuh? Cuma seseorang yang bermodalkan hati yang tulus. Lalu aku bisa apa ketika hati yang tulus ini pun dikhianati? Tapi aku tak akan menyesalinya apalagi membencinya karena kita pernah saling menyayangi dan Die juga yang membuatku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku menganggap ini sebuah pelajaran tambahan agar kedepannya aku bisa menjadi lebih baik lagi. Mengenal Die membuat aku banyak belajar tentang hidup, tentang rasa dan tentang cinta.

Rintik hujan yang mulai reda terdengar seperti alunan musik saat perasaan sedang gundah. Aku menatap percikan tetesnya dari lampu jalanan yang menghamburkan cahayanya di tengah kabut selepas hujan. Kuraih cangkir yang tadi berisi capucino panas. Aku lupa kalau aku sudah meneguknya sampai tetes terakhir. Aku hanya duduk terdiam memegangi buku yang bercoverkan siluet seorang pemuda tanpa kubuka, apalagi kubaca.

Tatapanku kosong, pikiranku mulai berkelana. Usiaku kini 23 tahun, teman-teman seusiaku kebanyakan telah berumah tangga bahkan menjadi mama muda. Lalu aku? Bukannya tak ingin, tapi tuhan memang belum mengizinkanku bertemu dengan jodohku. Aku bersyukur aku belum menikah, setidaknya aku masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Belajar bagaimana menjadi seorang isteri yang baik, yang mengerti hak dan kewajibannya. Walaupun aku sadar aku bukanlah gadis yang baik, tapi aku selalu berusaha untuk lebih baik lagi. Itu kenapa aku membutuhkan imam, agar bisa menuntunku ke jalan yang lebih baik. Insyaallah aku tak akan khawatir karena usiaku, sebab tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan. Hawa diciptakan dari tulang rusuk adam, maka jika sudah waktunya nanti tulang rusuk itu akan kembali pada pemiliknya.

Saat ini aku hanya perlu memperbaiki diri karena janji tuhan “dia yang baik untuk yang baik, dia yang buruk untuk yang buruk pula”. Tak ingin tergesa-gesa pula, lebih baik lambat tetapi mendapatkan pasangan yang tepat dibanding cepat tetapi terluka berlipat-lipat. Terkadang ada rasa takut ketika aku memikirkan sebuah pernikahan. Takut aku tidak bisa menjadi seorang isteri yang baik, menjanda diusia muda atau tidak harmonis dalam keluarga. Tapi aku tidak mungkin selamanya sendiri. Meskipun aku mampu bertahan tetap saja aku membutuhkan sosok laki-laki yang menjadi imamku.

Kabut malam semakin tebal, dingin mulai menerobos masuk ke setiap pori-poriku tapi aku masih terduduk sendiri di teras rumah. Membiarkan rasa dingin menyelimutiku. Tiba-tiba kudengar suara ibu dari balik pintu “Nil, masuk nak di luar dingin” ibu menghampiriku mengusap-usap kedua pundakku dari belakang. “perbanyaklah sujudmu nak, terutama di sepertiga malam insyaallah tuhan segera mengabulkan doamu”. Aku hanya tersenyum memandangnya. Lalu ibu berlalu ke kamarnya. Seperti tahu semua yang aku rasakan tanpa aku bercerita kepadanya. Begitulah naluri seorang ibu.
Aku pun berlalu meninggalkan gelap yang dikuasai kabut malam ini.

Cerpen Karangan: Norma Yunita
Blog / Facebook: dandelionsenja2.blogspot.com / Nurma A Yuanita

Cerpen Sabtu Malam Nila merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cerita Bintang

Oleh:
Aku menyesal telah berkata semua yang sudah berlalu tidak bisa kita ulangi kembali, padanya.. Sebagaimana kebiasaannya yang sangat menyukai pemandangan langit, kali ini aku tidak menyangka bahwa saat ini

Bumi Perkemahan (Part 2)

Oleh:
Esok hari adalah jum’at. Mereka akan mengadakan senam. Salah seorang memohon izin kepada Pak Wali Jorong dan penjaga mesjid untuk mengundang warga yang mau berpartisipasi dalam senam pagi yang

Butiran telur

Oleh:
Rara berjalan gontai menyusuri lantai atas gedung kantor. Rara berjalan dengan tatapan yang kosong, di tangannya memegang sebuah kotak berwarna hijau. Sembari ia berjalan lambat dan sesekali rambutnya berterbangan

Aku Tahu Aku Bukan Bayangan Masa Lalunya

Oleh:
Rasa rindu padanya memang kadang-kadang mengganggu hatiku, tapi rasa sayang kepadamu, lebih memenuhi hatiku. -Evin- Aku mengenalnya sebagai ketua di pos KKN (Kuliah Kerja Nyata) kami. Awalnya aku biasa

Berawal Dari Sebuah Nama

Oleh:
Namaku Farrenia Zaviera Alkhatiri aku tinggal di kota Bandung, saat ini aku bersekolah di salah satu SMA terfavorit di Bandung dan duduk di kelas 11-IPA 2. Aku termasuk salah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *